Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 37. Ziarah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


***


Bab 37


      Saat Aulia mendatangi tempat pemakaman umum, di mana kuburan kedua orang tuanya berada. Dia melihat ada bunga yang masih segar diletakan di atas kuburan mereka. Setahu Aulia, dia tidak memiliki sanak famili, baik dari pihak bapaknya maupun ibunya.


"Sepertinya sudah ada yang datang ke sini sebelumnya," kata salah satu pegawai Aulia.


"Iya, tapi aku tidak tahu siapa," balas Aulia.


     Kelima gadis itu pun mendoakan kedua orang tua Aulia. Pemakaman di sana tertata rapi dan bersih karena ada beberapa orang yang mengurusnya.


"Kalian siapa?" tanya laki-laki tua yang menghampiri Aulia dan teman-temannya.


"Saya, Aulia. Dan ini teman-teman aku, Pak," jawab Aulia.


"Kenapa kamu ada di kuburan Pak Yusril?" tanya laki-laki itu lagi.


"Saya Putrinya Pak Yusril dan Bu Dewi," jawab Aulia.


"Oh, berarti kamu pacarnya Nak Rangga?" Laki-laki itu membuat Aulia malu di depan teman-temannya.


      Teman-teman Aulia saling melempar pandangan mereka. Rasa penasaran akan laki-laki yang bernama Rangga, langsung muncul dalam benak mereka. Pemuda seperti apa yang sudah menjadi pacar bos mereka.


"Kami sudah lama putus, Pak. Sebelum bapak saya meninggal," balas Aulia.


"Tapi, Nak Rangga rajin ke sini. Tadi pagi juga dia ke sini," kata kuncen itu.


'Jadi ini bunga dari Kak Rangga,' kata Aulia dalam hati.


"Itu karena Kak Rangga orang baik, Pak. Dia mau mengunjungi makam orang tua aku, selama aku berada di luar kota," ujar Aulia.


"Oh, gitu. Di mana pun kamu berada jangan lupa doakan kedua orang tua kamu, Nak. Hanya doa anak sholeh yang bisa sampai kepada orang tuanya yang sudah meninggal. Pastinya mereka selalu mengharapkan doa-doa dari kita," kata Kuncen mengingatkan.


"Benar kata kakek barusan. Mereka yang sudah di alam barzah pastinya selalu mengharapkan doa dari kita, yang menjadi anak," balas Aulia.


      Setelah dari pemakaman, Aulia mendatangi rumah Pak RT. Ternyata Pak RT kini sudah pindah ikut anaknya ke pulau seberang. Selama tiga tahun lebih meninggal rumah, banyak yang terjadi di lingkungan rumahnya. Ibu-ibu PKK yang selalu mengajari Aulia memasak dan membuat kue, banyak yang sudah meninggal. Namun, banyak juga anak cucu tetangga yang lahir setelah kepergiannya. Anak-anak yang dulu di ajarkan pelajaran oleh Aulia, kini sudah besar-besar. 


"Ternyata banyak yang berubah di sini. Bukan hanya aku saja yang sudah berubah ternyata," ucap Aulia.


"Tapi, kamu jadi semakin cantik, loh!" puji tetangga Aulia.

__ADS_1


"Iya, benar! Mau nggak nikah sama anak aku?" tanya ibu tetangga lainnya.


"Saya sudah punya calon suami. Insha Allah, minggu depan kami akan menikah. Mohon doanya, ya, Bu," balas Aulia.


"Wah, kamu akan menikah. Semoga langgeng, ya," kata mereka bersamaan.


"Semoga hanya maut yang memisahkan kalian," ucap ibu RT yang baru.


"Aamiin," balas Aulia dengan senyum manisnya dibalik cadar.


     Sampai sore Aulia bernostalgia bersama para tetangga lamanya. Keluarga yang mengontrak rumahnya untung orang baik. Mereka merawat rumah peninggalan orang tuanya dengan baik. Bahkan Aulia mengganti uang yang dipakai untuk membetulkan atap yang bocor karena badai yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Aulia juga memberikan uang untuk mengcat ulang rumahnya agar terlihat bagus dan terang.


"Non Aulia, nanti kalau kita ingin memperpanjang kontrakan hubunginya ke siapa, ya?" tanya di pengontrak rumah Aulia.


"Langsung saja ke saya, Pak. Ini nomornya," kata Aulia sambil menyerahkan nomor miliknya.


***


     Aulia dan teman-temannya menginap di hotel. Mereka juga jalan-jalan malam harinya ke taman kota dan ke alun-alun kota.ada satu ruas jalan dari taman ke alun-alun yang di pinggir jalannya banyak tukang jajanan di gerobak. Suasana di sana sangat ramai. Para pemburu kuliner atau anak-anak tukang jajan (kayak adik author) pastinya sering berada di sana untuk mencicipi beraneka ragam makanan. Mau itu makanan manis, asam, asin, pedas, bahkan pahit pun ada. 


"Kak Aulia, itu namanya apa?" tanya seorang pegawainya.


"Itu cilung. Enak, loh! Apalagi kalau dimakan panas-panas, beh!" Aulia mengacungi jempol.


"Itu Cibay, Terbuat dari tepung kanji dan meler isinya. Di makan pakai saos, ehk, enak banget. Enak dimakan pas hangat atau panas. Tapi aku suka saat dimakan hangat," ujar Aulia.


"Ada seblak!" teriak pegawai Aulia lainnya.


"Kita beli seblak, yuk!" ajak Aulia dan disetujui oleh yang lainnya.


Tiiinnnn!


      Seorang anak kecil hendak tertabrak oleh sebuah mobil. Anak itu berlari dan lepas dari pengawasan orang tuannya. Untung Aulia melihat anak laki-laki itu dan menyelamatkan.


"Anaknya tidak apa-apa, 'kan?" tanya orang yang turun dari mobil.


"Saya rasa dia tidak apa-apa," jawab Aulia sambil memeriksa keadaan bocah kecil yang masih diam membisu saking kagetnya.


"Anakku! Anakku!" teriak seorang perempuan berambut panjang.


"Anaknya tidak apa-apa, Bu. Sebaiknya jangan lepas dari pengawasan," kata Aulia.


"David, dia tidak apa-apa, 'kan? Cepat kita pergi dari sini!" teriak laki-laki yang menurunkan kaca jendela mobilnya.

__ADS_1


     Laki-laki tampan yang memiliki tatapan mata yang tajam. Dia beradu tatap dengan Aulia.


"Iya, bocahnya tidak apa-apa. Mau tanya dulu keadaan si Mbak ini, takut terjadi apa-apa kepadanya," balas laki-laki bernama David.


"Saya baik-baik saja, kok," ucap Aulia sebelum pemuda itu bertanya.


"Nama kamu siapa?" tanya David.


"Maaf, aku tidak suka sembaranga memberikan nama kepada orang asing," balas Aulia.


"David!" teriak laki-laki di dalam mobil itu.


"Iya, Kak Alvan. Baiklah kalau begitu, aku harap kalau kita bertemu lagi, kamu mau memberitahu nama kamu, Nona bercadar putih," ucap David sambil tersenyum menggoda.


"Kak Aulia siapa? Kenalan Kakak?" tanya pegawai Aulia.


"Tidak kenal," jawab Aulia sambil melihat laki-laki yang ada di dalam mobil yang masih menatapnya.


***


     Keesokan harinya Aulia dan teman-temannya mengunjungi beberapa tempat wisata yang terkenal di sana. Tentu saja orang-orang itu menikmati tempat itu dan pastinya akan berfoto saat menemukan tempat yang bagus. Lalu memposting agar teman-teman yang tidak ikut bisa tahu ada tempat yang bagus di sana.


"Kalian lapar tidak?" tanya Aulia.


"Lapar dong Bos," jawab mereka serempak kecuali Mutiara yang hanya mengangguk.


"Baiklah sebelum kita ke taman bunga yang sedang viral itu. Kita makan dulu di Saung Abah. Enak-enak loh, masakan di sana," kata Aulia.


"Setuju!" balas mereka kompak.


     Rumah makan Saung Abah terkenal dengan nasi liwet sama ikan bakar dan ayam bakarnya, juga sambal yang banyak pariasinya. Kita bisa meminta beberapa jenis sambal sesuai keinginan kita. Sayuran dan lalapnya juga dari tanaman yang organik tidak memakai pupuk kimia, jadi rasanya enak.


"Aku ke toilet dulu, ya," kata Aulia saat menunggu pesanannya datang.


      Setelah Aulia keluar dari toilet, dia pun membuang tisu bekas menglap tangannya yang basah ke tong sampah. Dia tidak memperhatikan keadaan sekitar setelah membuat tisunya.


BRAK!


***


Apa yang terjadi pada Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up Aulia bab berikutnya, baca juga karya teman aku, ya. Bagus loh ceritanya. Cus kepoin karyanya.

__ADS_1



__ADS_2