
Di tempat kerjanya, Elana banyak melamun. Dia berpikir bagaimana dengannya jika ikut dengan papanya ke Rusia. Bisakah dia menyesuaikan diri di sana?
Dengan kultur dan budaya serta iklim berbeda pula, beda bahasa dan juga beda orang-orangnya. Tapi di sana tidak akan ada yang membulinya kan? Kuliah di sana mungkin berbeda dengan di sini, pikir Elana.
"El, kamu melamun?" tanya Riri ketika Elana memasukkan baju untuk di keringkan.
"Aku lagi bingung Ri, papaku datang dari Rusia. Beliau mengajakku tinggal di sana, aku tidak bisa bahasa Rusia. Lagi pula semuanya akan terasa asing." jawab Elana.
"Dia papamu El, pasti akan membantu semua kesulitanmu itu nanti. Kamu bisa belajar bahasa Rusia dan bisa beradaptasi di sana." kata Riri.
"Aku tidak tahu, aku hanya takut dengan istri papaku. Apakah dia mau menerimaku?" tanya Elana lirih.
"Tanyakan saja sama papamu, bukankah jika tidak menerima seharusnya tidak datang dan mengajakmu pergi ke sana." kata Riri lagi.
Elana tampak berpikir, dia lelah jika harus memikirkan semuanya sendiri. Jika seorang gadis seusianya itu biasanya sedang menikmati masa remajanya, pergi jalan-jalan dengan teman-teman sebayanha. Elana harus berjibaku untuk hidupnya sendiri.
"El, coba pikirkan lagi. Setidaknya ada niat baik papamu mau membawamu hidup denganmu, mungkin papa kamu mau menebus waktu yang terbuang denganmu. Apa salahnya kamu ikut dengan papamu ke Rusia." kata Riri bijaksana.
Selama bekerja dengan Riri, sedikit demi sedikit Elana terbuka dengan Riri. Menceritakan sebagian kepiluan hidupnya pada Riri, dan Riri mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi Elana. Bisa di bilang Riri adalah sahabat barunya Elana yang tidak pernah meninggalkannya, justru selalu memberinya semangat dan nasihat pada Elana.
Dan sedikit demi sedikit pulan Elana mau mendengarkan ucapa Riri. Bos Marta sendiri merasa Elana memang butuh teman bicara, dia juga tidak terlalu mengekang Elana bekerja terus. Memang ada kalanya Elana merasa lelah, dan bos Marta pun memakluminya jika Elana tidak berangkat kerja.
Dia hanya berpikir, gadis seperti Elana harus di beri dukungan dan semangat, meski pun permasalahan Elana tidak sepenuhnya dia tahu. Waktu melamar pekerjaan padanya, Elana seperti putus asa dan hampir menyerah. Bahkan belum ada jawaban di terima.
Ada sebagian orang peka terhadap orang lain, tapi seseorang yang dekat dengan orang yang membutuhkan bantuan justru mengabaikannya. Banyak kejadian orang-orang merasa putus asa bahkan ingin bunuh diri karena orang terdekatnya tidak oeka dan tidak membantunya menyelesaikan masalahnya.
_
Evan terus membujuk Elana untuk ikut dengannya ke Rusia, dan waktu Evan hanya satu bulan di Indonesia. Jika dalam satu bulan ini dia tidak bisa membawa Elana ke negara beruang merah itu, apa boleh buat dia harus kembali lagi dengan tangan kosong. Dia juga paham dengan semua yang di alami Elana, tidak mudah memang membujuk gadis yang introvert seperti Elana.
Niat Evan berkunjung lagi ke rumah Elana ingin mengajaknya makan malam, karena Elana tidak mau tinggal di hotel dengannya. Jadi Evan yang sering bolak balik ke rumah Elana.
Seperti sore ini, Evan sudah berada di rumah Elana untuk mengajaknya makan malam sekaligus juga membujuknya untuk ikut dengannya.
"Papa sudah lama di sini?" tanya Elana pada Evan.
"Ngga kok sayang, papq baru setengah jam lalu." jawab Evan dengan senyum mengembang.
"Itu sudah lama pa, maaf El baru pulang. El ngga tahu kalau papa kesini." kata Elana.
__ADS_1
Dia membuka kunci pintu rumahnya lalu masuk di susul Evan.
"Ngga apa-apa, papa menunggu El ngga apa-apa kok. Kan ngga setiap hari." ujar Evan lagi.
Dia duduk di kursi sofa yang sudah tidak berbusa itu. Melihat anaknya masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian santai.
"Tetap aja pa, papa menunggu lama. Maaf ya pa." ucap Elana lagi.
"Em, El. Papa mau ajak kamu makan malam di luar, mau ya?" tanya Evan.
Elana diam, lalu mengangguk pelan. Evan senang, dia pun bersiap untuk mengajak Elana.
"Jam enam kita pergi ya, papa tunggu. Kalau El mau bersiap-siap papa tunggu." kata Evan.
"Iya pa."
Elana lalu pergi ke kamarnya lagi, dia harus mandi lebih dulu sebelum pergi makan malam dengan papanya itu.
Sejak kemarin, Elana sudah memikirkan untuk ikut dengan papanya. Berharap di sana ada kasih sayang sesungguhnya dari Evan, meski memang nanti ada ibu tirinya. Aah, mengingat kata ibu tiri. Elana jadi berpikir lagi. Apakah memang nanti ibu tirinya itu akan menyayanginya juga?
Setelah bersiap, Elana pun menghampiri Evan yang sedang menelepon entah siapa. Mungkin istrinya.
"Sudah siap sayang?" tanya Evan.
"Udah pa." jawab Elana.
Evan tersenyum, meski berpakaian sederhana. Hanya memakai kaos pendek dan celana jeans biru dan rambut di kuncir kuda, Elana tetap manis. Wajah putih tanpa polesan make up itu tetap ayu dan manis di pandang.
Lalu mereka pun masuk ke dalam mobil, setelah Elana mengunci pintu rumahnya. Mereka menuju restoran yang lumayan sangat mewah bagi Elana, namun biasa saja bagi Evan.
Mobil Evan berhenti di depan pintu masuk, di sambut oleh petugas valet dan menyerahkan kunci mobilnya. Evan menggandeng Elana masuk dan mencari tempat yang nyaman untuk makan serta bicara serius.
Di pilih paling pojok dan terlihat agak jauh dari posisi meja orang-orang. Setelah duduk, pelayan mendatangi dan memberi katalog menu agar mereka memilihnya.
"Kamu makan apa El?"
"Terserah papa, El ngga tahu menu enak itu apa di restoran." jawab Elana.
Evan tersenyum, dia lalu memesan menu yang lumayan aneh bagi Elana. Tapi dia diam saja ketika Evan memesan makanan langka dan jarang di dengar oleh Elana.
__ADS_1
Sepuluh menit, pesanan datang.
"Makan El, semua makanan di pesan enak. El tinggal pilih aja." kata Evan.
"Iya pa."
Mereka lalu makan dalam diam, Elana makan dengan beberapa menu yang ada hanya sedikit. Mungkin lidahnya tidak terbiasa makan makanan aneh menurutnya, Evan memperhatikan cara makan akannya. Namun dia diam saja, karena memang dia tahu Elana tidak biasa.
Lama mereka makan dalam diam, lalu Evan berbicara pada Elana mengenai rencananya lagi.
"El, papa minta sekali lagi. Ikutlah dengan papa, kamu di sini hidup dengan siapa? Papa adalah keluarga satu-satu kamu, sayang. Papa mohon ikutlah dengan papa." ucap Evan dengan pelan, berharap kali ini usahanya berhasil.
"Iya pa, El coba ikut papa. El juga ingin kuliah di sana." jawab Elana, membuat Evan kaget.
"Benarkah sayang?"
"Iya, tapi El ngga bisa bahasa negeri sana pa. Bagaimana El mau berkomunikasi dengan mereka di sana." kata Elana.
"Kamu tenang aja, nanti papa cari guru privat untuk mengajarkanmu bahasa Rusia." ucap Evan penuh kegembiraaan.
Senyum Evan mengembang, betapa senang dia kali ini bisa membujuk Elana.
"Tapi, .... Apakah emm istri papa akan menerima Ep di sana?" tanya Elana ragu.
"Tentu sayang, istri papa sangat menunggu El datang. Dari dulu, hanya saja papa belum bisa cuti panjang dari pekerjaan papa di sana. Maafkan papa kalau bisa berkunjung saat ini." kata Evan menyesal.
"Ngga apa-apa pa, oh ya bagaimana dengan paspor El nanti?"
"Besok papa urus, papa masih punya waktu satu minggu untuk urus pasport dan visa kamu. Kamu pakai visa berpendidikan aja ya, biar cepat dapatnya." kata Evan dengan antusias.
"Iya pa, terserah papa aja."
Setelah perbincangan itu, mereka pun pergi dari restoran dan Aven mengajak Elana untuk pergi ke mall membeli keperluan Elana. Memang rencananya setelah makan malam dia akan mengajak Elana jalan-jalan ke mall.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤