
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 95
"Assalamu'alaikum. Kenalkan nama aku Alvan," ucap laki-laki itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dia.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Nama aku, Aulia," balas sang wanita itu sambil menahan tawanya.
Kedua orang itu pun tertawa. Menertawakan kekonyolan mereka saat ini. Namun, hal ini harus dilakukan demi masa depan yang baik.
"Bolehkan aku mengenal dirimu lebih dekat lagi?"
"Kenapa kamu ingin mengenal diriku ini?"
"Karena aku sudah jatuh cinta kepadamu saat pertama kali melihatmu di sisi jalan dulu."
"Kapan itu?"
"Masa kamu tidak ingat pertemuan kita pertama kali?"
Aulia malah tertawa terkekeh, hal pertama yang dia pikirkan saat melihat Alvan adalah laki-laki dingin yang tidak ramah. Namun, penilaiannya itu berubah saat mereka bertemu kembali di rumah makan. Perempuan itu berpikir kalau Alvan berubah sifatnya karena keadaan yang membuatnya seperti itu. Ternyata penilainya itu tidak salah, ternyata sebenarnya laki-laki ini adalah orang yang hangat dan humoris. Setelah mengenal dirinya, Aulia baru sadar ternyata laki-laki ini juga suka bersikap manja dan mencari perhatian dari orang yang disayanginya. Jangan tanya dengan sifat percaya diri yang tinggi itu, karena sudah menjadi bawaan gen warisan sifat keluarga dari pihak Papi Kenzo.
"Aulia, apa kamu izinkan aku untuk mengenal dirimu lebih dekat lagi?" tanya Alvan.
"Iya, boleh."
Mendengar balasan Aulia membuat Alvan senang. Seandainya saja dia bisa memeluk dan mencium gadis ini pasti akan dia lakukan. Namun, dia masih takut akan dosa dan membuat Tuhan yang murka.
"Aulia!" panggil Alvan.
"Ya."
Alvan memberikan ciuman jarak jauh pada perempuan itu. Perbuatannya ini membuat Aulia merasa geli dan membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Itu karena kita tidak boleh berciuman kecuali kalau kita sudah menikah," ucap sang atasan.
"Siapa yang mau menikah?" goda Aulia.
"Aku dan kamu!" balas Alvan dengan percaya diri.
Aulia tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya tertawa dan menutup mukanya dengan kedua tangan. Meski wajahnya itu sudah tertutup oleh cadar. Entah kenapa dia merasa sangat malu mendengar perkataan laki-laki ini.
"Izinkan aku untuk menjadi imam kamu," bisik Alvan.
Aulia pun mengangguk. Tentu saja itu membuat Alvan tercengang diam mematung. Tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.
"Jadikanlah aku pendamping hidupmu," kata Alvan untuk meyakinkan dirinya apa reaksi Aulia. Lagi-lagi gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Aulia maukah kamu menjadi istriku?" ucap Alvan lagi untuk lebih meyakinkan dirinya lagi kalau dia sedang tidak dalam ilusi atau mimpi.
Akan tetapi, tetap saja dia melihat Aulia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Antara percaya dan tidak percaya Alvan beranjak dan berjongkok di depan Aulia.
"Tolong pukul kepalaku atau apapun untuk menyadarkan aku!" pinta laki-laki itu pada sang pujaan hati.
"Kenapa kamu ingin aku pukul? Apa jawaban yang aku berikan masih belum bisa kamu mengerti?" balas Aulia.
"Aulia, kamu menerima diriku? Kamu mau menjadikan aku sebagai pendamping hidupmu? Kamu mau aku menjadi suamimu? Orang yang selalu bersamamu sampai akhir hayat nanti? A-h tidak, aku ingin bersama denganmu sampai ke surga nanti!" Alvan berbicara tiada henti saking senangnya dia.
"Iya. Aku bersedia menjadikan kamu sebagai imamku. Pemimpin bagi keluarga aku kelak. Teman yang sama-sama mencari pahala dan ridho dari Allah. Orang yang ingin aku ajak ke surga. Laki-laki yang menemani hari-hariku sampai ajal menjemput," balas Aulia.
Alvan tidak bisa mengungkapkan perasaan yang dia rasakan saat ini, selain kata bahagia sekali. Dia pun akhirnya melompat-lompat seperti anak kecil yang diberi uang jajan, saking gembiranya dia. Lalu, berlari memutari lahan di atap sana.
"Alhamdulillah, Ya Allah! Alhamdulillah. Akhirnya doa dan penantian aku selama 1 tahun lebih ini Engkau kabulkan juga," teriak Alvan senang sambil menangkap kedua tangannya.
Aulia hanya tertawa melihat tingkah laki-laki itu. Iya tidak menyangka akan melihat sisi lain lagi dari seorang Alvan.
"Aulia, ayo, kita bicarakan ini dengan para orang tua. Kita tentukan tanggal pernikahan kita," kata Alvan dengan napas tersengal-sengal sehabis lelah berlari.
"Kenapa terburu-buru sekali?" Aulia menggoda laki-laki yang tidak henti tersenyum.
__ADS_1
"Bukannya sesuatu yang baik itu harus segera dilaksanakan?" Alvan mengerutkan keningnya sampai alis dia hampir menyatu.
Aulia menganggukkan kepalanya. Benar, kalau sesuatu yang baik itu segera dilaksanakan. Serta mengharapkan ridho dan pahala dari Sang Maha Pencipta.
***
Kedua orang ini turun ke lantai bawah dengan perasaan bahagia. Akhirnya mereka bisa melanjutkan hubungan itu lebih yang serius lagi.
"Apa kita perlu mengumumkan hubungan kita kepada seluruh karyawan kantor?" tanya Alvan sambil melihat ke arah Aulia.
"Sebaiknya kita memberitahu mereka setelah resmi mendapatkan restu dari orang tua kita," jawab Aulia dengan malu-malu.
"Baiklah. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini kepada mami dan papi," ucap Alvan dengan menggebu-gebu.
Aulia sendiri pun ingin memberitahu hal ini kepada Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Beberapa hari yang lalu dia membicarakan tentang shalat istikharah kepada mereka berdua.
Ternyata memang diperlukan sesuatu yang lain dari biasanya, untuk mengetahui hal yang ingin kita tahu. Seperti yang disuruh David kepada sepupunya ini. Dia menyuruh untuk menjauh dari Aulia, agar bisa mengetahui seberapa penting atau berharga hidupnya bagi perempuan itu.
Bagi Aulia sendiri, baru menyadari kalau dia tidak suka saat Alvan mengabaikan dirinya. Dia suka akan perhatian dari laki-laki itu. Bekerja sama dengannya saat menjalankan perusahaannya, berbeda rasanya saat dia melakoninya dengan Mario. Meski mereka sama-sama bekerja di kantor yang sama.
***
Saat Aulia dan Alvan berjalan mendekati meja milik Yukari, perempuan itu menatap curiga pada keduanya. Dia pun membuka mulutnya bertanya pada Aulia, tanpa bersuara. Namun, temannya itu malah tersenyum tersipu malu di balik cadarnya.
'Ada apa, sih, dengan mereka berdua?' (Yukari)
Begitu juga saat Aulia dan Alvan bertemu dengan Amelia. Gadis itu menatap aneh pada keduanya. Dia bisa melihat pancaran mata mereka terlihat penuh binar kebahagiaan.
'Apa Kak Alvan menyukai perempuan ini?' (Amelia)
"Kamu mau ke mana Amelia?" tanya Alvan pada gadis yang mengenakan jilbab motif bunga.
"Mau mencari Kak Alvan. Barusan ada telepon dari sekretaris perusahaan PT Maju. Mereka bilang ingin memajukan pertemuan untuk pembahasan kerjasama pada hari ini setelah makan siang," jawab Amelia.
"Kenapa mereka menghubungi tidak melalui Yukari, melainkan melalui kamu?" tanya Alvan heran.
__ADS_1
***
😍 Suit ... suit 🤩 Aulia dan Alvan jadian, euy! Apakah hubungan mereka akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!