
Elana masuk ke dalam kamarnya yang dulu pernah di tempatinya. Dia menatap sekeliling kamar itu, masih sama seperti dulu. Hanya beda dari warna catnya saja.
Dia duduk di tepi ranjangnya, dan menghela nafas panjang. Ada rasa rindu pada ibunya, beralih lagi dia memikirkan kekasihnya.
"Kamu tidak mencariku bang?" ucap Elana lirih.
Tiba-tiba dia sedih dan menangis, rasa rindu oada Chiko dan juga marah karena kekasihnya itu tidak segera mencarinya.
"Apa bang Iko melupakanku? Apa Bang Iko sudah tidak mencintaiku lagi? Hik hik hik ...."
Elana menangis dalam diamnya, dia berbaring dan meringkuk di ranjangnya itu. Menangis karena Chiko tidak segera mencarinya, ada rasa marah dan juga ingin melupakan laki-laki itu. Namun tidak bisa.
"Apakah aku harus melupakanmu bang?" gumam Elana di sela-sela tangisnya.
Ingatan pada Chiko ketika jalan-jalan di benteng Kremlin, sewaktu di festival di sana semua melintas satu persatu bagai melodi drama yang indah. Elana tersenyum mengingat itu, namun dia kembali menangis saat dia di usir dan di perlakukan kasar serta di fitnah oleh orang tua serta adik ipar dari Evan.
Dia ingat mengirim pesan pada Celine tidak juga ada kabar sampai sekarang, dan ponselnyapun di ambil oleh Evan. Entah itu ada balasan dari Celine atau Chiko menghubunginya saat itu, namun sampai dia pulang ke Indonesia tidak ada Chiko mau pun Celine mencarinya ke rumah.
"Aku harus melupakanmu bang, meski sangat sulit. Mungkin janjimu tidak pernah akan kamu tepati untuk menikah denganku, hik hik hik."
Elana masih menangis, dia terus saja mengusap air matanya. Rasa sedih dan kecewa serta marah dalam hatinya berkumpul menjadi satu di hatinya.
Tangisan Elana semakin menjadi ketika rasa rindu pada ibunya kembali menyeruak.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Elana di ketuk dari luar, Elana melihat ke arah pintu. Di hapusnya air matanya yang masih meleleh, dia pun duduk mencoba menenangkan hatinya yang sedih karena ingat peristiwa yang dia alami.
Tok tok tok
"Kakak El, tante boleh masuk?" tanya Sandra di balik pintu itu.
Setelah meraga tenang, Elana mendekat ke arah pintu kamar dan membukanya. Dia melihat Sandra tersenyum padanya lalu masuk ke dalam kamar Elana itu.
"Ada apa tante?" tanya Elana mengikuti Sandra dari belakang dan duduk di ranjangnya.
"Tante mau bicara sama kakak, emm tentang tawaran om Jhosua waktu di mobil." kata Sandra.
__ADS_1
"Yang kerja di butik itu tante?" tanya Elana.
"Iya, tante punya butik baru, tapi memang tempatnya agak jauh dari rumah tante. Di sana belum sempat tante rapikan di beresi karena di butik yang lama juga tante banyak banget pesanan. Nah, memang rencananya tante mau cari orang untuk mempercayakan butik itu pada orang lain. Tapi untungnya belum tante cari orangnya. Berhubung kakak kuliah di jurusan desainer, bisa kan kakak yang mengurus butik itu?" kata Sandra panjang lebar.
Elana diam, dia sejak di mobil tadi juga berpikir mau bekerja di mana. Sedangkan ijasah kampus mana bisa keluar kareba dia keluar dari kampus itu. Entah mau di teruskan atau tidak.
"Kak, Mau ya? Tante sayang kalau mencari orang lain yang mengurus tempat itu. Ya, walaupun memang ngga besar sih. Tapi itu sepertinya cocok deh kalau di kelola sama kakak El. Nanti terserah kakak El mau konsep seperti apa baju-baju yang di buat di sana. Semua barang dan bahan tante sediakan di sana." kata Sandra lagi.
"Apa nanti saya harus merancang baju tante?" tanya Elana.
"Iya, kakak boleh buat rancangan baju. Nanti tante lihat rancangan kakak, kalau cocok sesuai konsep yang kakak inginkan bisa kok di kerjakan." kata Sandra lagi.
"Boleh tante, tapi besok El boleh ke makam mama kan tante?" tanya Elana.
"Ya ampun kak, kenapa kakak harus izin tante dulu kalau mau ke makam mama? Ya terserah kakak aja, tante ngga mau menghalangi kak El. Kakak pikir untuk pergi ke butik harus besok?"
"Hehe, maaf tante kalau El berpikir begitu."
"Kak, tante sekarang menyesaaal banget waktu dulu marah dan kesal sama kakak. Sekarang terserah kak El mau melakukan apa, dan saat ini kakak istirahat dulu. Om Jhosua sudah menceritakan semuanya tentang kakak sewaktu di Rusia. Maafkan tante Sandra ya kak El?" ucap Sandra dengan sedih dan menyesal.
"Ngga apa-apa kok tante. Kalau begitu besok El mau ke makam mama sebentar aja, nanti bisa kok sepulang dari makam mama El ikut tante ke butik." kata Elana.
"Iya tante."
"Dan sekarang istirahat aja dulu, nanti jam tujuh keluar ya untuk makan malam. Tante tunggu ya, jangan sampai ngga makan." ucap Sandra.
"Iya tante, terima kasih." ucap Elana.
"Ya udah, tante keluar dulu. Om Jho pasti nyari tante."
Sandra mencium kening Elana dan tersenyum, dia benar-benar bahagia Elana bisa kembali lagi ke rumahnya. Kemudian dia pergi dari kamar Elana, sedangkan Elana menatap kepergian Sandra dan tersenyum tipis.
Dia merasakan Sandra memang berbeda dari dulu pernah melihatnya. Elana senang, namun demikian dia tetap akan hidup mandiri lagi, hidup sendiri lagi di kotsan atau kembali ke rumahnya yang dulu.
_
Sesuai dengan pembicaraan tadi malam, setelah pulang dari makam Mourin Elana pergi ke butik Sandra yang dulu. Sudah lama Elana tidak pergi ke butik Sandra itu, dia tidak tahu perkembangan butik Sandra sekarang.
__ADS_1
Dan benar saja, Elana terkejut dengan butik Sandra yang semakin besar tempatnya. Bahkan bisa lantai dua. Luas parkirannya juga lumayan besar. Elana masuk ke dalam butik, menanyakan di mana kantor Sandra. Meski dulu dia tahu, tapi siapa tahu ruang kantornya pindah tempat.
"Ruang kantor bu Sandra di mana ya mbak?" tanya Elana pada karyawan di sana.
"Di lantai dua mbak, naik aja. Nanti juga terlihat tulisan ruang bu Sandra, di situ kantornya." jawab karyawan tersebut.
"Oh ya, terima kasih mbak."
"Oh ya mbak, apa mbak mau melamar pekerjaan di butik ini?" tanya karyawan itu.
"Iya mbak, mau jadi karyawan dari bu Sandra." jawab Elana.
Dia lalu pergi meninggalkan karyawan yang masih diam di tempatnya. Elana naik tangga yang tadi di tunjuk oleh karyawan. Dia melihat memang ada pintu bertuliskan ruang bu Sandra, dia pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok tok tok
"Masuk."
Elana menarik handle pintunya dan masuk ke dalam, dia melihat Sandra sedang membuat sesuatu di kertas gambar. Mungkin dia membuat pola rancangan pelanggannya.
Elana duduk di depan meja Sandra dan memperhatikan apa yang di lakukan oleh Sandra.
"Nanti kakak El membuat sketsa baju seperti ini, tinggal kakak mau fokus ke baju apa. Tapi kalau ada pelanggan yang meminta, bisa kakak buatkan untuk pelanggan sesuai arahan yang di minta." kata Sandra menunjukkan sketsa yang dia buat.
Elana takjub apa yang di buat Sandra, memang sejak dulu dia ingin membuat rancangan baju sendiri untuk di jual dan di toko-toko.
"Aku mau merancang baju anak-anak boleh tante?" tanya Elana.
Sandra menatap Elana, lalu tersenyum padanya.
"Itu terserah kakak, mau fokus ke baju anak-anak atau dewas, remaja. Tapi saran tante sih mending baju remaja, karena kakak juga masih termasuk remaja. Jadi kembangkan imajinasi kakak tentang fashion, tuangkan ke pikiran dan sketsa gambar nantinya." kata Sandra memberi saran.
Elana tampak bersemangat, dia memang ingin menekuni dunia fashion. Dan mungkin ini saatnya dia harus bangkit dan menunjukkan siapa dirinya. Jika sudah sukses nanti, dia akan hidup mandiri dan membuat butik sendiri suatu saat nanti.
_
_
__ADS_1
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤