Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 108. Rencana


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 108


Betapa bahagianya pagi ini bagi Aulia, setelah kemarin dia mengalami mimpi yang sangat buruk. Bahkan setelah waktu subuh tadi, Alvan menyempatkan dirinya untuk menelepon. Katanya ini untuk memastikan kalau dia masih dalam keadaan baik-baik saja. Tentu saja hal ini membuat Aulia menjadi sangat malu.


Aulia yang sedang berjalan di area parkir dengan langkah yang ringan dan penuh semangat untuk bekerja hari ini. Dibalik cadarnya senyum dia terukir terus. dia sendiri tidak bisa mengontrol rasa bahagianya ini.


Terlihat Amelia datang menghampiri Aulia dengan wajahnya yang berseri. Dia pun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Aulia, tahu tidak kalau aku saat ini sedang merasa bahagia?" Amelia tersenyum lebar.


"Memangnya apa yang membuat kamu bahagia saat ini?" tanya Aulia penasaran.


"Kata kak Rangga, aku bisa mengajak Safiyah untuk bermain saat hari libur nanti," jawab Amelia malu-malu.


Aulia pun ikut senyum. Dia merasa bahagia karena hubungan Amelia dan Rangga kini semakin dekat. Safiyah pun sudah menyayangi Amelia dan setiap hari mereka selalu melakukan video call.


"Bahkan kedua orang tuanya pun katanya mau ikut," lanjut gadis berjilbab motif bunga ini.


Mendengar hal ini membuat Aulia sangat gembira. Dia pun memeluk tubuh Amelia dengan tersenyum lebar.


"Semoga hati kalian bisa secepatnya menyatu," ucap Aulia.

__ADS_1


Amelia hanya mengangguk saja. Selama ini Rangga selalu bersikap biasa saja kepada dirinya. Perempuan itu saudara kalau hati laki-laki ini sangat sulit sekali untuk dimasuki.


"Kamu jangan menyerah, hati Safiyah dan kedua orang tuanya telah berhasil kamu raih. Tinggal hati kak Rangga saja yang belum bisa kamu taklukkan," kata Aulia memberikan semangat kepada teman yang ini.


Kedua perempuan itu pun berjalan memasuki kantor sambil berbincang-bincang. Mereka sedang mengejar impiannya untuk menjadi wanita sempurna dengan membangun kehidupan berumah tangga.


***


Hari ini pun berjalan dengan seperti biasa. Namun bagi Aulia terasa spesial karena saat duduk bekerja, tidak jauh darinya ada Alvan yang duduk di meja kerjanya. Bahkan laki-laki itu melemparkan senyum tampannya kepada sang asisten.


"Aulia nanti sore kita akan melakukan foto prewed, yuk!" ajak Alvan.


"Sebaiknya kita jangan melakukan hal itu. Kalau ingin punya foto berdua, nanti saja setelah kita benar-benar sudah halal," balas Aulia.


Mendengar penolakan dari sang pujaan hati membuat Alvan bersedih. Padahal tadi dia sangat berharap sekali bisa melakukan hal itu sebelum hari pernikahan mereka.


Ditanya seperti ini Aulia menunduk karena malu. Lalu, dia pun menjawab, "Jika kita sudah halal, saat di foto nanti kita bisa saling berdekatan bahkan berpegangan tangan."


Senyum Alvan langsung mengembang dari wajahnya yang semula kecewa ini menjadi bahagia. Halo dia pun berkata dengan malu-malu, "Apa saat itu aku boleh memelukmu?"


Aulia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Saking malunya, dia bisa merasakan kalau pipinya saat ini terasa panas. Perempuan itu sempat membayangkan dirinya berada dalam dekapan hangat suaminya nanti.


'Astaghfirullahal'adzim. Jangan pikirkan hal ini dulu Aulia. Sungguh godaan setan itu sangat indah.' (Aulia)


Hal yang serupa pun kini sedang terlintas dalam benak Alvan. Laki-laki ini sudah sangat tidak sabar ingin segera mengucapkan ijab qobul untuk pujaan hatinya ini.

__ADS_1


Kedua orang itu pun saling diam dengan jantung yang berdebar-debar. Selain itu ada perasaan malu merambat dalam hati mereka. 


***


Sekarang Aulia dan Alvan punya kegiatan baru, yaitu untuk menyatukan Rangga dan Amelia. Keduanya sangat bersemangat sekali untuk menjodohkan mereka. Dari pihak Amerika sendiri sudah terlihat kalau dia mau belajar membuka hatinya untuk Rangga. Akan tetapi dari pihak laki-lakinya sendiri seolah menutup hatinya dari perempuan lain.


"Bagaimana kalau kita datang ke pengajian di masjid agung nanti semalam setelah Maghrib?" tanya Aulia.


"Kalau begitu aku akan bernegosiasi dulu dengan om Damar dan tante Shinta. Agar mereka ikut mendukung acara nanti, sehingga Rangga pun mau ikut ke masjid bersama mereka," balas Alvan.


Aulia pun merasa sangat senang, dia juga tadi sudah menghubungi Kakek Yusuf dan Nenek Halimah untuk mengikuti pengajian di masjid agung. Mereka juga setuju untuk mengikuti pengajian itu.


"Aku juga menyuruh Amelia untuk mengajak kedua orang tuanya nanti ke sana. Agar kedua keluarga itu saling bertemu dan saling mengenal satu sama lain," ucap Aulia dengan nada suara yang bahagia.


"Aku ingin tahu bagaimana reaksi kedua orang tua mereka saat bertemu nanti," ujar Alvan.


"Semoga saja mereka memberikan rasa untuk kedua orang ini," balas Aulia.


Aulia ingin sekali melihat Rangga bisa hidup bahagia dengan pendamping hidupnya. Jangan sampai kehidupan rumah tangga laki-laki itu seperti sebelumnya, yang hanya memberikan luka dan kesedihan. Selain itu tidak ada kebahagiaan sama sekali dalam hubungan mereka saat itu. Makanya, dia berharap Amelia bisa menghadirkan cahaya kebahagiaan dalam hati Rangga.


***


Bagaimanakah reaksi kedua orang tua Amelia dan Rangga saat mereka bertemu nanti? Apakah mereka akan memberikan restu atau tidak? Tunggu kelanjutannya, ya?


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2