Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 43. Utang 800 Miliar


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.


***


Bab 43


     Betapa terkejutnya Aulia saat tatapan matanya bersirobok dengan laki-laki bermata tajam itu. Dia menundukkan pandangannya dengan cepat. Tubuh Aulia bergetar saat melihat kalau tumpukan kertas itu adalah dokumen penting perjanjian antara dua perusahaan.


'Ya Allah, bagaimana ini?' batin Aulia merasakan kecemasan.


"Apa yang Anda lakukan Nona!" hardik dua orang bersamaan.


      Ada tiga orang lain lainnya yang duduk di meja itu. Ketiganya terlihat memasang wajah marah kepada Aulia.


"Apa kamu tahu kalau kertas yang terkena tumpahan air ini sangat penting?" bentak orang berjas hitam dan menatap nyalang pada Aulia.


"Maafkan saya Tuan. Sungguh, saya tidak sengaja melakukannya. Tidak ada niatan untuk merusak kertas-kertas ini," kata Aulia gugup dan terlihat dari sorot matanya ketakutan karena dipelototi oleh empat orang laki-laki dewasa.


"Kamu harus ganti rugi!" ucap laki-laki yang duduk di samping Aulia yang sedang berdiri.


      Aulia mengalihkan perhatiannya kepada laki-laki itu. Sorot mata yang tajam yang seolah selalu menarik dirinya agar melihat ke arahnya.


"Saya tidak membawa laptop," balas Aulia.


"Laptop?" ucap keempat laki-laki itu.


"Kalau boleh pinjam laptopnya, saya akan ketik ulang semua dokumen yang terkena tumpahan air ini," balas Aulia dan membuat keempat laki-laki di sana tercengang dan langsung menahan tawanya.


"Bukan masalah mengetik ulang semua dokumen ini. Tapi, gara-gara kamu kami akan mengalami kerugian sebanyak delapan ratus miliyar. Dan kamu harus bertanggung jawab untuk ganti rugi," lanjut laki-laki yang duduk di kursi roda.


"De-delapan ra-tus miliar?" Jantung Aulia terasa jatuh ke perut saat mendengar jumlah nominal yang harus dia ganti.

__ADS_1


"Iya," balas laki-laki yang masih menatap Aulia dengan lekat.


"Tapi, Tuan … saya tidak punya sebanyak itu. Apa benar harga kertas ini semahal itu?" Aulia balik menatap wajah tampan campuran Indonesia dan Chinese atau Jepang.


"Bukan harga kertasnya, tetapi isi kertasnya yang mahal," ucap laki-laki itu.


"Mahal sekali," lirih Aulia, "apa boleh saya membayarnya secara menyicil?"


"Berapa lama kamu akan menyicilnya?" tanya laki-laki bernama Alvan.


"Tidak terbatas waktu, yang penting sampai lunas," jawab Aulia. Dia tidak punya uang sebanyak itu. Meski menjual semua harta kekayaannya tidak akan sanggup membayar itu.


"Kalau seperti itu kamu bisa saja kabur dan tidak akan membayar utang kepada aku," ujar Alvan.


"Astaghfirullahal'adzim. Tuan, yang namanya utang itu sampai kapan pun harus dibayar. Kalau tidak bisa lunas di dunia ini, maka akan ditagih saat di akhirat nanti. Dan aku tidak mau mati dengan membawa beban utang," balas Aulia dengan sengit. Utang adalah sesuatu yang sangat berat, meski kadang dianggap sepele oleh sebagian orang. Aulia bukan tipe yang suka menyepelekan utang, makanya dia selalu cepat-cepat membayar utangnya. Mau itu utang uang, tenaga, atau janji.


"Bagus, aku suka cara berpikir kamu. Kalau begitu kamu bekerja di tempat aku, dan sisa utang kamu akan dipotong dari gaji yang akan kamu terima," tutur Alvan memberikan salah satu solusi yang terpikirkan olehnya.


      Semua orang di sana terdiam dengan mulut rapat sedangkan dalam hati mereka sedang bertanya-tanya. Ketiga orang laki-laki lainnya tahu betul kalau Alvan buka tipe orang yang suka banyak bicara. Apalagi dengan seorang perempuan asing.


"Kalau perlu seumur hidup kamu," jawab Alvan.


"Apa? Tidak mau aku bekerja seumur hidup. Apalagi kalau aku sudah menikah nanti, aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak," bantah Aulia yang menolak itu.


"Mudah saja, kamu menikahlah dengan orang yang sangat kaya dan mampu membayar sisa utang kamu," ucap Alvan dengan mengangkat alisnya.


"Maaf, Tuan. Aku mencari laki-laki yang mau dinikahi, bukan dari banyaknya harta yang laki-laki itu miliki. Aku mau menikah dengan laki-laki yang mampu membimbing aku dan keluargaku aku kelak, agar bisa selamat di dunia dan akhirat. Setiap orang berbeda-beda keinginan dalam mencari pasangan hidup, begitu juga dengan diri aku. Punya kriteria sendiri," jelas Aulia dengan tatapan tidak suka pada laki-laki yang hanya melihat wanita itu sebagai makhluk matre yang hanya melihat harta.


"Jadi?" tanya Alvan.


"Aku akan membayar setiap bulan utang yang aku punya kepada Tuan. Meski utang itu ada kemungkinan di wariskan kepada anak cucuku nanti, Insha Allah akan dibayar sampai lunas,"  jawab Aulia.

__ADS_1


      Alvan terpana dengan sosok gadis bercadar yang bicara dengan tegas. Tidak pernah sekali pun dalam hidupnya dia berhadapan dengan seorang perempuan seperti ini.


"Aku minta nomor rekening Anda dan aku akan membayar di muka utang itu, meski tidak banyak," pinta Aulia.


"Aku tidak ingat dengan nomor rekening milikku. Aku kasih nomor handphone, nanti kamu hubungi aku," ucap Alvan.


'Wah, ada apa ini? Apa modus model baru? Tapi hebat juga si Bos, ini secara tidak langsung meminta nomor wanita ini,' batin laki-laki berjas biru.


***


     Aulia pulang ke rumahnya dengan lesu. Tidak lama kemudian, kakek Yusuf menelepon. Lalu Aulia pun menceritakan kejadian yang dialami olehnya.


^^^"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Aulia kenapa bisa jadi seperti itu?" tanya kakek Yusuf dengan perasaan iba.^^^


"Namanya juga kecelakaan, Kek. Mungkin ini musibah, tetapi pasti akan ada hikmahnya. Benarkan, Kek? balas Aulia.


^^^"Kalau begitu, akan kakek bantu. Kakek ada uang meski tidak besar," ucap kakek Yusuf.^^^


"Tidak perlu, Kek. Aulia mau minta izin sama Kakek mau kerja dulu, sampai Aulia menikah, untuk membayar utang. Kalau bisa Kakek Yusuf dan Nenek Halimah ikut sama Aulia di sini. Biar Aulia juga bisa memperhatikan dan mengurus kalian berdua," pinta Aulia.


^^^"Suasana kampung lebih cocok untuk kita, Aulia. Kamu baik-baik saja bekerja di sana. Hanya cukup setiap hari kita saling menghubungi seperti ini saja. Nanti sesekali kakek akan mendatangi kamu," ucap kakek Yusuf menolak ajakan Aulia.^^^


      Mereka bertiga–Aulia, kakek Yusuf, dan nenek Halimah–berbincang-bincang lewat video call secara bergantian. Bicara dengan mereka berdua membuat hati dan pikiran Aulia merasa tenang.


***


"Ada pesan masuk dari nomor asing," gumam Aulia saat mendengar bunyi di handphone miliknya.


Terlihat di sana ada berderet angka dan nama sebuah bank swasta, juga nama pemilik nomor rekening itu. Aulia pun membalas pesan itu.


Tuan, saya akan kirim lewat M-banking dengan nominal 5 miliar. Nanti saya akan lampirkan bukti pembayarannya.

__ADS_1


***


Akankah Aulia bisa melunasi utang itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2