
Pagi hari, Elana bersiap untuk pergi ke panti asuhan. Sesuai apa yang dia katakan pada Chiko, dia ingin pergi ke panti asuhan untuk mengambil baju dan kopernya. Sekaligus berpamitan pada suster Maria dan juga anak-anak panti asuhan, untuk kembali ke rumah Chiko lagi.
"Abang sudah siap?" tanya Elana.
"Yap, aku siap mengantarmu kemana saja." jawab Chiko dengan tegas.
Membuat Elana pun tersenyum malu, dia lalu mengambil sepatunya dan memakainya segera.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat bang. Sudah terlalu siang, takutnya kalau siang mengganggu kegiatan di panti." kata Elana.
"Ayo."
Mereka pun pamit pada Celine, lalu menaiki motor kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang. Chiko ingin bersantai dan berjalan berdua dengan Elana, sesekali dia menggenggam tangan Elana yang berpegangan pada pinggangnya.
Dia senang bisa berduaan dengan Elana, berjalan berdua naik motor meski ada tujuan tertentu.
Elana memberi petunjuk kemana arah motor Chiko melaju.
"Masih jauh ya tempatnya?" tanya Chiko ketika motornya berhenti di lampu merah.
Tangannya tidak lepas dari genggaman tangan Elana.
"Sebentar lagi bang, dua belokan lagi baru kita sampai." jawab Elana.
Satu menit berlalu, lampu merah pun berubah jadi lampu hijau. Chiko pun melajukan motornya sesuai petunjuk Elana kembali. Elana sangat senang Chiko mengendari motor dengan pelan, karena dia sendiri merasa nyaman membonceng di belakang kelasihnya itu sambil menyandarkan kepalanya di punggung Chiko.
Rasa dama dan nyaman dan terlindungi berada dekat dengan Chiko. Dia sepertinya sudah tidak butuh apa pun selain selalu berada di sisi Chiko.
"Kamu senang seperti ini?" tanya Chiko pada Elana.
"Iya bang, rasanya nyaman sekali pergi berdua dengan abang." jawab Elana.
Chiko tersenyum di balik helmnya, dia juga merasa bahagia bisa selalu berada dengan Elana.
Motor melaju dengan pelan, karena di lampu merah kedua kuda besi milik Chiko pun berhenti. Di belakang motor Chiko, mobil silver berhenti tepat di belakang. Pengendaranya juga memperhatikan Elana dari dalam mobil.
Dia terkejut, dan juga sekaligus senang karena bisa bertemu dengan Elana lagi. Dengan cepat dia turun dan menghampiri Elana sebelum lampu hijau menyala.
__ADS_1
"Elana, sayang." ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Evan.
Elana menoleh ke belakang, dia juga terkejut laki-laki yang satu bulan lalu mengusirnya dari rumahnya. Elana pun diam, dia kembali berbalik dan tidak mempedulikan papanya yang memanggilnya kembali.
"Elana, turun sebentar sayang!" teriak Evan.
Lampu hijau pun menyala, Elana menepuk bahu Chiko untuk segera melajukan motornya.
"Bang ayo jalan." kata Elana.
"Dia papamu?" tanya Chiko memperhatikan Evan dari kaca spion.
"Jangan hiraukan papaku bang, dia hanya bicara saja. Tuh lihat, semua mobil membunyikan klakson agar mobilnya segera jalan." kata Elana.
Dan terlihat dari kaca spion, Evan masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat mengejar motor Chiko.
Elana panik, dia pun menyuruh Chiko melajukan motor dengan kencang. Tapi rupanya Chiko berpikir lain, dia ingin tahu apa yang di inginkan papanya Elana itu.
Motor Chiko berjalan pelan, dan tentu saja bisa terkejar lalu menghadang laju motor Chiko. Mobil Evan berhenti di depannya. Chiko pun mematikan mesin motornya dan menatap Evan.
Elana sendiri kesal pada papanya, namun dia juga ingin tahu apa yang di mau papanya.
Mau tidak mau Elana pun turun, begitu juga Chiko. Dia membuka helmnya dan berniat menyalami Evan. Tapi Evan melewatinya, dia langsung mendekat pada anaknya.
"Sayang, kamu kemana saja?" tanya Evan seolah lupa kenapa Elana pergi.
"Papa mencariku?" tanya Elana sinis.
"Tentu saja sayang, papa minta maaf waktu itu. Kembalilah ke rumah sayang, papa kangen sama kamu." kata Evan lagi.
Elana pun tersenyum tipis, dia menatap Chiko yang terdiam tidak mau ikut campur urusan Elana. Bukan tidak mau membela, tapi urusan keluarga Chiko tahu diri. Biarkan Elana menyelesaikannya sendiri.
"Kan papa sudah mengusirku dari rumah papa." kata Elana.
"Iya, papa tahu. Papa salah, jadi papa minta maaf sama kamu. Sekarang ayo kita pulang sayang."
"Ngga pa, maaf Elana ngga bisa ikut. Itu bukan rumahku lagi, itu rumah tante Ana." kata Elana.
__ADS_1
"Elana! Kenapa kamu panggil istri papa dengan sebutan tante? Dia juga mama kamu." kata Evan dengan nada keras.
"Tapi tante Ana tidak suka padaku pa. Sudahlah pa, papa hidup dengan tenang sama tante Ana, Elana tidak akan mengganggu papa dan tante Ana lagi." kata Elana.
Evan menghela nafas panjang, agar susah juga membujuk Elana. Dia kesal, namun dia tahan.
"Di mana kamu tinggal?"
"Papa ngga usah tahu, yang penting aku hidup tenang dan ngga ganggu kalian lagi."
"Elana! Kamu kurang ajar sama papa, papa masih sabar sama kamu. Papa ngga memgerti, kamu bergaul dengan teman laki-lakimu itu jadi sering membantah papa. Pergaulan kamu tidak bagus, bergaul dengan laki-laki tidak di kenal, cepat katakan di mana kamu tinggal?!" kata Evan membentak Elana karena Elana membantah saja.
Baru kali ini Evan melihat Elana membantah, dia kesal dengan anaknya yang berteman dengan Chiko, Evan menatap Chiko dengan tatapan kesal.
Chiko lalu mendekat pada Evan, dia ingin mengatakan sesuatu.
"Om, kenalkan. Saya Chiko Prasetya, teman dekat anak om dan ...."
"Ooh, jadi karena kamu Elana sering membantah? Kamu membawa pengaruh buruk sama anakku, Elana." kata Evan semakin sengit mengatakan pada Chiko.
Chiko yang mendengar tuduhan tidak berdasar jadi kesal. Niatnya dia ingin mengenalkan diri sebagai pacar Elana, tapi rupanya Evan tidak bisa di ajak bicara baik-baik. Pikir Chiko.
"Maaf om, menuduh orang sembarangan. Apa lagi menuduh anak sendiri adalah fitnah om. Om ini ayah yang baik bukan sih? Elana itu gadis baik-baik, dia tidak mau pulang kw rumah om itu karena ada alasannya, dan alasannya juga sudah jelas, mama tirinya tidak suka pada Elana. Tapi om menutup mata. Hati om terbuat dari apa? Anak sendiri tidak di percaya, Elana tinggal di rumahku om, dengan adik perempuanku, dia baik-baik saja dan tidak ada apa-apa dengan Elana." kata Chiko.
Wajah Evan memerah karena kesal pada Chiko, dia mengepalkan tangannya. Ada seorang anak muda menentang dirinya dan itu benar, baginya sangat memalukan. Tapi dia diam saja, Chiko benar dirinya menutup mata pada kesalahan Ana apa lagi Angela.
"Di mana tempat tinggalmu?" tanya Evan akhirnya.
Chiko lalu menyebutkan alamat rumahnya, dia tidak mau menyembunyikan Elana berada. Jika pun Evan berkunjung dan memaksa Elana pulang pada papanya, dia siap untuk menghalangi Evan jika memang Elana kekeh tidak mau ikut dengan papanya.
"Baik, saya akan datang dan melihat seperti apa rumahmu. Dan juga seperti apa anakku di perlakukan." kata Evan akhirnya.
Dia malu berdebat di jalan dan akhirnya dia sendiri yang malu. Lalu Evan pun pergi meninggalkan Elana dan Chiko.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤