Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 56. Alvan Ngambek!


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


Bab 56


     Iqbal pulang lebih cepat hari ini. Dia mendengar kalau istrinya sakit. Tubuh Mutiara sangat panas dan tidak mau dibawa ke dokter. Meski Aulia dan Annisa sudah merayunya.


"Ara, kita pergi ke dokter, ya!" ajak Iqbal dengan suara lembutnya.


"Ti-dak per-lu, Mas," jawab Mutiara.


"Tapi, tubuh kamu saat ini sedang demam," ucap Iqbal sambil membelai kepalanya.


"A-ku ha-nya per-lu ti-dur sa-ja," ucapan Mutiara terjeda karena menarik napasnya, "Nan-ti ju-ga a-kan ba-ik-an kem-ba-li."


"Sini Mas peluk!" Iqbal duduk bersandar di sandaran tempat tidur, lalu dia merangkul tubuh Mutiara.


     Ini sudah lewat Ashar, waktu yang tidak baik untuk tidur. Sehingga, Iqbal mengajaknya berbicara sesuatu yang lucu agar istrinya tidak mengingat lagi kenangan buruknya.


***


     Alvan merasa sangat marah mengetahui kisah hidup Mutiara. Dia pun menceritakan kepada papi dan maminya. Dia ingin kerja sama dengan perusahaan Barata tidak diperpanjang lagi.


"Sekarang aku mengerti kenapa Ara hanya mengangguk atau menggeleng jika ditanya oleh aku. Aku kira dia tidak suka sama kehadiran aku di sini," ucap Alvan dengan nada lirih.


"Waktu sekolah juga, Ara tidak suka bicara karena ada seorang anak yang suka mengganggunya. Anak itu akan bicara seperti Ara, saat bicara dengan orang lain, jika ada Ara di sisinya," ucap Annisa.


"Apa Ara saat kecil juga suka dibulli?" tanya Alvan.


"Tidak, anak-anak di kampung tidak membukanya karena kita sudah diajarkan tidak boleh menghina ciptaan Allah. Anak yang suka menjahili Ara itu anak pindahan dari kota. Dia kesal karena satu tugas kelompok dengan Ara yang selalu kesulitan jika otaknya dipakai lama berpikir," jawab Annisa.


"Apa itu efek dari kekerasan yang diterima olehnya?" tanya Alvan.


"Iya, dia jadi lemot dalam berhitung atau mengingat sesuatu. Dia juga sering mengeluh sakit di kepalanya," balas Annisa.


"Aku sungguh tidak menyangka kalau keluarga yang selalu tampil mesra itu punya kelainan jiwa," ucap Alvan dengan geram.


     Alvan ingin keadilan buat Ara. Mana ada seorang ibu tega berbuat kejam kepada anak kandungnya sendiri. Apalagi sahabatnya menikahi wanita kejam. Alvan pun ingin menekan perusahaan milik Barata sampai dinyatakan bangkrut dan mengembalikan semua harta yang seharusnya menjadi milik Mutiara. Untuk pengobatan dia juga menyarankan Mutiara untuk berobat ke Jakarta atau Singapore.

__ADS_1


"Kamu, bisa menyuruh Ara untuk berobat. Lalu, kamu sendiri? Kenapa tidak ingin bisa berjalan kembali? Kamu juga sebaiknya melakukan terapi. Pasti tuan Kenzo juga akan sangat senang," sanggah Aulia.


"Aku bisa jalan atau tidak, apa akan ada pengaruhnya bagi kehidupan aku atau kamu?" balas Alvan sinis.


"Makanya kamu itu jangan suka membicarakan sesuatu yang kamu pun enggan melakukannya," balas Aulia dengan mengerlingkan matanya.


     Alvan kesal pada Aulia maka dia pun diam. Hal ini membuat Aulia dan Annisa saling bicara lewat mata. Kedua perempuan itu mengedipkan matanya.


'Dia marah.' kode Annisa.


'Iya, kayaknya,' balas Aulia.


'Tanggung jawab kamu!' Annisa membalas.


'Dasar, Tuan mudah baperan.' Aulia mengerlingkan matanya lagi.


"Tuan ini sudah sore. Apa mau mandi?" tanya Aulia.


     Alvan pun pergi ke kamarnya dan langsung menutup pintu. Aulia yang ingin masuk pun tidak jadi.


"Apa dia selalu seperti ini?" tanya Annisa.


"Lucu, ya, marahnya. Kayak gadis kalau lagi datang bulan," ucap Annisa dan Aulia tertawa terkekeh.


"Apa aku tadi mengatakan sesuatu yang membuatnya marah atau sakit hati?" gumam Aulia merasa bersalah pada atasannya itu.


"Kamu harus minta maaf padanya!" titah Annisa.


"Iya, aku akan kirim pesan padanya dulu. Baru nanti bicara secara langsung," tukas Aulia sambil merogoh saku di baju gamisnya untuk mengeluarkan handphone.


***


      Alvan yang baru selesai mandi membuka handphone dan melihat ada pesan yang masuk dari Aulia. Ekspresi dia hanya datar berbeda dari kemarin-kemarin saat dia menerima pesan. Baru saja dia melihat ada pesan masuk dari Aulia saja senangnya minta ampun.


^^^Tuan, apa Anda marah?^^^


^^^Aku minta maaf, jika ada kata-kata aku yang menyinggung perasaan.^^^


^^^Aku tidak punya niat buruk pada Anda.^^^

__ADS_1


Ya


      Hanya itu yang di berikan balasan dari Alvan kepada Aulia. Dia sedang tidak mood melakukan apapun dan bertemu dengan siapapun. Bahkan salat Magrib saja dia lakukan di kamar.


"Alvan belum keluar kamar?" tanya kakek Yusuf.


"Iya, Kek. Dipanggil juga katanya sedang ingin istirahat," jawab Aulia. Dia semakin merasa bersalah pada atasannya itu.


"Kamu, kenapa?" tanya kakek Yusuf.


    Lalu, Aulia pun menceritakan kejadian tadi sore antara dirinya dengan Alvan. Sungguh Aulia semakin yakin kalau sekarang bosnya itu sedang terluka hatinya gara-gara ucapannya. Meski dia tidak niat sama sekali untuk melakukan hal itu. Dia harusnya sadar kalau seseorang yang memiliki kekurangan selalu sensitif perasaannya, jika menyinggung kekurangan dirinya. Dia juga selalu seperti itu, jika ada yang menyinggung masa lalunya yang sudah tidak perawan lagi, pernah hamil, dan mengalami keguguran.


"Minta maaflah padanya, kadang ucapan yang kita anggap bisa-bisa saja atau sepele, justru itu bagi dia itu sesuatu yang sangat menyakitkan," kata kakek Yusuf.


     Aulia pun mengetuk pintu kamar Alvan. Dia merasa sudah berbuat dzolim pada laki-laki itu. Dia seharusnya tidak menyinggung hal yang kira-kira tidak disukai oleh Alvan. Meski papi Kenzo sudah pernah menyuruhnya untuk melakukan terapi karena masih punya peluang untuk bisa jalan.


"Tuan, makan malam! Aku sudah bawakan, nih. Gado-gado kumplit kesukaan Tuan," kata Aulia setelah mengetuk pintunya.


      Aulia pun menghubungi lewat telepon, dia berharap bisa bicara dengannya. Namun, hal ini tetap sama. Alvan masih tidak mau membukakan pintu untuknya. 


"Ada apa?" tanya Iqbal begitu turun sambil membawa piring bekas makan Mutiara.


"Tuan Alvan tidak juga membuka pintunya meski sudah aku ketuk beberapa kali," jawab Aulia.


       Iqbal pun berinisiatif membuka paksa pintu itu karena takut terjadi apa-apa kepada Alvan. Begitu dia mendobrak pintu dibantu oleh Annisa. Ternyata Alvan sedang tidur dengan pulas dengan laptop yang masih menyala dan handphonenya berada di atas meja.


"Astaghfirullahal'adzim. Apa Alvan kalau tidur seperti ini? Kayak orang yang mati saja. Dia tidak bisa bangun hanya dengan mendengar bunyi," ucap Iqbal sambil terkekeh.


"Tidak tahu juga, karena aku tidak pernah mendengar kebiasaannya ini," balas Aulia.


"Ya sudah, kalau begitu kita keluar. Biarkan dia istirahat," kata kakek Yusuf dan pergi keluar dari kamar Alvan dan di susul oleh yang lainnya.


     Aulia pun membereskan laptop dan menyelimuti tubuh Alvan. Saat dia merapikan selimut agar sampai ke dada tuannya. Laki-laki itu mencengkram kuat tangan Aulia sampai dia terkejut bahkan terjatuh menimpa tubuhnya. Kini kedua pasang mata itu saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu jahat … aku benci kamu," kata Alvan dengan suaranya yang serak khas orang yang baru bangun tidur.


***


Bagaimana reaksi Aulia setelah mendengar itu? Apa benar Alvan membenci Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2