
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 54
Tinggal di desa membuat Ahmad merasa sangat senang. Alam yang sejuk dan tenang membuat tubuhnya terasa ringan dan kepalanya juga tidak terlalu sakit. Sebenarnya, saat kecelakaan itu bukan hanya kakinya yang bermasalah, kepala dia juga mengalami luka yang sangat parah. Masih ada potongan besi kecil di dalam kepala. Benda itu tidak bisa di ambil karena terlalu beresiko saat melakukan operasi entah yang keberapa. Besi itu awalnya tidak diketahui, tetapi beberapa bulan setelah kecelakaan, dia melakukan pemeriksaan ulang dan baru ketahuan ada besi kecil yang diduga sebuah sekrup.
"Tuan, Mas Iqbal mau jalan-jalan keliling alun-alun, apa mau ikut?" tanya Aulia setelah pulang dari masjid.
"Boleh," ucap Alvan.
Selama tinggal di sana, kebutuhan Alvan di bantu oleh Aulia. Setelah selesai mandi sampai jam sekitar 10.00 dia belajar agama kepada kakek Yusuf. Setelah itu dia istirahat atau membaca sampai masuk waktu Zuhur. Setelah makan siang dia akan belajar kembali bersama nenek Halimah. Setelah Ashar, dia biasanya bincang-bincang santai dengan para penghuni rumah dan makan sebelum Magrib. Mulai dari Magrib sampai Isya, dia akan belajar mengaji bersama kakek Yusuf. Setelah Isya, dia akan mengecek pekerjaan yang dikirim oleh Mario sampai jam 22.00 setelah itu dia akan tidur dan bangun jam 03.00 untuk sholat malam. Begitulah kehidupan Alvan sehari-harinya di kampung.
***
"Mas Alvan kenal sama Aulia sejak kapan?" tanya Iqbal yang berjalan di samping lelaki yang memakai kaos hitam itu.
"Pertemuan pertama kami sekitar dua tahun lalu. Kami pernah bertemu beberapa kali. Namun, baru-baru ini kita bisa dekat," jawab Iqbal.
"Wah, sudah lumayan lama, ya." Iqbal manggut-manggut.
'Apa Aulia tipe orang yang mudah langsung dekat dengan orang lain?' tanya Iqbal dalam hatinya.
Iqbal sangat menyayangkan karena Ahmad meninggal sebelum memperistri Aulia. Dia dengar kalau Aulia meminta malam itu juga dinikahkan dengan sahabatnya karena menginginkan menjadi istrinya. Iqbal juga tahu betapa bahagianya Ahmad saat akan menikah dengan Aulia.
__ADS_1
Meski Iqbal tahu, hidup dan mati seseorang itu sudah digariskan oleh takdir dari Allah yang sudah tertulis di Lauh Mahfudz. Tetap saja dia merasa bersalah karena sudah pergi untuk menemui bapaknya dan meninggalkan ibu dan adiknya. Seandainya dia tidak pergi menjenguk bapaknya dan adiknya masuk rumah sakit, ada kemungkinan sahabatnya itu masih hidup dan bisa membina rumah tangga dengan gadis yang dicintainya.
"Mas Iqbal, kenapa menangis?" tanya Alvan menghentikan laju kursi rodanya.
"Aku hanya teringat akan seirang sahabat yang sangat berarti," jawab Iqbal.
"Siapa sahabat Mas Iqbal?" tanya Alvan penasaran.
"Ahmad, atau nama lengkapnya Muhammad Salahuddin Al Ayyubi," jawab Iqbal.
Deg!
Lagi-lagi jantung Alvan deg-degan karena mendengar nama laki-laki itu. Dia tidak tahu kalau Iqbal itu adalah sahabat dari Ahmad.
"Apa yang membuat Mas Iqbal menangis saat mengingat sosok Ahmad?" tanya Alvan. Dia merasa ini waktunya dia mengorek lagi informasi tentang Ahmad.
Alvan semakin kagum akan sosok laki-laki yang bernama Ahmad. Dia semakin tidak percaya diri bisa merebut hati Aulia, jika sosok seperti itu yang menjadi barometernya. Dia semakin tahu kalau Aulia itu gadis yang tulus saat menyukai seseorang. Ternyata Aulia tidak memandang seseorang dari fisiknya.
Dulu saat pertama kali mereka bertemu di jalan, Aulia melihat ke arahnya sekilas sebelum dia mengajak sepupunya pergi. Pertemuan di rumah makan juga, Aulia tidak menatapnya dengan rasa iba seperti kebanyakan orang lain, yang selalu membuatnya risih dan tidak suka. Aulia menatapnya dirinya dengan biasa saja seperti dia melihat kepada yang lainnya.
Justru Alvan merasa tatapan mata Aulia itu selalu membuatnya terperangkap. Kapanpun dan di mana pun mereka bertemu, pasti dia bisa melihat dan menemukan sosok Aulia.
***
Alvan penasaran dengan usaha yang di miliki oleh Aulia. Maka, dia memaksa ingin melihat toko dan pabrik miliknya. Mau tidak mau akhirnya Aulia membawanya ke sana.
__ADS_1
Terjadi kehebohan di toko karena Aulia membawa seorang laki-laki tampan. Mereka menggoda Alvan dan Aulia sebagai pasangan. Tentu saja Alvan sangat senang sedangkan Aulia merasa sangat kesal.
Melihat sosok Aulia saat bersama para pegawai di toko atau pabrik membuat Alvan semakin terpesona oleh sikap dan sifatnya sang gadis pujaan. Dia tidak pernah berinteraksi dengan para bawahannya seperti itu. Mereka berbicara dengan santai dan bercanda tawa. Membicarakan barang produksi mereka yang semakin banyak permintaan dari konsumen.
"Menurut aku lebih baik pakai alat mesin listrik agar pekerjaan pemotongan bahan baku dan pengemasan semakin cepat. Itu tidak ada limbah hanya saja pembayaran sumber listrik harus diperbesar. Kamu bisa konsultasi ini ke pihak PLN dan bilang kamu butuh daya yang besar untuk pabrik rumahan," ucap Alvan memberikan masukan.
"Aku juga berpikir ke arah sana. Aku tidak mau merusak lingkungan di sini. Apalagi di sini tanahnya subur dan airnya jernih. Aku tidak mau menjadi orang yang dzolim pada alam ini," balas Aulia.
"Ya, aku lihat sampah kulit singkong, pisang, dan yang lainnya di jadikan pupuk kompos," ucap Alvan saat menanyakan lubang-lubang di sebelah kanan pabrik keripik.
"Ya, itu bisa dipakai oleh warga atau siapa saja yang membutuhkan pupuk untuk ladang," tukas Aulia.
"Berapa omset penjualan hasil usaha kamu sehari?" tanya Alvan penasaran saat melihat buku catatan yang begitu menumpuk di meja.
"Untuk saat ini keuntungan bersih perhari sekitar lima ribu sampai tujuh ratus ribu rupiah per hari. Aku selalu menghitung seperti itu. Karena kebanyakan para pegawai yang ambil gaji harian untuk kebutuhan mereka setiap harinya," jelas Aulia.
"Oh. Padahal akan bagus jika satu bulan sekali," ujar Alvan sambil membuka-buka buku berukuran besar. Dia melihat pendapatan Aulia di atas dua sampai empat juta perharinya.
"Jangan samakan pemikiran orang kota sama orang desa, mungkin orang kota ambil gaji satu bulan sekali karena mereka harus bayar cicilan yang mereka punya. Sedangkan di desa mereka bekerja hari ini untuk makan hari ini atau untuk makan besok. Ya, begitulah secara kasarnya. Menurut kakek Yusuf juga bagusnya, seandainya kita mempekerjakan orang lain, jika mereka sudah selesai bekerja maka kita harus langsung bayar upahnya sebelum keringat mereka kering," jelas Aulia dan Alvan menatapnya kagum.
"Ya, kamu benar. Pastinya mereka pulang dalam keadaan senang karena bisa membawa pulang uang," ujar Alvan dengan senyum tampannya.
"Tinggal satu minggu lebih di sini membuat Tuan menjadi orang yang jauh lebih ramah kepada orang lain dan juga sekarang mudah tersenyum," puji Aulia berniat mengjahili atasannya.
"Apa kamu sekarang suka sama aku?" tanya Alvan dengan jantung berdebar karena sudah dipuji oleh Aulia.
__ADS_1
***
Pak Bos percaya diri sekali 😆. Apa yang akan dikatakan oleh Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!