Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 72. Pembalasan Untuk Keluarga Barata


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


Bab 72


     Mendengar ucapan mamanya, Rangga tidak lantas percaya. Kalau Aulia yang ditemuinya saat mereka di Pesantren Al-Ikhlas itu adalah Aulia kekasihnya, dan saat ini dia menjadi asisten pribadi sahabatnya, Alvan. 


"Kenapa Aulia tidak jujur padaku kalau itu adalah dirinya? Apa sebegitu bencinya kah dia kepadaku?" tanya Rangga bermonolog pada dirinya sendiri.


"Ya Allah, aku tahu kalau aku adalah orang pertama yang mengajaknya jatuh pada lubang dosa. Ampunilah dosa Aulia dan juga dosaku. Semoga saja Aulia tidak menyimpan rasa benci di hatinya, tetapi ada alasan lain, kenapa dia menghindari aku," gumam Rangga.


     Laki-laki itu sekarang sedang sibuk membantu Ilham, adiknya Iqbal. Dia dipercaya oleh Mutiara untuk membantu dan mengawasi perusahaan yang baru dimilikinya atas bantuan papi Kenzo dan Alvan. Rangga juga sekarang bisa membawa Safiyah ke rumahnya. Gadis kecil itu obat bagi Rangga, di saat dia merasa penat dan lelah. Apalagi, mamanya sering melamun dan papanya yang terus ingin bertemu dengannya, tetapi dilarang.


"Safiyah, kamu jaga nenek dulu, ya? Ayah akan bukakan dulu pintu. Sepertinya ada tamu," pinta Rangga pada anak angkatnya itu.


"Ya." Safiyah pun membawa boneka beruang kesayangannya dan mendekati Shinta.


     Wanita paruh baya itu menatap bocah kecil yang menatap dirinya dengan tatapan polos. Tiba-tiba saja Shinta mengingat mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya selama lima tahun ini. Mimpi Yusril dan bayi perempuan yang selalu menyiksanya di dalam mimpinya. Sampai-sampai dia harus berobat ke dokter psikiater. Meski begitu mimpi itu masih kerap mengganggunya setiap malam.


"Sana, pergi!" Usir Shinta kepada Safiyah.


"Kata papa harus jaga nenek," balas Safiyah dengan bola matanya yang bening dan senyumnya yang lucu.


"Pergi! Kamu mau membunuh aku, 'kan?" Shinta melotot pada Safiyah agar anak kecil itu tidak mendekatinya. Namun, yang namanya bocah kadang tidak mau mendengarkan omongan orang dewasa, jika orang itu tidak klik dengan hatinya.


     Sementara itu, tamu yang datang ke rumah Rangga adalah Damar, papanya. Dia selalu datang setiap hari dan meminta Shinta untuk pulang ke rumah.


"Papa, jangan paksa mama dulu saat ini. Nanti malah semakin parah," kata Rangga.


"Tapi—" ucapan Damar terpotong.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salam seseorang di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam," balas Rangga dan Damar.


"Damar, kamu belum berhasil membujuk Shinta?" tanya Mulyono, kakaknya Damar.


"Belum, Bang. Meski sudah tidak sehisteris dulu, tapi Shinta tidak mau di ajak pulang," jawab Damar.


"Kenapa kamu tidak jujur sejak awal kepada kami? Bisa saja ada solusinya saat itu," ujar Mulyono.


"Aku saat itu bingung, takut, dan tidak yakin. Makanya setelah kejadian itu aku selalu meminta Shinta untuk selalu ikut aku jika pergi ke luar kota," ucap Damar dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Sudah Abang bilang dari dulu, cari teman bisnis itu yang bener. Kamu harus pintar-pintar dalam memilih teman bisnis. Jika, mereka mengajak pada sesuatu yang tidak benar, jangan ikuti. Kalau mereka mengancam akan memutuskan tali kerja sama, jangan takut. Allah itu Maha Kaya, masih banyak para pengusaha atau penanam modal yang baik-baik tidak suka melakukan hal seperti itu," jelas Mulyono dan Damar hanya diam dan mengangguk.


"Apa, papa yakin kalau dia itu anak biologis papa? Bisa saja bukan hanya papa yang tidur dengannya," tanya Rangga.


"Sudah, papa dulu pernah melakukan tes DNA dan hasilnya positif," jawab Damar.


"Namanya juga ibu dan anak, Om," balas Rangga dengan senyum mengejeknya sedangkan Damar hanya diam saja.


"Sampai lupa. Om ke sini mau bilang, kamu tidak ikut campur bisnis pembangunan apartemen yang dulu dijalankan oleh Barata, 'kan?" tanya Mulyono kepada Rangga dengan tatapan serius.


"Mega proyek apartemen mewah itu maksud, Om?" tanya Rangga.


"Iya, kamu dulu tidak ikut campur dalam menangani proyek ini, 'kan?" ujar Mulyono.


"Tidak, Om. Kenapa?" Rangga merasa curiga saat tadi Mulyono memandangnya dengan tatapan mata yang sarat akan kecemasan dan kini terlihat lega.


"Ternyata Barata melakukan penipuan terhadap calon pembeli apartemen itu. Dia menjanjikan apartemen yang super mewah, tapi nyatanya tidak sesuai dengan apa yang dia dulu janjikan. Karena menurut mereka apartemennya itu biasa saja tidak sesuai dengan uang yang mereka keluarkan. Kini ratusan orang itu melaporkan Damar dan istrinya ke polisi," jelas Mulyono dan membuat Rangga terkejut.


"Jadi, kedua mantan mertuaku itu tersangka kasus penipuan?"

__ADS_1


"Iya, dan sekarang mereka sedang buron." 


'Ini adalah pembalasan dari Allah kepada keluarga Barata. Setelah hidup menjadi miskin dan tidak punya apa-apa kini mereka harus berurusan dengan polisi,' batin Rangga.


"Rangga, ada apa?" tanya Damar karena terlihat putranya diam termenung.


"Dulu keluarga Barata pernah menyiksa seorang anak kecil sampai menjadi cacat. Mungkin ini adalah pembalasan dari Allah," jawab Rangga.


"Apa? Siapa yang sudah di siksa oleh Barata?" tanya Mulyono dan Damar bersamaan.


"Mutiara anak kandung tante Marni dengan suami pertamanya. Kalau tidak salah namanya Darmawan, Om Kenzo kenal baik orang itu. Katanya mereka berteman baik dulu," jawab Rangga.


***


Alvan sedang senang hatinya. Dia baru saja selesai menyetorkan hafalan dan di tes oleh nenek Halimah dan kakek Yusuf. Katanya, dia sudah bisa menjadi imam sholat untuk keluarganya nanti.


"Alhamdulillah, berarti kalau aku sudah punya istri aku sudah bisa jadi imam sholatnya," kata Alvan.


"Meski begitu, giatkan lagi menghafal ayat-ayat yang lainnya. Begitu juga dengan hadis, baca, pahami, dan amalkan. Jika kamu tidak mengerti tanyakanlah kepada orang yang mengerti dan faham betul akan ilmu agama Islam, jangan sampai kamu cuma ikut-ikutan tanpa tahu dari mana ilmu itu berasal," ujar kakek Yusuf.


"Iya, insha Allah, Kek. Alvan sekeluarga juga sekarang sering ikut pengajian di beberapa tempat," kata Alvan.


"Alhamdulillah, semoga kamu dan seluruh keluarga selalu Istiqomah di jalan lurus yang di ridhoi oleh Allah," ucap kakek Yusuf.


"Aamiin, insha Allah semoga dikabulkan."


"Lalu, Kek. Aku ingin mempersunting Aulia, apa boleh?" bisik Alvan.


"Kalau itu, tanyakan langsung pada Aulia. Kalian berdua lakukan sholat istikharah mintalah yang terbaik. Apapun hasilkan, percayalah itu adalah yang terbaik untuk kalian," balas kakek Yusuf.


***

__ADS_1


Kira-kira jawaban Aulia apa, ya? Insha Allah aku usahakan akhir bulan cerita Aulia selesai. Mudah-mudahan diberi kelancaran berpikir dan ngetik 😁. Tunggu kelanjutannya, ya.


__ADS_2