
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 128
Amelia mencurahkan isi hatinya yang sedang dilanda kegalauan kepada Aulia. Dia merasa bingung apa harus menerima ajakan Noah yang benar-benar menawarkan hubungan pernikahan. Selain itu, laki-laki yang sudah menjadi orang penting dalam hidupnya sejak kecil, menyimpan rasa cinta yang besar kepadanya sejak mereka remaja.
"Menurut kamu, apa aku terima saja pinangan yang ditawarkan oleh Noah?" tanya Amelia kepada Aulia.
Sebagai teman, Aulia tentunya ingin yang terbaik bagi Amelia. Jika, gadis itu yakin akan mendapatkan kebahagiaan dengan Noah dibandingkan dengan Rangga, maka dia pilih saja laki-laki yang benar-benar menginginkan kita.
"Kamu sudah mencoba shalat istikharah?" tanya Aulia.
Gadis berjilbab bunga-bunga itu menggelengkan kepala. Dia masih belum melakukan hal itu karena masih mengharapkan Rangga mau membuka hati untuknya.
***
Setelah mendengar kisah Amelia kemarin Alvan menanyakan kejelasan hubungan antara Rangga dengan gadis itu. Kini dia menemui sahabatnya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Amelia?" tanya Alvan kepada laki-laki yang sudah berteman dengannya sejak remaja.
"Baik," jawab Rangga singkat.
"Dulu aku mengira kalau kamu dan Amelia akan menjalin hubungan yang serius. Ternyata aku salah, malah Noah yang berniat serius. Bahkan dia sudah melamar Amelia," kata Alvan sambil terus memperhatikan laki-laki yang sedang makan batagor.
Kedua laki-laki itu sedang makan batagor di pinggir jalan di kawasan wisata kuliner yang buka 24 jam. Tempat paling asik jika membicarakan sesuai dengan santai.
Rangga menghentikan gerakan mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Dia sangat terkejut mendengar ucapan Alvan. Sebab, Amelia tidak pernah membicarakan hal ini.
__ADS_1
"Hm, aku dan dia hanya berteman baik. Itu juga karena Safiyah dekat dengannya," balas Rangga.
"Bukannya Safiyah menginginkan Amelia untuk menjadi ibunya. Dan Amelia juga begitu sayang kepada Safiyah. Kenapa kamu tidak mengabulkan keinginannya itu?" tanya Alvan dengan berkata nada kesal.
Rangga sendiri ingin menjalin hubungan dengan perempuan yang dia cintai dan mencintainya. Selama ini dia dekat dengan Amelia belum bisa membuka hatinya. Namun, dia tidak suka saat Noah begitu memberikan perhatian lebih dan Amelia begitu menyukainya.
"Aku rasa Amelia sebenarnya menganggap aku hanya teman, berbeda dengan perlakuan dia kepada Noah. Aku rasa kalau Amelia juga menyukai laki-laki itu. Aku melihat itu saat kami jalan-jalan bersama," ucap Rangga.
"Hei, jangan bodoh kamu! Kalau kamu membuka hati untuk Amelia, maka akan terlihat betapa dia peduli dan sayang kepada kamu. Namun, kamu selalu menutup mata akan segala perhatian Amelia kepada kamu," balas Alvan dengan geram.
Rangga terdiam. Dia memikirkan kata-kata temannya barusan. Laki-laki ini memang pernah berbicara dengan Amelia tentang perasaannya dulu sebelum ada Noah. Namun, saat kemarin dia melihat betapa bahagianya Amelia ketika berinteraksi dengan Noah, membuat dia merasa hanya jadi pelariannya saja. Seperti dirinya yang ingin melupakan perasaannya untuk Aulia dengan mencoba memanfaatkan Amelia meski tidak berhasil.
"Mungkin dulu Amelia suka kepada aku. Tetapi, setelah laki-laki itu kembali, sepertinya cinta lama bersemi kembali," balas Rangga.
Alvan lupa menanyakan apa Amelia dan Noah pernah pacaran dulu. Dia hanya mendengar kalau Noah ingin melamar Amelia, tetapi gadis itu belum memberikan jawaban karena hatinya masih tertuju kepada Rangga.
"Bagaimana jika perasaan cinta Amelia itu untuk kamu? Ya, Amelia itu awalnya suka kepada Safiyah yang sedang bermain dengan Aulia. Lalu, istriku itu bilang kalau Amelia cocok menjadi ibu bagi Safiyah. Makanya, Amelia mencoba untuk mengenal dirimu. Betapa Aulia selalu bercerita akan kebaikan dan kelebihan dirimu kepada Amelia, sehingga dia mulai jatuh cinta sama kamu. Jadi, kamu sudah salah jika perasaan Amelia kepada kamu itu bohongan. Dia tulus menyukai kamu karena diri kamu apa adanya. Dia tidak melihat harta atau masa lalu kamu. Kalau sampai kamu melepaskan Amelia, belum tentu akan ada perempuan yang mencintai kamu dan sayang kepada Safiyah. Bisa saja nanti akan ada perempuan yang mencintai kamu, tetapi tidak sayang kepada Safiyah," jelas Alvan dengan menggebu-gebu karena mulai kesal kepada temannya ini.
***
Malam ini Rangga mendatangi rumah Amelia, seorang diri. Saat dia sampai ke sana ada Noah sedang bertamu juga. Amelia terkejut dengan kedatangan laki-laki itu ke rumahnya. Inilah pertama kalinya Rangga main ke rumah Amelia. Biasanya mereka akan berjanjian di suatu tempat atau Amelia sering yang main ke rumah Rangga.
"Kak Rangga," lirih Amelia.
"Boleh aku masuk," ucap Rangga.
Amelia menjadi kikuk, salah tingkah, dan gugup dengan kedatangan sang pujaan hati.
"Kak Rangga, mau minum apa?" tanya Amelia masih tidak percaya kalau laki-laki itu kini berdiri di depannya.
__ADS_1
"Apa saja, asal jangan yang membuat kamu repot," jawab Rangga.
Noah melirik tidak suka kepada Rangga yang sudah mengganggu momen penting dia dan Amelia tadi. Laki-laki itu sedang mengungkapkan kembali perasaannya dan berniat meminang dirinya. Belum juga Amelia menjawab, Rangga datang.
Tidak lama kemudian datang Pak Hasan dan Bu Sari yang baru saja pulang dari acara kondangan pesta pernikahan anak kenalannya.
"Ada Rangga dan Noah. Kapan kalian datang?" tanya Pak Hasan karena tadi saat mereka pergi belum kedatangan tamu di rumahnya.
"Baru saja," jawab Rangga dan Noah bersamaan.
Pak Hasan melihat hanya ada satu buah gelas yang diletakan di depan Noah. Dia berpikir kalau Rangga datang paling belakangan.
"Ayah … Ibu, sudah pulang? Kok, sebentar sekali perginya!" Amelia melihat jam di dinding dan itu menunjukan kalau kedua orang tuanya pergi tidak sampai 20 menit.
"Ya, karena akan ada tamu yang datang ke sini. Makanya ayah dan Ibu pergi hanya mengucapkan selamat dan mendoakan pengantin baru. Setelah itu langsung pulang. Ternyata benar saja, Rangga sudah datang duluan," jelas Pak Hasan.
"Oh, Kak Rangga mau menemui Ayah," ucap Amelia kecewa, karena dia mengira kalau Rangga itu datang untuk menemuinya.
"Iya, karena akan membicarakan sesuatu yang penting," lanjut Pak Hasan sambil duduk di dekat Rangga.
"Noah, sebaiknya kita bicara di teras depan saja. Sepertinya Kak Rangga dan Ayah butuh ruang privasi," kata Amelia tidak mau mengganggu pembicaraan mereka.
"Tunggu! Kamu harus tetap di sini," ucap Rangga sambil melihat ke arah Amelia.
Gadis itu malah balas melihat Rangga dengan heran karena dia mengira tidak perlu terlibat dengan pembicaraan mereka.
***
Apa yang akan dibicarakan antara Rangga dan Pak Hasan? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.