
Setelah berbicara dari hati ke hati, Elana meminta izin pada suster Maria untuk pergi ke suatu tempat. Ya, dia akan pergi di mana pernah dia berjalan-jalan berdua dengan Chiko. Dari sana dia akan memantapkan hatinya kemana.
Sebelum dia memutuskan pasti akan mengikuti jejak suster Maria dan suater Valen. Jika sudah kuat tekadnya untuk mengikuti jejak suster Maria dan suster Valen serta suster Rossi, maka tidak akan bisa kembali lagi seperti kehidupan seperti biasa dan yang lainnya.
Dia akan menjadi abdi gereja untuk menjaga dan melindungi anak-anak panti asuhan selamanya.
Begitulah kata suster Maria. Dan dia belum bisa seperti mereka, hanya perempuan-perempuan hebat dan sudah terlatih yang bisa melakukan itu. Jika hanya sekedar membantu, Elana bisa melakukannya. Tapi untuk jadi seperti mereka, dia masih berpikir lagi. Dan pikirannya itu terpengaruh pada Chiko.
Kebimbangannya dan kegundahannya saat ini masih tentang Chiko, ada cinta di hatinya. Dia menyadari itu, ketika akhir-akhir ini dia sering merasa rindu padanya.
Naik trem menuju benteng Kremlin, ya Elana akan pergi ke sana dan akan gereja katedral untuk berdoa dan meminta petunjuk. Sekaligus juga menjernihkan pikiran dengan berjalan-jalan di benteng Kremlin.
Suasana yang menyenangkan di sana membuat dia ingin kembali melihat lagi. Meski ramai, tapi hati tetap merasakan kedamaian di sana.
Tak lama, mobil pun berhenti. Elana turun dan dia menuju tempat wisata terkenal itu. Meski bukan hari libur, tapi tetap saja tempat itu ramai oleh pengunjung yang penasaran dengan tempat indah tersebut.
Elana terus berjalan di tengah keramaian orang-orang yang sama menyaksikan keindahan atau keajaiban dunia, benteng Kremlin terlihat megah di lihat dari lapangan merah. Beberapa bangunan gereja katedral yang megah membuat takjub para pengunjung.
Elana sendiri meskipun sudah beberapa kali datang ke sana, dia tetap senang. Karena di sana dia bisa menikmati keindahan serta sebuah sejarah yang pernah terjadi di tempat itu.
Dia berjalan-jalan terus menelusuri beberapa bangunan megah dan indah, ada beberapa orang juga masuk ke dalam gereja katedral Santo Basil. Elana ragu untuk masuk, dia berdiri di depan gejera itu. Menatap daria atas hingga ke bawah semuanya nampak menakjubkan.
Lama Elana berdiri di sana, lalu dia akhirnya masuk. Di setiap dinding banyak sekali terdapat lukisan mural dan relief dari beberapa gambar. Elana terus masuk lebih dalam, banyak yang berdoa di sana. Elana memperhatikan beberapa orang yang khusyuk berdoa dan ada juga hanya melihat-lihat saja.
Dia pun akhirnya duduk di bangku, duduk dengan khusyuk seperti mereka. Dan berdoa, dia merenung sejenak memikirkan apa yang telah terjadi padanya. Beberapa kilasan peristiwa yang dia alami itu melintas seperti bayangan slide berganti-ganti.
Dari dia kecil, hingga kini dia berada di sana. Bertemu beberapa orang yang menyayanginya. Seperti Chiko, dia tergambar jelas di benak Elana. Senyum dan perlakuannya melintas pelan di angan-angan Elana.
Tiba-tiba perasaan rindu menyerang hati Elana, dia menangis ketika ingat Chiko mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Bahwa Chiko mencintainya dengan tulus, melupakan peristiwa lalu yang di lakukan ibunya dulu. Memaafkan Mourin ibunua, bahwa Chiko sangat mencintai bukan karena dia butuh pertolongan.
"Bang Iko, aku mencintaimu. Hik hik hik." gumam Elana di sela isakan tangisannya.
Kini ingatannya beralih pada Celine, gadis periang itu sangat menyayanginya juga. Memperlakukannya layaknya sahabat juga sebagai saudara.
__ADS_1
Pantaskah Elana memutuskan sebuah persahabatan yang di warnai persaudaraan? Dia juga sangat senang berteman dengan Celine, yang menyayangi dan mematuhi kakaknya Chiko. Lalu apakah Elana harus mengabaikan semuanya?
Tidakkah untuk mencoba menerima mereka berdua sebagai teman, sahabat bahkan sebagai kekasih dari seorang Chiko Prasetya?
Lama Elana berpikir tentang Chiko, memikirkan bagaimana ke depannya. Namun hati kecilnya memutuskan akan kembali menemui Chiko, mengatakan kalau dia juga sangat mencintainya.
Senyum Elana pun mengembang, dia menghapus air matanya dan memberikan simbol keimanan dalam dadanya. Lalu dia bangkit dan memberi hormat dan berjalan keluar dari tempat ibadah tersebut.
Dia kembali berjalan terus menuju benteng yang bersejarah itu. Melihat beberapa bangunan megah kembali, melihat beberapa kubah yang unik dengan bentuk dan warna yang menarik. Dia berjalan dengan santai menikmati udara dan suasana ramai namun hening di hatinya.
Hening karena rasa damai, karena dia sudah mendapatkan keputusan yang sangat ingin dia raih. Elana terus menelusuri tempat indah itu, dia berjalan dengan tenang sambil matanya tetap menatap bangunan megah tersebut.
Hingga langkah Elana terhenti, antara bangunan St. Basil dan benteng di sebelahnya. Dia menatap ke depan, rasa yang selama ini menggelayuti pikirannya kini kembali hadir. Antara isak tangis dan haru serta senyum di bibirnya, menatap sesosok laki-laki berdiri yang juga menatap lembut padanya.
Keduanya pun saling mendekat pelan, ada keraguan dalam langkah laki-laki itu. Namun dia terus berjalan, dengan perasaan rindu yang menggebu dia terus berjalan mendekat. Elana pun demikian, air matanya tumpah dan isakkannya pun terdengar.
Dia berhenti, tatapannya masih tertuju pada laki-laki di hadapannya yang juga berhenti. Kilatan cinta terpancar jelas dari keduanya. Belum ada yang berani mendekat, padahal jarak mereka hanya satu meter saja.
"Elana?" ucap Chiko lirih.
Dia mendekat pada Elana, senyum Elana mengembang. Elana pun mendekat, dan kembali keduanya berhenti di jarak hanya sepuluh senti saja. Tangan Chiko bergerak gelisah, namun fia tahan untuk memegang tangan Elana.
"Abang sedang apa di sini?" tanya Elana basa basi.
Karena dia tidak tahu harus bertanya apa.
"Kamu sendiri sedang apa?" tanya Chiko, menatap dan menelisik wajah Elana yang juga sama penuh kerinduan padanya.
"Aku, ..."
"Apa?"
Elana diam dan menunduk, kembali isak tangisnya pecah. Dan tanpa di duga, Elana melompat dan memeluk Chiko erat dengan menangis haru.
__ADS_1
"Hik hik hik, maafkan aku bang. Aku ...." ucap Elana dalam pelukan Chiko.
Chiko tersenyum, dia sangat bahagia bertemu Elana di tempat itu. Dia mengeratkan pelukannya pada Elana, melepaskan rasa rindunya pada gadis yang di cintainya. Rasa rindu yang beberapa hari ini mengusiknya.
"Elana, aku senang bertemu denganmu lagi." kata Chiko dengan senyum mengembang.
"Aku juga bang."
Elana lalu melepas pelukannya dan menunduk malu. Chiko menatap lembut pada Elana dan menarik dagunya agar dia bisa melihat wajah Elana yang selama ini hanya ada di angan-angannya saja.
Keduanya saling menatap, tatapan penuh cinta yang di salurkan dari masing-masing hati.
Wajah Chiko maju ke depan, menatap bibir mungil milik Elana. Lalu kedua bibir itu pun menyatu, dan memberikan rasa damai dan cinta. Mencurahkan rasa cinta yang lama terpendam di hati keduanya.
Bibir keduanya pun saling berpaut, mengenyam dan menautkan satu sama lain. Setelah di rasa cukup, Chiko melepas tautan bibirnya dan menatap lembut ke wajah Elana. Tangannya membelai bibir mungil Elana lalu dia kembali mengecup bibir itu lagi.
Senyum bahagia dia rasakan, pun Elana. Dia memeluk kembali Chiko, mencari kenyamanan dalam pelukan laki-laki tinggi dan tampan itu.
"Aku mencintaimu, Elana." gumam Chiko.
"Aku juga mencintaimu juga bang." ucap Elana membalas ungkapan hati Chiko padanya.
Kini keduanya bernafas lega, dua hati yang saling mencinta. Terhalang oleh keraguan dan ketakutan besar pada Elana telah sirna. Bersatu di tengah riuh rendahnya orang-orang lalu lalang di benteng Kremlin yang bersejarah.
Sama halnya sejarah cinta keduanya di ukir di benteng Kremlin, dan akan ada kekuatan cinta lain yang menyambut kedua insan yang sedang jatuh cinta.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1