E L A N A

E L A N A
10. Mourin Pingsan Lagi


__ADS_3

Elana yang semakin giat belajar untuk bisa menghadapi ujian nasional, kini hanya bisa diam ketika ibu Sinta berkata bahwa Elana tidak mendapatkan beasiswa.


"Kamu tidak kecewa kan El?" tanya ibu Sinta.


"Ngga bu, saya hanya perlu berusaha lebih keras untuk dapat nilai bagus." ucap Elana.


"Ibu sudah berusaha agar kamu juga dapat beasiswa itu. Memang belum waktunya kan, tapi pencarian siswa yang mendapatkan beasiswa sudah di rapatkan. Ibu sudah mengusulkan kalau kamu juga masuk ke jajaran siswa yang akan mendapat beasiswa, tapi tidak di terima. Maafkan ibu El." ucap inu Sinta dengan perasaan kecewa.


"Alasannya apa bu?" tanya Elana penasaran.


Dia bukannya ingin memaksa mendapatkan beasiswa itu, tapi hanya ingin tahu apa alasannya usulan ibu Sinta di tolak.


"Mungkin orang kaya yang bermain di sana El, ibu juga tidak tahu. Tapi ibu yakin kamu akan ada rejekinya sendiri kok, ibu percaya Tuhan akan memberikan kemudahan untuk kamu nantinya." ucap ibu Sinta pada Elana.


Dia tidak memberitahu alasan sebenarnya karena Elana itu hanya anak narapidana dan dia tidak berhak mendapatkan beasiswa.


Tapi Elana tahu bukan hanya itu, dia mengerti kenapa ibu Sinta tidak memberitahu alasan sebenarnya. Elana menarik nafas panjang, dia mengambil peralatan menulisnya lalu di masukkan ke dalam tasnya.


"Saya tahu bu, pasti karena saya anak seorang narapidana. Jadi tidak berhak mendapatkan beasiswa di sekolah ini." ucap Elana.


"Bukan seperti itu, El. Ibu ngga membandingkan kamu anak siapa dan mereka anak siapa. Hanya saja forum rapat itu tidak menerima usulan ibu." kata ibu Sinta agar Elana tidak merasa berkecil hati dan rendah diri karena anak mantan narapidana.


"Iya bu, saya tahu ibu berjuang untuk saya. Terima kasih, tapi memang anak mantan narapidana itu selalu jadi asalan untuk menolak apa saja yang baik untuk saya. Saya tidak berhak mendapatkan prestasi yang bagus. Ibu tidak khawatir, saya ngga apa-apa kok tidak mendapatkan beasiswa dari sekolah ini. Saya akan cari sendiri ke tempat yang lain." kata Elana lagi.


Meskipun kecewa, tapi Elana tidak menyalahkan ibu Sinta. Dia hanya kecewa pada guru-guru lainnya dan juga kepala sekolah, meski tidak tahu kenapa dia tidak di masukkan.


"Elana, ibu akan bantu memcarikan sponsor untuk kamu mendapatkan beasiswa kemana yang kamu mau. Pikirkan kamu mau kuliah di mana ya?" ucap ibu Sinta.


Dia tidak mau Elana putus asa, dia juga akan berusaha membantu Elana semaksimal mungkin. Karena dia sendiri bukan hanya kasihan, tapi juga sayang pada Elana.


Ibu Sinta tahu sedikit tentang kisah Elana sejak kecil sampai dia sekolah. Awalnya di sayang oleh sahabat ibunya, tapi sekarang sahabat ibunya Sandra tidak pernah lagi mengunjungi Elana.


"Emm, apa sebaiknya kamu minta bantuan pada Om Jho mu itu, El?" tanya ibu Sinta ragu.


Dia takut Elana marah, tapi bukan marah ternyata reaksinya. Dia terlihat sedih dan menarik nafas panjang.


"Saya ngga mau merepotkan om Jho terus bu, mama juga bilang jangan merepotkan om Jho dan tante San lagi. Mereka sudah bahagia, jangan ganggu om Jho dan tante San lagi. Dan saya juga ngga mau merepotkan mereka terus." ucap Elana lirih.


Ibu Sinta pun diam, dia maklum dengan sikap Elana itu.

__ADS_1


"Ya sudah ngga apa-apa, nanti ibu kabari kamu kalau ibu sudah mendapatkan seponsor beasiswa untuk kamu."


"Iya bu, terima kasih."


"Ibu juga akan mengumpulkan berkas data kamu dan meminta surat keterangan pada kepala sekolah agar di permudah. Jangan putus asa ya El?"


"Iya bu, sekali lagi terima kasih ibu Sinta banyak membantu saya terus."


"Ngga apa-apa, ibu senang kok bantu kamu."


"Kalau begitu saya permisi pulang bu, sudah jam tiga. Saya juga izin sama ibu kantin hari ini tidak membantunya mencuci piring dan melayani pembeli." ucap Elana.


"Ngga apa-apa, pasti ibu kantin mengerti kamu kok."


Setelah Elana pamit dan mencium tangan ibu Sinta, dia langsung pulang ke rumah karena entah kenapa perasaannya tiba-tiba gelisah dan sedih.


_


Sampai di rumah, Elana semakin gelisah. Tentanganya menelepon kalau ibunya Mourin pingsan lagi. Dia benar-benar syok ketika menerima telepon sedang berada di angkot dan mengatakan Mourin pingsan.


Elana berlari masuk ke dalam rumahnya dan menerobos masuk ke dalam kamar yang ada tiga orang di depan kamar Mourin.


"Mama!" teriak Elana menghampiri Mourin yang belum sadarkan diri.


"Mama kenapa?" tanya Elana mentap Mourin yang masih tertutup matanya.


"Neng, sudah jangan nangis. Mamanya tadi cuma pingsan aja di pabrik." kata bu Marni teman Mourin.


"Kenapa mama pingsan bu Marni?" tanya Elanaasih menangis.


"Ya tadinya bu Mourin kan sedang menjemur kerupuk, tapi eh tiba-tiba pingsan. Ibu jadi panik, langsung ibu bawa pulang minta tolong sama pegawai laki-laki di sana." jawab ibu Marni.


"Kan El sudah bilang jangan ke pabrik lag, kenapa mama keras kepala sih. Hik hik hik." ucap Elana lagi.


Ibu Marni diam, dia merasa bersalah karena maaih menghampiri Mourin untuk ke pabrik. Meski permintaan Mourin sendiri.


"Maaf neng, ibu tadi menghampiri mama neng. Tapi sebenarnya ibu sudah larang mama neng untuk tidak ikut lagi ke pabrik, eh mamanya neng maksa untuk ikut ke pabrik juga." kata ibu Marni.


Elana diam, dia tidak menyalahkan ibu Marni. Dia justru menyesalkan kenapa Mourin terus memaksa bekerja di pabrik.

__ADS_1


Tak berapa lama, tangan Mourin bergerak. Elana kaget, dia pun melihat ke arah Mourin yang mulai membuka matanya pelan.


"Ma, mama sudah sadar?" tanya Elana dengan senang.


Dia menghapus air matanya dan tersenyum pada Mourin. Mourin menatap Elana dan bu Marni secara bergantian.


"Bu, siapa yang bawa saya pulang?" tanya Mourin pada ibu Marni.


"Pegawai laki-laki bu Mourin, kalau saya yang bawa tidak kuat bu. Heheh.." ucap ibu Marni sambil tertawa.


"Maaf ya bu Marni, saya selalu merepotkan bu Marni dan pegawai lainnya." kata Mourin.


"Ngga apa-apa bu, yang penting ibu bisa istirahat di rumah. Sekarang bu Mourin jaga kesehatan aja ya, ngga usah ikut ke pabrik lagi." kata bu Marni.


Mourin pun mengangguk pelan, lalu tersenyum.


"Terima kasih, maaf kalau saya sering merepotkan ibu Marni terus."


"Sudah, jangan di pikirkan. Kalau begitu saya pulang dulu ya bu Mourin neng Elana." kata bu Marni.


"Iya bu, terima kasih ya."


Dan bu Marni pun pergi dari kamar Mourin, Elana pun memeluk ibunya yang masih terbaring lemah. Matanya masih basah karena isak tangisnya belum reda.


"Mama ngga usah ke pabrik lagi, mama juga jangan khawatirkan kita ngga punya uang. Kemarin aku dapat kiriman uang dari papa, lumayan untuk kebutuhan kita sehari-hari." ucap Elana.


"Itu uang kamu El, mama ngga berhak memakai uang kamu dari papa kamu. Uhuk uhuk!"


"Ngga apa-apa ma, kalau untuk makan dan berobat mama ada kok. Pokoknya mama harus rutin minum obat, kita periksa mama lagi dan meminta obatnya. Nanti setelah dapat obat, selanjutnya membeli obatnya aja ya?" kata Elana.


"Ya, terserah kamu saja. Mama akan lakukan apa yang kamu katakan, tapi mama minta kamu jangan patah semangat dalam belajar. Kan nanti mau dapat beasiswa dari sekolah." ucap Mourin.


"Engg..El ngga berharap dapat beasiswa ma, yang penting bagi El mama cepat sembuh ya." ucap Elana.


Mourin tersenyum dan mengangguk, setidaknya dia berbuat jangan mengkhawatirkan anaknya saja dulu. Lalu Elana pun pergi ke kamarnya untuk mengganti baju terlebih dahulu lalu menyiapkan makanan untuk mamanya.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊❤❤❤❤❤


__ADS_2