E L A N A

E L A N A
74. Apa Yang Akan Terjadi?


__ADS_3

Keduanya masih menikmati percintaan, yang Evan lakukan adalah sekedar melepaskan hasrat yang semakin bergairah itu. Tidak ada cinta di hati Evan, dia butuh membuang hasratnya yang di ciptakan oleh Angela dengan minuman kopinya.


Ya, Angela menambahkan obat perangsang di kopi Evan. Dia sengaja tidak keluar kamar ketika Evan sarapan pagi, dia hanya keluar sewaktu Evan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tasnya.


Percintaan mereka terjadi berulang kali, meski Angela kelelahan karena Evan sangat kuat. Namun dia suka dan terus meladeni Evan, dia benar-benar bahagia.


"Uuurgh, kak Evan. Kamu benar-benar kuat, aku sampai kewalahan." ceracau Angela.


Evan diam saja, dia terus memacu kecepatan permainan dengan Angela. Dia juga lelah, namun entah kenapa gairah itu selalu muncul ketikan dia mencapai klimaksnya.


Keduanya lelah, namun Evan masih mau mengulanginya lagi. Tanpa melakukan pemanasan, hanya ciuman panas saja dan dia melakukannya lagi. Ternyata obat itu terlalu banyak Angela masukkan ke dalam kopi Evan.


Kini keduanya hampir kelelahan, Evan terus mempercepatnya agar dia juga mencapai puncak nikmatnya yang ke sekian kali.


Dan kini tubuh keduanya menengang, mereka sepertinya mencapai puncak secara bersamaan. Dan akhirnya Evan ambruk kelelahan, nafasnya memburu. Dan kini dia pun terkulai lemas, sampai akhirnya tertidur.


Dia lupa dengan pekerjaannta pagi ini, tanpa memberi kabar di kantornya kalau hari ini dia tidak masuk kantor.


Angela yang di sampingnya pun tersenyum puas, setelah dia mengatur nafasnya lalu menatap Evan yang terkulai lemas sampai tertidur.


"Uuh, kak Evan sebentar lagi kamu akan jadi milikku. Kak Ana akan marah padamu dan aku akan setia menunggumu kak Evan sayang. Cup." kata Angela dengan senyum mengembang.


Dia pun sama tidur di samping Evan, tak lupa dia berfoto lebih dulu dengan memperlihatkan posisi dan keadaannya yang telanjang.


Tangan Evan dia tarik untuk memegang bagian dadanya itu, lalu dia pun berfoto. Meski dia sudah memasang kamera di atas ranjang Evan itu, namun dia ingin berfoto dengan posisi yang sangat dekat dengan Evan.


Dia mengambil beberapa foto, yang posisi Evan sedang memeluknya beberapa kali. wajah Evan yang menempel di bagian dadanya dan posisi lainnya.


Jika keadaan tidak sesuai keinginannya, dia akan mengeluarkan foto itu dan kamera video untuk senjatanya nanti.

__ADS_1


"Aku sangat pintar kan? Untuk mendapatkan kak Evan memang harus seperti ini, aku benar-benar mencintaimu kak Evan. Dan aku menunggumu berpisah dengan kak Ana." kata Angela yang menatapi wajah Evan itu.


_


Siang jam dua, Ana pulang akan ke rumahnya, dia berpikir kasihan sama Evan. Sudah empat hari semenjak pertengkaran kecilnya dengan suaminya itu dia belum pulang ke rumahnya.


Dua hari lalu Evan mengunjunginya di rumah pamannya dan meminta dia kembali ke rumahnya. Namun dia masih tetap bertahan, rasa kesalnya masih belum hilang saat itu.


Namun sekarang dia berpikir, ada baiknya memang dia mengalah dan kembali ke rumah pada suaminya.


"Kamu mau kembali ke rumahmu, Ana?" tanya Margareta istri pamannya Simon.


"Iya bibi Margareta, setelah di pikir kasihan juga Evan di rumah. Dia sendirian meski di rumah ada Angela yang membantunya membuat makanan untuknya." kata Ana.


"Hemm, ya. Sebaiknya kamu segera pulang, pertengkaran kecil dalam rumah tangga itu biasa, jadi kamu harus memahami dan mengerti suamimu. Dia juga baik sebenarnya, dan juga ulet dalam bekerja." kata bibi Margareta.


Dia memasukkan baju-bajunya dan baju milik Diego. Beberapa diapers dia masukkan, karena meskipun usianya sudah mau tiga tahun, Diego belum bisa buang air sendiri, harus di urus oleh Ana.


Setelah selesai, Ana pun memandikan Diego yang baru bangun tidurnya. Dia memandikan dengan air hangat, jika tidak anak laki-laki itu akan berteriak dan membuang airnya semua.


Pekerjaan sebagai ibu memang repot, meski hanya satu anak. Tapi sangat repot, apa lagi mempunyai anak yang berkebutuhan khusus seperti Diego.


_


"Kamu harus sabar ya sama suamimu, jangan terus menyalahkannya." kata bibi Margareta oada keponakannya itu.


"Iya bi, kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih bibi selalu di repotkan olehku." kata Ana.


"Kamu ini, memangnya bibimu ini selalu mengeluh dengan kedatanganmu dan suamimu?"

__ADS_1


Ana hanya tersenyum saja, memang tidak sekali ini. Tapi dia hanya berbasa basi saja, lagi pula perusahaan ayahnya pamannya Simon yang mengelola dengan suaminya.


"Angela dan kamu sudah bibi anggap anak sendiri, lagi pula Angela itu kan masih gadis. Kalau dia tinggal lama di rumahmu dia nanti bebas melakukan apa saja, bahkan kamu lebih menyayangi Angela." kata bibi Margareta.


"Iya, dia adikku paling kecil. Di tinggal mama sama papa dia masih kecil, jadi aku yang menyayanginya lebih."


"Ya, itu memang harus. Baiklah cepat sana masuk mobil, jangan lama-lama. Siapkan makan malam untuk suamimu, dan sambut dia dengan baik." pesan bibi Margareta.


"Iya bi, terima kasih ya."


"Ya."


Ana lalu masuk ke dalam mobil taksi yang dia pesan, Diego dan kopernya dia bawa masuk juga. Perasaan kangen pada suaminya kini tiba-tiba datang. Senyumnya mengembang, di peluknya Diego lalu di ciuminya pipinya yang gembul itu.


"Kita pulang ke rumah ya nak, menunggu papa pulang kerja. Pasti dia kaget kita pulang tanpa meminta di jemput lagi oleh papa." kata Ana pada anaknya.


Anak laki-laki itu hanya menatap Ana saja, lalu tangannya di ayunkan ke wajahnya. Ana tertawa kecil, dia senang Diego tidak rewel hari ini.


Entah apa yang akan di temui oleh Ana nanti ketika sampai di rumahnya. Hal yang mengejutkan dan membuatnya akan bertindak lebih fatal lagi mungkin.


Entahlah, sesuatu hal besar akan terjadi di rumah Ana. Mungkin perang dunia ketiga di kota kecil di Moscow, terutama di rumah Ana nanti.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2