Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 89. Aulia Jatuh Sakit (3)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kita semua diberikan kelancaran dan kemudahan dalam segala urusan.


***


Bab 89


Kedatangan Safiyah membuat Aulia senang. Gadis balita itu menyanyikan lagu anak-anak untuk menghibur. 


"Anak pintar, siapa yang mengajari menyanyi?" tanya Aulia sambil mengusap pipi chubby milik Safiyah.


"Papa Langga (Rangga)," jawab Safiyah dengan cadel. Bocah kecil itu belum bisa melafalkan huruf R. Jadinya, berubah menjadi huruf L.


Rangga pun tersenyum malu-malu, saat Safiyah dengan bangga menyebutkan namanya. Sekarang bocah balita itu sudah tinggal bersama Rangga di rumah miliknya.


"Kalau begitu Bunda Aulia akan mengajari Safiyah belajar mengaji," ujar Aulia sambil mengusap pipi gembul gadis mungil yang kini duduk bersama dengannya di atas ranjang pasien.


"Mau!" seru Safiyah dengan senyum lebar dan mata bulat jernih yang berbinar senang.


"Ikuti bunda, ya!" Aulia pun menyebutkan huruf-huruf Hijaiyah dari Alif sampai Jim. Lima huruf pertama dahulu. 


Ternyata Safiyah hanya bisa menirukan huruf Alif dan Ba. Selebihnya masih salah dan itu membuat anak kecil ini garuk-garuk kepala karena salah terus.


Safiyah kelelahan berceloteh dan tertidur di atas paha Aulia. Ini membuat Rangga deg-degan saat akan mengambil anak perempuan itu.


"Biarkan dia tidur sampai benar-benar nyenyak," kata Aulia sambil membelai rambut Safiyah.


Aulia membayangkan jika dulu putrinya bisa selamat dan dilahirkan, pasti rasanya akan seperti saat ini. Ada perasaan senang dan rindu.


"Apa yang dulu bayi yang kamu kandung juga berjenis kelamin perempuan?" tanya Rangga dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya. Dia berjenis kelamin perempuan," jawab Aulia.


"Maafkan aku, maafkan aku! Seandainya dulu aku bersikukuh menikahimu dan membawamu pergi, mungkin tidak akan seperti ini. Bisa saja putri kita akan terlahir ke dunia ini,?" Air mata Rangga akhirnya jatuh juga.


Perempuan bercadar itu melihat ke arah Rangga. Hatinya merasa terenyuh saat melihatnya menangis. 


"Itu semua sudah takdir dan aku pun ridho," ucap Aulia.

__ADS_1


Rangga menatap ke arah Aulia, rasanya dia ingin memeluk perempuan itu. Seperti dulu yang sering dia lakukan saat kekasihnya dalam keadaan bersedih.


"Waktu itu aku terus mencarimu dan betapa terpuruknya aku saat mengetahui kamu mengalami kecelakaan," aku Rangga dengan suaranya yang bergetar menahan isak tangisnya.


Aulia hanya mengangguk, dia tahu kalau Rangga itu peduli padanya. Dia juga kenal baik laki-laki ini, tidak akan bisa melawan keinginan atau permintaan mamanya.


***


Sebelum Ashar Gus Fathir datang kembali. Dia cemburu saat melihat Rangga ada di sana apalagi dengan adanya anak kecil perempuan bersama mereka. Terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis.


"Assalamualaikum," salam Gus Fathir.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Kakek Yusuf dan yang lainnya.


"Gus Fathir sudah pulang mengajar?" tanya Nenek Halimah yang duduk di sofa bersama Kakek Yusuf.


"Iya, Ustadzah. Kebetulan juga kampusnya tidak jauh dari sini," jawab laki-laki yang masih terlihat rapi meski baru pulang kerja.


Aulia melirik sekilas pada Gus Fathir. Ada perasaan kasihan melihat laki-laki itu. Sudah bela-belain datang menjenguknya begitu pulang kerja.


"Terima kasih, Gus sudah mau menjenguk lagi. Berkat doa dari semua orang dan juga bantuan tim media, alhamdulillah saat saya sudah mendingan," ucap Aulia sambil menundukkan kepala.


"Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya," balas Gus Fathir dengan senyum tampan menghias wajahnya saat ini.


Rangga merasa kalau saat ini Aulia sayang tersipu malu. Bisa terlihat jelas dari pancaran matanya.


"Assalamualaikum," salam Alvan dengan napas ngos-ngosan karena dia terus berlari dari parkiran, nama lift tidak terbuka karena masih berada di atas. Jadinya, dia berlari menaiki tangga.


Semua orang yang ada di ruang rawat itu menoleh ke arah pintu. Terlihat Alvan sedang memegangi dadanya dengan peluh membasahi keningnya.


"Wa'alaikumsalam," balas semua orang.


Alvan tersenyum pada Aulia, matanya yang agak tajam dan sipit semakin menutup membentuk garis kecil bulan sabit terbalik. Dia pun berjalan ke arah perempuan yang duduk di atas brankar.


"Aulia, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya laki-laki keturunan Jepang itu.


"Alhamdulillah, berkat doa semua orang, sudah jauh lebih baik," jawab gadis itu.

__ADS_1


Safiyah merasa kalau Alvan akan mengambil Aulia, maka dia pun langsung memeluk tubuh perempuan itu. Bocah kecil itu pun menatap tajam pada Alvan.


Aulia hanya tersenyum dan mengelus rambut Safiyah dan membalas pelukannya. Kelakuan perempuan itu pada bocah kecil ini membuat ketiga laki-laki dewasa merasa iri. Mereka juga berharap suatu saat nanti bisa dipeluk dan dibelai rambutnya.


'Bikin iri, saja. Semoga nanti bisa merasakannya juga.' (Alvan dan Gus Fathir)


'Kapan aku bisa merasakan hal seperti itu lagi? Semoga saja nanti bisa merasakan lagi kisah merajut cinta bersama Aulia.' (Rangga).


***


Kakek Yusuf mengajak ketiga laki-laki itu untuk pergi ke cafe yang ada di dekat rumah sakit. Dia punya sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan dengan mereka.


Kini keempat orang laki-laki itu duduk saling berhadapan sambil memesan minuman. Pembicaraan dimulai setelah pesanan datang.


"Kakek mau sebelumnya meminta maaf kepada kalian," kata Kakek Yusuf memulai pembicaraan itu.


"Sebenarnya ada apa, Kek?" tanya Alvan.


"Kakek tahu perasaan kalian bertiga kepada Aulia. Hanya saja saat ini keadaan dia belum siap untuk menerima salah seorang dari kalian. Bahkan dia sampai jatuh sakit memikirkan permintaan kalian untuk meminang dirinya," jelas Kakek Yusuf dengan perasaan berat hati.


Ketiga laki-laki itu diam-diam saling melirik. Dalam hati mereka berharap kalau kedua orang lain yang menyerah. Serta membiarkan dirinya yang membahagiakan Aulia.


"Aku mengerti maksud Ustadz Yusuf. Aku akan memberikan waktu kepada Aulia untuk menenangkan hati dan pikirannya, serta dia bisa menentukan siapa di antara kita yang terbaik untuknya," balas Gus Fathir dengan lapang dada meski berharap akhir yang terbaik itu adalah untuknya.


"Aku, aku ingin secepatnya mau meminang Aulia karena Safiyah selalu menanyakan bundanya setiap hari," ucap Rangga.


Alvan dan Gus Fathir melotot ke arah Rangga. Keduanya kesal dengan cara berpikir laki-laki itu.


"Kamu tidak boleh egois seperti itu! Kasihan Aulia, dia sampai sakit seperti ini gara-gara memikirkan kita," balas Alvan dengan nada sindiran.


"Aku tidak egois, semua itu demi Safiyah. Kenapa kalian tidak menyerah saja. Biarkan aku dan Aulia bisa bersama kembali," bantah Rangga.


***


😱 Terjadi pertengkaran antara ketiga laki-laki dewasa itu! Kira-kira bagaimana sikap Kakek Yusuf kepada mereka bertiga? Tunggu kelanjutannya, ya!


***

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus kepoin karyanya.



__ADS_2