Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. Bab 137. Ngidam Para Suami (2)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 137


Aulia dan para wanita lainnya selesai membuat nasi liwet. Begitu juga dengan para laki-laki yang sudah membakar ikannya. Mereka makan di tempat yang terpisah. Kaum papa muda makan di bawah pohon mangga sambil menggelar tikar. Sementara itu, berjalan ibu muda maka di teras. Suasana akrab tercipta di sana, canda tawa pun terdengar dari mulut mereka.


Kakek Yusuf dan Nenek Halimah, istirahat di kamar karena kondisi kesehatan semakin menurun. Mereka sudah terlalu tua usianya saat ini. 


"Kabar Gus Fathir, di Malaysia bagaimana?" tanya Aulia.


"Alhamdulillah, dia baik. Masih sibuk dengan kuliah dan mengajar seperti biasa," jawab Ning Annisa.


Amelia dan Yukari tahu siapa itu Gus Fathir, mereka juga penasaran bagaimana kabarnya saat ini. Kisah cinta Aulia dan laki-laki di sekelilingnya dahulu selalu membuat mereka penasaran.


"Semoga saja dia bisa secepatnya, bertemu dengan jodohnya," gumam Aulia.


"Aamiin," ucap ketiga ibu-ibu muda itu bersamaan.


kegiatan mereka hari ini sangat berkesan dan menyenangkan bagi semua orang. Mereka juga saling berbagi pengalaman saat menghadapi kehamilan anak pertama. Meski rata-rata mereka sangat kesulitan menghadapi ngidam para istri.


"Bersyukurlah kalian, ngidam istri cuma seperti itu. Berbeda dengan ngidam istriku," ucap Rangga dengan lirih, mengisyaratkan kesedihan.


"Yang paling beruntung adalah Rafael dan. Alvan. Semenjak istri mereka hamil kelakuannya menjadi sangat manja dan bucin terhadap para suaminya," ucap Mario.


Memang harus diakui oleh Rafael dan Alvan, istri mereka menjadi sangat manja dan selalu ingin diperhatikan semenjak hamil. Begitu juga dengan sifat cemburunya semakin meningkat. Ada rasa senang ada juga tidak, saat istri mereka berubah seperti ini.


***


Kegiatan selama kehamilan yang paling disukai oleh Aulia adalah saat memeriksa kandungan. Dia bisa melihat bayi mereka lewat monitor dan mendengarkan detak jantungnya. Selalu ada rasa haru yang dia rasakan saat melihat tumbuh dan perkembangan bayi itu. Jenis kelamin juga sudah diketahui, tapi author masih ingin merahasiakannya.


"Bagaimana perkembangan bayi kita, Dok?" tanya Alvan.


"Sangat baik. Berat badan dan posisinya juga sudah pas," jawab Dokter Sarah sambil penunjuk layar monitor.


"Berapa lama lagi anak kita akan lahir?" tanya Alvan, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera menimang bayinya.

__ADS_1


"Aku siap kandungan buah mulia baru memasuki 5 bulan. Masih ada 4 bulan lebih lagi," jawab wanita yang berambut merah kehitaman.


"Masih lama," gumam Alvan.


Dokter itu malah tersenyum melihat Alvan yang terlihat jelas begitu sayang terhadap anak dan istrinya. Laki-laki yang selalu cekatan dan penuh semangat saat memeriksakan kondisi bayi dan wanita yang dicintainya, terlihat menarik napas dan menghembuskannya secara kasar.


"Sabar, ya, Pak." Dokter itu tersenyum tipis.


Dia paling suka saat melakukan pemeriksaan, pasangan suami istri itu saling pengertian dan memperhatikan atas kondisi perkembangan bayi mereka.


***


Meski usia kandungan Aulia sudah 5 bulan lebih, Alvan masih saja suka ngidam makanan yang asam dan pedas. Biasanya dia dan Mario suka berlangganan beli rujak petis. Namun, kali ini ada yang berbeda dari mereka berdua. Mereka ingin makan mie ayam dari pedagang keliling yang memakai gerobak warna biru. Jadilah, kedua calon papa muda itu berkeliling kota mencari tukang mie ayam gerobak.


"Mana, sih? Biasanya mereka selalu ada di alun-alun kota, tapi kini tidak ada," gumam Mario sambil menyetir.


Sementara harapan duduk di sampingnya hanya diam sambil melihat ke sekeliling tempat yang mereka lalui.


"Jika saja ada alat pelacak yang bisa menemukan tukang mie ayam gerobak warna biru, pasti aku akan membelinya sekarang juga," ucap Alvan berputus asa.


"Hanya orang jenius saja yang bisa menciptakan alat pelacak seperti itu," balas suami dari Yukari.


"Assalamualaikum, Raihan."


^^^"Wa'alaikumsalam. Ada apa Alvan? Tumben jam segini menghubungi aku."^^^


"Maaf sudah mengganggu waktu bekerja kamu. Aku mau tanya Apa kamu punya alat pelacak untuk menemukan seseorang atau barang?"


^^^"Apa kamu sudah menjadi seseorang? Kirimkan saja identitasnya kepadaku sekarang! Biar nanti Tim Keamanan Keluarga kami yang mencarikannya untukmu."^^^


Alvan merasa sangat malu, karena yang dia cari hanyalah tukang dagang makanan. Selain itu dia juga tidak tahu identitas orang itu.


"Sebenarnya yang aku cari adalah tukang dagang mie ayam yang jualan keliling pakai gerobak warna biru."


Terdengar suara Raihan yang tertawa dari seberang sana. Tentu saja hal ini membuat Alvan malu sampai warna pipinya berubah.


^^^"Kamu sedang ngidam mie ayam keliling?"^^^

__ADS_1


"I-ya."


^^^"Baiklah aku akan minta kepada anak-anakku untuk melacak keberadaannya yang berada di Kota Kembang."^^^


Tidak sampai dari 3 menit Alvan pun menerima pesan dari Raihan. Sebuah peta Kota Kembang yang ada beberapa titik merah dan itu adalah tempat yang menunjukkan tukang dagang mie ayam dan gerobak biru. Ternyata ada 5 titik yang lumayan jauh jaraknya dari posisi mereka sekarang.


"Beda, ya. Kalau orang jenius dan kaya bertindak, segalanya pasti cepat," ucap Mario sambil melajukan mobil menuju ke tempat yang tertera di peta.


"Demi bayi kita agar tidak ngecas saat mereka lahir nanti, apapun akan aku lakukan." Bagi Alvan anak dan istri adalah segalanya. Dia pasti akan melakukan apapun untuk kebaikan mereka.


Setelah menjalankan mobil sekitar 7 menit, akhirnya mereka menemukan tukang mie ayam gerobak biru. Mereka makan dengan perasaan penuh haru dan terasa nikmat. Sampai-sampai mereka bertambah tiga mangkok mie ayam.


***


"Kakek, ayo, bangun." Aulia berjalan ke arah Kakek Yusuf. 


"Kek, sebentar lagi akan adzan Zuhur, loh!"


"Kek!" Aulia panik saat membangunkan Kakek Yusuf untuk sholat Zuhur, tetapi tidak bangun juga. 


"Tenang Aulia, agar bisa berpikir jernih."


Perempuan itu langsung menghubungi dokter agar secepatnya bisa datang ke rumah. Nenek Halimah yang baru keluar dari kamar mandi sehabis wudhu pun ikut panik.


"Ada apa dengan Kakek, Aulia?" Wanita sepuh itu mengguncangkan tubuh suaminya.


"Pak, bangun! Sebentar lagi waktunya sholat." Wajah Nenek Halimah berubah sendu dengan mata yang berkaca-kaca.


Sekitar 15 menit berlalu dokter baru tiba. Tentu saja ini membuat Aulia kesal karena dia sangat lelet.


"Sebaiknya Kakek Anda secepatnya dibawa ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan yang intensif," kata dokter yang baru saja tiba dan memeriksa keadaan Kakak Yusuf.


***


Bagaimana keadaan Kakek Yusuf? Apakah akan sembuh atau meninggalkan Aulia untuk selama-lamanya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2