
Selama persiapan pernikahan Chila, Elana berada di rumah Anita. Butik dia percayakan pada Rani, orang kepecayaannya di butik. Elana sangat senang sekali kakak kembar Chiko itu akhirnya menikah juga, meski banyak drama sebelum mereka kini akan di persatukan atas nama cinta dengan sebuah pernikahan.
"Elana, kamu yang lebih dulu mendapatkan bang Iko. Tapi kak Chila yang menikah lebih dulu." kata Celine.
"Ngga apa-apa, kupikir lebih baik memang kak Chila dulu." kata Elana.
"Hemm, ya sih. Benar juga, tapi bang Iko juga pengen cepat nikah tuh sama kamu." kata Celine lagi.
"Ya, kan syarat dari papamu harus bekerja dulu di kantornya kan. Jadi, aku juga tidak mengapa bang Iko kerja lebih dulu di kantor om Arga." kata Elana.
"Iya juga sih, tapi Antonio juga belum dapat pekerjaan. Dia udah melamar kak Chila." kata Ciline lagi.
"Kata bang Iko dia mau kerja di kota, katanya sepupunya mengajaknya bekerja jadi konsultan hukum di sana." kata Elana.
"Waah, gitu ya. Padahal di Rusia momy sama dadynya itu punya perkebunan apel di sana lho. Namanya cinta ya, semua di tinggalkan demi orang yang di cintai." kata Celine menerawang jauh.
"Kamu juga nanti akan merasakan apa yang aku dan bang Iko juga kak Chila dan Antonio rasakan, Celine." kata Elana.
"Ya, mungkin. Karena saat ini aku belum menemukan cinta sejatimu. Hik hil hil, di manakah cinta sejatiku berada." kata Celine merasakan kesedihannya sendiri akan kesendiriannya.
"Hahah, bersabarlah Celine. Nanti akan datang pada waktunya, atau mungkin nanti di pernikahan kak Chila dan Antonio dia datang cinta sejatimu." kata Elana menepuk punggung Celine.
Celine hanya tersenyum saja, dia lalu merapikan beberapa undangan untuk di bagikan pada beberapa teman Anita dan Arga, serta Chila juga. Sedangkan teman-teman kuliah Chila hanya beberapa saja yang di undang.
_
Selama persiapan pernikahan Chila, Antonio berada jauh di rumah saudaranya di kota. Mereka hanya bisa berkomunikasi melalui telepon saja, rasa rindu yang menggebu di rasakan Antonio karena Chila tidak di perbolehkan Anita untuk bertemu menjelang pernikahan.
Meski dulu dia menikah dengan Arga, Arga memaksa ingin bertemu dengannya. Malah di usir oleh ibu Yuni, ibu Anita. Dan akhirnya hanya melalui telepon saja mereka berbicara. Seperti kali ini, malam hari, Antonio menelepon Chila dengan mengeluhkan dirinya tidak boleh datang ke rumah dan bertemu Chila.
"Apakah seperti itu, mau menikah tidak boleh bertemu lebih dulu?" tanya Antonio.
"Ya, karena ada tradisi di sini. Kalau mau menikah selama satu bulan tidak boleh bertemu." kata Chila.
"Tapi aku baru tiga kali bertemu denganmu Chila sejak aku datang. Kenapa tidak boleh?"
"Karena memang nantinya akan lebih membahagiakan kalau bertemu di pernikahan kita Antonio, hanya sebentar. Satu minggu lagi kita bertemu dalam acara suci itu, apa kamu tidak tahu maksud dari semua itu?"
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya ingin bertemu kekasihku dan calon istriku."
"Ada makna di balik kenapa sebelum acara suci itu kita tidak boleh bertemu, karena rasa rindu yang ada selama tidak bertemu akan terasa sekali. Kita bisa mencurahkan segalanya dan ... em ..."
"Apa?"
"Nanti kamu tahu sendiri." kata Chila.
Dia malu mengatakannya, kalau nanti bertemu akan terasa indah malam pertamanya setelah pesta karema lama tidak bertemu. Rasa rindu yang dalam akan menambah kebahagiaan. Begitu kira-kira yang di pikiran Chila dia membayangkan jika bertemu Antonio dan pertemuan itu akan membuatnya bahagia.
"Ck, mana Chiko selalu menjagamu agar tidak bisa bertemu denganku. Apa-apaan itu?" keluh Antonio.
"Bersabarlah, bukankah kamu bersabar untuk bertemu denganku dulu sebelum kamu berangkat?"
"Ya, tapi itu aku menahannya agar bisa mendapatkan restu dari adik konyolmu."
"Dia juga sahabatmu, lagi pula jangan bicarakan itu lagi. Chiko seperti itu karena untuk demi kebaikan kita." kata Chila memberitahu Antonio agar dia tidak selalu menyalahkan Chiko.
Walau bagaimana pun, Chiko adiknya. Jika selalu di persalahkan, Chila tetap saja tidak suka. Meski itu Antonio, pacarnya. Chila diam, dia tidak lagi bicara karena sedikit kesal pada Antonio. Namun dia sadar, dia menghela nafas panjang. Tidak boleh bertengkar sebelum menikah, inilah tantangannya ketika mau menikah berbicara atau bertemu dengan calon pasangan, maka akan timbul pertengkaran.
Kemudian Chila pun kembali tersenyum, dia lalu bertanya lagi pada Antonio. Namun, Antonio diam saja. Entah apa yang di pikirkan laki-laki itu.
"Maafkan aku cantik, aku selalu menyalahkan adikmu itu. Maaf, aku lupa kalian saudara kembar. Tidak seharusnya aku terus menyalahkan dia, sekali lagi aku minta maaf cantik." kata Antonio dengan rasa penyesalannya.
"Ya, maaf juga kalau aku kesal sama kamu Antonio. Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang?"
"Meneleponmu. Apa kamu tidak tahu? Atau kamu sedang menelepon selingkuhanmu?"
"Ya, aku sedang menelepon selingkuhanku. Kamu puas?!"
"Hahaha, cantik. Kamu marah seperti itu aku jadi takut. Di mana kekasihmu itu, kenapa kamu selingkuh?"
"Ck, dia marah karena tidak boleh bertemu denganku. Jadi aku lebih baik selimgkuh denganmu."
"Jangan selingkuh, aku tidak bisa di selingkuhi." kalimat Antonio seperti serius, membuat Chila heran.
"Hei, siapa yang mengajak selingkuh?"
__ADS_1
"Chila, maaf. Aku bercanda kelewatan ya, tapi aku jujur kalau aku tidak suka di selingkuhi."
"Aku tahu, dan aku pun begitu Antonio. Tidak ada orang yang suka di selingkuhi, kamu tahu cerita mamaku?"
"Ya, sedikit dari adikmu. Aku tahu kenapa dia begitu menjagamu, karena dia tidak mau kamu seperti mamamu yang di selingkuhi dan akhirnya kalian berpisah. Maaf cantik, aku tahu itu dari Chiko karena aku mendesak dia kenapa dia begitu marah kamu menjadi kekasihku." kata Antonio lagi.
Chila diam, dia tahu dan sebelum Chiko mengatakannnya juga dia tahu apa alasan adiknya itu begitu kekeh tidak menerima Antonio. Mungkin rasa trauma waktu kecil, di ceritakan pada Anita karena papanya dulu selingkuh dan menikah lagi. Meski waktu itu dia dan Chiko tidak mengerti, seiring berjalannya waktu.
Chiko memahami kenapa Anita benar-benar tidak mau kembali pada Rendi, sewaktu Rendi minta kembali. Dan sialnya ketika liburan itu, Anita justru di pukul di depan kedua anak kembarnya. Membuat mereka takut dan tidak ingin bertemu dengan Rendi, dari dana cerita Anita mengalir tentang perselingkuhan papanya. Walau Anita mengingatkan dan menasehati tidak boleh dendam. Sampai pada akhirnya Rendi meninggal.
"Chila, cantikku. Kamu harus percaya sama aku, kalau aku sangat mencintaimu dan tidak akan menyakitimu, aku janji." kata Antonio.
"Ya Antonio, aku percaya. Kamu sekarang mantan playboy yang bertobat?"
"Hahah, semua orang ingin hidup lebih baik cantik. Aku pun begitu, tapi tahukah kamu? Segala apa yang aku jalani dulu tidak ada yang membahagiakanku, baru setelah bertemu denganmu aku merasakan punya hidup lebih bersemangat selain kuliah. Aku bersemangat ketika kuliah, bertemu dengan adikmu dan berdiskusi dengannya itu sangat menyenangkan. Dan aku bertemu kakaknya, aku tambah bersemangat dan lebih bahagia."
"Semua playboy pasti berkata manis, Antonio. Kurasa kamu sedang merayuku."
"Hahah, tidak cantik. Sungguh, aku mencintaimu."
"Ya, aku tahu itu. Hwuuaaamm, Antonio, aku mengantuk. Apa kamu juga sudah mengantuk?"
"Oh, kamu sudah mengantuk?"
"Ya, aku ingin tidur."
"Sayang sekali, ya sudah. kamu istirahat saja, tidur yang nyenak. Selamat malam cantik."
"Malam Antonio."
Sambungan telepon pun terputus, kini Chila dapat berbaring dengan telentang. Memikirkan apa yang di katakan Antonio, senyumnya pun mengembang. Setelah akhirnya kini dia pun memejamkan matanya karena rasa kantuknya yang melanda matanya.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤