E L A N A

E L A N A
63. Kembali Ke Rumah Evan


__ADS_3

Pagi menjelang, Elana sudah bersiap untuk berangkat kuliah dengan Celine. Karena dia sudah menghubungi Evan untuk menjemputnya di kampus saja. Karena kemarin ternyata Evan tidak jadi menjemputnya.


"Bang Iko mengizinkan kamu kembali ke rumah papamu?" tanya Celine ketika mereka di dalam trem.


"Ya, bang Iko malah menyuruhku untuk selalu patuh pada papaku. Sebelum kenal bang Iko, aku ini penurut dan selalu mengalah. Tapi sekarang rasanya aku ingin punya kehidupanku sendiri, tanpa harus di atur dengan paksa. Bahkan selalu di salahkan tetap diam saja." kata Elana dengan wajah menyesalnya.


"Jadi, menurutmu bang Iko telah merubah kepirbadianmu?" tanya Celine lagi.


"Mungkin, tapi bang Iko tidak pernah menyuruhku untuk membantah apa yang di perintahkan papaku. Aku sendiri yang ingin menentukan hidupku sendiri." kata Elana.


Celine diam, memang benar banyak sekali perubahan pada diri Elana. Mulai dari keceriaannya yang selalu dia tunjukkan, dan juga seringnya dia berbicara apa pun tanpa di tutup-tutupi. Itu dampak positif bagi Elana dalam mengenal bahkan mendapatkan cinta dari kakaknya.


Celine senang perubahan itu, namun dia juga takut ketika Elana sudah berada di rumah papanya lagi akan kembali lagi seperti dulu. Jadi gadis pendiam dan penurut dan tidak menentang jika dia di perlakukan kurang baik dari keluarga istri papanya. Bahkan jadi gadis tertutup lagi.


"Elana, jadilah diri sendiri. Kamu bisa tentukan hidupmu tanpa harus melawan orang tuamu. Terkadang orang tua bisa juga benar dengan perkataannya. Tapi kamu juga harus berpikir untuk kebahagiaanmu juga, jangan abaikan kebahagiaanmu sendiri." kata Celine seolah memberi nasehat bijak.


Elana tersenyum, dia pun mengangguk. Benar apa kata Celine, dia harus mencari kebahagiaannya sendiri tanpa harus mempertimbangkan orang lain jika itu tidak merugikan orang lain.


Mobil trem berjalan begitu lambat di rasa Elana, dia enggan rasanya untuk pulang ke rumah Evan. Tapi apa mau di kata, Elana harus kembali.Dia juga ingin tahu sejauh apa papanya menyayanginya.


_


Evan menunggu Elana di depan gerbang kampus, dia sudah menghubungi anaknya bahwa dirinya sudah berada di depan kampus.


Sepuluh menit, Elana pun muncul dari dalam kampus dan menghampiri mobil Evan. Dia tersenyum tipis pada papanya.


"Papa sejak tadi menungguku?" tanya Elana setelah dia masuk ke dalam mobil Evan.


"Lumayan, sepuluh menit papa menunggu. Tapi tidak apa-apa, papa baru lihat lagi kampus kamu." kata Evan.


"Maaf pa, tadi dosennya baru keluar. Jadi aku ngga bisa keluar begitu saja." kata Elana.


"Ngga apa-apa sayang. Oh ya, apa kamu sudah pamit sama temanmu itu?"


"Ya, kemarin juga aku sudah izin. Tapi papa ngga bisa datang."


"Iya, papa lupa ternyata papa sama mama Ana harus ke ahli psikolog Diego. Papa harus rutin ke sana." kata Evan.


Elana hanya diam, memang Diego harus mendapatkan perhatian khusus. Jadi apa pun harus di maklumi jika prioritas Evan itu untuk Diego.


Mobil melaju dengan cepat, siang ini anak dan ayah itu mampir ke restoran Indonesia. Mereka ingin makan makanan Indonesia, sudah lama mereka tidak makan makanan negaranya. Jadi mereka mampir sebelum pulang ke rumah Evan.

__ADS_1


"Kamu senang makan di sini?" tanya Evan.


"Ya pa, lumayan mengurangi rasa kangen di kampung halaman." jawab Elana.


Dia menyuapkan makanannya dengan lahap, karena dia sangat rindu masakan Indonesia. Evan tersenyum puas melihat anaknya makan dengan lahap. Selama tinggal di Rusia bahkan tinggal di rumahnya, Elana jarang sekali makan nasi atau membuat makanan Indonesia.


"Apa papa sering makan di sini?" tanya Elana.


"Ya, sering kalau waktunya makan siang." jawab Evan.


"Papa tidak pernah ajak aku makan di sini." kata Elana lagi.


Evan diam, dia bukannya tidak ingin mengajak anaknya ke tempat restoran khas Indonesia. Tapi hanya waktunya saja yang tidak pernah dia gunakan mengajak anaknya makan di sana.


"Maafkan papa sayang, lain kali papa akan sering ajak kamu makan di sini." kata Evan agar anaknya tidak kecewa.


"Ngga usah pa, papa kan sibuk. Lagi pula, aku bisa kok makan dengan temanku kesini."


Evan diam, dia memandang anaknya yang sudah selesai makan.


Satu jam mereka makan di restoran itu, dua kali istri Evan Ana meneleponnya terus. Dan akhirnya Evan segera membayar tagihan makanan dan langsung pulang ke rumah, karena istrinya menyuruhnya segera pulang.


Dan setengah jam mobil Evan terparkir di depan halaman rumah besar itu. Elana dan Evan segera turun dan langsung masuk ke dalam rumah.


Ternyata, di saja sudah ada Ana, Angela dan Dimitri yang menyambut Elana. Elana kaget, namun dia bersikap biasa saja.


Satu hal yang tidak suka bagi Elana yaitu sikap Angela yang masih angkuh dan seolah mencibirnya. Sedangkan Ana hanya menatapnya datar, Dimitri bersikap acuh tak acuh pada Elana.


"Dobryy den'." ("Selamat siang.") sapa Elana pada Ana dan Angela serta Dimitri.


"Hemm."


Begitu tanggapan Ana, dan itu membuat Elana merasa tidak nyaman. Penyambutan Ana sepertinya tidak baik, apa jadinya nanti jika dia sudah berada di rumah itu.


"Dorogaya, Elana vernulas'." ("Sayang, Elana sudah kembali.") kata Evan pada Ana.


"Da ya uzhe znayu. Otpusti yego v svoyu komnatu i otdokhni, ty poyel?" ("Ya, aku sudah tahu. Biarkan dia ke kamarnya dan beristirahat, kamu sudah makan?") tanya Ana.


"Uzhe s Yelanoy v Indoneziyskom restorane." ("Sudah dengan Elana di restoran Indonesia.") jawab Evan mengambil alih Diego dari tangan Ana.


"Da, snachala pozabot'sya o Diyego. Ya, Anzhela i Dmitry khotyat poyest' pervymi. Ya dumal, vy, rebyata, yeshche ne yeli, tak chyo my zhdem, kogda vy pridete domoy, chtoby poyest' vmeste." ("Ya sudah, kamu jaga Diego dulu. Aku dan Angela serya Dimitri mau makan dulu. Ku kira kalian belum makan, jadi kami menunggumu pulang untuk makan bersama.") kata Ana.

__ADS_1


"Izvini, dorogaya, ua obedayu vne doma. Mne ne khvatayet Indoneziyskoy kukhni, poetomu ya zashel v etot restoran." ("Maaf sayang, aku makan di luar. Kebetulan aku kangen dengan makanan Indonesia, jadi aku mampir ke restoran itu.") jawab Evan merasa tidak enak pada istrinya.


Evan membawa Diego ke ruang bermain, dia bermain dengan anaknya di sana. Sedangkan Elana masuk ke dalam kamarnya yang dulu pernah dia tinggalkan.


Sampai di kamar, dia duduk di sisi ranjang dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Chiko, kekasihnya.


Tuuut


Belum terjawab, Elana terus mencoba menghubunginya lagi.


"Halo, El. Kamu sudah sampai di rumah papamu?" tanya Chiko di seberang sana.


"Sudah bang, aku sudah di kamar juga. Abang sedang apa?" tanya Elana.


"Lagi beres-beres buku, mau pulang dari kampus. Emm, bagaimana penerimaan di rumah papamu?" tanya Chiko lagi.


"Lumayan, tapi mereka tetap seperti tidak menyukaiku bang."


"Kamu sabar ya, jangan di ambil hati. Hargai papamu, semua akan berubah kok."


"Iya bang, semoga saja apa yang abang katakan itu benar."


"Ya, abang cuma berharap kamu hidup nyaman di rumah papamu. Belajar dengan baik dan tidur yang nyenyak serta jangan di ambil hati ya."


"Iya bang."


Nasehat demi nasehat Chiko berikan pada Elana, hingga sore hari mereka mengobrol asyik di telepon. Bercanda dan tertawa senang, membuat Elana lupa akan di mana dia berada.


"Sudah dulu ya, abang sedang di parkiran nih. Mau naik motor." kata Chiko mengakhiri sambungan teleponnya.


"Iya bang, hati-hati ya." kata Elana.


Lalu sambungan telepon pun terputus, dia lalu meletakkan ponselnya di meja dan dia berbaring di ranjangnya. Dia mau istirahat, tidur melepas penat karena tadi di kampus begitu banyak menguras otaknya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2