
Chiko menghampiri Antonio yang duduk di sofa ruang depan. Dia masih kesal oada sahabatnya itu karena telah di bela oleh kakaknya dan juga mamanya. Apa lagi nanti Celine adiknya juga membelanya. Kini Chiko memikirkan bagaimana agar Antonio tidak mudah mendapatkan restu darinya, dia akan mengajukan syarat pada Antonio.
"Chiko, aku minta maaf sama kamu telah menutupi masalah ini. Tapi sungguh aku benar-benar mencintai kakakmu Chila, dan kami juga saling mencintai." kata Antonio berusaha bersabar menjelaskan pada Chiko.
"Aku tahu, kamu semua sudah mendapatkan restu dari mama dan papa juga adikku. Tapi aku tidak akan semudah itu." kata Chiko.
Chila, Anita, Celine dan Arga datang untuk bersiap mengantar Chiko dan Antonio berangkat ke Rusia lagi. Mereka melihat Chiko masih begitu kesal pada Antonio, namun mereka ingin mendengar apa yang di katakan Chiko.
"Apa lagi yang kamu inginkan dariku untuk membuktikan keseriusanku pada kakakmu?" tanya Antonio pada Chiko dengan bahasa Inggrisnya.
"Aku mengajukan syarat sama kamu." kata Chiko.
"Syarat apa?"
"Syqratnya, setelah di sana, kamu tidak boleh menghubungi kakakku. Baru nanti selesai kuliah dan wisuda kamu bisa menghubungi kakakku." kata Chiko.
"Dek, apa-apaan itu syaratnya?" protes Chila pada adiknya.
"Kak Chila cukup bersabar dengan syaratku, katanya kakak juga mau bersabar dan kuat kan menjalaninya dengan berjauhan begini. Aku ingin tahu sejauh mana dia mencintai kak Chila jika harus seperti itu." kata Chiko.
"Kamu mengada-ada bang." kata Anita.
"Biarin ma, kalau mama ingin punya menantu baik, seharusnya dia menerima syarat yang aku ajukan." kata Chiko melirik ke arah Antonio.
"Ck, oke. Aku terima, aku bisa menahannya tidak menghubungi pacarku dan tetap mencintainya." kata Antonio yang merasa syarat Chiko padanya itu konyol.
Tapi dia berpikir akan meminta bantuan pada Celine nantinya, untuk bisa menghubungi Chila. chiko rupanya masih kesal padanya, tapi lebih baik seperti itu dari pada harus di tentang terus oleh sahabatnya. Sahabat berubah jadi musuh, bukan karena memperebutkan seorang gadis, tapi seorang kakak.
"Sudah bang, cepat berangkat. Jangan kebanyakan syarat lagi, nanti terlambat lho ketinggalan pesawat." kata Anita memgingatkan anaknya.
"Syarat kedua, kak Chila tidak boleh ikut mengantar kita." kata Chiko tanpa mengindahkan ucapan Anita.
"Apa-apaan kamu dek?" protes Chila.
__ADS_1
Dia merasa Chiko terlalu konyol dengan syaratnya, kesap sekali Chila pada adiknya itu. Celine hanya tersenyum saja dengan sikap Chiko yang posesif pada kakaknya itu. Dia mengira Chiko hanya tidak mau jika nanti Antonio yang akan lebih besar mendapatkan perhatian kakaknya dari pada dirinya, padahal dia sudah punya Elana. Dasar Brother kompleks.
"Udah deh, kak Chila nurut aja. Kalau mau dapat restuku, kalau tidak akan aku buat Antonio babak belur nanti di sana." ucap Chiko asal.
"Dek!"
"Bang, kamu itu kenapa sih? Posesif banget sama kakakmu?" tanya Anita yang juga kesal dengan sikap anaknya itu.
"Sudahlah, tidak apa. Aku tidak di antar Chila juga aku ngga apa-apa. Aku terima, jangan berdebat mempermasalahkan aku, maaf kalau kalian sampai bertengkar gara-gara aku." kata Antonio.
"Tapi dia keterlaluan, Antonio." kata Chila.
"Tidak mengapa. Mungkin sisi anak-anaknya sedang menguasai pikirannya." kata Antonio pada Chila.
Semua diam, dan menahan senyum karena ucapan Antonio itu. Tapi memang benar, dan akhirnya semua mengalah. Begitu pun Chila, meski dia masih kesal pada adiknya itu.
Kini semua bersiap, Chila merasa sedih harus berpisah dengan Antonio, begitu juga sebaliknya. Antonio belum beranjak keluar, dia masih menunggu ingin mengucapkan salam perpisahan dengan Chila.
Arga, Anita dan Celine mengerti jika mereka berdua membutuhkan waktu untuk bicara tanpa ada yang menungguinya, tapi Chiko menunggu Antonio keluar dengannya.
"Nunggu dia keluar denganku."
"Beri ķami waktu bicara dek, apa memberi salam perpisahan juga kamu tidak boleh?" tanya Chila, menatap tajam pada adiknya.
Akhirnya Chiko pun keluar, dia memberi waktu pada Antonio dan Chila untuk mengucapkan salam perpisahan. Karena nantinya akan berpisah lama sekali. Jadi keduanya harus bicara. Antonio memeluk Chila erat, dia berat sekali harus berpisah dengan kekasihnya itu. Jika bukan karena pendidikannya, sudah pasti akan dia undur waktu keberangkatannya nanti.
"Maafkan aku Chila jika nantinya aku tidak bisa menghubungimu kareja adikmu yang konyol itu." kata Antonio.
"Ya, aku tahu. Maafkan dia ya, aku tahu dia seperti itu karena tidak mau kakaknya ini di sakiti olehmu." kata Chila.
"Tidak, aku tidak akan menyakiti orang yang aku cintai. Aku akan cari cara untuk bisa bicara denganmu nanti di sana. Kan ada Celine yang bisa membantu kita untuk tetap berkomunikasi kan?"
"Ah, ya. Sejak pertama Celine selalu mendukungku. Ya, dia bisa membantu kita nanti." kata Chila.
__ADS_1
Lalu Antonio melepas pelukannya, dia menatap Chila dengan lembut. Di usapnya pipi Chila yang mulus itu, lalu dia melihat ke arah pintu rumah. Dan dia pun mencium bibir Chila, mengulumnya dan bibir keduanya saling berpagutan.
Beberapa menit saja mereka berciuman untuk mencurahkan rasa sedih karena akan berpisah. Lalu Chila melepas ciumannya dan kembali memeluk Antonio dengan erat. Dia menangis terisak, Antonio pun mengusap punggung Chila untuk menenangkannya.
"Jangan menangis, aku akan selalu memikirkanmu dan selalu mencintaimu. Percayalah padaku, cantik. Aku sungguh mencintaimu dan akan terus memperjuangkanmu." kata Antonio.
Membuat Chila berhenti menangis dan melepas pelukannya. Dia pun tersenyum lalu mengangguk pasti. Antonio menghapus air mata Chila yang sempat jatuh, lalu mengecup kembali bibir Chila dan keningnya.
"Aku pergi dulu ya, jaga dirimu daj hatimu untukku." kata Antonio.
"Ya, kamu juga. Jaga dirimu dan hatimu untukku." ucap Chila.
Lalu keduanya pun keluar saling berpauta tangan. Tidak ada beban di hati mereka sekarang, karena restu dari keluarga Chila sudah di dapat. Tinggal nanti Antonio akan membicarakannya dengan keluarganya. Dia berjanji akan secepatnya melamar Chila, karena kemarin sewaktu berkunjung ke rumah saudaranya di kota. Antonio di tawari bekerja di Indonesia sebagai konsultan hukum setelah lulus kuliah nanti.
Awalnya dia belum menerima tawaran itu, namun sekarang dia akan menerimanya agar bisa lebih dekat dengan Chila nantinya dan akan menetap di Indonesia lalu menikah dengan Chila, begitu rencana besar Antonio ke depannya.
"Sudah salam perpisahannya?" tanya Celine pada kakaknya.
"Ya sudah dek, emm. Nanti bantu kakak ya." kata Chila.
"Tentu, aku tidak mau kakakku yang cantik ini terus bersedih karena sikap brother kompleks bang Iko, hahaha. Lucu sekali bang Iko itu." jata Celine.
"Ya, kakak juga ngga mengerti dengan sikap abangmu itu." kata Chila.
Kini Antonio, Chiko dan Celine sudah masuk ke dalam mobil Arga. Angga yang rencananya mau mengantar kakaknya ke bandara tidak bisa karena ada urusan mendadak katanya ketika di hubungi.
Anita dan Chila melambaikan tangannya ketika mobil Arga sudah malaju, hingga mobil sudah keluar dari pagar rumah Dan kini tinggal Chila yang sedih karena di tinggal kekasihnya, Antonio.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤❤