Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 34. Keluarga Rangga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.


***


Bab 34


      Suasana di Pesantren Al-Ikhlas kini sangat ramai karena ada acara pernikahan putri dari Kiai Sholeh. Tamu laki-laki dan perempuan di pisah, berbeda ruangan. Aulia datang berlima tadi, bersama Ahmad dan Iqbal yang juga mendapatkan undangan dari Kiai Sholeh. Aulia menjaga nenek Halimah diantara kerumunan tamu sedangkan kakek Yusuf dijaga oleh Ahmad dan Iqbal.


       Saat antri hendak memberikan doa untuk mempelai pengantin wanita, Aulia tertabrak oleh seorang ibu-ibu yang sedang mengejar anak kecil. Dia pun bertanya, "Ibu tidak apa-apa?"


      Wanita tua yang kepayahan mengejar bocah laki-laki sekitar usia 3 atau 4 tahun-an itu pun menjawab, "Iya, saya tidak apa-apa. Ini cucu orang, tidak bisa diam. Omanya malah asik bicara di sana."


      Betapa terkejutnya Aulia saat menyadari orang yang sudah menabraknya barusan itu adalah Shinta, mamanya Rangga. Tubuh Aulia tegang dan mematung. Dia tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan wanita yang dulu menghina dirinya dan kedua orang tuannya.


"Maaf, ya. Ibu tidak sengaja menabrak kamu," ucapnya lagi lalu pergi membawa bocah laki-laki itu dalam gendongannya.


      Aulia diam tidak memberikan respon apa-apa saat Shinta pergi. Nenek Halimah menyadarkan Aulia dan melangkah lagi dalam antrian itu.


"Siapa perempuan barusan itu, Aulia?" tanya nenek Halimah.


"Dia mamanya Kak Rangga," jawab Aulia.


"Jangan takut, Nak. Yakinlah, kalau Allah selalu bersama kita. Jika, dia melakukan sesuatu yang menyakiti kamu, jangan kamu langsung membalasnya. Nasehatilah atau beritahulah dia, kalau perbuatanya itu tidak baik. Semoga Allah melembutkan hatinya dan membuka hatinya, sehingga tidak menilai buruk dirimu lagi," ucap nenek Halimah.


"Iya, Nek. Bukannya kita tidak boleh membalas kejahatan seseorang dengan kejahatan lagi. Itu malah akan menimbulkan dendam yang berkepanjangan," lanjut Aulia dengan senyum simpulkan teringat akan ajaran nenek Halimah dari salah satu tafsir ayat Alquran yang pernah dipelajarinya.


"Benar, Nak. Berbuat baik itu lebih baik," tambah nenek Halimah dengan senyum lembutnya.


      Tidak jauh dari sana Shinta memperhatikan Aulia dan nenek Halimah. Dia merasa tidak asing dengan suara gadis yang ditabraknya tadi.


***


     Sementara itu, di ruang tamu laki-laki. Rangga dan keluarganya duduk bersebelahan dengan Ahmad dan kakek Yusuf. 


"Calon pengantin masih sempat-sempatnya datang ke sini," kata seseorang yang baru datang. Entah kepada Rangga atau Ahmad, yang jelas kedua pemuda itu mengenal orang ini.


"Eh, dua orang laki-laki ini calon pengantin, loh!" kata salah seorang ustadz yang tahu kalau Rangga dan Ahmad akan menikah.

__ADS_1


      Ahmad dan Rangga yang duduk bersisian saling menatap dan tersenyum. Kedua laki-laki yang tanpa mereka sadari sudah menyukai perempuan yang sama.


"Mas Rangga, kapan tepat tanggal pernikahannya?" tanya Ustadz tadi.


"Jika, tidak halangan mungkin tanggal tiga bulan depan," jawab Damar mewakili Rangga.


"Oh, berarti kurang dari sebulan lagi. Kalau Mas Ahmad, kapan nih tanggal pernikahannya?" lanjutnya lagi.


"Insha Allah, sama tanggal tiga. Aulia ingin pas tanggal merah, biar kenalannya juga bisa hadir," jawab Ahmad.


     Fathir yang baru tahu akan hal ini, lagi-lagi merasakan sesak di dadanya. Sekuat tenaga dan seberusaha kuat dirinya untuk melupakan cintanya kepada Aulia, dia tetap tidak bisa. Sebaliknya, dia berusaha membuka hatinya untuk mencintai Ning Aliyah, tetap tidak bisa. Apalagi, setelah tahu ada keburukan yang dilakukan oleh keluarganya.


'Ya Allah, Engkaulah yang menguasai hati semua makhluk, Engkaulah yang membolak-balikkan hati, bimbinglah hatiku ke arah yang Engkau ridhoi,' batin Fathir.


      Rangga kembali melihat ke arah Ahmad saat menyebut nama Aulia. Entah kenapa setiap ada orang yang menyebut nama Aulia, dia langsung merasa penasaran. Apa Aulia yang dimaksud oleh orang itu adalah Aulia, kekasihnya.


"Gadis sholeha dan pemuda sholeh, cocok deh, kalian. Semoga langgeng, ya, Mas," ucap Ustadz itu kepada Ahmad.


"Aamiin," balas Ahmad sambil tersenyum.


***


     Sepulang dari pesantren, Ahmad dan Iqbal singgah dahulu di rumah kakek Yusuf. Pemuda itu tidak bisa menahan debaran jantungnya setiap beradu tatap dengan Aulia. Apalagi bila, Aulia cepat-cepat menunduk, dia pun melakukan hal yang sama.


"Ayo, makan bolu lapis Surabaya! Katanya Ahmad paling suka bolu lapis Surabaya buatan Aulia?" ujar kakek Yusuf membongkar obrolan dia dengan Ahmad beberapa waktu lalu.


"Benar, Pak Ustadz. Dia malah sering menyuruh tukang ojek untuk sengaja beli ke toko, hanya untuk bolu ubi dan bolu Surabaya buatan Aulia," lanjut Iqbal dan membuat Ahmad menahan malu.


"Benarkah, itu?" tanya Aulia senang.


"Jawab, dong, Bos." Iqbal menyenggol bahu Ahmad dengan bahunya.


"E, i-tu … suka. Saya suka sekali," jawab Ahmad gugup. Apalagi kini Aulia menatap dirinya.


"Tenang saja, kalau kalian sudah menikah nanti, tinggal minta Aulia buatkan spesial khusus untuk kamu," kata Iqbal masih senang menggoda Ahmad. 


     Kakek Yusuf dan nenek Halimah pun tertawa. Mereka senang kedua anak yang pernah dalam asuhan dan didikan mereka akan menjalin hubungan pernikahan.

__ADS_1


      Ahmad sering di jodohkan oleh kenalannya, hanya saja takdir jodoh belum berhasil berpihak kepadanya. Kalau bukan calon perempuan yang menolak, calon mertuanya yang menolak dirinya. Banyak orang yang melihat kekurangan yang dimiliki oleh Ahmad, mereka tidak melihat sisi kelebihan yang dimiliki oleh pemuda santun itu.


"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari depan rumah.


"Wa'alaikumsalam," balas orang-orang yang ada di dalam.


     Kakek Yusuf pun membukakan pintu, ternyata ada seorang tamu asing yang berdiri di sana. Laki-laki paruh baya yang wajahnya mirip papanya Rangga.


"Maaf, Kek. Mobil saya mogok di depan sana. Apa di sini ada yang punya perkakas, kebetulan peralatan milik saya yang biasa ada di dalam mobil tertinggal," kata laki-laki itu.


"Sebentar, Pak," balas kakek Yusuf lalu menanyakan alat perkakas mobil milik Aulia di simpan di mana. Kemudian, kakek Yusuf pun mengambilkan kotak perlengkapan itu dan memberikan kepadanya.


     Ahmad dan Iqbal sudah satu jam lebih menghabiskan waktu di rumah kakek Yusuf. Saat ke luar rumah, orang tadi masih berkutat dengan mobilnya. Dikarenakan kasihan, Ahmad dan Iqbal pun membantu mereka untuk memperbaiki mobilnya sampai menyala kembali.


"Terima kasih, Mas. Atas bantuannya," ucap lelaki paruh baya itu.


"Om Mulyono, aku berikan dulu kotak perkakas ini pada yang punyanya," ucap Rangga.


"Eh, ini tadi Mas yang duduk di samping aku?" tanya Ahmad.


"Iya, kenalkan Mas … Rangga," balas Rangga.


      Ahmad menangkupkan tangannya karena kotor. Begitu juga tangan Rangga yang memegang kotak perkakas.


     Rangga pun mengucapkan salam di depan pintu rumah kakek Yusuf. Dia menunggu pemilik rumah untuk membuka pintunya.


     Betapa terkejutnya Aulia saat melihat ada Rangga berdiri di depan pintu sambil memegang kotak perkakas miliknya. Untungnya Aulia masih memakai cadarnya.


"Nona, ini tadi om saya meminjam alat ini dan saya mau mengembalikannya dan mengucapkan terima kasih banyak," ucap Rangga dengan tatapan mata tidak pernah lepas mata bening Aulia.


       Hati kecil Rangga menyukai mata gadis di depannya itu. Mata indah itu seperti milik mata kekasihnya. Mata yang selalu membuatnya terpesona dan jatuh dalam lautan cinta.


***


Akankah Rangga mengenali Aulia? Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


Alhamdulillah, karya ini sudah berhasil kontrak. Terima kasih atas dukungan teman-teman. Insha Allah GIVEAWAY untuk 10 orang pemberi point' tertinggi (akun aku tidak termasuk) dan 2 orang komentar terbaik. Pengumuman pemenang akhir bab/bab tamat seperti biasa. Yuk, ikutan giveaway hadiah pulsa.

__ADS_1


__ADS_2