
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 38
Brak!
Bruk!
"Auuu," teriak Aulia meringis kakinya merasa sakit.
Aulia tanpa sadar kalau sekarang sedang berada di atas pangkuan seorang laki-laki. Dia pun memalingkan wajahnya dan mendongakkan kepala, melihat wajah tampan seorang pria yang tatapannya tajam dan dingin.
"Astaghfirullahal'adzim. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Aulia penuh penyesalan. Dia menundukkan kepala dan melihat kaki laki-laki yang menggunakan kursi roda itu.
Jantung Aulia merasa melompat tadi saat menyadari kalau dia sudah duduk dipangkuan laki-laki asing. Kini, tubuhnya terasa bergetar dan kedua kakinya terasa lemas.
Laki-laki itu pergi begitu saja, meninggalkan Aulia. Sementara itu, Aulia masih menunduk dan berdiri di tempatnya.
Aulia ingat dengan pemilik wajah laki-laki itu. Dia laki-laki semalam yang berada di dalam mobil yang hampir menabrak anak kecil. Laki-laki itu bernama Alvan dan satu lagi, laki-laki yang bersama dengannya itu bernama David.
***
Saat Aulia datang ke tempat teman-temannya, pesenan mereka baru datang. Itu artinya dia lumayan lama saat pergi tadi. Dia tidak menceritakan apa yang terjadi kepada temannya.
"Kalian suka dengan makanannya?" tanya Aulia kepada teman-temannya yang terlihat lahap saat makan tadi.
"Enak, Bos!" jawab mereka.
Sebenarnya, Aulia sudah sering melarang para pegawainya untuk memanggil dirinya 'Bos'. Namun, tetap saja mereka kadang suka panggil begitu.
"Kalau kalian suka, insha Allah nanti saat pulang aku masak seperti ini buat kalian," ucap Aulia dan disambut gembira para pegawainya.
Saat Aulia membayar bill makanannya tadi ke kasir, dia bertemu kembali dengan laki-laki berkursi roda di sana dan laki-laki yang bernama David.
"Eh, kamu 'kan yang semalam? Iya, 'kan? Nona bercadar pink," tanya David pada Aulia.
__ADS_1
Aulia hanya menangkupkan kedua tangannya di dada. Dia pun dengan cepat pergi dari sana setelah membayar.
"Hey, Nona tunggu! Kamu belum memberi tahu aku, siapa nama kamu?" teriak David dan menarik perhatian orang-orang yang ada di sana.
Untungnya Aulia memakai cadar, kalau tidak sudah bisa terlihat jelas warna wajahnya berubah menjadi memerah karena malu. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan David juga.
"Ada apa?" tanya salah seorang pegawai Aulia saat melihat Aulia jalan terburu-buru saat menghampiri mereka yang sedang menunggu di dekat mobilnya.
"Tidak. Sebaiknya kita cepat-cepat ke taman bunga itu sebelum kesorean," ucap Aulia sambil masuk ke dalam mobilnya.
Aulia dan teman-temannya pun menghabiskan waktu di taman bunga yang tertata rapi dan indah, sampai sore hari. Seperti biasa mereka berswafoto di tempat-tempat yang terlihat bagus. Tanpa Aulia tahu kalau banyak foto dirinya yang diambil diam-diam oleh seseorang.
***
Setelah bermalam di hotel sebelum pulang dan pulang saat subuh berakhir. Mereka sarapan dahulu di sana dan mampir dulu ke toko souvernir atau oleh-oleh untuk teman-teman yang tidak ikut bersama mereka.
Aulia pun membeli oleh-oleh untuk kakek Yusuf, nenek Halimah, dan juga untuk Ahmad. Namun, saat melihat sebuah tas dari anyaman rotan yang berbentuk lucu dan manis. Dia teringat kepada Annisa, maka dia pun membeli untuknya.
***
Kepulangan Aulia dan Mutiara di sambut gembira oleh kakek Yusuf, nenek Halimah, dan nenek Mintarsih. Mereka senang saat mendengar cerita Aulia dan Mutiara selama perjalanan mereka.
Aulia pun mengirim pesan ke Annisa, kalau dia punya oleh-oleh untuknya. Ternyata Annisa membalas kalau dia akan datang ke rumah kakek Yusuf dan juga akan ikut menginap. Tentu saja Aulia merasa senang dengan niat Annisa itu.
***
"Tidak terasa lima hari lagi kamu akan menikah," ucap Annisa sambil berbaring dan wajahnya mengarah kepada Aulia.
"Hn, aku berharap semua bisa berjalan dengan lancar," ucap Aulia tersenyum malu-malu.
"Hmmm, kamu sudah tidak sabar nih, ingin segera bertemu dengan Mas Ahmad," kata Annisa menggoda dengan matanya menyipit dan senyum yang dikulum.
"Kamu sekarang bisa menggoda aku, pas nanti giliran kamu menikah tahu rasa, bagaimana deg-degan dan cemasnya hati takut gagal saat menikah nanti. Apa kamu tahu kalau perasaan calon pengantin itu baru akan terasa tenang dan senang, jika sudah mendengar kata 'sah' dari banyak orang yang menyaksikan proses ijab qobul saat diucapankan," ujar Aulia yang sedang merasakan kecemasan dalam hati dan pikirannya.
"Kalau langsung dinikahkan mendadak, kayaknya nggak bakal mengalami apa yang kamu cemaskan itu," balas Annisa.
"Kayak yang di novel-novel online itu?" tanya Aulia sambil mengangkat alisnya dan tersenyum geli.
__ADS_1
"Ho-oh, apalagi tuh, karya Santi Suki yang di novel Duda Vs Anak Perawan. Season 2 itu 'kan ketiga tokohnya nikah muda dan dadakan lagi. Mana di antara mereka yang dua pemuda itu menikahi gadis di bawah umur, tapi meski nikah dadakan, maharnya sangat gede," ucap Annisa promosikan karya novel author.
"Judulnya juga Panah Asmara Para Miliarder Muda, jelaslah maharnya miliaran. Namun, mahar dari Mas Ahmad juga nggak kalah banyak. Aku tidak bisa menghitung berapa total itu," balas Aulia.
"Iya lah, Mas Ahmad tahu kalau seorang perempuan itu adalah makhluk Allah yang mulia. Dia juga sangat menghormati kedudukan seorang wanita, makanya dia memberikan mahar yang menurut dirinya terbaik juga. Aduh, aku juga mau kalau jodoh aku nanti seperti itu. Seorang laki-laki yang menghormati, menghargai, dan menjaga istrinya dengan sepenuh hati," jelas Aulia.
"Aku merasa sudah menjadi seorang perempuan yang beruntung, bisa dipinang oleh Mas Ahmad," pungkas Aulia dengan pipi yang merona.
"Semoga Allah juga menyediakan laki-laki seperti Mas Ahmad untuk aku," lanjut Annisa sambil menengadahkan tangan.
Kedua perempuan itu tertawa bersama dan berbincang-bincang sampai hampir tengah malam. Jika, sudah bersama mereka itu kadang lupa waktu.
***
Sementara itu di rumah Ahmad, pemuda itu sedang bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Penyayang. Dia belakangan ini sedikit tidur dan banyak mencurahkan isi hati dan apa yang ada di dalam pikirannya, kepada Sang Khalik.
"Ya Allah, Engkau-lah yang mengatur segala yang ada di dunia ini. Kuatkanlah keimanan ini dalam diriku dan jiwaku. Hidup dan matikanlah aku dalam keadaan husnul khatimah."
Tidak jauh dari tempat Ahmad duduk di atas sajadah ada sebuah kotak yang berisi dompet kulit. Sedangkan bolu susu yang disertakan tadi bersamanya sudah habis dia makan.
"Wahai Zat Yang Maha Agung, jadikanlah hamba-Mu ini termasuk golongan dari orang-orang yang mencintai-Mu dan dicintai oleh-Mu."
***
Ahmad tersenyum saat melihat foto-foto yang dikirimkan oleh Mutiara kepada Ahmad kemarin. Gadis gagu itu ingin membuat orang yang berharga bagi temannya juga merasa ikut bahagia.
"Ya Allah, pantaskah aku mendapatkan dirinya? Dia laksana seorang bidadari bagiku," ucap Ahmad melihat foto Aulia yang duduk dikelilingi bunga-bunga yang bermekaran.
"Semoga dia menjadi bidadariku satu-satunya di dunia ini. Dan di akhirat kelak dia jadi pemimpin para bidadariku," gumam Ahmad.
"Ya Allah, aku ini terlalu berlebihan tidak dalam menyukainya. Jangan sampai rasa cintaku kepada hamba-Mu, melebihi rasa cintaku kepada-Mu."
***
Siapa David dan Alvan? Tunggu kelanjutannya, ya!
Maaf telat up date, kayaknya nanti satu lagi, insha Allah malam. Gara-gara gadang semalam jadi inginnya tidur terus.
__ADS_1