E L A N A

E L A N A
107. Anak Banyak


__ADS_3

Chiko pun pamit untuk pulang ke rumahnya, dia akan menginap di rumahnya sendiri. Kelak rumah itu akan dia gunakan untuknya dan Elana jika sudah menikah nanti. Dia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya, rasa lelah padahal dia tidak banyak melakukan apa pun.


Mungkin karena kemarin malam dia lembur mengerjakan laporan, dan paginya langsung pergi menemui Elana yang dalam perjalanan membutuhkan waktu tiga jam lebih.


Dia mandi lebih dulu, baru setelahnya tidur siang. Sedangkan Elana di butiknya sangat bahagia, cincin di jari manisnya dia pandangi terus lalu di ciumnya penuh dengan cinta.


"Bang Iko ternyata orangnya romantis juga, aku ngga kepikiran akan di kasih cincin ini. Yang penting papanya bang Iko menerimaku dengan baik, meski pun begitu aku merasa takut." kata Elana lagi.


Matanya menerawang ke depan, mengingat Arga papa Chiko yang begitu marah padanya. Dan sekarang malah mengundangnya untuk makan malam.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar membuyarkan lamunan Elana. Dia menyembunyikan jari manisnya yang terdapat cincin dari kekasihnya.


"Kakak El, tante masuk ya." teriak Sandra dari luar.


Ternyata Sandra berkunjung ke butik Elana. Elana bangkit dan membuka pintunya.


"Tente datang kemari?" tanya Elana.


"Iya kak, tante ingin tahu perkembangan butik kakak El." kata Sandra dengan senyumannya.


"Ya, tante lihat sendiri, masuk yuk tante."


"Iya kak. Oh ya, apakah pacar kakak sering kemari?" tanya Sandra.


"Ngga sering sekarang sih tante, tapi tadi kesinj. Kenapa tante?" Sandra duduk di ikuti Elana.


"Apakah pacar kakak itu sangat baik?" tanya Sandra lagi.


"Baik banget tante." jawab Elana.


Dia memainkan cincin pemberian Chiko, Sandra memperhatikan cincin yang di pakai Elana. Senyumnya mengembang, dia merasa lega. Ternyata ada perkembangan dari hubungannya dengan anak Anita itu.


"Kakak sangat mencintai laki-laki itu?"


"Iya."


"Bagaimana keluarganya, apakah sudah ada kabar baik untuk kakak?"


"Sudah tante, tadi siang bang Iko kemari dan memberitahu kalau papanya menerimaku. Katanya besok juga aku di undang makan malam ke rumahnya." jawab Elana dengan wajah malu-malu.


"Ooh, syukurlah. Tante senang mendengarnya, dan juga sepertinya dia memberi cincin juga ya sama kakak?" tanya Sandra dengan sindiran halus.


"Iya tante." jawab Elana malu.

__ADS_1


"Kak, tante ikut senang kakak senang. Seminggu yang lalu tante datang ke rumah pacarmu dan bicara sama ibunya. Memang ibunya itu baik sekali, tante kadang merasa malu dengan kebaikannya itu." kata Sandra berkisah.


"Tante kesana mau apa?" tanya Elana.


"Tante mau berterima kasih sama Anita, ibunya pacar kakak. Tantr belum cerita ya, kalau sewaktu kakak di operasi di Singapura sebagian biayanya dari Anita, ibunya pacar kakak. Maaf tante baru mengatakan ini. Makanya tante malu, namun begitu tante juga memohon padanya untuk menerima kakak di tengah keluarganya dengan baik. Dan apa yang dia bilang?"


"Apa tante ?"


"Bersabar, karena Anita sudah menerima kakak. Namun suaminya yang belum menerima waktu itu."


"Tante tunggu, benarkah biaya operasi El waktu kecil itu dari tante Anita?" tanya Elana memotong ucapan Sandra.


"Iya kak."


"Kenapa bisa tante Anita membiayai El operasi?" kini Elana yang terisak, hatinya terharu pada kebaikan keluarga pacarnya.


Rasanya memang malu sekali jika Elana menuntut untuk di terima di keluarga Chiko.


"Tante tidak tahu waktu itu, kata suaminya Anita merasa kasihan. Anak sekecil kakak harus menanggung rasa sakit yang berat, di tambah lagi mama kak El waktu itu di penjara. Namun demikian, tante meski merasa malu tapi tetap datang dan mengucapkan terima kasih padanya karena telah memberikan uang untuk pengobatan dan operasi kakak." kata Sandra.


Elana semakin terisak, dia benar-benar malu sekali. Entah terbuat dari apa ibunya Chiko itu, kebaikan yang tidak bisa di ukur dengan apa pun.


"Nanti El akan bilang terima kasih sama tante Anita, tante. Berkat pertolongannya itu, El bisa hidup sampai sekarang." kata Elana kini mereda isak tangisnya.


Sandra memeluk Elana, dia juga membenarkan apa yang di katakan Elana. Elana harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Anita.


_


Siang hari Chiko sudah berada di kontrakan Elana, dia ingin menjemput kekasihnya itu untuk pergi ke rumahnya dengan undangan makan malam. Meskipun jauh, Chiko tidak keberatan untuk menjemput Elana.


Elana berdandan lebih rapi, rambutnya yang sebahu dia rapikan lalu make up natural membuat dirinya terlihat cantik alami. Dan kini dia telah siap. Elana memberikan kunci butik pada Rani untuk menutup sore harinya nanti.


Kemudian kini Elana telah siap pergi ke rumah calon mertuanya dengan kekasih hatinya yang sedang menunggunya itu. Elana keluar dari kamarnya lalu menghampiri Chiko yang menatapnya tanpa berkedip.


Chiko menatap Elana dari ujung kaki sampai kepala, penampilan Elana berbeda kali ini. Bukan hanya celana jeans panjang dan kaos, kadang kemeja. Namun sekarang lebih feminim, memakai dres selutut berwarna hijau muda di padu dengan renda putih di bagian dadanya. Sangat cantik Chiko melihat Elana memakai baju seperti itu.


"Ayo bang, aku sudah siap." kata Elana dengan senyum manisnya.


"Oh, iya. Kamu cantik banget Elana." ucap Chiko.


Dia bangkit dari duduknya, matanya masih menatap Elana dengan takjub. Rasanya tidak mau berpaling menatap Elana.


"Bang, sudah yuk lihatnya. Kapan kita berangkatnya?"


"Aku benar-benar terpesona sama penampilan kamu Elana, sangat cantik."

__ADS_1


"Sungguh?"


"Sungguh. Kekasihku ini cantik banget, mama sama papa juga pasti kaget dengan penampilanmu sekarang. Apa jangan-jangan bidadari sedang menaburkan kecantikannya pada pacarku ini ya? Kok cantiknya semakin bertambah?"


"Hahah, kebiasaan bang Iko menggombal. Ayo jalan bang, keburu sore. Nanti ngga sampai-sampai kalau abang gombal terus." ucap Elana lagi.


Cup!


Chiko mencium pipi Elana yang memerah karena sejak tadi di gomabli terus oleh Chiko.


"Aku ngga gombal sayang, kamu benar-benar cantik." ucap Chiko lagi.


Dia lalu menjalankan mesin mobilnya, sedangkan Elana terpaku dengan ciuman mendadak Chiko di pipinya. Lalu senyumnya mengembang, dia pun menatap Chiko.


"Terima kasih bang, abang selalu meyakinkan aku tentang kebahagiaan yang akan kita raih sebentar lagi. Aku ..., benar-benar bahagia. Bahagia dengan bang Iko yang selalu mencintaiku dengan sabar. Terima kasih bang Iko mencariku, bang." ucap Elana lirih..


Dia ingin menangis haru, namun takut make upnya nanti jadi tidak karuan. Akhirnya dia hanya mengelap sudut matanya saja, sedangkan Chiko menoleh ke arah Elana dan dia mengangkat wajah Elana yang tertunduk. Cup.


"Abang sangat mencintaimu Elana, meski sampai ujung dunia sekalipun. Abang akan cari kamu, akan abang nikahi dan nanti punya anak banyak seperti papa dan mama. Rasanya sangat membahagiakan mempunyai keluarga banyak, aku bahkan membayangkan punya anak sebelas seperti pemain sepak bola." kata Chiko.


Yang tadinya merasa terharu, kini Elana jadi merasa lucu dengan ucapan Chiko itu. Dia tertawa kecil, membayangkan punya anak banyak dengan Chiko betapa repotnya.


"Abang ngga kasihan sama aku?"


"Kenapa?"


"Anak banyak itu merepotkan."


"Ngga kok, mama juga bisa mengurus ketujuh anaknya dengan baik." kata Chiko.


"Tapi yakin abang mau punya anak banyak?"


"Iya, kamu ngga mau punya anak banyak dariku? Kalau ngga mau, biar nanti aku cari ibu lain untuk melahirkan anak-anakku." kata Chiko dengan bercanda.


"Ih, abaaaang. Aku mau kok punya anak banyak dari bang Iko." ucap Elana dengan rajukannya.


Chiko tertawa senang, dia mengelus kepala Elana yang sedang cemberut. Sikap yang langka bagi Chiko, Elana merajuk dengan manja karena candaannya.


"Berapa pun anak yang kamu lahirkan, aku terima sayang. Yang penting kita tetap saling mencintai. Cup."


Elana pun tersenyum, matanya menatap Chiko lalu ke depan menatap jalanan yang lurus. Seperti masa depan mereka yang masih panjang, keduanya pun merajut asa bersama.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2