E L A N A

E L A N A
38. Cerita Elana


__ADS_3

Setelah melalui perdebatan lagi dengan adiknya, akhirnya Chiko mengalah untuk menuruti kemauan Celine pergi ke Moskow. Tujuanya ke Red Square yang terkenal itu. Mereka menuju ke Red Square meski Chiko terlihat kesal, namun dia pasrah saja ketika Celine dan Elana begitu akrab sekali. Sampai dia di abaikan oleh kedua gadis yang baru beberapa hari akrab.


Terlihat sekali Elana sangat menyukai Celine yang ceria, dia pun sering berceloteh ketika bicara dengan Celine. Dengan keceriaan Celine bisa membawa hal positif pada Elana.


Chiko yang selalu berjalan di belakang kedua gadis itu sesekali sering menatap Elana. Dia sungguh tertarik dengan Elana, banyak yang dia tangkap dalam pikirannya bahwa Elana itu sangat unik.


Dan ketika Elana menoleh padanya, Chiko membuang muka ke samping. Hatinya deg-degan ketika Elana seperti mengetahui kalau dia sering menatap Elana.


"Bang aku pengen buang air kecil deh." kata Celine.


"Ya udah sana ke kamar kecil." kata Chiko.


"Iya, tapi di mana?" tanya Celine lagi.


"Carilah di tempat lain, biasanya kan ada itu kamar kecil di sepanjang jalan ini. Itu memudahkan pengunjung untuk buang air kecil." kata Chiko.


"Temani aku dong, El." kata Celine.


"Udah, kamu cari sendiri aja. Tuh ada kamar kecil umum dekat dengan pos." kata Chiko memunjuk sebuah kamar kecil yang di sediakan secara dadakan di sana.


Celine pun cemberut, tapi akhirnya dia pergi juga sendiri ke kamar kecil itu. Sedangkan Chiko dan Elana duduk sambil menunggu Celine. Kembali Chiko menatap Elana dalam, entah kenapa dia sangat suka penampilan Elana saat ini.


Terlihat manis dan menggemaskan di matanya, dia pun tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja dia ingin memegang tangan Elana.


"Kamu suka jalan-jalan kesini?" tanya Chiko menutupi rasa gugupnya ketika Elana menatapnya kembali.


"Iya bang, suka. Tempatnya sangat indah." jawab Elana dengan senyuman di bibirnya.


"El, bisakah kita terus dekat seperti ini?" tanya Chiko seperti tidak sadar dengan ucapannya.


"Eh, kenapa bang?"


"Oh, ngga kok. Emm, kita bisa kan nanti jalan-jalan lagi seperti ini. Rasanya menyenangkan juga jalan denganmu." kata Chiko.


Elana tersenyum, dia malu Chiko selalu menatapnya seperti sedang mengaguminya. Elana bukan gadis polos jika masalah percintaan, tapi dia tidak berani jatuh cinta pada seorang laki-laki. Karena latar belakang masa lalunya yang sangat rumit.


"El, kamu tinggal dengan papamu. Apa mamamu juga ikut? Maaf kalau aku terlalu ingin tahu." kata Chiko.


"Mamaku meninggal bang, makanya aku ikut papa ke Rusia." jawab Elana terlihat sedih.

__ADS_1


Chiko merasa bersalah telah mengingatkan Elana pada ibunya.


"Maaf, pertanyaanku membuatmu sedih." kata Chiko menyesal.


"Ngga apa-apa bang, aku juga suka ingat mama sih. Tapi papa adalah keluargaku satu-satunya." kata Elana matanya menerawang jauh ke depan.


Ada kesedihan di matanya, Chiko tahu itu. Selain merasa kehilangan mamanya, Chiko merasa Elana mempunyai beban yang sangat besar.


"Jadi, kamu tinggal dengan papamu dan juga mama tirimu?" tanya Chiko lagi.


"Iya." jawab Elana berat dan menarik nafas panjang.


"Emm, jika kamu mau dan percaya padaku. Kamu bisa kok cerita tentang apa yang kamu alami yang mengganggu pikiranmu. Itu jika kamu percaya sama aku." kata Chiko.


Elana menatap Chiko, dia mencari ketulusan di mata laki-laki terpaut usia empat tahun. Lalu menarik nafas panjang lagi dan memandang ke depan jalanan.


"Aku bukannya ngga mau ceritan bang, tapi masalahku terlalu rumit. Aku tidak tahu harus percaya sama siapa."


"Aku bisa kok menyimpan rahasiamu."


"Kalau aku cerita tentang diriku dan mamaku, apa abang akan terus mau berteman denganku? Aku bukan gadis kebanyakan, yang seperti Celine. Temanku ngga banyak, rata-rata ketika mereka tahu siapa aku dan mamaku semua menjauh. Dan ...saat ini aku belum siap di jauhi oleh bang Iko dan Celine." kata Elana lirih dan berat.


Elana tiba-tiba tersenyum, tidak ada kecanggungan di antara dirinya dan Chiko. Baru kali ini dia dekat dengan seorang teman laki-laki, karena sewaktu di sekolah dulu teman perempuan saja dia tidak punya apa lagi teman laki-laki.


Dan dia rasanya senang jika Chiko mau dekat dengannya. Dia juga tidak merasa aneh ketika dekat dengan Chiko.


"Elana, apa kamu betah tinggal di sini?" tanya Chiko lagi mengalihkan rasa sedih Elana mengingat masa lalunya itu.


"Aku sedang berusaha betah bang, demi pendidikanku. Karena aku ingin menjadi desainer dan bisa membuat rancangan yang banyak di minati banyak orang." jawab Elana.


Chiko mendengarkan ucapan Elana dengan takjub, meski dia tidak nyaman tinggal dengan ibu tiri. Tapi Elana sangat tegar, dulu dia beruntung sekali mendapatkan seorang pengganti papanya yang sudah meninggal yang sangat menyayanginya dan Chila kakaknya tanpa membedakan dengan anak-anak lainnya.


Tapi Elana, sepertinya dia mempunyai cerita yang berbeda dengan dirinya. Bahkan berbanding terbalik, hidup dengan orang yang tidak menyayangi kita itu sangat tidak enak. Tapi Elana begitu tabah dan menerima sekali, tapi memang papanya satu-satunya keluarganya


Mau tidak mau Elana harus ikut dengan keluarga baru papanya.


"Emm, aku dengar kamu di sekolah jadi juara terus ya?" tanya Chiko.


"Ngga juga bang, aku ngga pernah dapat beasiswa. Jadi aku siswa biasa saja dulunya." kata Elana menutupi sekolahnya yang melakuka kecurangan demi menyenangkan seorang donatur.

__ADS_1


"Biasanya jika orang kutu buku itu pintar, aku tidak percaya kamu siswa biasa aja." kata Chiko.


"Kalau aku anak pintar, sejak dulu banyak temanku. Tapi nyatanya teman-temanku dulu tidak mau dekat denganku, apa lagi bicara denganku. Jadi penilaian mereka itu ya memang begitu." ucap Elana.


Chiko diam, jadi benar. Elana mempunyai banyak sekali masa lalu yang menyakitkan dengan beberapa seseorang. Dari raut wajahnya sendiri dia tampak pendiam dan merasa sendiri. Tapi ada keceriaan di wajahnya ketika dia jalan dengan Celine, seperti menemukan hal baru.


"Emm, Elana ...?" ucapan Chiko tertahan, dia menatap Elana begitu dalam.


Tangannya rasanya gatal sekali ingin membelai pipi Elana yang lembut itu. Tanpa sadar tangan Chiko terangkat ke wajah Elana, membuat Elana heran apa yang akan di lakukan Chiko.


"Bang Iko ...."


Brug!


Celine duduk dengan menghempaskan pantatnya di bangku panjang yang mereka duduki. Chiko kaget dan menarik tangannya lagi, dia menoleh ke arah Celine. Begitu pun Elana.


"Kamu udah selesai?" tanya Elana.


"Ya, tadi ngantri banget di sana." jawab Celine.


"Mua kita lanjutkan bang?" tanya Elana pada Chiko.


"Oh, eh ya terserah kalian. Aku ikut kalian aja." ucap Chiko gugup.


Elana tersenyum, dia menatap Celine yang masih merapikan rambutnya.


"Celine, kita maj kemana lagi?" tanya Elana.


"Emm, ke tembok pertahanan Kremlin, dari Red Square kan dekat. Yuk, nanti kita foto-foto di sana." jawab Celine.


"Ayo!"


Mereka pun bangkit dari duduknya, sedangkan Chiko dengan malas mengikuti kemana mereka melangkah. Rasa penasaran tentang Elana membuatnya semakin ingin bertanya terus, bagaimana kehidupan Elana sebelumnya.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2