
Malam hari, ketika semua sudah sampai di rumah, semua nampak kelelahan. Barang-barang sudah mereka bereskan lagi ke dalam rumah. Kini tinggal mereka istirahat di kamarnya masing-masing. Tidak ada kumpul bersama lagi, mereka benar-benar lelah dan ingin istirahat.
Antonio dan Chiko juga sudah berada di kamarnya, dia langsung tidur setelah dia menemui Elana dan mengucapkan selamat malam padanya. Sedangkan Antonio di kamar Chiko membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Chila.
"*Apa kamu sudah tidur, Chila?"
"Belum, kamu sendiri bagaimana? Chiko masih mencurigaimu?"
"Emm, dia sudah tidur sepertinya. Apa aku bisa bertemu denganmu?"
"Aku takut, Antonio."
"Sebentar saja, aku ingin mengucapkan selamat malam dan tidur sama kekasihku. Bisa kamu buka pintunya*?"
"*Aku lihat dulu di luar, apakah sudah pada tidur atau belum."
"Cepatlah sayang, aku kangen denganmu."
"Gombal! Hahah!"
"Haish, aku serius Chila*."
Percakapan di ponsel melalui pesan terhenti, Antonio melihat Chiko memang sudah tidur. Suara dengkurannya terdengar sampai Antonio menggelengkan kepalanya saja. Dia lalu menuju pintu kamar dengan hati-hati, lalu dengan pelan dia menarik handle pintu dan membukanya perlahan. Dia melihat Chiko lagi, memastikan sahabatnya itu memang sudah tidur.
Lalu Antonio pun keluar kamar Chiko, melihat ke arah kamar Chila yang pintunya masih tertutup. Dia melangkah pelan menuju kamar Chila, menoleh ke kanan kiri lebih dulu lalu dia mengetuk pintu kamar Chila.
Tok tok tok
"Chila, bisa buka pintunya?" bisik Antonio.
Tak lama, pintu kamar Chila pun terbuka pelan. Terlihat Chila berdiri dan melihat sisi kanan kiri kalau tidak ada yang bangun. Lalu dia menarik tangan Antonio untuk masuk ke dalam kamarnya, dan langsung menutupnya lagi.
__ADS_1
Antonio lega sekali dia bisa masuk ke dalam kamar Chila, dia lalu memeluk Chila. Rasa rindunya yang melanda hatinya sejak pulang tadi kini terobati. Dia memeluk Chila erat, lalu melepasnya dan mencium bibir Chila dengan cepat. Chila kaget, namun dia pun membalas ciuman Antonio.
Mereka berciuman dengan rasa yang menggebu, rasa yang tidak ingin keduanya lepas satu sama lain. Menyalurkan rindu masing-masing di hatinya, padahal hanya tidak saling bicara selama perjalanan pulang karena Chiko mencurigai mereka. Dan sampai di rumah pum keduanya seolah tidak ada apa-apa pada mereka. Setelah di rasa cukup, Antonio pun melepas ciumannya lalu menatap wajah Chila yang polos tanpa make up. Dia tersenyum senang.
"Kamu tetap cantik meski tanpa make up Chila." kata Antonio membela pipi Chila lembut.
Chila tersenyum, dia lalu mencium tangan Antonio yang masih mengelus pipinya. Rasanya dia enggan untuk berpisah dengan Antonio.
"Aku merasa takut kehilangan kamu, Antonio." kata Chila lirih.
Antonio kembali memeluk Chila, dia juga merasakan hal yang sama. Tidak ingin cintanya terpisah, tapi itu tidak mungkin. Dia harus kembali ke Rusia.
"Aku juga Chila, tapi aku harus kembali ke Rusia." kata Antonio semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu akan tetap mencintaiku setelah di sana?" tanya Chila.
Dia takut Antonio akan melupakannya setelah dia kembali ke negaranya. Rasa gelisah dan takutnya semakin terasa ketika lusa Antonio akan kembali berangkat dengan Chiko ke Rusia.
"Antonio, apa yang kamu bicarakan?" tanya Chila tidak percaya dengan ucapan Antonio.
"Aku ingin segera menikah denganmu, lalu membawamu pergi ke Rusia dan hidup di sana denganku. Apa kamu mau itu?" tanya Antonio dengan serius. Menatap manik mata Chila yang terkejut dengan ucapannya.
"Antonio, kamu berpikir seperti itu? Bagaimana dengan kuliahku? Satu tahun lagi aku juga selesai menyelesaikan kuliahku di kedoteran, setelah itu aku ingin mengambil spesialis dokter anak." kata Chila menyampaikan keinginannya.
Antonio terdiam, dia menatap Chila. Dan kini dia juga bingung. Antara cinta dan cita-cita dirinya dan juga Chila terjadi pertentangan. Chila mengajak Antonio duduk di kursi belajarnya. Dia menghela nafas panjang, sesungguhnya rasa cinta memang ingin selalu bersama. Tapi keadaan yang membuat mereka harus berpisah.
Ada rasa sedih dan hati rapuh pada Chila ketika harus menghadapi kenyataan kalau cinta mereka banyak sekali rintangan. Dan akhirnya dia harus mengalah dengan keadaan, dia harus mengalah dan menerima apa yang akan terjadi nanti dengan cintanya.
"Antonio, pergilah kamu lusa dengan Iko. Aku tidak masalah jika harus menunggumu. Mungkin memang ini sangat berat, tapi jika memang kita akan di persatukan oleh Tuhan, maka cinta kita akan tetap ada untukmu dan juga untukku." kata Chila dengan bijak.
Antonio pun berjongkok di hadapan Chila yang tadi duduk di depannya, dia mengambil tangan Chila dan menciumnya dengan lembut dan lama. Rasanya dia juga merasakan kepedihan harus berpisah dengan cintanya itu.
__ADS_1
"Chila, aku sangat mencintaimu. Sungguh, aku tidak ingin berpisah denganmu. Jika memang aku harus pergi, tunggulah aku kembali. Aku janji akan segera menemuimu dan langsung melamarmu." kata Antonio dengan sungguh-sumgguh.
Chila tersenyum, dia hanya mengangguk saja. Inilah resikonya jika harus mencintai laki-laki asing. Harus berpisah lebih dulu, dan belum lagi menghadapi rintangan lainnya. Tapi Chila terima itu, dia juga merasa senang merasakan cinta datang di hatinya. Dia benar-benar bahagia, dia pikir tidak akan merasakan cinta pada laki-laki. Tapi, dia mendapatkan itu dengan cepat. Sangat aneh memang, tapi dia menerima itu.
"Antonio, kembalilah ke kamar Chiko. Ini sudah malam, aku takut Chiko curiga kamu tidak ada di kamarnya." kata Chila.
Dia takut akan ada keributan jika Chiko bangun dan memergokinya dengan Antonio. Antonio pun menunduk, dia bangkit dari jongkoknya dan kembali duduk di kursinya tadi.
"Iya, aku akan kembali ke kamar Chiko. Selamat malam Chila." kata Antonio menatap Chila dalam, namun belum bangkit dari duduknya. Masih menatap Chila dengan cintanya.
Chila pun demikian, ada rasa berat. Namun Antonio harus kembali ke kamar Chiko. Dia pun bangkit dan mengantar Antonio sampai di depan pintu dan tersenyum padanya.
"Selamat malam Antonio." kata Chila.
Antonio pun menarik kepala Chila, mencium keningnya lalu bibirnya sekilas dan tersenyum padanya.
"Mimpi indah ya, cantik." kata Antonio.
"Kamu juga." kata Chila dengan senyum manisnya.
Setelah berkata seperti itu, Antonio pun keluar. Dia melihat sisi kanan kiri memastikan tidak ada orang yang bangun dari tidurnya. Lalu dia melangkah pergi menuju kamar Chiko, membuka pintu dengan pelan lalu masuk dan menutup pintu pelan juga.
Dia melihat Chiko memang masih tidur dengan pulas. Lega dia tidak ketahuan adik dari kekasihnya itu. Di rebahkan tubuhnya di samping Chiko lalu di pejamkan matanya, bibirnya menyungging, membayangkan Chila yang tadi begitu cantik ketika mau tidur.
"Chila, I love you." gumam Antonio sebelum matanya benar-benar terpejam karena rasa kantuk sudah mulai menyerangnya.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤