
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 129
"Tunggu! Kamu harus tetap di sini," ucap Rangga sambil melihat ke arah Amelia.
"Bukannya Kak Rangga akan berbicara dengan Ayah," balas Amelia masih melihat ke arah laki-laki berpenampilan casual, tetapi tetap terlihat rapi dan semakin tampan di mata Amelia.
"Iya, tapi ini membutuhkan jawaban dan pembahasan dengan kamu juga," ucap Rangga yang tatapannya masih mengarah kepada Amelia yang berdiri di dekatnya.
Noah sudah bisa membaca maksud Rangga. Dia tidak mau kalau kejegal oleh Rangga. Maka dia pun meminta izin waktu 5 menit untuk berbicara dengan Amelia berdua di depan rumah.
"Tidak boleh berduaan laki-laki yang bukan mahramnya," balas Rangga agar Noah tidak membawa Amelia ke luar dari ruangan itu.
"Kalau begitu Bu Sari akan ikut kami ke depan. Bukannya kamu ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Pak Hasan?" Noah tidak mau kalah. Bagaimanapun juga dia harus lebih dahulu mendengar jawaban Amelia sebelum Rangga mengutarakan maksud kedatangannya ke sini.
Rangga merasa curiga dengan Noah yang ngotot ingin membawa perempuan itu ke luar dari ruangan itu. Dia merasa kalau tidak cepat-cepat mengutarakan maksudnya, bisa-bisa akan terjadi kesalahpahaman di antara dia dan Amelia nantinya.
"Amelia, menikahlah dengan aku! Safiyah bilang agar aku mengajak kamu tinggal bersama secepatnya. Aku sudah mengatakan hal itu kepada ayah dan ibumu. Tinggal menunggu keputusan dari kamu saja," ucap Rangga.
Amelia seperti terkena tembakan secara langsung tanpa aba-aba terlebih dahulu. Bahkan dia sampai lupa bernapas. Sejenak tubuhnya terasa tidak bertenaga bahkan dia merasa melayang tidak menapak pada bumi.
'Kak Rangga sungguhan bicara seperti ini? Dia sedang tidak mengigau atau ngelantur, 'kan?' (Amelia)
__ADS_1
Noah terkejut dengan ucapan Rangga barusan. Bahkan dia merasa kesal dan ingin marah kepada laki-laki yang seenaknya sendiri berbicara seperti itu. Seakan memaksa agar Amelia menerima dirinya. Pemuda ini juga ingin rasanya memaki tamu yang datang belakangan ini.
"Tidak, Amelia itu calon istriku! Kamu tidak bisa merebutnya dari aku," tukas Noah dengan tatapan tajam ke arah Rangga.
Pak Hasan dan Bu Sari terkejut mendengar perkataan Noah. Lalu, mereka mengalihkan perhatiannya ke arah Amelia. Keduanya ingin mendengar penjelasan dari putri mereka.
Amelia kini dilema harus menjawab apa, kemudian dia teringat dengan pembicaraan dengan Aulia tadi. Maka dia pun harus mengambil keputusan.
"Izinkan aku untuk sholat istikharah dulu. Biar Allah yang menggerakan hatiku untuk memilih siapa di antara kalian yang terbaik menurut-Nya," jawab Amelia.
Gadis itu merasa kalau sekarang keadaan berbalik. Jika dulu dia yang berusaha mengejar dan membuka hati Rangga, kini laki-laki itu yang mengajaknya menikah. Ini membuat Amelia merasa tidak yakin akan ketulusan perasaan Rangga. Dia berpikir kalau laki-laki itu takut Safiyah akan kehilangan perhatian dan kasih sayang darinya.
Setelah Noah pulang dan Rangga juga hendak pulang menaiki mobilnya. Amelia mengejarnya, karena ingin menanyakan sesuatu kepadanya.
"Kenapa Kak Rangga tiba-tiba ingin menikahi aku?" tanya Amelia.
Hati Amelia merasa tercubit mendengar jawaban itu. Dia mengira kalau laki-laki itu sudah bisa membuka hati untuknya.
"Kalau itu katakan kepada Safiyah, aku akan selalu menyayangi dirinya sampai kapanpun. Jadi, meski aku tidak menjadi istri Kak Rangga, aku masih akan berusaha untuk menemuinya. Aku juga akan senang jika Kak Rangga mengizinkan Safiyah sesekali untuk menginap di sini bersama dengan aku," pungkas Amelia, lalu dia pun berbalik. Namun, baru juga satu langkah, tangannya ditarik oleh Rangga. Kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Apa perasaan kamu kepadaku dulu itu cuma pura-pura tidak sungguhan?" tanya Rangga.
"Kenapa Kak Rangga berpikir seperti itu? Bukannya sejak dulu aku sudah bilang kalau aku menyukai Kakak. Mau menerima keadaan Kakak seperti apapun. Baik yang sekarang maupun masa lalu Kakak!" Amelia meluapkan emosinya karena merasa kesal.
Ada perasaan senang yang dirasakan oleh Rangga. Lalu, dia pun tersenyum. Ini malah membuat Amelia semakin kesal.
__ADS_1
"Maaf aku sudah meragukan perasaan kamu karena aku melihat kedekatan kamu dengan Noah," kata Rangga.
"Kak Rangga cemburu?" tanya Amelia dengan kedua matanya berkedip beberapa kali.
"Ya, aku rasa begitu," jawab Rangga.
Amelia merasa bahagia, tanpa sadar dia memeluk Rangga dengan senyum lebarnya. Dia merasa kalau perasaan dia tidak bertepuk sebelah tangan.
***
Alvan sedang merayu Aulia yang sedang merajuk. Dia memakan semua puding buatannya tadi. Padahal Aulia membuat itu untuk Kakek Yusuf dan Nenek Halimah yang belakangan ini napsu makannya semakin berkurang. Ditambah salad buah juga dihabiskan olehnya.
"Ananta, aku akan buat ulang pudingnya. Tapi, bantu aku, ya!" Alvan menatap Aulia dengan tatapan memohon.
"Ini bukan yang pertama atau kedua kalinya, Alvan-kun menghabiskan semua makanan yang aku simpan di kulkas," ucap Aulia.
"Itu …." Alvan bingung mau mengatakannya.
Aulia tidak habis pikir dengan napsu makan Alvan yang meningkat beberapa kali lipat. Bahkan berat badannya naik banyak dan itu membuatnya harus semakin rajin berolahraga agar tidak ada lemak bertumpuk di perutnya.
"Apa jangan-jangan kamu sedang hamil? Sehingga aku mengalami ngidam," tanya Alvan menduga-duga.
***
Apakah hubungan Rangga dan Amelia akan sampai ke jenjang pernikahan? Kira-kira Aulia sedang hamil nggak, ya! Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.