E L A N A

E L A N A
65. Melawan


__ADS_3

Setelah penjebakan menaruh botol minuman beralkohol tidak berhasil, Angela kembali berulah lagi. Dia selalu berdebat hal sepele dengan Elana, apa pun itu yang bisa membuat Evan semakin kesal pada Elana.


Elana masih sabar menghadapi Angela selama papanya Evan percaya padanya. Dia bertahan di rumah itu karena papanya berjanji akan melindunginya kecuali berbohong. Dan Elana sampai sekarang tidak pernah berbohong.


Lelah sebenarnya, namun Chiko selalu memberinya semangat pada Elana agar bersabar lebih dulu baru setelah dia merasa keterlaluan Angela padanya, maka bertindaklah lebih cepat agar tidak di tindas lagi.


"Aku lelah bang, hidup di rumah itu." keluh Elana ketika mereka berdua sedang duduk di sebuah taman.


Chiko sebenarnya kasihan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Yang dia lakukan hanya mendengarkan cerita Elana dan memberinya semangat.


"Kamu sabar ya, nanti setelah kuliahku selesai aku akan bawa kamu pulang ke Indonesia dan meminta restu sama papa dan mama untuk menikahimu Elana." kata Chiko.


Elana menatap Chiko tidak percaya, matanya berbinar mendengar ucapan Chiko itu.


"Benarkah itu bang? Abang akan mengenalkan aku sama keluarga abang di Indonesia?" tanya Elana.


"Aku serius Elana, tahun ini aku menyelesaikan kuliahku. Dan liburan nanti aku akan bawa kamu pulang untuk menemui papa dan papa." kata Chiko.


Tangannya membelai pipi Elana yang lembut dan putih. Elana pun mengecup tangan Chiko lalu tersenyum senang pada kekasih hatinya itu.


"Aku percaya sama abang, aku akan menunggu itu bang." kata Elana dengan perasaan bahagia.


Dia memeluk Chiko dan kedua tangannya mendekap pinggang Chiko. Chiko juga membelai rambut Elana yang mulai panjang. Dia benar-benar sayang dan cinta pada Elana, niat dalam hatinya melindungi gadis manis itu sangat besar.


Meski dia juga ragu apakah nanti papa dan mamanya akan menerima Elana sebagai kekasihnya apa lagi nanti jadi istrinya.


Dia ragu karena latar belakang Elana anak orang yang pernah menculik anaknya. Namun dia akan meyakinkan Arga dan Anita kalau dia memang tulus mencintai Elana.


_


Selama tiga hari Evan pergi ke luar kota, ada pekerjaan yang harus dia tangani di bagian keuangan di cabang perusahaan milik mertuanya itu. Meski kedua mertuanya tidak bisa memegang perusahaan, tapi jabatan yang di pegang Evan itu sangat penting, direktur keuangan. Segala macam keuangan keluar masuknya ada pada Evan.


Dan sekarang Evan sedang di luar Moscow untuk mengatur lagi pembukuan di cabang perusahaan itu. Dan malam ini sebenarnya masih berada di luar kota.


Malam ini Elana sendiri, tanpa Evan di rumahnya. Dia kembali belajar seperti biasa. Kebiasaan sewaktu sekolah setiap malam belajar, meskipun hanya sekedar membaca buku saja. Karena pelajaran ilmu desain tidak terlalu rumit memurutnya.

__ADS_1


Dia lebih banyak melihat video pembuatan beberapa kerajinan tangan di laptop atau membuat pernak perniknya. Tapi kali ini Elana sedang mengetik, membuat prese


Kembali Angela masuk ke kamar Elana tanpa permisi. Melihat Elana yang sedang fokus melihat video di laptop, mencibirnya lalu mendekat. Dia melongok sebentar di laptop Elana dan tangannya dengan iseng atau memang sengaja memencet tombol delete.


Tentu saja Elana kaget, dia menatap Angela tajam, rasa kesalnya memuncak. Wajah Elana memerah menahan kesal. Dia pun menarik nafas kasar, dia ingat tidak perlu meladeni Angela.


Tapi rupanya Angela tidak puas melihat Elana hanya kesal saja. Dia pun menuangkan air ke laptop Elana, senyumnya mengembang dengan senang. Dan sebentar lagi Elana akan marah padanya.


Angela sengaja membuat ulah lagi, karena di rumah memang Evan sedang di luar kota. Jadi Angela berani bertindak lebih brutal.


Dan pancingannya itu berhasil, dia pun kena amukan Elana. Tapi dia juga kaget Elana lebih agresif.


Elana pun mendorong Angela hingga tersungkur. Matanya tajam menatap Angela.


"Kamu selalu membuat ulah denganku. Aku sabar menghadapi semua kelakuanmu. Tapi kali ini aku tidak bisa di tindas lagi!" teriak Elana.


Angela pun memegangi pundaknya yang lesakitan, merasa kesal karena di luar dugaannya Angela pun mendorong Elana dan terjatuh di ranjangnya.


Kedaunya pun kini saling menerjang, menghindar bahkan melindungi diri dari tendangan dan pukulan.


Niat ingin memisahkan keduanya, Ana malah terkena pukulan Elana dengan keras di pipinya.


"Auw!"


teriak Ana sambil memegangi pipinya, dia meringis dan menatap tajam pada Elana.


Angela dan Elana menghentikan aksi gulatnya dan melihat Ana. Angela dengan cepat menghampiri kakaknya dan memegang bagian pipinya.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Angela.


Dia juga wajahnya penuh dengan pukulan Elana. Dia menarik pundak kakaknya yang masih menatap Elana dengan tajam.


Ana pun mendekat pada Elana yang masih diam menatap mama tirinya itu. Dan dengaj cepat Ana menampar pipi Elana sebanyak dua kali. Tentu saja Elana kaget dan kesakitan.


Tapi dia kembali diam dan menunduk, perih di pipinya bekas tamparan Ana serta cakaran Angela.

__ADS_1


"Kamu datang ke rumahku hanya untuk melawan, hah?!" kata Ana dengan keras.


"Kamu manusia tidak pernah di didik sopan santun, tidak pernah di asuh dengan baik bahkan kamu berani melawanku dan kamu bertengkar dengan Angela! Siapa kamu?! Kamu anak yang terlahir dari rahim seorang pemabuk, pendosa dan dia pantas mati karena malu memilik anak sepertimu! Pergi kamu dari rumahku!" teriak Ana pada Elana.


Elana masih diam, dia tidak bisa menangis dengan cacian yang begitu lengkap baginya dari Ana. Wajah Elana pun mendongak, dia menatap Ana dengan wajah sinis.


"Sejak dulu aku tidak pernah menganggapmu seorang ibu. Kamu perempuan perebut suami orang. Tingkahmu yang di anggap terhormat justru membuatku muak dan seperti perempuan penggoda!" teriak Elana.


"Elana!!!"


Elana menatap ke arah suara yang ada di depan pintu, dia menatap Evan yang baru saja datang itu. Masih menenteng tasnya.


Evan pun mendekat pada anaknya itu, dia menatap tajam pada Elana. Dan satu tamparan keras mendarat di pipi Elana.


Darah segar keluar dari bibir Elana, hingga wajah Elana menunduk. Tak ada tangisan, dan entah kenapa dia tidak merasakan sakit apa pun di hatinya bahkan dia tidak merasakan sakit di pipinya.


"Kamu papa bawa agar jadi anak yang lebih baik. Di kuliahkan agar papa bangga padamu. Tapi sekarang papa lihat kamu bukan seperti anak papa Elana. Papa malu mempunyai anak seperti kamu, suka melawan orang tua!" kata Evan masih menatap Elana tajam dengan penuh amarah.


Dan Elana pun tidak bergeming, dia tahu papanya tidak akan membelanya. Tidak akan bertanya kenapa dia melakukan itu, tidak akan menengahi pertengkarannya dengan Angela.


"Besok papa akan urus pemulanganmu ke Indonesia. Dan selama dokumen kamu belum beres, sebaiknya kamu diam di kamar dan tidak boleh pergi dari kamarmu." kata Evan.


Dia lalu keluar dari kamar Elana, hatinya benar-benar marah pada Elana dengan ucapan Elana tadi tentang Ana istrinya. Di ikuti oleh Ana keluar kamarnya.


Sedangkan Angela menatap Elana dengan sinis, rencananya berhasil mengusir Elana dari rumah kakaknya.


"Selamat menikmati keterpurukanmu, Elana." ucap Angela,


Lalu dia pun keluar dengan senyum kemenangan mengbang di bibirnya. Elana hanya menatap kepergian ketiga orang itu dengan perasaan kosong.


_


_


_

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤


__ADS_2