
Kini Mourin sudah lebih baik setelah berobat rutin, tapi batuknya masih terasa dan sering batuk. Dia selalu menyembunyikan rasa sakitnya ketika terbatuk, karena dia tidak mau anaknya semakin khawatir dengan keadaannya.
Sementara di sekolah, Elana belajar seperti biasa setelah libur dua minggu baru berangkat satu hari Elana mendapat telepon kalau Mourin pingsan di dapur. Segera saja waktu itu Elana izin pulang dan segera menuju klinik di mana mamanya di rawat.
Benar-benar saat ini Elana sangat khawatir jika di tinggal sekolah. Belum lagi dia harus membantu ibu kantin merapikan dan mencuci piring-piring serta gelas kotor.
Konsentrasi belajar Elana terpecah, dia kadang melamun di saat guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Tapi ketika di tanya, selalu bisa menjawab meski kadang tidak tepat jawabannya.
"Elana, kenapa kamu melamun?" tanya ibu Sinta di saat jam pelajarannya selesai.
"Mama sakit bu, saya ngga tahu kalau mama sakit. Dua hari lalu mama pingsan." jawab Elana lirih.
"Yang sabar Elana, tapi kamu harus tetap fokus belajar jangan sampai nanti nilai kamu merosot lho." kata ibu Sinta.
"Iya bu, maaf."
"Ya sudah, kamu bisa kembali ke kelasmu."
"Iya bu."
Elana pun kembali ke kelasnya untuk belajar lagi, ibu Sinta merasa kasihan. Dia merasa Elana gadis yang sangat kuat dan mandiri. Yang dia tahu Elana pernah tinggal dengan sahabat ibunya dan sekarang sudah pindah, dan kini harus merawat ibunya yang sakit setelah tiga bulan lalu keluar dari penjara.
_
Waktu terus berjalan, Elana kini lebih fokus belajar karena dia akan mengejar beasiswa yang di janjikan oleh sekolah jika ada siswa yang berprestasi sebagai juara umum di sekolah, maka akan dapat beasiswa memasuki perguruan tinggi di luar negeri.
Bagi siswa yang sudah pernah mendapatkan beasiswa bebas biaya SPP. Namun kali ini berbeda terutama bagi kelas dua belas, karena beasiswanya tidak tanggung-tanggung. Beasiswa kuliah di luar negeri. Tapi jika negaranya jauh tujuan pendidikannya, maka beasiswa dari sekolah hanya sebagian saja. Sisanya siswa sendiri yang menambahkan sebagian biayanya.
"Kamu ada kesempatan dapat beasiswa Elana, giat belajar ya. Agar dapat beasiswa kuliah." kata ibu Sinta.
Saat ini Elana sudah kelas dua belas. Tahun depan dia sudah lulus sekolah dan keinginannya kuliah ke Rusia, dia sudah menceritakan keinginannya pada ibu Sinta kalau dia ingin kuliah di Rusia.
__ADS_1
Semangat belajar Elana semakin besar, dia selalu pergi ke perpustakaan untuk belajar. Mourin juga sepertinya senang Elana belajar dengan giat, setidaknya apa yang jadi keinginannya akan tercapai. Dia kini mengikhlaskan Elana pergi ke Rusia, dia yakin Elana akan hidup baik-baik saja. Saat itu juga dia mungkin sudah tidak ada di dunia lagi.
Karena batuk yang dia rasakan kini semakin parah, dia tidak berani periksa ke dokter karena akan menambah pikirannya saj. Dia hanya mencari tahu di internet tentang batuknya itu, dan dengan mengira-ngira sendiri Mourin menderita batuk bronkitis serta sesak nafas jika di udara yang kotor. Seperti di jalanan, maka dia akan sesak nafas. Mourin selalu menghindari asap kendaraan bermotor, baik mobil atau pun motor.
"Ma, aku pulang." teriak Elana ketika masuk ke dalam rumahnya.
Mourin menghampiri Elana, dia tersenyum dan memeluk anaknya.
"Kamu udah makan?" tanya Mourin membawa Elana ke meja makan.
"Udah ma, tadi di kantin. Ibu kantin ngasih makan sama El." jawab Elana.
Dia duduk di meja makan, melihat di meja ada tudung saji. Di bukanya tudung saji itu, terlihat masakan tumis pakcoy udang dan telur dadar serta sambal bawang.
"Ini mama yang masak?" tanya Elana.
"Iya, kalau kamu udah makan buat nanti aja." ucap Mourin.
Kelihatannya menggiurkan, meski makanan sederhana. Tapi dia jarang makan masakan Mourin. Elana pun mengambil piring dan menuangkan nasi ke dalam piringnya, dia tiba-tiba lapar melihat menu sederhana buatan Mourin.
"Itu mama coba-coba masak aja, siapa tahu kamu suka masakan mama. Mama ngga pandai memasak, jadinya masak begitu aja." ucap Mourin melihat anaknya makan dengan lahap.
"Enak kok ma, aku suka tumis udang ini. Nanti ael belajar bikin tumis udang sawi." kata Elana.
"Itu pakcoy. Mama tadi di kasih sama ibu Marni, mertuanya itu jualan sayur di pasar jadi bu Marni di kasih pakcoy banyak. Akhirnya mama di kasih juga, tapi benar masakan mama ini enak?" tanya Mourin.
"Enak ma, tuh lihat. El habis banyak ngga terasa."
Mourin melihat piring Elana sudah tandas di makan anaknya itu. Dia tersenyum senang, anaknya suka dengan masakannya.
"Maaf ya, mama baru bisa masak sekarang-sekarang ini. Dulu memang mama ngga bisa masak seusia kamu, El. Hidup mama tidak sesulit ini. Hik hik. Maafkan mama, nak." ucap Mourin.
__ADS_1
Entah kenapa dia selalu merasa terharu dan sedih jika mengingat kehidupan anaknya. Apa lagi di bandingakan dengan kehidupannya dulu semasa gadis, selalu ada yang mengurusi. Papa dan mamanya memanjakannya, apa yang dia inginkan di berikan. Sekolah tinggi sampai S2 pun di lakukannya. Hidup semaunya dan bebas tanpa memikirkan kekurangan uang berbanding terbalik dengan anaknya.
Rasa penyesalan Mourin kini menghantuinya setiap saat, dia berharap menjadi ibu yang baik bagi Elana. Meski datangnya terlambat setelah sembilan tahun di penjara. Dan entah sampai kapan, karena setiap waktu penyakitnya semakin menggerogotinya.
"Mama kenapa menangis?" tanya Elana ikut sedih melihat Mourin terisak kecil.
"Mama minta maaf sama kamu, El. Mama belum jadi mama yang baik buat Elana." kata Mourin semakin terisak.
"Kok itu lagi sih yang mama ucapkan, El ngga apa-apa ma. Yang penting mama sehat dan bisa menemani El sampai kapanpun." kata Elana.
"Tapi kamu mau menemui papamu kan, nanti setelah lulus kuliah?" ucap Mourin sedih.
"Setelah El pikir, El kuliah di sini saja ma. Menemani mama sampai mama tua, El ngga akan cari papa lagi. Papa juga mungkin sudah lupa sama El." ucap Elana.
Mourin menatap Elana heran, kenapa pikirannya berubah lagi?
"Kenapa berubah lagi El? Bukankah bagus kuliah di luar negeri. Di sana kualitas pendidikan juga bagus, mama dukung kok El kuliah ke luar negeri." kata Mourin.
"Ngga ma, di sini juga bagus kok kualitas perguruan tingginya." kata Elana lagi.
Mourin diam, dia menghela nafas panjang. Selama dirinya masih kuat dan sehat. Dia akan berusaha mencari uang untuk Elana. Ijasah S2 yang dia punya juga entah kemana. Tapi dia akan mengaujukan proposal pada bank-bank swasta. Istilahnya dia menjual karya tulisnya berbentuk proposal pada bank swasta. Dia jamin akan terjual, meski tidak seberapa. Namun dia akan terus membuatnya beberapa proposal.
" Aku ganti baju dulu ya ma." kata Elana bangkit dari duduknya menuju kamarnya.
"Iya, ganti baju sana."
Elana pun meninggalkan Mourin yang duduk di jursi meja makan sambil menatap kepergian anaknya yang masuk ke dalam kamarnya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤