
"Aku ke kamar dulu bang." kata Elana.
Dia pun berdiri dan hendak pergi ke kamarnya. Chiko dan Celine hanya menatap kepergian Elana ke kamarnya. Chiko merasa lega, dia bisa melihat Elana lagi.
"Bang, gimana? Apa abang benar cinta sama Elana?" tanya Celine.
"Iya, abang sudah berpikir dan meminta petunjuk juga. Dan akhirnya abang harus menolong Elana, dia gadis malang. Dan bukan hanya sekedar menolong dek, abang benar-benar mencintai dia." ucap Chiko lirih.
"Terus, kapan abang ngomong sama Elana kalau abang mencintainya?" tanya Celine.
"Abang cepat pulang, agar abang bisa bicara sama Elana. Mengungkapkan perasaan abang sama dia." kata Chiko lagi.
Di sela pembicaraannya kedua kakak beradik itu, Elana keluar dari kamarnya dengan membawa kopernya. Chiko dan Celine heran, kenapa Elana membawa kopernya.
"Kamu mau kemana?" tanya Celine.
Elana berhenti di depan kedua kakak beradik itu, dia meletakkan kopernya. Sedangkan Chiko berdiri, dia cemas Elana akan pergi dari rumahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Chiko mengulang pertanyaan Celine.
"Aku mau mengucapkan terima kasih sama bang Iko dan Celine telah mengizinkan aku tinggal di sini. Dan saat ini aku mau pergi dari rumah ini, terima kasih selama ini dan maaf atas sikapku selama ini sama bang Iko dan Celine. Maaf sekali lagi atas mama bang Iko." kata Elana dengan menunduk.
"Kamu mau pergi kemana Elana?" tanya Chiko mulai panik, dia tidak rela Elana pergi dari rumahnya.
"Aku mau ke panti asuhan bang, aku akan tinggal di sana." jawab Elana.
"Kenapa kamu mau tinggal di sana? Bukankah di sini kamu lebih nyaman. Maaf jika sikap abang yang membuat kamu semakin rendah diri, maafkan abang Elana." kata Chiko, dia meraih tangan Elana dan menggenggamnya erat.
"Ngga bang, aku banyak merepotkan kalian. Aku tidak mau merepotkan bang Iko sama Celine lagi." ucap Elana berusaha melepas genggaman tangan Chiko.
__ADS_1
"El, lihat aku. Kamu mendengar semua ucapanku tadi kan?" tanya Chiko masih memegang tangan Elana.
"Ucapan yang mana bang?" tanya Elana pura-pura lupa.
Chiko masih menggenggam tangan Elana, dan menatap mata Elana.
"Bahwa aku mencintaimu, Elana. Aku mencintaimu." kata Chiko tegas di depan wajah Elana.
Agar Elana tahu kalau dia memang mencintainya.
Celine menatap keduanya seperti melihat adegan film romantis di depannya. Dia juga tidak menyangka abangnya begitu lembut menatap bahkan memperlakukan Elana. Meski pun tahu mamanya Elana yang pernah menculiknya, tapi rupanya Chiko benar-benar terlihat mencintai Elana dari sorot matanya.
Namun terlihat Elana merasa minder, dia bahkan tidak mau menatap Chiko. Tekadnya memang sudah bulat untuk pergi dari rumah Celine dan Chiko. Dia akan tinggal di panti asuhan.
Lalu Elana hanya diam saja, meski dia tahu Chiko mencintainya tapi dia berpikir resikonya sangat panjang jika dia juga menerima cinta Chiko.
"Bang, maaf. Aku ngga bisa." ucap Elana.
"Maaf bang, aku ngga bisa. Aku harus tinggal di panti asuhan, karena rasanya tidak ada yang bisa aku percaya dengan semuanya. Hanya di sana aku pantas tinggal."
"Elana, apa kamu tidak percaya padaku? Kamu meragukan cintaku padamu?" tanya Chiko merasa kecewa.
"Maaf bang, aku gadis malang yang perlu pertolongan dari orang yang mau menolongku. Aku tahu diri siapa diriku, anak dari seorang narapidana yang bermimpi punya teman yang tulus menerimaku apa adanya. Aku hanya merasa malu di cintai abang, karena aku tahu siapa diriku bang. Abang harus mengerti dengan perasaanku. Rasanya terlalu tinggi bagiku, aku sudah di maafkan atas kesalahan mamaku saja sudah bersyukur sekali. Dan aku ngga berharap abang menerimaku lagi, apa lagi aku di cintai sama bang Iko. Aku terlalu rendah bang." ucap Elana dengan isakannya.
Chiko memeluk Elana, memberinya ketenangan dan kepercayaan. Bahwa dia benar-benar mencintainya.
"Abang ngga pernah berpikir kamu itu rendah Elana, yang abang pikir kamu yang abang cinta. Jangan menyangka abang hanya menolongmu saja, tapi hatiku Elana. Hatiku memilihmu untuk abang cintai, dan perlu kamu tahu abang cinta sama kamu sudah lama Elana." kata Chiko memeluk erat tubuh Elana.
Elana diam, dia ingin percaya dengan ucapan Chiko. Namun pertimbangannya banyak sekali, jika dia berpacaran dengan Chiko. Bagaimana dengan keluarganya? Apakah bisa menerimanya?
__ADS_1
Chiko melepas pelukannya, dia melihat Elana menunduk.
"Dengar Elana, Celine yang jadi saksi dan dia tahu kalau aku sangat mencintai kamu. Aku tidak peduli masa lalumu dan juga siapa ibumu. Aku benar-benar mencintaimu Elana, dan aku kira kamu juga kan?" tanya Chiko masih menatap Elana dengan lembut dan penuh cinta.
"Aku ngga tahu bang." jawab Elana lirih dan bimbang.
Chiko mendengus kasar, dia melepaskan tangannya di bahu Elana. Lalu dia pergi dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Entah apa yang di lakukan Chiko, tapi dia sedang menata hatinya yang ternyata Elana menolaknya. Dia kembali kecewa pada Elana, namun tidak mau Elana berpikir bahwa Chiko
Elana menunduk kembali, dia lalu mengambil kopernya dan berlalu. Tapi sebelumnya dia pamit sama Celine.
"Aku pergi dulu Celine." kata Elana.
"Hemm, bang Iko aja ngga bisa mencegahmu. Apa lagi aku, lakukanlah apa yang menurutmu menyenangkan Elana. Jika kamu tinggal di panti asuhan itu bisa membuatmu tenang dan menyenangkan, lakukanlah. Maaf sebelumnya dan juga maafkan bang Iko." kata Celine.
Elana pun mengangguk, dia memeluk Celien sebentar dan melangkah keluar rumah. Sesungguhnya, dia merasa bimbang. Namun dia harus pergi ke panti itu, dia sudah berjanji akan tinggal di sana dan memulai harinya dengan anak-anak panti juga suster Maria dan suster Valen.
Dia berjalan cepat untuk segera naik bis, meski kini hatinya kembali berkecamuk. Dia benar-benar bingung, namun tidak di pungkiri kalau hatinya juga mencintai Chiko.
Apakah dia egois? Mengabaikan cinta Chiko untuknya, yang sudah rela dan ikhlas menerima dirinya apa adanya dan melupakan siapa mamanya.
"Maafkan aku bang Iko." ucap Elana lirih ketika di dalam mobil trem.
Elana menatap jalanan yang begitu padat oleh kendaraan lain, dia benar-benar hampa hatinya. Namun di cobanya untuk tetap dengan pendiriannya, menjauh dari Chiko dan Celine. Melupakan apa yang di katakan Chiko padanya dan menepis segala perasaannya.
Jalanan menuju panti terasa lama saat ini bagi Elana, entah karena Elana sedang gundah atau memang perjalanan ini lama. Yang jelas dia merasa trem terasa lambat untuk sampai di halte yang dia tuju.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤