E L A N A

E L A N A
95. Meyakinkan Anita


__ADS_3

Anita merapikan semua piring dan gelas yang tadi di meja makan, di bantu bi Ina membereskan peralatan makan itu. Anita menyiapkan makan malam untuk anaknya, Chiko. Menaruhnya di nampan piring berisi nasi dan lauk pauk kesukaan Chiko, tak lupa juga minumannya juga.


Malam ini dia akan membicarakan masalah yang sudah hampir satu minggu ini antara dirinya dan Chiko terasa jauh. Hatinya benar-benar sepi dan sakit ketika anaknya semakin jauh darinya. Dia yang harus mengalah, menerima gadis itu dengan baik.


Mungkin saja pilihan Chiko itu benar, dan anaknya itu belum menceritakan tentang gadis itu seluruhnya. Yang dia tahu dulu, di adopsi oleh Sandra dan penyakit jantungnya di operasi di Singapura. Anita belum seluruhnya mengetahui gadis yang di cintai anaknya.


Anita membawa nampan berisi makanan dan minum air putih. Dia naik tangga dan menuju kamar Chiko yang paling ujung. Kamar dekat dengan dirinya itu milik Chila dan sebelahnya lagi Celine.


Sedangkan Cheril dan Karin masih satu kamar di bawah dengan dua ranjang. Angga dan Kevin menempati kamar yang dulu di gunakan ibu Ema dan ibu Yuni. Kamar itu di potong keduanya sehingga di tengah di buat kamar untuk Cheril dan Karin. Anita mengetuk pintu kamar Chiko dengan pelan


Tok tok tok


"Bang, mama boleh masuk ngga?" tanya Anita.


"Iya ma, boleh." kata Chiko.


Dia membuka pintu kamarnya, ada rasa bahagia ketika Anita mau masuk ke dalam kamarnya. Mudah-mudahan apa yang di harapkan jadi kenyataan, kalau mamanya mau menerima Elana.


"Mama bawakan makan malam untuk abang, jangan sampai ngga makan bang. Apa lagi abang sedang lembur kan." kata Anita masuk lebih dalam membawa nampan dan di letakkan di meja sebelah laptop Chiko yang masih menyala.


Chiko hanya diam saja, dia duduk di kursinya melihat menu makanan yang di bawa Anita. Anita duduk di kursi sebelahnya, melihat ke arah laptop yang masih menyala.


"Abang makan dulu dan habiskan." kata Anita.


"Iya ma, terima kasih." kata Chiko.


Chiko mengambil piring itu dan langsung melahapnya dengan cepat. Anita memperhatikan saja Chiko yang sedang makan dengan lahap. Dia senang, makanan yang di bawanya itu di makan.


"Bang, apa gadis itu gadis baik-baik?" tanya Anita.


Chiko menghentikan kunyahan di mulutnya, ada rasa senang Anita bertanya tentang Elana. Dia menatap ibunya itu dengan penuh harap, kalau Anita menerima Elana dengan senang hati.

__ADS_1


"Apa mama mau mengenal Elana dengan baik juga?" tanya Chiko dengan antusias.


Jika Anita mau mendengarkan apa yang dia ceritakan tentang Elana, dengan senang hati dia akan menceritakan tentang hidup Elana sejak kecil.


"Coba abang ceritakan tentang gadis itu, tapi abang habiskan dulu makanannya." jawab Anita.


Chiko mengangguk, dia lalu meneruskan makannya. Dengan lahap dan serba cepat dia habiskan makanan itu. Lalu dia minum sampai habis.


"Udah ma, apa mama siap mendengarkan cerita tentang kehidupan Elana?" tanya Chiko.


"Memang sepenting apa cerita tentang gadis itu bang?"


"Sangat penting ma, itu kenapa abang perlu melindunginya. Bukan hanya mencintainya, tapi juga ingin melindunginya dari apa pun." jawab Chiko.


"Baiklah, mama mau tahu bagaimana dengan kehidupan dia sejak kecil." kata Anita.


Lalu Chiko menceritakan tentang Elana sejak gadis itu di operasi sampai dia hidup dalam kesedihan di Rusia dan sampai kembali lagi ke Indonesia. Chiko bercerita dengan pelan dan penuh perhatian agar Anita mendengarkan dengan baik, agar Anita juga simpati pada kekasihnya itu.


"Mama jadi kasihan sama gadis itu, sejak kecil selalu hidupnya di rundung kemalangan. Mama tidak tahu kalau gadis itu masih hidup tumbuh dengan baik. Dia benar-benar gadis yang kuat dan tangguh." kata Anita dengan menarik nafas panjang.


"Iya ma, sampai sekarang papanya belum mencarinya lagi. Dia di usir gara-gara bertengkar dengan istrinya dan juga adik iparnya. Kedua orang itu yang membuat ulah, tapi yang di usir malah Elana. Abang sempat kehilangan dia ma selama enam bulan, makanya ketika tahu kata papanya Elana pulang ke Indonesia. Abang langsung minta pindah magang ke sini, agar abang bisa mencarinya. Jika gadis lain bisa saja bunuh diri dengan rangkaian hidup yang begitu pahit sejak kecil." kata Chiko.


"Kamu benar bang, tidak semua gadis seperti dia. Dia memang tangguh dan mandiri. Dan sekarang dia kembali lagi ke rumah Sandra? Yang dulu juga pernah mengusirnya?" tanya Anita.


"Iya ma, makanya abang beruntung bisa ketemu dia lagi. Awalnya kak Chila yang ketemu sama dia dulu, lalu abang di kasih tahu. Dan pagi harinya abang langsung ke sana, dan benar saja dia ada di butik itu." kata Chiko lagi dengan antusiasnya.


"Dia punya butik?"


"Tante Sandra yang memberikannya, dia bertemu dengan suami tante Sandra ketika sampai di bandara. Lalu di bawa ke rumah tante Sandra lagi, lalu dia di suruh menjaga butik di sana." jawab Chiko.


"Ooh, jadi dia bisa di selamatkan juga ya. Mungkin memang abang berjodoh dengan gadis itu bang. Mama cuma syok aja kemarin itu bang, maafkan mama. Mama tidak bermaksud menjauhi abang karena masalah ini." kata Anita menatap Chiko dengan senyumannya.

__ADS_1


Chiko mendekat, dia duduk bersimpuh di hadapan Anita. Lalu memeluknya erat, berharap Anita memang menerima gadis yang sangat di cintainya itu.


"Jadi mama mau menerima Elana?" tanya Chiko pelan.


Menatap mamanya dengan penuh harap. Anita bahkan tersenyum pada anak lelakinya itu, dan tak lama dia mengangguk.


"Benar ma? Mama merestui hubunganku dengan Elana?" tanya Chiko tidak percaya.


"Iya sayang, mama merestui kamu dengan gadia itu."


"Aah, mama. Terima kasih ma, terima kasih banyak mama mau membuka hati untuk Elana dan mau mendengarkan cerita gadis itu." kata Chiko memeluk ibunya itu.


"Tapi cerita abang tidak bohong kan? Mama takutnya abang membawa cerita bohong agar mama bisa merestui kamu dengan gadis itu." kata Anita.


Chiko melepas pelukannya, dia menatap mamanya lembut lalu tersenyum. Dia memegang tangan Anita dan menciumnya lama.


"Ma, abang ngga berani membohongi mama. Apa lagi ini demi hidup abang dan juga Elana nanti. Abang ingin seperti papa Arga, yang setia dan selalu mencintai mama sampai kapanpun. Mencintai mama meski ada aku dan kak Chila. Bukankah cinta itu harus menerima apa adanya pasangan kita? Dan juga melupakan masa lalu yang kita rasakan dulu serta tidak mengusiknya lagi." kata Chiko.


"Benar sayang, mama juga sama papa saling mencintai sewaktu sekolah dulu. Tapi mama tidak tahu kalau mama dulu mencintai papa, hingga papa pergi. Dan mama juga pergi le kota mencari kerja, sampai menikah dengan papa Rendi. Dan kami ternyata masih punya cinta sejati, lalu takdir mempertemukan kita. Sampai akhirnya menikah dan lahir adik-adik kalian." kata Anita.


"Nah, itu yang ingin abang tiru dari papa. Kesetiaan pada pasangan, abang sangat mencintai Elana dan melupakan masa lalu mamanya Elana. Lagi pula mamanya Elana sudah meninggal setelah satu tahun keluar dari penjara. Awalnya abang juga marah ma sama Elana, tapi karena besarnya cinta abang sama gadis itu. Maka abang memutuskan melupakan masa lalu itu." kata Chiko lagi.


Anita memeluk anaknya, dia tidak menyangka anak lelakinya itu sudah dewasa. Cinta yang membuatnya dewasa, dan gadis itu yang membuat anaknya benar-benar bisa membuat anaknya itu mempertahankannya di depan keluarganya. Terutama dirinya, dan tahapan berikutnya tentu saja suaminya. Apakah dia akan mudah menerima gadis itu dengan cerita yang sama?


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2