Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 41. Rasa Kehilangan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian tidak marah-marah sama aku 🤭😘.


***


Bab 41


     Kakek Yusuf menatap iba kepada Aulia. Lagi-lagi takdir harus membuatnya merasakan perpisahan dengan orang yang disukainya. Dia berharap Allah menunjukkan kekuasaannya kepada Ahmad, dengan menyembuhkan pemuda yang sedang berbaring dan melantunkan kalimat tauhid.


"Kakek, nikahkan kami sekarang. Aku mohon!" pinta Aulia lagi.


       Mata yang sayu milik Aulia karena kebanyakan menangis, kini melirik kepada Ahmad. Dia berharap calon suaminya itu setuju dengan keinginannya.


"Laa ilaha illalah," lirih Ahmad.


"Kek~," Aulia berkata dengan lirih.


"Ikuti apa keinginan Ahmad, Nak," kata kakek Yusuf. 


     Aulia menangis tergugu dalam pelukan nenek Halimah. Dia tidak sanggup melihat Ahmad yang sedang menahan rasa sakit dari sakaratul maut.


      Kalimat tahlil meluncur dari mulut Ahmad tiada henti meski sangat pelan dan dibimbing oleh kakek Yusuf. Wajah Ahmad kini terlihat tenang dan bercahaya. Tidak ada lagi harus kesakitan yang tersirat dari pancaran mata atau wajahnya. Mulutnya pun mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lirih, tapi terdengar jelas bagi orang-orang yang berada di dekatnya.


     Bukan hanya Aulia, kakek Yusuf, dan nenek Halimah yang menangis. Dokter yang sejak tadi berada di sana juga ikut menangis tergugu. Dia baru sekarang melihat seorang pasien yang menyambut kematiannya dengan ketenangan dan senyum bahagia. Seolah ini adalah waktu yang sedang dia tunggu-tunggu.


"Nak, relakan Ahmad. Biarkan dia merasa tenang saat menuju panggilan Tuhannya karena masa dia di dunia ini sudah akan berakhir," ucap kakek Yusuf.


"Mas Ahmad, aku ridho … aku relakan kamu. Allah lebih mencintaimu, Allah tahu yang terbaik untuk kamu, Mas. Semoga kamu di tempatkan bersama orang-orang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah. Kamu pantas mendapatkan itu, Mas," kata Aulia sambil berusaha menahan menangisannya.


"Laa ilaha illalah," kata Aulia di samping Ahmad yang masih melafalkan kalimat tauhid.


     Kakek Yusuf, nenek Halimah, Aulia, dan dokter itu bersama-sama mengucapkan kalimat tauhid. Bibir Ahmad tersenyum dan matanya terpejam sedikit, setelah mengucapkan kalimat tahlil untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi rojiun (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah Subhanahu wa ta'ala)." 


     Kakek Yusuf menutupkan mata Ahmad seraya berdoa. Meski sedih, tetapi kakek Yusuf merasa bahagia, melihat akhir yang baik dari salah satu anak asuhnya.


***


     Kabar meninggalnya Ahmad membuat gempar dan bersedih bagi orang-orang yang mengenal dirinya. Para tetangga yang berada di dekat rumah atau para pedangan yang berada di dekat tokonya, semua menangisi kepergian laki-laki sholeh itu.


     Begitu banyak orang yang ikut mensholatkan jenazah Ahmad. Orang-orang bergelombang silih berganti secara bergiliran. Membuat banyak orang merasa iri. Masjid yang luas itu terasa kecil karena banyaknya orang yang ingin melakukan sholat jenazah.


      Meski jenazah Ahmad telah di kebumikan berdekatan dengan kuburan keluarganya, para pelayat tiada hentinya berdatangan dan mendoakannya. Hal yang mengejutkan adalah kedatangan anak-anak di beberapa panti asuhan, anak-anak Tahfiz, dan teman-teman Ahmad semasa sekolah.


"Lihatlah, begitu banyak orang yang menyayangi Ahmad. Dia pemuda baik, bahkan Allah pun menyayangi dirinya, dan memanggilnya dengan sangat cepat," ucap kakek Yusuf kepada Aulia.


"Kakek benar. Mas Ahmad pastinya senang saat ini. Banyak sekali orang-orang yang mendoakan dirinya. Apa Aulia nanti saat meninggal juga akan seperti ini? Banyak yang mendoakan," balas Aulia.


"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya mati. Hanya saja keadaannya saja yang membedakan. Apa dia mati dalam keadaan husnul khatimah atau khusnul khatimah," kata kakek Yusuf.


"Kebanyakan orang pasti merasa takut akan kematian. Setiap manusia mempunyai batas waktu, maka apabila sudah datang watunya kita tidak bisa memundurkannya meski sesaat atau sebaliknya kita tidak bisa pula memajukannya," lanjut nenek Halimah.


"Padahal jika kita mencintai Allah dan mengabdikan diri ini hanya untuk Allah, pertemuan dengan-Nya adalah hal yang paling di tunggu-tunggu. Meski begitu kematian itu jangan dicari-cari. Tapi, persiapkan diri ini saat kematian karena itu bisa saja akan datang secara tiba-tiba," jelas kakek Yusuf lagi.


"Mempersiapkan diri dan bekal kita untuk kehidupan di akhirat nanti," tambah Aulia.


"Ya. Banyak-banyaklah berbuat amal yang baik selagi kita masih diberikan kesempatan hidup," pungkas kakek Yusuf.


***


      Ternyata para santri di Pesantren Al-Ikhlas juga melakukan shalat ghoib untuk Ahmad. Terlalu banyaknya pelayat di rumah Ahmad dan orang-orang mensholatkan jenazahnya, membuat Fathir meminta para santri, ustadz, dan para kiai untuk sholat ghoib di masjid Al-Ikhlas.


      Meski sudah sebulan Ahmad meninggal dunia. Masih banyak pelayat yang datang mengunjungi makam dan kediamannya. Kakek Yusuf tinggal sementara waktu di rumah Ahmad karena masih banyak pelayat yang berdatangan ke sana. Dia menjamu orang-orang yang sengaja datang untuk mendoakan Ahmad.

__ADS_1


      Selain kakek Yusuf ada juga pak Slamet yang ikut menemani di rumah itu dan juga pak RT dan pak RW. Mereka semua adalah orang-orang yang sayang kepada Ahmad.


     Iqbal kini memegang kuasa akan toko milik Ahmad. Sesuai apa yang di minta Ahmad kepada pak Slamet.


       Sebelum kematiannya, Ahmad sempat membuat beberapa surat kuasa kepada pak Slamet. Harta perniagaannya dikuasakan kepada Iqbal dengan keuntungan bersih 40% untuk Iqbal, 20% untuk anak-anak panti, 20% untuk anak-anak hafizh, 20% untuk orang pakir, miskin, dan orang jompo. Sementara itu rumah yang ditempati dan rumah yang akan dijadikan mahar semua sudah diubah atas nama Aulia. Tanah perkebunan dan sawah seluas 2 hektare di wakafkan untuk ke maslahatan umat.


     Meski Iqbal dan Aulia sempat menolak itu semua, akhirnya mereka mau menerimanya. Aulia merasa sangat berat saat menerima semua itu. Pernikahannya gagal, tetapi rumah itu sudah diberikan dan atas namanya.


***


Dua tahun kemudian.


     Sangat berat bagi Aulia untuk melupakan sosok Ahmad. Laki-laki yang menjadi idaman dirinya. Meski kadang ada laki-laki yang ingin meminangnya, Aulia merasa kesulitan untuk menerima pinangan mereka.


"Carilah pasangan kamu. Bukannya Ahmad meminta kamu untuk melakukan hal itu," kata kakek Yusuf.


"Saat ini Aulia belum bisa membuka hati untuk menerima pinangan dari laki-laki, Kek. Entah kenapa tanpa sadar, sosok Mas Ahmad selalu menjadi tolak ukur bagi Aulia dalam mencari pasangan hidup," ucap Aulia. Dia tahu ini tidak boleh, tetapi sosok seperti Ahmad lah yang dia impikan menjadi suaminya.


"Nenek yakin kamu pasti bisa menemukan sosok yang akan membuat hati kamu bergetar saat melihatnya," goda nenek Halimah.


"Nenek dan Kakek suka sekali kalau menggoda Aulia soal jodoh," rengek Aulia.


"Apa mau kakek jodohkan dengan seseorang?" tanya kakek Yusuf.


***


Akankah Aulia menerima kembali perjodohan yang disarankan oleh kakek Yusuf? Tunggu kelanjutannya, ya!


Part paling sulit saat dibuat selama menulis cerita ini. Feeling sulit di dapat sejak semalam, sampai harus baca karya aku saat kematian Zahra dulu, baru bisa ada bayangan. 🥺🥺


Aku tahu banyak yang kecewa akan kematian Ahmad. Jika aku jadikan Aulia sama Ahmad, ya sudah sampai sini karena mereka pastinya hidup bahagia dengan saling mengisi kekurangan dan menerima mereka apa adanya. Maka, tidak akan ada cerita keadilan untuk Ara nantinya, tidak akan ada penyesalan keluarga Rangga, tidak akan ada perjuangan Aulia untuk mencari surganya. Aku ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mau membaca karya aku. Prinsip aku dalam menulis adalah menyampaikan suatu kebaikan dalam setiap cerita aku, mau itu banyak atau sedikit nilai yang bisa diambil oleh para pembaca. Semoga dalam cerita ini kalian juga bisa mengambil suatu hikmah atau pembelajaran.

__ADS_1


__ADS_2