E L A N A

E L A N A
27. Pawang Arga


__ADS_3

"Hahaha!"


"Ada apa kalian tertawa?" tanya Chiko ketika dia baru datang dari mengantar adiknya.


Dia duduk di sebelah Arga, sedangkan Karin duduk di sebelah Celine dan membuka burger yang tadi dia beli.


"Bang, Cheril ngga di beliin?" tanya Cheril.


"Tadi kenapa ngga pesan sama abang?" tanya Arga oada Cheril.


Cheril cemberut, dia melirik pada Karin yang sedang menyantap burgernya dengan lahap.


"Ya udah nanti pulangnya beli lagi deh." ucap Anita agar anaknya itu tidak uring-uringan terus.


"Bener ya ma, nanti beli lagi." ucap Cheril.


"Iya, nanti sekalian belu buat bang Angga juga bang Kevin." jawab Anita.


"Pa, tumben ngga di makan jengkolnya" tanya Chiko pada Arga.


Arga hanya mengedikkan bahunya saja, dia masih kesal sama istrinya yang tidak mendengarkan panggilannya tadi. Anita menoleh pada suaminya, dia merasa tidak enak telah mengabaikan panggilan suaminya.


"Buat abang aja tuh, sayang kalau ngga di makan." kata Celine mengusulkan.


"Ngga ah, malas sama baunya." ucap Chiko.


Celine mengambil ponselnya, berniat untuk panggilan video call dengan kakak sulungnya.


Tuuuut


Tersambung, dan langsung terpampang wajah Chila yang sedang memakai masker wajah.


"Ada apa dek? Tumben malam jam segini video call." tanya Chila.


Celine tersenyum, dia lalu memutar ponselnya mengabsen satu persatu anggota keluarganya. Yang di perlihatkan mulai melambaikan tangannya, hanya Arga masih terlihat datar di hadapan ponsel Celine. Masih belum move on dengan rasa kesalnya. Mungkin Anita belum menenangkannya, sebuah pelukan atau ciuman atua sebuah janji yang membuat Arga bahagia. Belum terucap dari bibir Anita.


"Hai kak Chila." sapa Anita.


"Iiih, curang. Kenapa kalian kumpul semua sih? Ngga ajak-ajak." kata Chila protes pada ibunya.


Celine menghadap kamera lalu tersenyum puas telah meledek kakaknya itu.


"Kita baru datang kak, lalu makan malam bareng. Makanya kak Chila cepat pulang." kata Celine dengan senyuman meledek.


"Ya kan kakak lagi sibuk ini, paling bisa pulang bulan depan. Kamu masih di rumah kan?"


" Masih, berangkatnya nanti menunggu kak Chila pulang. Aku pengen cerita banyak sama kakak, aku kangen sama kak Chila." kata Celine.


"Oh ya? Ya, kakak juga kangen sama kamu. Eh, tadi kakak lihat papa sedang kesal. Kenapa?"


"Biasalah itu papa urusannya sama mama, ngga akan sembuh kesalnya papa kalau mama ngga bertindak, hahah!"

__ADS_1


"Hahah, benar juga. Dua sejoli itu ya, lucu banget."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Anita pada Celine.


"Ngga kok ma, lucu-lucan aja sama kak Chila." jawab Celine.


Anita mendengus kasar, dia melirik suaminya yang masih mode kesal padanya. Dia ingin menenangkan suaminya, tapi belum niat sekarang. Jadi kini sepasang suami istri itu seperti sedang bermusuhan.


Kini ponsel Celine beralih pada Cheril dan Karin secara bergantian. Lalu Chiko dan kedua orang tuanya. Baru setengah jam video call, Celine menutup sambungan video call dengan Chila.


"Ayo kita pulang, sudah malam. Kasihan Angga sana Kevin di rumah." kata Anita.


Arga pun beranjak tanpa menanggapi ucapan Anita, Chiko segera menjauh. Celine mengajak Karin dan Cheril segera keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil.


Tinggal Anita dan Arga yang masih di dalam restoran untuk membayar bill mereka. Anita menggandeng tangan suaminya, namun Arga diam saja tidak membalasnya.


"Ga, maafkan aku. Udah dong kesalnya, tuh anak-anak sampai hafal kalau kamu marah harus di tenangkan sama pawangnya." ujar Anita bercanda.


"Yang jadi pawangnya ngga peka." ujar Arga masih bersikap dingin pada istrinya.


Anita menarik lengan suaminya agar berhenti, kebetulan suasana sepi dan agak gelap. Anita menatap suaminya yang masih dingin, kadang suka aneh sama Arga. Hal sekecil itu masih saja jadi masalah.


"Ga, ngga baik marah lama-lama. Lihat coba tadi anak-anakmu sampai hafal dengan kelakuanmu yang ngambek begitu." kata Anita lagi mencoba menenangkan suaminya.


"Biarkan saja, agar mereka tahu kalau kedua orang tuanya itu saling menyayangi. Tapi aku masih kesalnya dengan tadi, kamu mengabaikaaa ...."


Cup


Dan benar saja, senyum Arga pun mengembang. Lalu dia mengecup balik bibir istrinya dengan lembut, beralih ke pipinya.


"Sejak tadi kek begini. Biar aku ngga kesal terus." ucap Arga menggandeng tangan Anita.


"Ngaco aja, ya ngga enak sama anak-anak. Lagi pula itu di tempat umum, bisa-bisa di soraki ngga tahu tempat. Udah tua kok masih begitu terus." ucap Anita.


"Emang kenapa? Kita yang mesra kok mereka yang sirik."


"Udah, ayo pulang. Kasihan Angga sama Kevin kalau kita lama ngga cepat pulang. Tadi Kevin kirim pesan sama aku, dia minta di bawakan martabak bandung. Kita nanti mampir di pedagang martabak bandung, Ga." kata Anita.


"Siap sayang, apa sih yang ngga buat kamu."


Keduanya pun berjalan sambil bergandengan tangan, ke empat anak mereka jadi heran. Secepat itu Anita dan Arga akur kembali. Mereka masuk ke dalam mobil, Arga bersiap menjalankan mobilnya. Celine menyeletuk.


"Di kasih apa ma, papa bisa luluh begitu" tanya Celine pada Anita.


"Biasalah, papa kamu marah karena ada maunya juga." jawab Anita.


"Hemm, pasti di kasih ciuman sama mama itu." celetuk Chiko.


"Memang kenapa? Mama kamu pandai meluluhkan hati papa." ujar Arga.


"Ya, kan pawang papa itu mama. Papa pasti luluh kalau mama sudah bertindak." ledek Chiko.

__ADS_1


"Udah dong, jangan meledek terus." lerai Anita.


Meski anak-anaknya yang meledek, tapi dia risih juga. Sampai semua hafal kalau Arga ngambek pasti Anita melakukan sesuatu untuk suaminya. Dan harus begitu, kalau tidak akan ada kemarahan lanjutan pada anak-anaknya.


_


Chiko sudah berada di kamarnya, dia mengingat tadi di bandara berpapasan dengan gadis berambut lurus dengan seorang laki-laki seusia Arga hendak menuju terminal keberangkatan. Dia tidak sengaja menyenggol lengan gadis itu sampai gadis itu pun hanya meringis saja dan menatap Chiko sekilas.


Justru Chiko malah tertegun, kenapa gadis itu seperti enggan mengomel padanya. Padahal jika gadis lain bisa saja mengomel padanya. Tapi yang membuat Chiko terkesan, gadis itu seperti menanggung beban berat. Terlihat di sorot matanya, banyak sekali beban, dan juga kesedihan.


"Siapa gadis itu ya?" gumam Chiko.


Dia menatap langit-langit kamarnya yang lama sekali tidak dia huni karena pergi kuliah.


Chiko mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi sahabat SMAnya dulu.


"Halo, Markus lo ada di rumah besok?"


"Hah, lo tanya gue ada di rumah. Emang lo pulang dari Rusia?"


"Iya ,nih gue udah pulang dari sore. Besok gue pengen hang out sama lo. Ajak Deri sama Joni ya." kata Chiko.


"Oke siip, tapi papa lo ngga bawel lagi kan?"


"Ya nggalah, kan gue udah dewasa. Kemarin gue masih anak SMA, jadi harus jaga diri."


"Emm, protek banget ya papa sambung lho itu."


"Ya, demi kebaikan gue juga sih. Tapi besok ke kafe aja ya, gue malas kalau ke klub."


"*Ya, ngga asyik lho. Ya udah deh, sampai jump*a besok."


"Daah."


Klik


Sambungan telepon terputus, Chiko mengbalikan ponselnya ke tempatnya semula.


_



\_



\_



😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2