Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 53. Siapa Itu Ahmad?


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


Bab 53


     Alvan merasa bosan di rumah sendirian, sebenarnya tidak sendirian. Kakek Yusuf dan nenek Halimah sedang tidur siang, Bu Nur sedang masak untuk makan siang, mang Asep sedang memberi pakan ikan dan mengurus kebun di belakang. Maka, dia pun pergi berkeliling di halaman depan rumah. Tanpa sengaja dia bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya.


"Anda siapa? Kenapa ada di rumahnya Aulia?" tanya laki-laki itu dari balik pagar besi.


'Aduh, aku harus jawab apa, ya?' batin Alvan.


"Saya calon suaminya Aulia, sedang berkunjung ke sini karena ingin bertemu dengan kakek Yusuf dan nenek Halimah," jawab Alvan berbohong setengahnya.


"Oh, calon suaminya Aulia. Alhamdulillah, akhirnya Aulia sudah punya pengganti Mas Ahmad," ucap laki-laki berbaju Koko dan memakai peci.


'Mas Ahmad itu, jangan-jangan Ahmad yang itu?' tanya Alvan dalam hatinya.


"Maaf, Pak. Mas Ahmad itu siapa, ya? Maksudnya orang yang seperti apa," tanya Alvan mengambil kesempatan ini untuk mengorek informasi.


"Kamu tidak tahu Mas Ahmad? Apa Aulia tidak menceritakan siapa Mas Ahmad itu?" Lelaki itu bertanya balik kepada Alvan.


"Saya cuma tahu kalau dia dulu pernah akan menikah dengan laki-laki yang bernama Ahmad. Saya merasa tidak enak kalau mengorek kisah masa lalu orang lain," balas Alvan beralasan.


"Mas Ahmad itu adalah laki-laki sholeh yang baik banget. Dia juga sosok yang cerdas dan ramah, sehingga banyak disukai oleh banyak orang. Bicaranya santun dan selalu bersikap hormat kepada yang lebih tua. Dia itu rajin menyedekahkan hartanya kepada anak-anak yatim, anak-anak panti asuhan, dan anak-anak Tahfiz. Selain itu, dia juga selalu menyalurkan sebagian hartanya untuk orang-orang fakir dan miskin. Bahkan orang-orang yang sudah jompo juga dia selalu bersedekah kepada mereka. Rasa kasih sayang dia kepada sesama itu jangan diragukan lagi. Bahkan saat dia meninggal pun selama sebulan lebih, pelayat tidak berhenti berdatangan dari berbagai kota," jelas laki-laki itu.


"Meninggal? Maksud bapak, Ahmad calon suaminya Aulia itu sudah meninggal?" tanya Alvan terkejut saat mendapati informasi ini.


"Iya, dia meninggal tiga atau dua hari sebelum hari pernikahannya digelar bersama Aulia," jawab laki-laki itu.

__ADS_1


'Pantas saja Aulia tidak mudah diluluhkan hatinya. Karena calon suami sebelumnya itu merupakan laki-laki hebat,' kata Alvan dalam hatinya.


"Tapi, syukurlah. Sekarang Aulia sudah bisa membuka hati lagi pada yang lainnya. Banyak loh, yang ditolak lamarannya oleh Aulia karena dia belum bisa melupakan Mas Ahmad. Tapi, ada yang bilang juga kalau Aulia mau menikah dengan laki-laki yang setara dengan Mas Ahmad dalam ilmu agama dan ke sholehannya. Aku rasa itu cuma gosip," lanjut laki-laki itu lagi.


'Aku rasa itu bukan gosip. Karena Aulia sendiri bilang mencari suami itu ingin yang seperti Ahmad,' balas Alvan dalam hatinya.


     Semakin mencelos dan merasa kerdil saja, diri Alvan di mata Aulia. Meski saingannya sudah meninggal. Tetapi, dia itu merupakan figur yang bisa merebut hati Aulia.


"Pak terima kasih ya, untuk informasinya," Alvan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Oh, ya. Kalau begitu saya permisi," kata laki-laki itu dan berlalu entah ke mana.


     Alvan kembali ke kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar sambil mencerna kembali informasi yang tadi baru saja dia dapatkan.


"Laki-laki itu begitu hebat, jauh sekali jika dibandingkan dengan aku. Apa aku bisa mengambil hati Aulia?" gumam Alvan sambil membayangkan sosok Ahmad.


     Alvan membayangkan kalau Ahmad itu laki-laki berwajah tampan dan memiliki butuh yang atletis. Hartanya juga sangat melimpah karena dia rajin bersedekah kepada banyak orang. 


"Sopan santun? Aku kayaknya masih kurang, deh. Padahal banyak pegawai yang usianya lebih tua dari aku. Tutur katanya sopan? Aku … agak kejam juga kalau bicara, jika mereka tidak menurut apa kata-kataku." Alvan mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Apa Ahmad adalah satu-satunya lelaki yang pernah di sukai oleh Aulia?" tanya Alvan bermonolog.


***


     Aulia memberikan pengarahan kepada para pegawainya. Bagaimana cara mengolah bahan dengan baik dan tidak membuang cuma-cuma sisa bahan baku. Menjaga kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Gaji juga harus diberikan tepat waktu. Sesama pegawai harus saling mendukung dan menghargai.


      Para pegawai juga merasa senang saat Aulia memberikan ke naikan gaji karena sekarang dia tidak bisa ikut membantu mereka. Dia juga meminta para pegawainya untuk jujur saat bekerja.


"Mbak Aulia, ada pihak supermarket yang menginginkan produk kita untuk di jual di tempatnya," kata Sholehah. 

__ADS_1


"Apa kita akan mampu membuat produksi barang lebih banyak lagi? Kita jangan sampai mengorbankan para pedagang kecil yang suka ambil barang jualannya terlebih dahulu," balas Aulia.


"Kalau itu kita belum mampu, jika tenaga kerja tidak ditambah lagi. Kecuali kalau kita memakai mesin dalam produksinya. Atau kita mencari tambahan tenaga kerja," ucap Sholehah.


"Hmmm, tunggu aku akan pikirkan dulu. Sebelum aku kembali nanti, aku akan berikan jawaban aku," lanjut Aulia.


***


     Saat tengah hari dan waktunya makan siang, Aulia pulang ke rumah bersama dengan Mutiara. Ternyata di rumah, Alvan sudah menunggu di depan rumah.


'Tuan Alvan kenapa duduk di depan pintu begitu?' tanya Aulia dalam hatinya.


"Tuan, Anda sedang apa di sini?" tanya Aulia begitu berdiri di depan Alvan.


"Sedang menunggu kamu pulang," jawab Alvan dengan senyum tampannya.


Mutiara mencolek pinggang Aulia bermaksud menggodanya. Namun, Aulia memberinya kode dengan mata yang menyipit dan tajam kalau dia sedang tidak ingin digoda.


"Apa Tuan sudah makan siang?" tanya Aulia lagi.


"Sedang menunggu kamu," jawab Alvan dengan manis.


Lagi-lagi Mutiara mencolek pinggang Aulia karena dia merasa gemas kepada mereka berdua. Kali ini Aulia membalas Mutiara dengan mencubit tangannya. Dia merasa kesal pada sahabatnya yang terus saja menggodanya.


"Sebaiknya Tuan cepat masuk dan makan siang. Aku tidak mau kalau nanti Tuan sakit dan orang-orang menyalahkan aku," ucap Aulia langsung mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah.


"Bukanya sudah tugas kamu untuk melayani aku saat makan," ucap Alvan sambil tersenyum tipis.


***

__ADS_1


Apakah akan ada gosip baru di sana? Tunggu kelanjutannya, ya!


Teman-teman siapa yang mau namanya aku catut untuk nama tokoh-tokoh novel baru nanti. Insha Allah launching untuk bulan depan. Tulis namanya di kolom komentar jika nama kalian mau. Mau itu satu kata atau panjang namanya terserah. Ini untuk semua tokoh (protagonis, antagonis, atau pemeran pembantu) 💕


__ADS_2