
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 48
Aulia dan ibu-ibu tetangga duduk di bagian paling depan. Jemaah laki-laki dan perempuan dipisah, hanya saja jika duduk barisan terdepan bisa melihat siapa penceramahnya. Dia penasaran dengan Ustadz ganteng yang dibilang sama ibu-ibu pengajian itu.
Saat acara pengajian dimulai dengan pembukaan ketua DKM, selanjutnya giliran penceramah yang akan bicara di depan. Betapa terkejutnya Aulia saat melihat Fathir yang akan memberikan ceramah pengajian malam itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh …." Selanjutnya Fathir pun mengucapkan pujian untuk Tuhan Semesta Alam dan Sholawat untuk Rasullullah.
Suaranya yang lembut dan tutur kata yang halus sangat di sukai para jemaah. Semuanya mendengarkan tidak ada yang berbicara, seakan tidak mau terlewatkan satu kata pun yang keluar dari mulut Dosen muda itu. Apalagi saat dia membacakan ayat-ayat dalam Al-Qur'an atau hadits, begitu indah dan enak didengar.
"Ada lima amalan yang dapat membuka pintu rezeki. Apabila hal ini segera kita amalkan secara terus menerus. Pertama: cobalah dengan beristigfar kepada Allah, maka Allah akan memperbanyak rezekimu. Seperti dalam ayat Alquran, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
"Lalu yang kedua bertaqwa kepada Allah niscahya akan dapat rejeki dari arah yang tidak disangka. Seperti dalam ayat Alquran, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
"Lalu yang ketiga, tingkatkan silaturahim maka Allah akan lapangkan rejekimu. Dijelaskan dalam hadits Rasulullah, “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).
"Lalu yang keempat, perbanyak sedekah, yakinlah Allah akan mengganti degan yang lebih baik. Sebagaimana tercantum dalam Alquran, “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
"Dan yang kelima, geber doa meminta rezeki kepada Allah. Setiap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Shubuh, setelah salam, beliau membaca do’a berikut, Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa. (Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).”) (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
***
Pengajian berakhir saat waktu sudah memasuki Sholat Isya. Biasanya jemaah perempuan sholat di rumah sedangkan laki-laki di masjid. Begitu juga dengan Aulia, dia pulang bersama ibu-ibu pengajian lainnya. Namun, saat dia keluar pintu tanpa sengaja berpapasan dengan Fathir.
"Aulia?" panggil Fathir.
"Assalamu'alaikum, Gus Fathir," balas Aulia sambil menundukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullaahi Wabarakatuh. Kamu tinggal di daerah sini lagi?" tanya Fathir.
__ADS_1
"Ustadz kenal sama Aulia?" tanya Bu RT.
"Iya, Bu," jawab Fathir.
'Calon istri yang gagal dipinang,' kata Fathir dalam hati.
"Wah, tidak menyangka, ya! Ini sungguh kejutan," kata ibu-ibu yang lainnya.
"Eh, katanya Ustadz belum punya istri. Aulia juga masih single, siapa tahu kalian jodoh," goda ibu-ibu yang lain dan di setujui teman-temannya.
"Aamiin, Ya Rabbal Alamin," balas Fathir tersenyum senang.😍
"Iya, cocok deh, kayaknya!" ucap Bu RT.
Untung wajah Aulia tertutup niqob, kalau tidak wajahnya yang merah merona karena malu akan terlihat jelas di sana. Apalagi candaan ibu-ibu yang tiada hentinya sepanjang jalan menuju rumahnya.
'Ya Allah, jaga hati hamba-Mu ini. Jangan sampai aku terlena akan masa lalu. Engkaulah Yang Maha Tahu siapa jodoh terbaik untukku,' batin Aulia.
***
"Aulia kamu masak apa?" tanya Alvan begitu sampai di meja makan.
"Nasi goreng seafood," jawab Aulia sambil menyerahkan satu piring kecil potongan buah pepaya, ke hadapan Alvan.
"Gara-gara kamu aku harus rajin berolahraga," kata Alvan dan membuat Aulia tercengang.
'Olahraga? Memangnya tuan ini olahraga apaan?' tanya Aulia dalam hatinya.
"Bagus dong, Tuan! Jadi Anda akan bisa berkeringat. Sepertinya Anda jarang sekali berkeringat," ucap Aulia.
"Apa kamu mau membantu aku agar bisa berkeringat?" tanya Alvan sambil memasukan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Olahraga apa yang akan bikin Tuan berkeringat? Takutnya saya tidak bisa melakukannya," ucap Aulia sambil menatap Alvan.
__ADS_1
"Ahk, sudahlah. Aku sedang malas banyak bergerak hari ini," balas Aulia.
Aulia memperhatikan Alvan secara intens. Laki-laki yang sedang makan dengan lahap terlihat seperti orang yang sedang kelaparan.
"Kenapa? Jangan melihat aku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta kepadaku," ucap Alvan sambil tersenyum jahil.
"Sepertinya tidak ada satupun kriteria dari laki-laki tipe kesukaan aku yang ada pada diri Tuan," kata Aulia jujur dan hal itu membuat Alvan serasa di jatuhkan ke dasar jurang.
"Kamu kejam sekali Aulia bicara seperti itu kepadaku," ucap Alvan dengan menatap balik Aulia.
"Tapi … itu kenyataannya, Tuan," kata Aulia jujur.
'Apa harus seperti laki-laki yang bernama Ahmad itu? Tapi kenapa dia tidak menikah dengannya?' batin Alvan.
'Apa aku tanya saja padanya, kenapa dia belum menikah dengan laki-laki yang bernama Ahmad itu? Ah, jangan! Nanti dikira kepo aku dengan urusan pribadinya,' racau Alvan dalam hatinya.
'Tapi, aku penasaran!' teriak Alvan dalam hatinya.
"Tuan, apa mau tambah lagi nasi gorengnya?" tanya Aulia sambil menatap sekilas kepada Alvan.
"Eh." Alvan melihat nasi goreng yang ada di piringnya sudah habis.
"Ini ... siapa yang sudah makan nasi goreng aku?" tanya Alvan sambil melihat ke arah Aulia.
"Maksud Tuan, apa?" tanya Aulia tidak mengerti.
"Ini, nasi goreng di piring kok, hilang!" tunjuknya ke arah piring yang sudah bersih.
"Bukannya Tuan sendiri yang sudah makannya?" Aulia mengerutkan keningnya. Sudah jelas-jelas tuannya makan sendiri nasi gorengnya itu.
"Kapan aku menghabiskannya? Perasaan baru dua atau tiga suap," kata Alvan.
"Makanya kalau makan itu berdoa dulu. Biar tidak di makan sama setan," ujar Aulia yang kesal karena merasa dituduh, seakan menjadi tersangka yang menghabiskan sarapan tuannya.
__ADS_1
***
Maaf teman-teman aku kasih ceramah sedikit, bukan bermaksud menggurui kalian. Itu hanya berbagi ilmu saja. Aku tadi sore sudah ketik dari jam 4 sore kurang sedikit, pas jam 5 lebih aku kira sudah ada 1000 kata, ternyata masih 897 kata. Jadi aku lanjut ngetik lagi. Tanpa sadar aku tertidur dan hasil ketikan aku hilang semua. Pingin nangis rasanya, mana ada kelas menulis bagian memimpin acara KRISAR lagi malam ini, Kouta masa tenggang waktu habis lupa tanggal berapa. Jadi kalau ceritanya kurang bagus untuk bab ini, harap dimaklumi.