E L A N A

E L A N A
68. Menemui Evan


__ADS_3

Celine segera menemui Chiko di kelasnya, dia terpaksa berlari kecil untuk mempercepat langkah agar segera bertemu dengan abangnya itu karena kelas Chiko memang jauh jaraknya dari gedung di mana kelasnya berada. Namun sayang, setelah sampai di depan kelas Chiko, Celine kecewa karena kelas Chiko di tutup dan mulai aktif perkuliahan.


"Huh! Padahal aku lari dengan cepat agar bisa ketemu bang Iko, eh sudah masuk ternyata. Huft, sudahlah, nanti lagi kalau pulang kuliah.


Celine kembali lagi ke kelasnya, dia berjalan pelan karena tadi dia berlari cepat untuk sampai di kelas Chiko. Dia kelelahan dan melangkah gontai, tak peduli kelasnya juga sudah masuk. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Amanda tadi.


"Mungkinkah Elana pulang ke Indonesia?" gumam Celine.


Sementara itu, di kelas Chiko. Dia tidak bisa konsentrasi menerima materi kuliah, kadang dia mendesah kadang dia juga mengetuk pensilnya. Hingga Antonio heran dengan apa yang di lakukan sahabatnya.


"Hei, ada apa?" bisik Antonio.


"Aku memikirkan Elana." jawab Chiko sembari membuang nafas berat.


"Dia kenapa? Apa dia memutuskan hubungannya denganmu?" tanya Antonio lagi.


"Tidak, sudah setengah bulan ini aku tidak bisa menemuinya dan menghubunginya. Ponselnya mati." jawab Chiko.


"Kamu sudah ke rumahnya?"


"Sudah, tapi ngga ada orang. Aku bingung mau cari dia kemana." kata Chiko lirih.


"Apa dia pulang ke negaramu?"


Deg


Chiko diam, dia menatap sahabatnya itu. Dia tidak terkejut, kenapa tidak terpikir olehnya?


"Kenapa aku ngga kepikiran ke arah sana ya?" ucap Chiko.


"Cobalah tanya papanya, siapa tahu dugaanku benar."


"Iya, nanti sepulang kuliah aku ke rumahnya lagi."


Perkuliahan berjalan lambat yang di rasakan Chiko, dia ingin segera keluar dari kelas dan menemui adiknya. Rasanya tidak sabar ingin menemui Evan, papanya Elana.


_


Celine menunggu Chiko di parkiran, dia menunggu dengan tidak sabar. Kenapa kakaknya itu lama sekali keluarnya.


"Bang Iko kemana sih? Kok lama banget." gerutu Celine.


Setiap menit dia melirik ke pergelangan, melihat tangannya. Melihat jam di tangan dengan gelisah. Kalau dia harus menyusul Chiko ke kelasnya, akan sangat lama dan melelahkan. Karena fakultas hukum letaknya paling ujung.


Tak berapa lama, Chiko pun datang, dia memghampiri Celine yang sedang menunggu di motor.


"Bang, lama banget keluarnya?" tanya Celine mengambil helm dan di serahkan pada Chiko.


"Dek, ayo kita ke rumah Elana lagi. Tanya ke papanya lagi, barangkali papanya menyuruh Elana pulang ke Indonesia." kata Chiko.


"Tepat bang, Amanda bilang Elana sudah keluar dari kampus ini. Dan abang tahu, dia pindah kuliahnya di Indonesia." kata Celine berapi-api menerangkan pada Chiko.


"Apa? Dia sudah pulang ke Indonesia?!"


"Iya, temannya di kelas mengatakan itu. Dari bagian kemahasiswaan dia tanya, katanya Elana pindah setengah bulan lalu." ucap Celine lagi.


Putus sudah harapan Chiko, ternyata benar Elana pulang ke Indonesia. Tapi kemana dia pulang?

__ADS_1


"Apa abang harus pulang juga dek?" tanya Chiko lirih.


"Kita tanya sama papanya, barangkali papanya tahu alamat rumah Elana di mana." ucap Celine.


Chiko diam, dia yang tadi bersemangat ingin bertemu Evan kini jadi lemah. Namun Celine memberinya semangat lagi.


"Bang, kalau usaha harus tuntas. Jangan menyerah, ayo aku antar menemui papanya Elana." kata Celine lagi.


"Tapi kalau memang iya Elana pulang, abang bingung mencarinya sekarang. Minggu depan abang harus magang di perusahaan firma hukum di Moscow. Jadi abang belum bisa pulang cepat." ucap Chiko.


"Kita cari tahu alamat rumahnya dulu di saja bang, baru nanti kalau abang selesai magang, abang bisa pulang ke Indonesia. Bang, aku yakin Elana juga merindukan abang. Mungkin papanya marah sehingga ponsel Elana tidak bisa di hubungi." kata Celine memberikan semangat lagi pada abangnya itu.


Dia kasihan sekali pada Chiko, setiap malam pasti ke kamar Elana. Duduk di ranjangnya meski di tengah malam. Baru jam tiga pagi bisa tidur, itu pun jam enam pagi harus bangun lagi.


Ternyata cinta Chiko benar-benar besar pada Elana, bukan hanya rasa kasihan. Tapi cinta yang dalam sampai tidur dan makan tidak karuan.


"Ya sudah, ayo kita ke rumah papanya Elana lagi."


Mereka lalu naik motor, melajukan motor dengan kencang agar bisa sampai di rumah papanya Elana. Setengah jam motor Chiko sampai, dia hentikan di depan rumah besar tak berpagar itu.


Chiko dan Celine turun dari motor dan langsung menuju pintu rumah lalu mengetuknya.


Tok tok tok


Pintu di ketuk beberapa kali, tak lama pintu pun terbuka. Terlihat Ana yang membuka pintu, menatap Celine dan Chiko bergantian dengan heran.


"Siapa kalian, cari siapa?" tanya Ana.


"Emm, saya mencari papanya Elana." jawab Celine.


Karena dia tidak tahu nama Evan, jadi asal bertanya.


"Ya, kami temannya. Emm miss tahu di mana Elana?" tanya Celine lagi.


"Dia pulang ke negaranya. Gadis kurang ajar itu memang pantas pulang dan tidak baik tinggal di rumahku." kata Ana dengan ketus.


Chiko merasa kesal dengan ucapan Ana, dia menatap menyelidik pada Ana.


"Anda mama tiri Elana?" tanya Chiko dingin.


"Aku tidak mengakui kalau gadis itu anak tiriku." jawab Ana dengan ketus.


"Pantas, anda seorang nenek sihir yang harus di jauhi!"


"Bang, jangan begitu. Yang sopan kalau bicara." kata Celine mengingatkan.


Sedangkan Ana melotot, meski dia tidak mengerti apa yang di katakan Chiko. Dia yakin itu suatu umpatan untuknya.


"Cari saja sana ke negaramu itu, dia sudah di usir!"


Brak!


Pintu rumah di tutup keras oleh Ana, Chiko dan Celine pun kaget. Keduanya pun saling pandang lalu pergi dari rumah Ana.


"Abang ngga bisa jaga emosi sih, niatnya aku tadi mau tanya kemana papanya Elana. Kalau dia di kantor ya di mana kantornya, biar nanti kita datangi lagi ke kantor. Pokoknya harus ketemu alamat Elana." ucap Celine menyalahkan kakaknya itu.


"Maaf dek, abang khilaf. Abang kesal perempuan itu memang tidak pantas jadi ibunya Elana. Abang kasihan jadinya dek." ucap Chiko.

__ADS_1


"Ya, kita sabar aja dulu demi mendapatkan yang kita mau." kata Celine mengingatkan.


Chiko diam, memang benar. Tapi dia merasa kesal pada ibu tiri Elana itu. Mereka pun menaiki motor untuk mencari tahu lagi. Tapi entah kemana.


Baru juga menstater motornya, mobil Evan datang dan berhenti di depan halaman rumah. Chiko menghentikan mesinnya dan melihat orang yang keluar dari mobil itu.


Dan benar saja, Evan keluar dari mobil. Chiko pun dengan cepat turun dari motor dan menghampiri Evan.


"Om, di mana Elana?" tanya Chiko tidak sabar.


Evan pun menoleh, dia melihat Chiko dan Celine menatapnya juga. Dia pun mencibir dan membuang muka ke samping.


"Mau apa kalian?"


"Di mana Elana om?"


"Kalian tidak perlu tahu di mana anakku!" teriak Evan dengan marah.


"Aku tahu di mana Elana, om mulangkannya kan ke Indonesia?" tanya Chiko.


"Lalu untuk apa kamu tanya lagi?"


"Om kasih tahu alamat Elana di sana."


"Buat apa?"


"Aku pacarnya om, aku akan menikahinya tahun ini!" teriak Chiko tidak sabar.


"Bang, sabar."


"Abang hanya cari alamat rumahnya aja dek. Biarkan papanya tidak mempedulikannya tapi aku peduli sama Elana."


"Heh! Dia membangkang dan melawan orang tua itu karena pengaruh dari kalian?!"


"Om jangan sembarangan, kami peduli bukan berarti kami memyuruh Elana untuk melawan. Dia gadis baik-baik om!"


"Bahkan kamu berteriak sama orang tua, itu artinya kalian memang tidak baik untuk Elana."


Celine maju ke depan, mendorong Chiko agar tidak berhadapan langsung dengan papanya Elana. Dia pun berbicara dengan sopan, berharap Evan mau memberi alamat rumah Elana di Indonesia.


"Begini om, kami datang baik-baik dan meminta baik-baik. Om jangan menuduh kami ini tidak baik untuk Elana, kami peduli pada Elana. Jadi saya mohon om kasih tahu kami di mana alamat Elana di sana?" tanya Celine dengan sopan.


Evan diam, dia menatap tajam pada Chiko lalu membuang kasar nafasnya.


Evan pun menuliskan sebuah alamat di kertas memonya lalu memberikannya pada Celine. Celine tersenyum, dan menerima kertas memo tersebut.


"Lain kali jaga temanmu itu, dia tidak sopan dengan orang tua. Di ajarkan bagaimana sama orang tuanya sampai berani melawan." ucap Evan pada Celine.


"Iya om, kami mengerti. Dan terima kasih om memberi alamat rumahnya. Kalau begitu, kami permisi, maaf kalau kami membuat om marah. Selamat sore."


Celine berpamitan dengan sopan, lalu menarik tangan Chiko agar segera pergi dari hadapan Evan yang masih saja menatap tajam pada Chiko.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2