E L A N A

E L A N A
105. Memberi Kabar Baik


__ADS_3

Tok tok tok


Anita mengetuk pintu kamar Chiko, malam ini setelah makan malam tadi, Chiko langsung masuk ke dalam kamarnya. Rasanya dia tidak sabar menunggu Arga memberinya restu. Ingin dia nekad pergi dari rumah dan langsung menikah dengan Elana tanpa harus menunggu restu dari Arga.


Itu pikiran pendek Chiko, kembali lagi dengan kata-kata ibunya. Bersabar lebih dulu, karena papanya pasti memberi restu secepatnya. Dan kini Anita mengetuk pintu kamar anaknya itu.


Tok tok tok


Pintu sekali lagi Anita mengetuk pintu, dan tak lama pintu terbuka. Terlihat Chiko menatap ibunya dengan lesu, Anita tahu Chiko sedang tidak baik hatinya.


"Mama boleh masuk bang?" tanya Anita.


"Masuk aja ma, kenapa harus izin." kata Chiko.


Anita masuk dan melihat di meja belajar Chiko, laptop seperti biasa menyala. Chiko sedang membuat laporan lagi untuk di kirim ke kampusnya melalui email.


"Masih sibuk bikin laporan bang?" tanya Anita.


"Masih ma, soalnya abang ngga laporan selama tiga hari ini." jawab Chiko.


"Kenapa?"


"Ngga apa-apa ma, abang lagi malas saat ini." jawab Chiko.


Anita tahu alasan kenapa Chiko seperti itu, dia menghela nafas panjang dan mendekat pada anaknya. Mendekap dari belakang dan mencium kepalanya.


"Abang memikirkan papa dan Elana?" tanya Anita.


Chiko diam saja, tangan yang tadi menggerakkan kursor mouse jadi berhenti. Namun matanya menatap lurus ke layar monitor. Kemudian menghela nafas panjang dan berat.


"Abang ngga tahu harus bagaimana ma, aku sudah minta sama papa. Dan Elana juga ngga mau aku jadi anak pembangkang, hanya bisa memikirkan papa dan Elana saja. Belum bisa berbuat apa-apa." kata Chiko.


"Kamu tahu kenapa papa seperti itu?"


Chiko menggeleng, dia melanjutkan lagi kegiatannya memeriksa dan mengetik laporan. Sesuatu yang sudah di jelaskan tidak perlu di pertanyakan lagi, atau di minta lagi. Jadi, buat apa dia mengetahuinya.


"Papa memikirkan nama baikmu bang, mama pikir papa begitu karena memang masih merasa sakit hati dengan masa lalu mamanya itu, tapi bukan itu saja. Ternyata papa berpikir jika kamu menjadi pengacara, papa khawatir nanti masa lalu Elana akan menjadi senjata bagi lawan-lawanmu nanti, bang. Papa berpikir terlalu jauh, tapi itu memang benar apa yang di pikirkan papamu. Namun, mama sudah meyakinkan papa kalau kamu bisa menjaga nama baik keluargamu. Dan papa menyetujuinya." kata Anita.


Kembali Chiko terdiam, dia mencerna ucapan mamanya tentang papanya. Namun ada yang membuatnya terkejut, papanya menyetujuinya? Chiko menoleh ke arah Anita yang tersenyum senang padanya.


"Ma, apa yang papa bilang?" tanya Chiko memastikan ucapannya.

__ADS_1


"Papa bilang setuju kamu nanti menikah dengan Elana." kata Anita menegaskan ucapannya.


"Benar ma?" tanya Chiko tak percaya.


Matanya berbinar cerah mendengar ucapan mamanya itu, tidak percaya dengan pendengarannya itu.


"Iya sayang, bahkan papa mengundang Elana makan malam hari Sabtu besok. Apa kamu bisa membawanya Sabtu siangnya?" tanya Anita.


"Waaah, terima kasih ma. Terika kasih mama membantu abang meyakinkan papa untuk menerima Elana di tengah keluarga kita. Aku janji nanti akan jadi pengacara yang hebat seperti papa dan akan menjaga keluargaku nantinya. Aku janji ma." kata Chiko dengan penuh semangat.


Dia memeluk mamanya dan terharu, rasanay sesak beban di dada sekarang sudah ringan. Begitu banyak rintangan yang dia hadapi, ternyata dengan bersabar pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara tanpa melukai orang-orang yang dia sayangi.


"Terima kasih ma, mama sangat baik dan selalu ada jika abang sedang bingung."


"Mama hanya tidak mau kalian, orang-orang yang mama sayang jadi diam dan saling tidak mengenal nantinya. Mama jadi sedih jika itu terus berlangsung. Dan kamu harus menemui papamu untuk mengucapkan terima kasih sudah merestui kamu dan Elana menjalin hubungan." kata Anita lagi.


"Iya ma, pasti. Abang akan menemui papa nanti untuk mengucapkan terima kasih telah merestui hubunganku dengan Elana." kata Chiko dengan wajah cerianya.


Dia tidak sabar ingin memberitahu Elana kalau papanya menerimanya sepenuhnya dan merestui hubungannya dan melanjutkan ke jenjang pernikahan nanti.


"Kamu boleh menemui papa ke ruang kerjanya, saat ini papa ada di sana. Jangan tunda lagi, mungkin nanti ada pesan untuk kalian nanti dari papa." kata Anita lagi.


"Iya ma, terima kasih. Abang sayang banget sama mama dan papa." kata Chiko.


"Kalau begitu, abang ke ruang kerja papa dulu ma. Biar semuanya selesai dan aku bisa memberitahu Elana tentang masalah ini.


"Ya, pergilah. Mama mau langsung ke kamaf aja, udah ngantuk ini." kata Anita.


"Iya ma, sekali lagi terima kasih ya ma. Cup." ucap Chiko mencium pipi makanya dengan senang hati.


Anita dan Chiko pun keluar dari kamarnya, mereka berpisah di ruamg tengah. Chiko ke ruang kerja Arga sedangkan Anita langsung naik tangga untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.


_


Tok tok tok


"Masuk."


Chiko mendorong pintu ruang kerja Arga, dia masuk ke dalam dan terlihat Arga sedang memperhatikan layar monitor tanpa melihat Chiko mendekat padanya. Chiko berdiri di depan meja kerja Arga, sambil memperhatikan papanya yang sibuk dengan layar laptopnya.


"Papa sibuk?" tanya Chiko.

__ADS_1


"Ngga terlalu, ada apa bang?" tanya Arga menatap Chiko.


"Emm, abang mau mengucapkan terima kasih sama papa karena telah menyetujui hubunganku dengan Elana. Kata mama, papa merestui kami?" tanya Chiko ragu.


Meski tadi yang di katakan Anita memang sangat tegas dan pasti, namun Chiko ingin memastikan lebib yang keluar dari mulut papanya. Arga menatap Chiko dalam, menyelidik di balik kaca mata bacanya lalu tersenyum pada anak sambungnya itu.


Dia bangkit dari duduknya dan menuju sofa di samping meja kerjanya. Duduk di sana dan Chiko mengikuti Arga duduk di sofa. Menatap papanya dan siap mendengarkan apa yang di katakan Arga nanti.


"Maafkan papa ya bang, mungkin abang merasa kesal sama papa karena papa lama sekali memberi restu pada abang untuk menyetujui hubunganmu dengan gadis itu. Papa hanya ingin yang terbaik untuk keluarga papa, jadi papa harus berpikir lebih lama. Papa sudah melupakan semuanya dan kini kalian boleh kok berhubungan. Maaf kalau papa egois dengan abang. Mungkin mama sudah mengatakan kenapa papa lama menyetujuinya." kata Arga.


"Iya pa, mama sudah mengatakannya. Abang janji akan menjaga nama baik keluarga dan menjaga keluarga abang nantinya pa." jawab Chiko.


"Itu bagus, bukan hanya untuk papa dan mama aja. Tapi juga nanti untuk keluarga abang aja, selama ini mama tidak pernah tahu kalau papa banyak yang meneror di kantor. Papa selalu menjaga keluarga papa agar tidak dapat ancaman dari lawan papa di kantor sesama pengacara. Terkadang sering datang dari pelaku yang korbannya papa tangani. Jadi nanti abang harus hati-hati ya." kata Arga.


"Iya pa, abang akan jaga keluarga abang nantinya."


"Dan satu lagi, papa ngga mau kamu menikah belum punya pekerjaan. Jika kamu nekat, jangan harap papa akan merestui kalian lagi. Papa malu, masa anak papa menikah tidak punya pegangan untuk menafkahi keluarganya. Meski pun nanti papa dan mama bisa menampung kalian di rumah." kata Arga lagi.


"Hehe, iya pa. Rencananya setelah lulus kuliah enam bulan lagi, abang akan melamar pekerjaan di firma hukum lainnya."


"Di firma papa aja, nanti papa akan tempatkan abang di bagian terkecil dulu."


"Iya pa, meski nanti aku bekerja di kantor papa. Tapi nanti abang akan berusaha sendiri dengan pekerjaan abang pa." kata Chiko.


"Bagus, dan mama sudah bilangkan kalau pacarmu itu suruh datang Sabtu ini?"


"Iya pa, mama sudah mengatakannya. Dan besok aku akan ke butiknya untuk memberitahu Elana tentang hal ini."


"Iya."


"Kalau begitu, abang keluar dulu pa. Mau meneruskan membuat laporannya."


"Iya."


Chiko pun bergegas keluar dari ruang kerja Arga, dan Arga pun tersenyum lega karena kini Chiko terlihat lebih ceria dengan kabar yang baik itu.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2