
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 30
"Jika, ada seorang laki-laki sholeh dan menerima diri kamu apa adanya, untuk mengajak kamu menikah saat ini, bagaimana?" tanya kakek Yusuf lagi.
Aulia merasa ada rasa senang ternyata masih ada laki-laki yang baik menurut kakek Yusuf, bersedia menjadikan dirinya sebagai seorang istri. Dia yakin kalau kakek Yusuf itu tidak akan sembarangan mengenalkan laki-laki kepadanya. Apalagi ini seorang yang akan menjadi pendampingnya kelak.
"Insha Allah, Aulia siap jika menurut kakek Yusuf dia adalah laki-laki yang pantas untuk Aulia," jawab Aulia dengan perasaan campur aduk.
"Jika kamu bersedia melakukan ta'aruf dengannya. Dia akan datang ke sini besok malam. Dia ingin kamu mengenal terlebih dahulu dirinya. Setelah itu lakukanlah sholat istikharah, meminta petunjuk kepada Sang Pencipta Makhluk yang membolak-balikkan hati. Jika, hati kamu mantap akan ajakan pinangannya itu, dia tidak ingin lama-lama menunda pernikahan itu. Dia akan segera mengurus semua persyaratan dokumen," ucap kakek Yusuf.
"Insha Allah, Kek. Semoga dia jadi yang terbaik buat Aulia. Begitu juga sebaliknya, Aulia jadi yang terbaik untuk dirinya," balas Aulia.
"Nama laki-laki itu adalah Muhammad Salahuddin Al Ayyubi. Biasanya kami memanggil nama dia dengan panggilan Ahmad. Dia pemuda pemilik grosir kelontongan yang ada di kecamatan. Insha Allah, dia adalah seorang hafidz di dalam asuhan kakek, dahulu. Dia juga dulu tinggal di rumah ini selama enam tahun karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Bahkan kamar kamu yang ditempati sekarang itu dulu adalah kamarnya," jelas kakek Yusuf dan membuat Aulia sangat terkejut.
Jujur Aulia baru tahu kalau kamarnya itu dulunya pernah ditinggali oleh seorang laki-laki. Dia mengira kalau kamar-kamar dibagian belakang saja yang di tinggali oleh para santri yang belajar dibawah bimbingan kakek Yusuf, seperti yang dia ketahui selama ini.
"Kalau dia adalah seorang laki-laki yang pernah menjadi anak asuh kakek, Aulia rasa dia pasti orang baik dan pantas menjadi seorang imam," kata Aulia.
"Meski begitu, dia bukanlah seorang laki-laki yang sempurna, Aulia. Besok kamu bisa lihat dan nilai sendiri, dia itu bagaimana?" Kakek Yusuf tidak mau membuat kedua anak asuhnya merasakan kecewa.
"Baiklah, Kek. Aulia akan nilai sendiri laki-laki itu seperti apa," ujar Aulia.
***
Hari ini Aulia disibukkan membuat makanan untuk tamunya malam nanti. Walau hanya ta'aruf terlebih dahulu, dia ingin menyajikan sesuatu yang terbaik untuk tamu yang akan datang.
__ADS_1
"Ara, tolong bantu aku masukan puding ini ke dalam kulkas. Kalau puding bagian kamu ingin dingin juga, masuk saja sekalian ke dalam kulkas," pinta Aulia.
"Ba-ik, pu-nya A-ra di-masuk-an juga," kata Ara sambil tersenyum.
Meski sekarang Aulia sudah membuka toko oleh-oleh di samping jalan yang ada di perempatan dan punya beberapa pegawai. Mutiara masih menjadi orang kepercayaannya. Gadis malang itu bertugas dibagian dapur dan membuat bermacam-macam keripik. Orang yang bagian membuat bolu dan kue kering dan kue basah, berbeda lagi. Orang yang melayani pembeli juga berbeda. Selama dua tahun ini Aulia mengembangkan usahanya sampai bisa membuat sebuah toko dan memiliki tujuh pegawai. Orang-orang yang dipekerjakan oleh Aulia adalah orang-orang jujur dan baik.
Usaha yang dijalankan oleh Aulia sangat maju. Bahkan tidak jarang, para pegawainya sering lembur jika terlalu banyak permintaan pesanan. Awalnya Aulia selalu menolak pegawainya untuk lembur. Namun, kebanyakan mereka ikhlas menjalani pekerjaan itu karena membutuhkan uang yang banyak untuk keperluan yang mendesak.
***
Selepas berjamaah Isya, kakek Yusuf bilang kalau Ahmad akan datang dengan seorang teman sekaligus orang kepercayaannya. Aulia juga sudah menyiapkan foto wajah dirinya untuk diperlihatkan kepada Ahmad nanti.
"Assalamu'alaikum," salam seseorang di depan rumah.
"Wa'alaikumsalam," balas kakek Yusuf setelah dia membuka pintu.
"Aulia sepertinya itu Ahmad. Kamu bersiap-siaplah," kata nenek Halimah.
Aulia dan nenek Halimah mendatangi ruang tamu, di sana ada dua orang pemuda. Keduanya terdiam saat melihat kedatangan Aulia yang membawa minuman dan makanan untuk mereka.
Kedua orang pemuda itu memiliki fisik yang tolak belakang, yang satu berkulit sawo mentah dan yang seorang lagi putih pucat. Aulia agak terkejut saat melihat wajah salah seorang pemuda yang duduk di sana.
"Aulia, kenalkan ini Ahmad yang kemarin kakek ceritakan dan ini temannya Iqbal," kata kakek Yusuf menunjuk kedua pemuda itu.
"Assalamu'alaikum," salam Aulia sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Wa'alaikumsalam," balas kedua pemuda itu menangkupkan kedua tangannya juga.
Ahmad adalah pemuda berkulit eksotis dengan mata pecak sebelah sedangkan Iqbal adalah pemuda berkulit putih dengan mata sipit.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah bisa melihat keadaan Ahmad seperti apa. Apa kamu mau melanjutkan ta'aruf ini?" tanya kakek Yusuf kepada Aulia.
"Insha Allah, Kek. Bukannya tidak boleh menilai seseorang dari fisiknya saja saat kita hendak mencari pasangan. Aulia lebih mengutamakan iman, akhlak, dan adab, juga ilmu dari laki-laki yang akan menjadi calon pendamping," jawab Aulia.
Sudah dua kali Aulia terluka hatinya oleh laki-laki berparas tampan. Seandainya, mata Ahmad tidak picak, maka dia termasuk lelaki berwajah tampan meski masih kalah dengan Rangga atau Fathir.
"Insha Allah, kalau itu Ahmad punya," kata kakek Yusuf.
Kakek Yusuf pun memperlihatkan foto wajah Aulia kepada Ahmad karena di sana ada Iqbal. Pemuda itu menudukkan pandangannya. Dia tidak berusaha ingin tahu wajah calon istri sahabatnya itu seperti apa.
Perasaan Ahmad saat ini tentu saja senang karena Aulia tidak menolak dirinya yang memiliki kekurangan. Tadinya dia sempat berpikir jika Aulia menolak dirinya, maka dia akan menyarankan Iqbal sebagai gantinya. Menurutnya Iqbal adalah laki-laki yang lebih baik darinya.
Jantung pemuda berkulit sawo mentah itu berdebar sangat kencang setelah melihat foto wajah milik Aulia. Senyum menawan yang terlukis di sana membuat Aulia terlihat sangat cantik.
Hampir satu jam kelima orang itu berbincang-bincang. Ahmad banyak memberitahu tentang dirinya dan keluarganya yang sudah tidak ada. Laki-laki itu hidup sebatang kara, tetapi teman kedua orang tuanya masih sering membantu dirinya jika ada perlu apa-apa. Aulia hanya memberi tahu secara singkat siapa dirinya. Identitas ibunya yang punya masa lalu nggak kalah kelam darinya tidak Aulia ceritakan.
"Aulia jika kamu ingin tahu tentang banyak siapa diriku, tanyakan saja kepada Ustadz Yusuf. Aku izinkan beliau untuk menjawab semua pertanyaan yang ingin kamu ketahui tentang aku," kata Ahmad sebelum mereka pulang. Aulia pun hanya mengangguk.
"Ustadz, kami izin pulang. Ini sudah malam, tidak baik bertamu lama-lama," ucap Ahmad.
"Besok kalau ke sini sore saja sepulang dari toko," kata kakek Yusuf dan Ahmad pun mengangguk.
Baru saja Ahmad dan Iqbal pulang. Tidak lama kemudian pintu ada yang mengetuk dan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
***
Siapa yang datang ke rumah kakek Yusuf? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Baca juga karya aku yang lainnya. Pastinya nggak kalah seru. Cerita Poligami No Pelakor