Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. 134. Dua Laki-laki


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 135


Aulia mengajak Ning Annisa dan Rafael ke rumah milik Alvan, bukan rumah orang tuanya. Dia sudah tidak sabar untuk memberi tahu pada sahabatnya ini kabar gembira yang sedang dia rasakan saat ini.


"Apa? Kamu sedang hamil?" Ning Annisa sangat terkejut.


"Iya, usia kandungannya juga belum genap satu bulan," balas Aulia.


Ning Annisa langsung memegang perut Aulia dan membaca sholawat. Lalu, dilanjutkan dengan berdoa.


"Ya Allah, semoga saja nanti aku juga bisa cepat hamil seperti Aulia."


"Aamiin," balas Aulia dengan tersenyum lebar.


"Memangnya Ning Annisa di KB?" tanya Aulia.


Perempuan bergamis motif batik itu menggelengkan kepala. Aulia pun tersenyum dan menyentuh perut temannya itu.


"Semoga saja Allah secepatnya menghadirkan kehidupan buah cinta Ning Annisa dan Rafael di dalam sini," lanjut istri Alvan.


"Gimana akan cepat hadir bayi di dalam perut aku, kita saja belum pernah melakukan hubungan badan," aku Ning Annisa.


"Apa?" Aulia sangat terkejut. 


Mata perempuan itu membulat saking terkejutnya. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya ini belum pernah melakukan hubungan badan dengan suaminya. Mereka menikah sudah hampir satu tahun.


"Kenapa" tanya Aulia.


"Ya, karena kita sama-sama sibuk dan aku waktu itu jadwal kuliah aku lagi padat-padatnya. Belum lagi menyiapkan tesis agar bisa cepat lulus. Rafael juga sibuk dengan urusannya. Makanya kami sepakat akan melakukan bulan madu setelah Rafael selesai ujian," jawab Ning Annisa.

__ADS_1


Ning Annisa menceritakan hubungan dengan Rafael juga semakin baik dan mesra. Meski kadang suka membuat Ning Annisa gemas dengan sikap manja dan kekanak-kanakan, jika sedang di rumah. Tidak tahu mau ada orang lain atau tidak. Namun, jika sedang berduaan di kamar berubah menjadi laki-laki yang mesum meski tidak sampai melakukan hubungan suami istri. 


"Rafael itu masih remaja polos," kata Aulia sambil tertawa.


"Iya, sampai sekarang pun dia masih begitu. Saat Mama bilang dia harus berubah jadi pria dewasa, dia malah bilang akan jadi pria dewasa jika sudah berhasil membuat aku hamil," balas Ning Annisa.


"Lucu banget suami kamu," kata Aulia masih tertawa kecil.


"Meski begitu, dia itu suami yang bertanggung jawab, perhatian, pekerja keras, dan pantang menyerah. Aku banyak belajar dari dirinya dalam hal ini," ucap Ning Annisa jujur.


Kedua perempuan itu asyik bicara di halaman belakang sambil menikmati pemandangan kebun bunga. Sementara itu, para suami sedang asyik memberikan pakan pada ikan. Kakek Yusuf juga turut serta.


"Aku juga ingin punya kolam ikan yang bisa di panen atau kalau mau buat ikan bakar tinggal ambil di belakang rumah," pungkas Rafael.


"Di rumah kamu tidak ada kolam ikan?" tanya Alvan.


"Ada. Tapi, isinya ikan koi," jawab Rafael.


Ning Annisa dan Rafael rencana mau pulang ke ibu kota sore hari. Namun, hujan besar sedang mengguyur kota Kembang. Jadinya, Aulia meminta mereka untuk menginap di rumah suaminya.


Malam ini para suami hanya bisa tidur dengan memeluk guling, karena Aulia dan Ning Annisa tidur di kamar yang sama. Alvan harus mengalah saat istrinya ingin tidur dengan Ning Annisa. Dia tidak bisa tidur karena berasa ada yang kurang saat sang istri tidak ada di sampingnya. 


"Aku tidak bisa tidur. Apa aku diam-diam bawa saja Aulia ke kamar lagi, jika dia sudah tidur pulas, ya?" gumam Alvan.


Ternyata hal yang sama di rasakan oleh Rafael. Pemuda itu tidak bisa apa-apa saat melihat wanita hamil itu ingin tidur dengan istrinya. Ditambah Ning Annisa juga menatap dengan penuh permohonan. Hanya di kasih ciuman saja dia sudah luluh.


Terdengar suara pintu di ketuk dengan pelan. Rafael pun membukanya dan terlihat tuan rumah yang sudah mengganggu tidurnya yang antara sadar atau tidak sadar.


"Kak Alvan, ada apa?" tanya Rafael.


"Aku mau bawa Aulia kembali ke kamar. Apa kamu mau tidur dengan Ning Annisa?" balas Alvan.


Mendengar ucapan laki-laki didepannya, tentu saja membuat Rafael senang dan bersemangat. Pemuda itu pun menganggukan kepala.

__ADS_1


Alvan dan Rafael berjalan dengan hati-hati menuju kamar di mana Aulia dan Ning Annisa berada. Kedua laki-laki berbeda generasi itu dengan perlahan membuka pintu kamar itu. Ternyata pintu itu terkunci, tetapi Alvan tidak pantang menyerah. Dia mencari kunci cadangan untuk membuka. Namun, itu ternyata tidak bisa karena pintu juga dikunci dengan kunci rantai.


"Pakai kunci ganda ternyata mereka," bisik Alvan.


"Rusak saja rantai besinya," balas Rafael.


"Oh, benar juga."


Alvan pun pergi untuk membawa tang pembuka rantai besi. Meski dengan susah payah, akhirnya pintu itu terbuka juga. 


Terlihat Aulia dan Ning Annisa sudah tertidur lelap. Rafael langsung menarik selimut sampai menutupi kepala istrinya. Namun, dia sendiri membelakangi Alvan yang hendak membawa Aulia. 


"Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak meski tinggal 2 jam sebelum waktu tahajud," ucap Alvan dan dibenarkan oleh Rafael.


"Demi kesejahteraan hati dan pikiran kita. Meski cuma 2 jam, yang penting bisa tidur sambil memeluk istri," balas Rafael.


"Yap, benar!" 


Kedua laki-laki itu meski baru kenal sudah kompak karena mereka satu tipe. Suami yang bucin sama istri. Tidak bisa tidur nyenyak jika tidak memeluk sang pasangan hidup.


Rafael langsung tidur di samping istrinya. Dia memeluk dengan lembut dan meletakkan kepala Ning Annisa agar bersandar di dada seperti biasanya dia tidur. Dikecupnya kening dan bibir milik sang istri.


"Selamat malam Cinta. Semoga bermimpi indah dan dijauhkan dari mimpi buruk."


Alvan kembali ke kamarnya sambil menggendong Aulia. Setelah itu dia tidur dengan nyenyak. Tidak mau ambil pusing bagaimana reaksi istrinya saat bangun tidur nanti.


***


Bagaimana reaksi Aulia saat dia bangun nanti? Apakah akan marah atau biasa saja? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya


__ADS_1


__ADS_2