
Esok hari, Elana lebih pagi dia bangun dari pada Mourin. Segera dia kembali ke kamar ibunya itu, dia ingin melihat keadaan Mourin. Ternyata masih tertidur, Elana memegang tangan Mourin masih hangat.
Mata Mourin bergerak pelan lalu melebar, dia pun menatap Elana lalu tersenyum pada anaknya yang terlihat cemas padanya.
"Mama sudah bangun?" tanya Elana.
"Iya, mama harus bangun untuk melihat kamu sekarang." jawab Mourin lirih.
Suara Mourin terasa tercekat, Elana pun masih memegang tangan Mourin lalu menciumnya.
"Aku akan buat bubur untuk sarapan mama, apa mama ngga mau duduk di kursi makan?" tanya Elana.
"Ngga, mama di sini aja." jawab Mourin lemah.
"Baiklah ma, El ngga lama kok. Tolong mama jangan tidur lagi." ucap Elana bergetar.
Seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya, tapi dia belum juga pergi dari kamar Mourin.
"El, katanya mau buatkan mama bubur?" tanya Mourin terbata.
Elana menangis, dia kembali menggenggam tangan mamanya, sedikit adem. Tidak hangat lagi, dia menggenggam erat tangan Mourin dan mengelus pipi Mourin. Mata Mourin pun terbuka kembali, lalu tersenyum pada anaknya yang terlihat menangis.
"Ma, jangan tinggalin El ma. Hik hik hik." ucap Elana.
Dia merasa mamanya itu sudah tidak bernyawa, semakin erat pegangan tanga Elana pada telapak tangan Mourin, semakin dingin telapak tangan itu.
"Ma, bangun ma."
"El, maafkan mama. Mama tidak bisa jaa gaa El laa gii..." ucapa Mourin terbata seiring nafas yang terputus-putus.
"Ma, bertahan demi El ma. El hidup dengan siapa kalau bukan dengan mama, hik hik hik. Ma, mamaaa!" teriak Elana dengan kencang dan deraian air mata.
Perlahan kelopak mata Mourin terkatup rapat seiring dengan hembusan nafas terakhir. Elana kembali menjerit memanggil mamanya berkali-kali sambil mengguncangkan tubuh Mourin.
__ADS_1
"Mama! Jangan tinggalkan El, ma. Mama bangun, hik hik hik! El sama siapa lagi kalau bukan sama mama, ma!"
Suara raungan Elana memanggil Mourin terdengar sampai di luar. Ibu Mira yang mengontrak rumah Elana di sebelahnya kaget mendengar suara jeritang Elana. Dia tergopoh menuju rumah Elana dan mengetuk pintunya sambil memanggil Elana. Dia cemas Elana memanggil nama ibunya.
"Nak El, kamu tidak apa-apa?!" teriak ibu Mira di depan pintu.
Tak ada jawaban, yang ada suara tangisan Elana sambil memanggil nama mamanya.
"Nak El, buka pintunya nak?" kembali ibu Mira mengetuk pintu.
Karena masih pagi sekali dan Elana belum sempat keluar rumah, jadi pintu masih terkunci dari dalam.
Tak lama suara langkah kaki mendekat, pintu terbuka dan terlihat Elana yang menangis sedih. Dia menghampiri ibu Mira dan memeluknya.
"Bu, mama meninggal bu. Mama tinggalkan El, mama jahat tinggalkan El." teriak Elana di pelukan ibu Mira.
Ibu Mira tertegun, dia membalas pelukan Elana dengan erat, memberi ketenangan padanya. Dia kaget, Mourin yang sering mengobrol dengannya di sore hari kini telah meninggal. Selalu Mourin mengobrol sambil terbatuk, apakah karena penyakit batuknya itu sampai parah dan akhirnya meninggal?
"Sudah nak El, jangan sedih. Ada ibu di sini. Nanti ibu minta tolong sama tetangga untuk memgurus jenasah ibu Mourin. Nak El yang sabar ya.
"El, jangan bilang begitu. Mama El itu sangat sayang sama El. Berkali-kali mama El bilang kalau mama El itu tidak ingin meninggalkan El, tapi Tuhan berkehendak lain El. Nak El harus sabar ya, ada ibu Mira di sini. Ibu akan menemani nak El, jangan khawatir. Nilam juga suka main sama nak El kok." ucap ibu Mira memberi semangat pada Elana.
Elana pun mulai tenang, dia mengusap matanya yang masih saja keluar air matanya.
Setelah tenang, Elana dan ibh Mira masuk ke dalam kamar Mourin, di sana di ranjang kecil itu terbaring tubuh Mouring yang sudah memucat dan dingin. Elana mendekat di susul ibu Mira, keduanya berdiri di sisi ranjang.
Kembali Elana menangis, dia memegang tangan Mourin dan menciumnya.
"Mama tenang aja, El akan hidup bahagia. El akan kuliah tinggi, El akan berjuang sendiri demi mama yang selalu mengingatkan El jangan putus asa. El akan cari papa di sana, ma. Hik hik hik." ucap Elana kembali menangis.
Ibu Mira di samping Elana pun ikut menangis, betapa kuatnya anak seusia Elana sejak kecil di tinggal ibunya di penjara. Baru satu tahun lebih mereka hidup bahagia, kini harus di pisahkan kembali. Elana kembali sendiri, dia anak yang kuat. Anak yang tidak di pedulikan oleh teman-temannya kerana anak mantan narapidana, Dan kini, di tinggalkan lagi oleh ibunya. Sungguh malang sekali nasibmu, Elana." pikir ibu Mira dalam hati.
_
__ADS_1
Elana tidak ingin berlama-lama mendiamkan mamanya tidak segera di kebumikan. Tidak ada keluarga yang menunggu untuk melihat Mourin, jadi Elana meminta segera menguburkan ibunya itu di dekat makan kedua kakek neneknya. Dengan di iringi doa oleh pemuka agama dan doa para tetangga yang ikut mengiringi di pemakaman.
Elana tidak memberitahu Sandra kalau Mourin meninggal, dia juga tidak menghubungi Jhosua. Dia tidak ingin merepotkan kedua orang tua asuhnya dulu itu.
Tapi rupanya, Sandra dan Jhosua mengetahui dari tetangganya. Ya, ibu Mira memberitahu pada Sandra. Sebelum di kebumikan, ibu Mira ke butik Sandra. Karena dia pernah mengantar Mourin datang mengunjungi butik Sandra itu sebentar.
Dan di pemakaman itu pun prosesi doa-doa masih berlangsung, Sandra dan Jhosua mendekat pada Elana yang sedang berdiri tanpa menangis. Dia mendengarkan pemuka agama yang mendoakan ibunha. Sandra ingin memeluk Elana, dia benar-benar menyesal. Tangisnya pecah, namun dia belum memeluk Elana karena proses penguburan segera di lakukan oleh petugas.
Mereka menangis, Jhosua menangis menatap Elana yang begitu tegar. Tak ada tangisan Elana, dia benar-benar sedih juga salut pada Elana. Sedangkan Sandra menangis melihat jasad Mourin masuk ke dalam liang lahat dan di kubur dengan cepat oleh petugas.
"Mourin! Kenapa kamu menginggal begitu cepat." ucap Sandra dengan tangisannya.
Dia seperti kehilangan sosok Mourin yang berani dan angkuh, namun ceria. Tapi selama keluar dari penjara, sosok Mourin yang angkuh dan ceria tidak dia dapati lagi. Mourin yang bersahaja dan pendiam. Sandra benar-benar tidak tahu kalau Mourin mengidap penyakit parah.
"Mourin, maafkan aku. Maafkan aku, hik hik hik." Sandra menangis sejadinya di depan pusara Mourin yang baru saja selesai.
"Ma, sudah. Jangan begini." bisik suaminya Jhosua.
Dia menarik tubuh Sandra ke dalam pekukannya. Elana melihat adegan itu sebentar, lalu dia menatap lagi pusara ibunya dan menaburkan bungan di atasnya. Tak ada kata apa pun yang keluar dari mulut Elana, dia terus menaburi bunga di seluruh pusara itu.
Lalu Elana pun kembali diam, dan berucap singkat.
"Mama yang tenang di sana. Tuhan akan selalu menemani mama."
Setelah mengatakan seperti itu, Elana pun beranjak pergi. Dia memberi waktu untuk Sandra dan Jhosua melihat pusara ibunya.
Dia dengan para tetangga pergi meninggalkan pemakaman itu. Jhosua meilhat Elana pergi dengan tetangganya, dia ingin mengejar Elana. Tapi Sandra masih bersedih dan ingin berbicara di depan makam sahabatnya itu. Dengan sabar Jhosua mendampingi istrinya, nanti setelah selesai, dia dan istrinya ke rumah Elana.
\=> di episode ini, asli othor nangis terus nulisnya, mau berhenti tapi ngga enak,..😢😢🤭😅😅
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤