
Mourin yang telah berhasil mencari sponsor untuk beasiswa anaknya pada pak Drajat, tinggal di acc dari bagian keuangan di perusahaan pak Drajat.
Kini tinggal menunggu panggilan untuk melengkapi data Elana saja, Mourin mempersiapkan tabungan Elana dan juga isi tabungannya yang dia dapat dari menjual proposal pada perusahaan pak Drajat juga. Mourin selalu di tawari bekerja di perusahaan itu, tapi dia menolak.
Meski bisa saja dia menerimanya demi anaknya, tapi dia tahu kesehatannya semakin memburuk. Penyakit yang menggerogotinya sejak masih berada di lapas terus menyerangnya. Hanya saja dia selalu menyembunyikannya pada Elana.
Bahkan pada Sandra yang pernah dia kunjungi waktu itu. Tapi Sandra sepertinya tidak menerimanya dengan baik, dia selalu sibuk dengan pelanggan di butiknya.
Entahlah, mungkin semua berbalik. Dulu Sandra yang masih setia menemaninya di kala terpuruk, tapi setelah Mourin keluar ternyata ada perubahan pada Sandra terhadapnya.
Dia tahu Sandra tidak seperti dulu, entah sejak kapan. Tapi sepertinya sejak tiga tahun kelahiran anak perempuannya. Dia yakin Elana pindah ke rumah sekarang juga karena Sandra berubah pada anaknya itu.
Dan lagi-lagi Mourin mersa menyesal dan sedih, setiap perbuatananya tertimpa pada anaknya sekarang. Makanya dia ingin menebusnya dengan mencarikan sponsor untuk biaya kuliahnya sampai tamat, setidaknya dua tahun kuliah Elana terpenuhi.
Sedangkan uang yang dia punya untuk bekal Elana nanti.
Uhuk uhuk uhuk.
Malam ini batuk Mourin entah kenapa tidak bisa berhenti. Dia masuk ke dalam kamar mandi, agar anaknya Elana tidak mendengarnya batuk yang begitu parah sampai mengeluarkan darah. Nafas Mourin sampai sesak dengan batuk yang tidak juga berhenti.
"Ma, mama kenapa?" tanya Elana pada Mourin yang berada di kamar mandi.
Mourin tidak menjawab karena masih terbatuk-batuk.
Brak brak brak
Elana menggedor pintu kamar mandi, dia panik karena suara batuk Mourin terus saja tanpa henti.
"Mama! Buka pintunya ma, mama kenapa?!" teriak Elana dengan cemas.
Dan tak lama batuk Mourin terhenti, dia lalu mencuci mulutnya. Menyiram darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Tangannya dia tempelkan ke tembok untuk berpegangan karena tubuhnya lemas.
"Ya Tuhan, ku mohon beri aku waktu lagi." gumam Mourin, dia menangis sedih.
__ADS_1
Apakah harus secepat itu meninggalkan anaknya? Mourin menangis terisak, dia tidak mempedulikan gedoran di pintu Elana memanggilnya dengan panik.
Setelah di rasa kuat, Mourin mengelap mengusap matanya dan hidungnya. Mencuci wajahnya agar Elana tidak cemas melihatnya. Di perhatikan lagi sekitar lantai kamar mandi agar tidak ada sisa darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Baru setelah semua bersih, Mourin membuka pintu kamar mandi. Dia melihat Elana sangat khawatir padanya dan terlihat terisak sedih.
"Mama, kenapa mama lama sekali di kamar mandi? Apa yang mama rasakan sekarang? El takut mama kenapa-kenapa, hik hik hik." ucap Elana sambil menuntun Mourin keluar dari kamar mandi.
Dia menuntun Mourin untuk duduk di kursi meja makan dan segera mengambil air minum dan menyodorkannya pada Mourin. Elana begitu cekatan memperhatikan ibunya itu.
"El, mama tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir." ucap Mourin terbata karena nafasnya sesak.
"Mama ini bagaimana, sejak tadi mama batuk tidak berhenti-berhenti. Apa mama tidak minum obat?" tanya Elana sekali lagi cemas.
"Iya, mama lupa minum obat. Tadi mama langsung tidur." jawab Mourin berbohong.
"Tuh kan, ya sudah. Nanti El ambilkan obat mama di kamar." kata Elana.
Dia bergegas menuju kamar ibunya mengambil obat yang biasa Mourin minum. Elana memperhatikan ternyata obatnya tinggal sedikit, besok pulang dari loundry mampir ke apotik membeli obat untuk mamanya, pikir Elana.
"Besok El akan beli lagi obatnya ma ke apotik. Kalau untuk besok ini masih cukup kan?" tanya Elana.
"Iya, itu cukup dua kali minum." jawab Mourin setelah meminum obatnya.
Memang dia tadi lupa minum obat, sampai ketiduran karena sangat lelah.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan Mourin pun masuk ke dalam kamarnya di antar Elana untuk berbaring di ranjangnya. Elana menyelimuti Mourin sampai batas ulu hatinya dan mencium pipi Mourin. Mourin sangat tersentuh dengan perlakuan Elana padanya, dan lagi-lagi air matanya mengalir.
"Terima kasih El, mama sangat bangga sama anak mama Elana. Dan maafkan mama yang selama ini ngga bisa jaga El, hik hik hik." kata Mourin tersedu.
Dia mengusap air matanya yang semakin deras karena sedih selalu menyelimuti hatinya. Elana hanya tersenyum, dia kembali mencium Mourin di keningnya lalu memeluknya.
"Mama harus bertahan, apa pun yang terjadi El akan selalu menemani mama. El akan selalu jaga mama, mama yang kuat ya demi aku ma." kata Elana.
__ADS_1
Dadanya sebenarnya sesak, namun dia tahan agar tidak ikut menangis. Karena Mourin sendiri tengah sedih, dan Elana tahu ibunya sedang menahan rasa sakit di dadanya karena penyakitnya.
Lama Elana memeluk Mourin, hingga Mourin mendorong lengan untuk tegak wajahnya.
"Mama akan coba bertahan demi kamu, tapi mama minta maaf jika mama belum bisa membahagiakan kamu El. Maafkan mama sekali lagi." ucap Mourin menatap Elana sendu.
Elana berusaha tersenyum, dia usap air matanya yang memaksa keluar sejak tadi. Isak tangis secara bergantian antara anak dan ibu itu membuat terharu seisi ruangan itu. Jika para jin dan malaikat punya perasaan dan berada di situ secara nyata, maka mereka juga akan menangis karena terharu pada dua orang yang saling sayang tapi pada kenyataannya akan lain suatu saat nanti.
"Tidurlah sana, ini sudah malam. Nanti kamu terlambat bangun." kata Mourin.
"Iya ma, El akan tidur nanti. Tapi setelah mama tidur, El akan duduk di samping mama di sini, mama tidur dulu aja." kata Elana.
Mourin pun mengangguk, dia tidak bisa memaksa anaknya untuk tidur di kamarnya. Dia maklum, karena kejadian tadi di kamar mandi membuat Elana khawatir.
Akhirnya Mourin memejamkan matanya, dia berusaha tidur lebih dulu agar Elana juga tidur di kamarnya. Dia kasihan jika Elana harus tidur sambil duduk.
Setengah jam Mourin akhirnya tertidur pulas, mungkin efek obat juga. Elana memperhatikan wajah Mourin yang terlihat pucat, dia memegang tangannya. Masih hangat, lalu memegang wajah Mourin dengan sedih.
"Ma, jangan tinggalkan El. Hik hik hik." gumam Elana menahan isaknya.
Kembali air matanya menetes, cepat-cepat Elana menghapusnya. Rasanya dia rapuh jika memang Tuhan mengambil mamanya secepatnya, dan apakah dia akan bersemangat menjalani hidupnya tanpa Mourin?
Elana keluar dengan langkah pelan agar Mourin tidak terbangun dengan langkahnya. Dia menangis lagi di dalam kamarnya, meneruskan isakan tertahan di kamar mamanya. Hatinya benar-benar rapuh, serapuh-rapuhnya. Siapa yang akan jadi sandarannya jika memang besok entah lusa entah minggu depan Mourin akan di panggil Tuhan.
Rasa gelisah Elana semakin besar sejak dia sering mendengar Mourin terbatuk-batuk di kamar mandi. Dia yakin batuknya Mourin bukan batuk biasa, batuk yang berpenyakit. Entah sejak kapan mamanya itu mengalami batuk seperti itu. Yang jelas dia pertama kali mendengar batuk Mourin sejak pulang dari lapas, tapi semakin kesini semakin sering dia dengar.
Malam semakin larut, Elana masih belum memejamkan matanya hingga jam setengah dua dini hari. Baru setelah mulutnya menguap berkali-kali dia pun terlelap bersama rasa sedih yang kini kian menjalar ke jantungnya.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤