E L A N A

E L A N A
112. Chila Berkenalan Dengan Antonio


__ADS_3

Dua hari di rumah Chiko di kota, berkenalan juga dengan Elana. Kini Chiko membawa Antonio ke rumah keluarganya. Antonio sangat senang bisa berkenalan dengan keluarga Chiko. Dia juga bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit, untuk persiapan jika nanti keluarga Chiko tidak bisa berbahasa Rusia.


"Hem, di Indomesia sangat panas ya." kata Antonio.


"Ya, tapi sangat menyenangkan. Panas juga tidak membuat kulitmu melepuh, di sini hanya jika panas hanya sampai tiga puluh enam derajat saja. Atau tiga puluh delapan jika cuaca sangat terik, itu pun sangat jarang terjadi di sini." kata Chiko.


"Ooh, begitu ya. Aku dengar banyak turis dari negara lain betah tinggal di sini, kenapa ya?"


"Kamu akan tahu jika lama di sini. Orang-orangnya ramah dan juga mereka bilang makanannya banyak yang enak-enak, dan lagi cuacanya."


"Orang-orangnya?"


"Ya, semua orangnya ramah di sini."


"Ya benar, kemarin aku makan denganmu di restoran banyak yang menyapa padaku. Padahal aku tidak mengenalnya dan dia juga, bahkan mereka menyapaku dengan senyuman. Sangat aneh menurutku."


"Itulah, kenapa orang luar negeri banyak yang suka tinggal di sini. Dan mungkin kamu juga siapa tahu akan dapat gadis dari sini." kata Chiko.


"Hemm, mungkin saja. Kita tidak tahu cinta datang pada siapa kan?"


"Tentu, begitu juga denganku. Banya sekali rangkaian kisah di hidup kekasihku yang berhubungan denganku." kata Chiko.


Mobil Chiko sampai di depan rumahnya, dia masuk gerbang dan langsung berhenti di halaman rumahnya.


"Ayo turun, ini rumahku." kata Chiko.


"Oke."


Chiko turun, di susul oleh Antonio, dia melihat sekeliling depan rumah. Chiko mengajak Antonio untuk masuk ke dalam rumah, mengajaknya ke ruang tamu.


"Tunggu di sini ya, aku panggil mamaku." kata Chiko.


"Oke, tidak masalah."


Chiko memanggil Anita yang berada di dapur. Dia seperti biasa memeluk Anita dari belakang, membuat Anita selalu paham siapa sekarang yang melakukannya. Karena Arga masih berada di kantor.


"Pulang bang?" tanya Anita.


"Iya ma, ada teman Iko di depan." kata Chiko mencomot bakwan goreng di piring yang di goreng Anita.


"Teman siapa?"


"Dari Rusia, yang kemarin Celine bilang dia mau bawa temannya. Ternyata itu teman aku ma, dia sahabat aku di sana." kata Chiko.

__ADS_1


"Ooh, ya udah temani aja dulu. Nanti mama kesana, tapi mama ngga bisa bahasa Rusia bang."


"Kan ada pengalih bahasa, anakmu ini ma. Celine juga bisa kok bantu mama, cuma sebentar dan basa basi aja." kata Chiko.


"Iya, nanti mama kesana."


"Ya udah, Iko ke depan dulu ya." kata Chiko.


"Hemm."


Sementara itu Antonio duduk dengan santai. Dia berperawakan tinggi, tinggi badannya sekitar seratus tujuh puluh delapan senti meter. Dan dia bermata biru, sangat tampan jika di sandingkan dengan sesama orang Rusia sendiri. Hanya saja, sifat play boy masih terlihat di wajahnya. Tapi di balik itu, dia juga menyimpan sebuah cinta untuk gadis yang bisa membuatnya terpesona dan jatuh cinta padanya.


Chila berjalan mendekat, dia heran ada tamu di ruang tamu. Tamu yang berperawakan berbeda dari kebanyakan orang di sini. Lebih dekat lagi, dia pun berdiri dekat dengan Antonio. Ragu Chila bertanya, hingga Antonio menyadari ada seorang gadis di dekatnya sedang menatapnya keheranan.


Antonio berdiri dan juga menatap Chila, sejenak dia pun tertegun. Terpesona atau dia memang terkejut karena ada perempuan yang sedang menatapnya.


"Ee hai, apa kabar?" sapa Antonio pada Chila ragu.


"Hai juga, oh sorry. kamu siapa?" tanya Chila dengan bahasa Inggrisnya.


Dia tahu Antonio bukan orang Indonesia, makanha dia menyapa dengan bahasa Inggrisnya yang lumayam dia bisa.


"Saya, Antonio, teman Chiko." jawab Antonio dengan senyumannya.


"Kak Chila, kakak di sini?" sapa Chiko.


"Oh, ya. Aku penasaran ada orang di ruangan ini. Jadi kakak dekati, ternyata dia temanmu dari Rusia?" tanya Chila.


"Iya kak, kakak mau kenalan?" tanya Chiko.


"Hemm, boleh. Lumayan menambah teman, heheh. Celine juga pastinya kenal kan?" kata Chila.


"Ya, dia kenal juga. Ayo duduk dulu kak, aku kenalkan kakak sama Antonio." kata Chiko.


"Antonio, kamu sudah tahu dia siapa?" tanya Chiko ketika dia duduk bersebelahan dengan Chila.


"Ya, apakah dia kakak kembarmu?" tanya Antonio melirik lagi ke arah Chila.


"Iya, dia kakak kembarku. Kamu tadi menyebutkan nama padanya, berarti kamu sudah berkenalan dengan kakakku."


"Hemm, aku yang menyebut namaku saja. Kakakmu belum menyebutkan namanya, siapa namanya?"


"Chila, dia kakakku yang paling lembut." jawab Chiko.

__ADS_1


Chila tersenyum pada Antonio yang sedang menatap padanya. Antonio jadi grogi mendapat senyuman dari Chila, tiba-tiba hatinya bergetar. Dia pun menunduk untuk menetralkan hatinya.


Antonio dan Chiko serta Chila mengobrol asyik di depan, hingga Celine pun datang dan bergabung dengan mereka. Dan kini tiba saatnya Anita juga bergabung dengan ke empat orang yang sedang mengobrol asyik itu.


Tampak Chila lebih banyak diam dari pada ikut bicara, karena dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleg Chiko, Celine dan Antonio. Sesekali Antonio melirik Chila yang lebih banyak diam.


"Bang, temanmu itu mau menginap di mana?" tanya Anita.


"Malam ini boleh kan ma menginap di rumah?" tanya Chiko.


"Boleh aja, tapi papa juga belum tahu kan. Kamu tanya papa aja nanti kalau papa pulang. Bukan apa-apa, di rumah ini banyak gadis, tuh kakakmu juga adikmu dan dua adik baru menginjak remaja juga." kata Anita.


"Iya ma, Iko paham. Tapi ini udah mau malam, kalau pulang ke rumah Iko nanti kemalaman di jalan." kata Chiko.


"Ya, nanti juga papa mengerti kok."


Lalu Anita pun pergi meninggalkan mereka, dia akan menyiapkan makan malam bersama.setelah Arga pulang dari kantor.


_


Makan malam berlangsung, acara perkenalan Antonio dengan keluarga Chiko sangat menyenangkan. Adik Chiko banyak juga jika semua berkumpul.


"Jadi Antonio itu teman Chiko di Rusia?" tanya Arga pada Antonio.


"Iya om, kami berteman sejak masuk kampus. Ya bisa di bilang sahabat karena sudah lama bersama." jawab Antonio.


Chila melihat Antonio menjawab pertanyaan Arga dengan sopan. Biasanya ada orang luar negeri kalau bicara seperti menganggap orang tua itu seperti orang kebanyakan yang dia kenal dan di jumpai, tapi Antonio tidak begitu.


Dia tahu siapa dirinya dan juga memandang kedua orang tua Chiko seperti memandang orang tuan, sopan dan juga menghormati.


"Hemm, baik juga dia ya sayang, sopan dan juga menghormati kita sebagai orang tua." kata Arga pada istrinya.


"Iya, jarang lho ya ada anak muda orang asing begitu sopan seperti dia." kata Anita menimpali.


Anita melihat Antonio sesekali melirik ke arah Chila, dia mengerutkan dahinya. Apa Antonio menyukai anak sulungnya?


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2