
Celine dan Chiko segera naik motornya, mereka cepat pergi dari rumah Evan. Sedangkan Evan segera masuk ke dalam rumahnya, rasa kesalnya kini berakhir setelah dia bertemu dengan istrinya Ana.
Dalam perjalanan, Chiko memikirkan Elana terus. Hingga beberapa kali motornya hampir menabrak kendaraan lain. Celine di belakang pun mengingatkannya beberapa kali.
"Bang, hati-hati jalannya. Tenangkan pikiran abang." kata Celine menepuk pundak Chiko.
"Abang bingung dek, apa abang harus pulang segera?" tanya Chiko.
"Sebaiknya kita bicarakan di rumah, kalau di jalan ngga tenang. Abang jalan aja hampir menabrak berapa kali kendaraan lain." kata Celine.
"Maaf dek, abang kepikiran terus Elana. Bagaimana kabar dia di sana, di mana tempat tinggalnya. Abang takut dia jadi putus asa karena ulah papanya." kata Chiko.
Celine diam, dia juga takut Elana berbuat di luar dugaan. Tapi dia yakin Elana itu gadis kuat dan tidak berpikir cetek. Dia gadis mandiri dan berpikiran maju, meski pemikiran tentang hidupnya tidak pernah dia gambarkan seperti cerita-ceritanya mengenai perkuliahan.
Tak lama akhirnya Chiko sampai juga di rumahnya. Dia langsung memarkirkan motornya dan segera turun, dia belum melihat alamat rumah Elana yang di berikan oleh Evan pada Celine.
Celine segera masuk rumah setelah membuka kuncinya, di susul Chiko langsung masuk rumah. Dia langsung ke kamarnya, mengganti bajunya dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Karena sejak di rumah Evan tadi berasa ingin buang air kecil.
Celine juga masuk kamarnya, dia ingin mandi lebih dulu sebelum memasak dan juga bicara dengan Chiko.
Lama keduanya sibuk dengan hajatnya masing-masing. Celine pun segera memasak untuk makan malam, dia hanya membuat masakan praktis saja. Membuat mie goreng yang di kirim dari negaranya tercinta oleh Anita.
Setiap bulan Anita dan Arga mengirim mie instan dan juga beras sekedarnya untuk makanan kedua anaknya jika mereka kangen masakan kampungnya di Indonesia.
"Bang, makan dulu nih." panggil Celine.
Dia merapikan meja makan dan menata masakan yabg audah dia buat untuknya dan Chiko.
Chiko pun mendekat, dia melihat menu makan malam hari ini di meja makan.
"Buat mie goreng dek?" tanya Chiko.
__ADS_1
"Iya bang, ngga sempat buat makanan lain. Ngga apa-apa kan?" tanya Celine.
"Ngga apa-apa, memang aku lagi ngga selera makan." ucap Chiko lagi.
Dia duduk di kursi dan segera mengambil mie goreng dan menyantapnya dengan pelan. Meski makan dengan lahap karena makan mie, tapi pikirannya pada Elana terus.
Dia sampai tersedak dua kali dan Celine memberikan minuman pada Chiko.
"Bang, hati-hati makannya." kata Celine.
"Abang udah makannya, udah kenyang." kata Chiko.
Celine melihat piring berisi mie yang sisa sedikit lagi.
"Tanggung bang, dua suap lagi itu. Kan sayang kalau ngga di makan." kata Celine.
"Tapi aku udah kenyang dek."
Chiko menghela nafas panjang, dia pun akhirnya menurut, dua kali suapan mie goreng itu habis tak tersisa. Dia meletakkan sendoknya dan menatap adiknya. Celine tersenyum senang, dia menyodorkan minuman pada Chiko.
"Udah kan, habis mienya." katq Chiko menenggak minumannya.
"Heheh, harusnya abang makan ngga usah di ceramahi dulu baru menghabiskannya. Kayak anak kecil aja."
"Ish, ya udah jangan bicara lagi soal makanan. Terus kita memcari Elana bagaimana?" tanya Chiko.
Celine diam, dia tampak berpikir bagaimana rencana selanjutnya.
"Abang minggu depan jadi magang di Moscow?" tanya Celine.
"Iya, abang bingung. Abang pengen pulang dan mencari Elana, tapi masa harus ninggalin tugas sih. Abang pengen cepat selesai kuliah biar bisa menikahi Elana." kata Chiko.
__ADS_1
Celine tertegun, sejauh itu pemikiran kakanya dengan Elana? Bukan sekedar rasa kasihan, tapi lebih pada perasaan yang dalan pada Elana. Dia juga tidak mempermasalahkan siapa Elana. Bahkan rasa marah dan benci pada ibunya Mourin terhapus dengan perasaan cinta yang dalam.
Ah, bang Iko. Dia laki-laki baru berinjak dewasa namun pemikirannya jauh ke depan. Memikirkan nasib Elana bukan hanya karena rasa cinta saja. Tapi juga rasa ingin melindungi gadis itu, begitu pikir Celine.
"Bang, berapa bulan magang di firma hukum?" tanya Celine.
"Kemungikan tiga bulan, karena kan harus benar-benar menemukan kasus yang tidak biasa dan bagaimana cara menyelesaikannya." jawab Chiko.
"Emm, tiga bulan ya? Lama ya." kata Celine.
"Ya makanya, abang bingung. Mau pulang nanti gimana tugas magangnya." ucap Chiko lirih.
"Apa pihak kampus mengizinkan jika tempat magang di pindahkan ke Indonensia bang? Ya abang bisa magang di kantor papa, sekalian mencari Elana di sana." kata Celine mengusulkan.
Chiko terdiam, dia menatap adiknya. Ternyata ide Celine bisa di coba juga.
"Benar juga dek. Ya udah, besok abang ke kampus dan minta di pindahkan ke firma hukum di sana. Kebetulan kantor firma hukum papa kan terkenal dan terbesar, sudah lama juga. Pastinya surat izin bisa mudah di dapat." kata Chiko dengan wajah berbinar.
"Tapi harus menghubungi papa bang, bilang abang mau magang di kantor papa selama tiga bulan. Agar papa bisa memberikan izin dan bisa kirim suratnya melalui email." kata Celine.
"Kalau papa gampang dek, yang penting pihak kampus menyetujui kepindahan abang magang di kantor papa." kata Chiko lagi penuh semangat empat puluh lima.
"Ya udah, berarti besok abang ke kampus dan meminta izin pemindahan magang di tempat papa." kata Celine.
Pembicaraan itu begitu semangat bagi Chiko, dia berharap di kampus bisa menguzinkannya pindah tempat magang di Indonesia agar bisa mencari Elana di sana.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤