Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. Gus Fathir, Alvan, dan Rangga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐ ⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kita semua selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam segala urusan.


***


Bab 84


Aulia lagi-lagi dalam keadaan bingung saat menghadapi ketiga laki-laki ini. Dia juga tidak membayangkan akan ada kejadian seperti ini.


"Aku minta maaf kepada Gus Fathir, karena tidak membalas pesan atau panggilan. Dari kemarin ponsel aku tidak aktif karena hilang. Aku lupa menaruh atau memang terjatuh, aku tidak tahu," ucap Aulia dengan perasaan merasa bersalah.


"Hah, pantas saja tadi aku telepon kamu tidak aktif. Aku kira kamu sedang ngecas ponsel. Biasanya kamu selalu menonaktifkan ponselnya," ujar Alvan.


Gus Fathir melirik ke arah Alvan. Dia merasa kesal karena laki-laki keturunan Jepang itu memotong pembicaraannya. Tadi dia baru membuka mulut hendak membalas ucapan Aulia, dengan seenaknya Alvan yang tidak di ajak bicara malah menimpali pembicaraan Aulia.


"Tidak apa-apa, Aulia. Alhamdulillah, kalau kamu dalam keadaan baik-baik saja. Aku sejak kemarin terus kepikiran kamu—"


"Aku selalu memikirkan kamu setiap hari," potong Alvan sambil melirik ke arah Gus Fathir. Dia merasa sangat tersaingi oleh laki-laki itu.


"Aku sejak bertahun-tahun selalu mengkhawatirkan dan memikirkan kamu, Aulia. Tidak pernah terlewat setiap hari, setiap jam. Aku selalu mencari keberadaan dirimu," timpal Rangga tidak mau kalah oleh dua orang saingannya.


Kakek Yusuf dan Nenek Halimah hanya tersenyum melihat kelakuan ketiga orang laki-laki dewasa, tetapi berbuat kekanak-kanakan hanya untuk mencari perhatian dari Aulia. Tidak ada yang mau mengalah, bahkan semakin aktif dan agresif dalam memberikan perhatiannya kepada sang pujaan hati.


Aulia menghela napas di balik cadarnya. Dia kini mengalihkan pandangannya kepada Alvan.


"Untuk Tuan Alvan, aku minta maaf karena menolak ajakan makan malam. Karena aku sudah punya janji terlebih dahulu dengan Kakek dan Nenek. Bukannya itu sudah aku beri tahu kepada Anda dan Mami Siska," ucap Aulia.


"Aku kira kamu menolak karena masih marah kepadaku," balas Alvan dengan lirih dan tatapan mata yang memelas.


Aulia merasa kalau Alvan semakin bergantung kepadanya. Bahkan di saat dia hendak pulang pun, selalu saja ada alasan untuk menahannya agar jangan pulang.

__ADS_1


Kini Aulia mengalihkan perhatiannya kepada Rangga. Laki-laki yang merupakan cinta pertama dan sempat dihindari olehnya karena sangat merasa sakit hati oleh keluarganya dahulu.


"Kak Rangga, aku baik-baik saja. Jadi, Kakak tidak perlu khawatir. Apalagi sekarang ada Kakek Yusuf dan Nenek Halimah yang akan menjaga aku. Insha Allah aku selalu dalam keadaan baik-baik saja," pungkas Aulia.


Ketiga laki-laki itu akhirnya bicara dengan Kakek Yusuf, sedangkan Aulia dan Nenek Halimah pergi ke kamar. Sebenarnya, Aulia merasa kurang nyaman saat ini bertemu dengan ketiga orang sekaligus. Akibatnya, dia memilih mengistirahatkan dirinya. 


***


Keesokan harinya, Alvan sudah bersikap menyebalkan dan suka memerintah lagi kepada Aulia. Sebenarnya, dia melakukan hal itu untuk mencairkan kembali suasana di antara mereka. Alvan merasa kalau Aulia menjadi berbeda kepadanya. Meski dia bilang sudah memaafkan kesalahannya dahulu.


"Aulia," panggil Alvan yang tatapannya tidak lepas dari perempuan bercadar itu.


"Iya, Tuan," balas Aulia sambil mengangkat kepalanya.


"Apa kamu sudah memikirkan permintaan yang ingin aku kabulkan?" tanya Alvan.


"Belum ada, Tuan," jawab Aulia.


"Aulia, aku sangat menyukaimu. Aku ingin mempersunting dirimu sebagai istriku. Apakah kamu mau menyempurnakan sebagian agamaku?" Alvan mengungkung Aulia dengan menahan kedua tangannya di sandaran kursi.


"Aku mencintaimu," bisik Alvan sambil menatap mata bening perempuan itu.


Aulia merasakan jantungnya berdebar kencang, tetapi ada rasa takut dalam dirinya. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat ini. Bahkan bola mata dia tertuju kepada wajah Alvan.


Alvan merasa sangat gemas karena Aulia tidak membalas ucapannya. Rasanya dia ingin mencium bibir yang ada di balik cadar. Agar perempuan itu berbicara. Namun, dia tidak akan melakukan perbuatan keji seperti itu.


"Menikahlah denganku!" pinta Alvan dan membuat tubuh Aulia semakin menegang.


"Kita bangun rumah tangga seperti apa yang diharapkan oleh kamu," lanjut laki-laki yang masih saja mengungkung Aulia.

__ADS_1


Aulia hanya bisa menelan ludah. Dia bingung harus berbuat apa. Selama ini dia tidak pernah berpikir kalau Alvan akan sampai punya keinginan menikahi dirinya.


Dalam hidup Aulia laki-laki yang pernah terpikirkan untuk menjadi suami adalah Rangga, Gus Fathir, dan Ahmad. Rangga adalah kekasih, cinta pertama, dan laki-laki yang pernah membuatnya hamil. Lalu, mereka pun berencana menikah secara diam-diam. Akan tetapi bapaknya menolak Aulia di nikahi secara siri. Sampai Aulia merasa dikhianati oleh keluarga Rangga. 


Suami idaman Aulia itu seperti Gus Fathir. Laki-laki yang sholeh, tampan, dan mempunyai ilmu agama yang bisa membimbing dirinya dan keluarganya kelak. Namun, lagi-lagi Aulia merasa dikhianati oleh cintanya. Ketika laki-laki itu melamarnya, tetapi tidak menolak saat dinikahkan oleh kakeknya dengan perempuan lain. Aulia tidak mau menjalani kehidupan rumah tangga yang poligami. Dia tahu dirinya seperti apa. Takutnya bukan pahala yang dia dapat dalam membangun rumah tangga itu. Melainkan, dosa yang menumpuk karena rasa curiga, iri, dan bisa saja sering berprasangka buruk pada madunya. 


Luka di hatinya bisa sembuh dengan kehadiran Ahmad. Baru kali ini Aulia jatuh hati pada seseorang tanpa melihat fisiknya. Kriteria suami ideal jatuh pada sosok ini. Bahkan saat dia kehilangan calon suaminya ini, membuat dia lama dalam berduka. Sampai sekarang pun belum ada laki-laki yang menurutnya seperti Ahmad.


Alvan, tidak ada yang istimewa darinya di mata Aulia. Hanya saja, entah kenapa sosok ini tidak bisa lepas dari pikirannya. Semenjak mereka awal bertemu dulu, dia merasa ada kekuatan yang membuat dirinya terlibat dengan laki-laki ini.


Kedua orang yang masih saling menatap dalam jarak yang sangat dekat ini, seakan lupa mereka itu sedang apa dan di mana. Sampai suara batuk seseorang menyadarkan keduanya. 


Alvan dan Aulia sama-sama merasa malu dan canggung. Aulia menundukkan kepalanya, sedangkan Alvan menegakkan badannya.


Terlihat ada Mario berdiri di dekat pintu. Wajahnya menampilkan senyum jahil.


"Apa aku mengganggu?" tanya Mario.


"Iya." Alvan memicingkan matanya pada sang asisten.


"Tidak." Aulia masih menundukkan mukanya.


"Oh, kalau begitu aku mau bilang. Rapat tinggal sepuluh menit lagi. Kalian masih punya waktu, jadi manfaatkan sebaik-baiknya," lanjut Mario lalu pergi meninggalkan ruang Alvan.


Sepeninggalan Mario, keduanya malah diam dan menjadi canggung. Alvan pun melirik ke arah Aulia.


"Kamu jangan merasa terbebani oleh perasaan aku. Kamu punya hak untuk menerima atau menolaknya. Meski begitu, aku berharap kalau kamu menerima cinta dan diriku ini," ucap Alvan.


***

__ADS_1


Kira-kira Aulia akan balas apa, ya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2