
Chiko terdiam, dia kembali menatap Elana dengan tegang. Kenapa dia merasa kisah Elana ada hubungannya dengan dirinya yang pernah di culik dan di sekap selama dua hari tanpa di beri makanan oleh Mourin.
"Kamu tahu anak yang di culik mamamu berapa usianya waktu itu?" tanya Chiko, berharap bukan dia yang di ceritakan Elana.
"Kata tante Sandra itu usianya sudah sepuluh tahun. Dia laki-laki dan ada hubungannya dengan rumah."
Deg!
Chiko kembali tegang dan ada rasa kecewa di hatinya, dia sejenak. Ingin dia menyangkal akan cerita Elana kalau dialah anak laki-laki yang di sekap oleh mamanya Elana.
Dia menunduk dalam, melepas genggaman tangannya dari tanga Elana. Elana memperhatikan apa yang di lakukan oleh Chiko, dia heran. Namun dia kira Chiko hanya capek memegang tangannya terus.
"Bang Iko?" panggil Elana.
"Siapa nama mama kamu, Elana?" tanya Chiko lirih.
Elana menatap Chiko, dia ingin tahu kenapa Chiko tiba-tiba berubah sikapnya setelah menceritakan siapa mamanya. Elana berusaha memahami perubahan sikap Chiko yang tidak menerima dirinya sebagai anak narapidana.
"Bang, apa abang juga akan pergi dariku setelah tahu siapa mamaku?" tanya Elana terbata, masih menatap Chiko.
Hati Elana tiba-tiba sakit dan kecewa dengan perubahan sikap Chiko. Tanpa sadar air matanya luruh kebawah, di usapnya air mata di pipinya. Lalu dia menjauh dari duduknya yang semula dekat kini menjauh.
"Elana, siapa nama mama kamu?" tanya Chiko sedikit keras, menatap tajam Elana.
Elana takut melihat tatapan tajam dari Chiko, entah kenapa masa-masa waktu kecil dulu di sekolah teringat kembali. Namun kenapa sekarang lebih sakit.
"Bang Iko, kamu ...." terputus ucapan Elana.
"Jawab pertanyaanku Elana!" Chiko berteriak, Elana pun kaget.
"Mamaku bernama Mourin, bang. Mourin si narapidana sembilan tahun di penjara bang, dia di penjara karena menculik anak kecil anak pengacara Arga dan berusaha mencelakai ibu dari anak itu. Itu tuduhan pada mamaku. Mamaku seorang narapidana." ucap Elana terisak keras.
Dia menunduk menangis, menangis karena kecewa sikap Chiko sama saja dengan teman-teman sekolahnya dulu. Kecewa dan sakit, sakit sekali rasanya bagi Elana. Dia berharap Chiko tidak seperti teman-teman sekolahnya dulu. Tapi nyatanya Chiko sama saja dengan semua orang.
Dan, Chiko diam terpaku. Dia menatap Elana yang menangis sedih dan kecewa padanya. Chiko merasa lebih kecewa pada Elana, kenapa dia di pertemukan dengan anak dari orang yang pernah menculiknya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Elana dan Chiko saling diam. Menunduk dan menangis, menahan emosi masing-masing.
Di saat keduanya diam, tiba-tiba suara langkah kaki Celine mendekat pada mereka. Elana dengan cepat menghapus air matanya, dia membuang muka ke samping agar Celine tidak melihat dia menangis.
Dan Chiko sendiri membuang nafas kasar, rasa kecewa dan marah pada Elana benar-benar masih bersarang dalam hatinya.
"Hai, kalian sedang apa?" sapa Celine dengan senyum mengembang.
Dia melihat Chiko diam dan juga Elana. Dia melihat secara bergantian antara kakaknya dan Elana, entah terjadi apa pada keduanya. Celine bingung.
"Kalian kenapa?" tanya Celine kembali melirik keduanya sacara bergantian.
"Dek, aku mau ke rumah Antonio dulu. Kamu jaga Elana dulu." kata Chiko.
Setelah mengatakan seperti itu, Chiko pergi meninggalkan Celine yang masih bingung dengan sikap Chiko yang aneh. Sedangkan Elana kembali kecewa dan sakit hatinya karena dia berpikir Chiko sama dengan teman-teman sekolahnya dulu.
"El, kalian kenapa?" tanya Celine.
"Tidak ada apa-apa." jawab Elana.
Dia pun beranjak pergi masuk ke dalam kamar Celine yang biasa dia tempati. Menutup pintunya dan menguncinya dari dalam, Elana menangis sedih. Hatinya benar-benar kecewa dengan perubahan sikap Chiko.
Dia menangis sesumggukan, rasa sendiri kini dia rasakan lagi. Suara Celine memanggil nama Elana tidak dia pedulikan.
"Aku pikir kamu menyayangiku bang Iko, kamu tidak akan meninggalkan aku setelah tahu siapa mamaku. Hik hik hik." gumam Elana lagi di sela tangisnya.
Sementara di luar, Celine tampak bingung dengan perubaham sikap Elana dan abangnya. Dia pun pergi ke kamar Chiko, berharap dia mendapatkan jawaban kenapa mereka berdua berbeda dan saling emosi.
"Bang, sebenarnya ada apa dengan kalian sih? Aku kok ngga ngerti?" tanya Celine.
"Jangan tanya abang sekarang dek, abang ngga bisa jawab. Abang harus pergi sebentar untuk beberapa hari ini." kata Chiko memasukkan beberapa baju dan buku ke dalam tasnya.
Celine memperhatikan apa yang di lakukan Chiko semakin membuat dia penasaran.
"Bang, kamu bawa baju banyak banget sih?"
__ADS_1
"Aku pergi beberapa hari dek, kamu tenang aja aku ke rumah Antonio kok. Jangan cari abang dulu ya, maaf kalau abang ninggalin kamu sebentar." kata Chiko.
"Aku ngga ngerti dengan kalian bang. Elana menangis, dan abang pergi. Ada apa sebenarnya sih bang?" tanya Celine semakin bingung.
"Tunggu aku pulang lagi dek, nanti abang cerita sama kamu. Saat ini abang ingin menenangkan diri dulu. Dan jaga Elana dengan baik ya."
Setelah berkata seperti itu, Chiko keluar dari kamarnya dan dia langsung mengambil kunci motornya dan melajukannya dengan cepat setelah dia menaikinya.
Celine di buat bingung pada abangnya, juga Elana. Dia juga tahu pasti Elana tidak akan menjawab pertanyaannya kini. Lebih baik dia istirahat saja di kamarnya, dari pada pusing dan bingung memikirkan Elana dan Chiko yang aneh hari ini.
_
Chiko mengendarai motor dengan cepat, pikirannya kalut dan marah serta kecewa. Dia tidak tahu kenapa begitu marah pada Elana. Jika di pikirkan lagi, Elana hanya seorang anak dari orang yang menculiknya. Elana tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu. Dia hanya di ceritakan saja oleh Sandra kalau mamanya, Mourin yang menculiknya.
Chiko berhenti di sebuah jalan sepi di sisi jalan sebelah kanan tepi sungai. Dia berhenti di sana dan memandang sungai yang tenang dan jernih airnya.
Chiko turun dari motornya dan menghadap ke arah sungai dan berteriak.
"Aaaaaargh!! Kenapa jadi begini!!" teriak Chiko.
Dia menjambak rambutnya dan mengacaknya, dia menangis. Antara kesal, kecewa dan marah pada Elana. Namun dia tidak bisa di ungkapkan karena rasa cinta sudah bersarang di hatinya.
"Kenapa aku jatuh cinta sama Elana, kenapa dia yang aku cintai. Kenapa dia yang jadi anaknya Mourin. Kenapa?!" ucap Chiko dengan isak tangisnya.
Selama satu jam Chiko merenung dan melampiaskan rasa marahnya di sana, membuang batu-batu di sungai beberapa kali. Dia tidak tahu harus bagaimana, dia merasa beruntung belum menyatakan cinta pada Elana. Jika itu terjadi, maka akan lebih sakit lagi baginya dan Elana.
Lama Chiko merenung, setelah di rasa cukup dia pun kembali mengendarai motornya menuju rumah sahabatnya Antonio. Dia akan tinggal satu minggu atau lebih di sana untuk merenung, menenangkan diri dan meminta pendapat pada sahabatnya Antonio.
_
_
~~> othor lg hilap ini,..😊😜🤣
~~> tapi besok kalo telat update jangan tanya. ya...😁😁
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤