Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 78. Jika Jodoh Aulia adalah Alvan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 78


"Aulia, siapa yang akan kamu pilih sebagai pendamping hidupmu?" tanya nenek Halimah.


      Aulia dalam hati terus berdzikir menyebut asma Allah. Dia memohon agar laki-laki yang dipilih olehnya itulah yang terbaik untuk dirinya.


"Bismillah, saya memilih … Tuan Alvan," ucap Aulia.


     Rangga dan Fathir sangat terkejut, dalam hatinya ada rasa kecewa. Namun, mereka menerima dengan lapang dada akan keputusan Aulia.


    Alvan begitu sangat bahagia, perempuan yang sudah mencuri hatinya itu memilih dirinya. Dia punya impian ingin membangun sebuah keluarga yang bahagia melebihi keharmonisan orang tuanya. Jika, kebanyakan orang bilang papi Kenzo dan mami Siska adalah pasangan paling romantis, maka dia pun akan menjadi pasangan suami istri yang lebih romantis dari mereka.


     Aulia memilih Alvan karena hatinya cenderung mengarah kepada atasannya yang suka diam-diam memperhatikannya. Kegigihannya dalam belajar agama Islam membuat dia tergugah hatinya. Apalagi ketika tuannya itu menghafal surat-surat pendek. Sampai terbawa ke alam mimpi, saat tidur pun mulutnya melantunkan ayat-ayat suci itu. Dirinya merasa iri akan kesungguhan dan kecintaan Alvan akan Tuhannya saat ini. Dia yakin kalau Alvan adalah laki-laki yang bisa mengajaknya bersama-sama untuk mencari ridho lillahi.


***


"Aulia ini." Alvan memberikan sebuah buku kecil.


"Ini apa Tuan?" tanya Aulia saat menerima itu, ternyata sebuah buku tabungan.


"Itu milik kamu," jawab Alvan sambil tersenyum jahil. 


     Aulia menatap Alvan dengan penuh tanda tanya. Dia merasa tidak pernah punya tabungan di bank itu.


"Aku tidak pernah nabung di bank ini," balas Aulia masih melihat pada Alvan.


"Aku akan jujur, tapi kamu jangan marah, ya," ucap Alvan dan Aulia pun mengangguk.


"Sebenarnya itu uang kamu yang selalu kamu berikan kepadaku untuk membayar utang yang delapan ratus miliar dulu. Kerja sama itu tetap berjalan baik meski dulu proposalnya rusak gara-gara terkena tumpahan minuman. Mario membuat ulang perjanjian kerja sama itu. Jadi, kamu tidak perlu menggantinya," aku Alvan dengan takut-takut kalau Aulia akan marah.


"Lalu, kenapa Tuan melakukan hal itu kepadaku?" tanya Aulia dengan nada kesal.


"Agar aku bisa mengenal dirimu Aulia. Jujur, saat pertama kali aku melihat dirimu, hati ini merasa sangat penasaran pada gadis bercadar dengan sorong mata yang teduh tapi langsung menjerat aku untuk selalu melihat ke arah dirimu. Saat kejadian di restoran itu, tiba-tiba saja ide itu terlintas. Mario bahkan mengatai aku penjahat karena sudah mempermainkan seorang perempuan yang tidak berdaya. Namun, itu adalah satu-satunya cara agar kamu bisa dekat dengan aku," jawab Alvan dengan wajah memelas agar Aulia tidak marah kepadanya.

__ADS_1


"Lalu uang ini mau di apakan?" tanya Aulia.


"Itu terserah kamu karena itu adalah milik kamu," jawab Alvan.


      Betapa terkejutnya Aulia saat melihat jumlah saldo yang ada di dalam rekening bank itu. Hampir dua kali lipat dari uang yang sudah dibayarkan kepada Alvan.


"Tunggu, kenapa saldonya banyak sekali?" tanya Aulia dengan memperlihatkan jumlah uang yang tertera dalam tabungan itu.


"Itu uang milik kamu sama bonus atas setiap keberhasilan semua hasil kerja kerasmu dalam sebuah proyek kerja sama," jawab Alvan.


***


2 tahun kemudian …


     Aulia dan Alvan pergi menjalankan umrah setelah mereka selesai melangsungkan pesta pernikahan. Tadinya kakek Yusuf dan nenek Halimah akan diajak serta. Namun, kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan keduanya untuk melakukan perjalanan jarak jauh.


"Nikmati masa bulan madu kalian. Katanya ingin pergi ke Turki dan Eropa," ucap mami Siska.


"Kenapa Mami sama Papi tidak ikut umrah bersama kami?" tanya Aulia kepada ibu mertuanya.


"Kami berangkat haji dua bulan lagi. Kasihan tubuh tua kami kalau terlalu sering di ajak bepergian jauh terus," jawab mami Siska.


"Bawa kabar gembira saja untuk kami setelah pulang bulan madu nanti," kata papi Kenzo.


"Oke, Papi," ujar Alvan sambil mengacungkan jari jempol.


     Aulia dan Alvan pergi umrah dilanjutkan berbulan madu keliling Eropa selama satu bulan. Namun, sayangnya mereka belum diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati. Aulia melahirkan anak pertamanya setelah 3 tahun pernikahan mereka.


***


Beberapa tahun kemudian ….


     Aulia sedang membereskan barang-barang bawaan milik putra sulungnya karena mau ikut lomba olimpiade matematika di Kota Pelajar selama satu Minggu. Putranya menjadi salah satu murid yang ikut serta dalam acara itu.


"Mama, apa semua sudah siap?" tanya Ali putra pertama Aulia dan Alvan.


"Sudah Sayang, nih!" Aulia menepuk satu koper berukuran sedang.

__ADS_1


"Apa Papa juga akan ikut, Ma?" tanya Ali.


"Tentu saja, mana mungkin papa melewatkan acara yang diikuti oleh anak-anaknya," jawab Aulia.


"Asik, jadi kita sekeluarga akan pergi ke Kota Pelajar!" teriak Ali girang.


     Ali pun berlari mencari adiknya, Aliya. Aulia tersenyum melihat tingkah putranya yang mirip Alvan, tidak bisa diam selalu aktif.


***


"Anata (Sayang), aku dan anak-anak besok akan main ke taman hiburan. Apa kamu mau ikut?" tanya Alvan.


"Aku mau main ke rumah mami saja," jawab Aulia.


"Tidak, nanti kamu dimonopoli oleh mami dan papi di sana dan pastinya akan menginap. Tidak … tidak! Anata, kamu harus ikut bersama kami ke taman hiburan," ujar Alvan dengan mimik wajah tidak rela.


     Aulia malah tersenyum geli melihat ekspresi suaminya yang mirip putrinya kalau sedang merajuk. Entah kenapa kedua anaknya itu mirip sekali dengan suaminya dalam segala hal.


"Kamisan (Sayang), kita sudah dua minggu tidak menjenguk mereka, karena kesibukan kegiatan anak-anak. Sebaiknya hari libur besok kita menemui mami dan papi," ajak Aulia.


"Pantas saja mami dan papi selalu menyayangi dan membanggakan kamu, Anata. Karena sayangnya aku ini begitu perhatian kepada mertua," ucap Alvan sambil mengusap kepala istrinya.


"Bagaimana pun juga mereka itu sudah menjadi orang tuaku. Maka aku pun harus memperlakukan mereka selayaknya orang tua kandungku," balas Aulia.


"Kamu benar, Anata," tukas Alvan.


"Masa aku cuma sayang sama kamu, Kamisan. Tapi tidak sayang kepada papi dan mami yang merupakan orang berharga bagi dirimu, yang sudah mengasuh dan membesarkan kamu," tambah Aulia.


"Aulia, Aishiteru (aku mencintaimu)!" bisik Alvan.


"Suki desu (aku cinta kamu)," balas Aulia. Dia menyambut ciuman mesra dari suaminya.


***


Happy Ending


Alhamdulillah, selesai sudah cerita Aulia. Maaf buat teman-teman yang kecewa atas akhir cerita novel ini. Semoga ada yang bisa diambil nilai atau hikmah dari cerita ini. Nantikan karya-karya baru selanjutnya.

__ADS_1


Untuk nama teman-teman yang aku minta dulu, akan aku pakai di novel yang berjudul "Bukan Istana Impian" dilihat dari judulnya saja sudah ketebak cerita apa itu 😁.


Untuk cerita Ning Annisa, tunggu besok keputusannya.


__ADS_2