
Sampai siang hari Chiko masih di butik Elana, dia tadinya tidak mau pergi dari butik itu. Namun dia sadar kalau Elana sedang bekerja, dan akhirnya Chiko pamit untuk pulang. Karena siang ini Chila minta di antar pulang ke rumah dan sore harinya berangkat lagi ke Jogja.
"Aku pulang dulu ya, kasihan kak Chila di rumah sendirian." kata Chiko.
"Iya bang, oh ya. Kak Chila itu anak pertama keluargamu?" tanya Elana.
"Iya, dia kakakku yang paling dekat denganku." jawab Chiko.
"Oh, dia lembut ya kelihatannya."
"Ya, seperti mama. Mamaku sangat lembut dan penyayang." kata Chiko.
Elana diam, dia tidak bisa membanggakan mamanya seperti apa. Kemudian dia menunduk Chiko tahu Elana jadi sedih mendengar dirinya membanggakan ibunya.
"Jangan sedih, jika kita menikah nanti. Mamaku juga akan jadi mamamu juga." kata Chiko memeluk Elana.
"Iya. Kamu beruntung ya bang, punya keluarga utuh dan semua saling menyayangi. Meski papamu bukan papa kandung, tapi sepertinya sangat menyayangimu." kata Elana.
"Apa kamu tahu tentang keluargaku?"
"Celine pernah cerita tentang keluargamu, sepertinya kalian saling menyayangi." ucap Elana.
"Ya, karena kita memang keluarga saling menyayangi. Kamu juga pasti akan mereka sayang kok, percaya sama aku." kata Chiko.
"Oh ya, kak Chila itu kuliah di mana?"
"Di Jogja, ambil jurusan kedokteran." jawab Chiko.
Elana tampak berpikir, dia ingin bertemu dan kenalan sama kakak dari kekasihnya itu.
"Bang, apa aku boleh kenalan sama kakakmu?"
"Kamu mau kenal kak Chila?"
"Ya, siapa tahu kita nanti jadi tim penggosip. Heheh."
"Huh, memang ya kalau perempuan itu sukanya menggosip." kata Chiko menyentil hidung Elana pelan.
"Biasanya kalau perempuan itu sangat cepat akrab bang." kata Elana.
"Tapi kak Chila mau pulang siang ini, aku juga mengantarkannya pulang ke rumah. Dan sorenya harus berangkat ke Jogja." kata Chiko.
"Ya udah, sekarang aja bang. Sebelum pulang, aku pengen kenalan sama kak Chila." ucap Elana dengan semangat.
Chiko tersenyum, lalu mengangguk. Tapi dia ragu, bagaimana dengan butik Elana?
"Terus, butik kamu siapa yang jaga?"
"Ada dua pegawaiku bang, mereka bisa kok di andalkan jika aku belum berangkat."
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita ke rumah. Kak Chila tadi kirim pesan jangan lama-lama, tapi aku tidak bisa hanya sebentar denganmu. Rasanya aku ingin selalu bersamamu." kata Chiko mulai menggombal, pikir Elana.
"Hem, bang. Kita tidak bisa bersama lebih lama, abang juga harus menyelesaikan magangnya kan?"
"Ya, benar. Tapi kamu tahu kenapa aku pindah magang di sini?"
"Kenapa?"
"Karena aku ingin mencarimu, sudah dua bulan magang aku tidak juga menemuimu. Dan akhirnya aku menemukanmu, dua minggu lagi aku harus berangkat ke Rusia lagi. Menyerahkan laporan dari kasus yang aku tangani di sini." ucao Chiko.
"Jadi abang yakin aku pulang kesini?"
"Bukan, aku dan Celine cari ke rumah papamu. Dan dia bilang kamu pulang, jadi aku minta alamatmu di sini. Aku ke rumah alamat yang di berikan oleh papamu, tapi aku tidak juga menemukanmu. Aku hampir putus asa tidak juga menemukanmu Elana. Kak Chila memberiku semangat, dia bilang aku pasti menemukanmu." kata Chiko menceritakan dirinya setelah kehilangan Elana.
"Maaf bang, aku tidak tahu kalau abang sampai putus asa mencariku " kata Elana merasa bersalah.
"Tidak, jangan minta maaf. Aku memang pasti mencarimu, dan Tuhan terlalu baik padaku. Mempertemukan kita di sini." kata Chiko lagi.
Elana tersenyum, memang Tuhan tidak mengizinkan mereka berdua berjauhan. Begitu pikir Elana.
"Oh ya, apa kamu tahu kabar papamu sekarang?" tanya Chiko.
"Belum bang, dan aku tidak peduli dengan papaku itu. Dia sudah mengusirku, bahkan memulangkanku tanpa alasan. Aku sangat marah padanya, dia lebih menyayangi keluarga barunya di bandingkan aku. Aku benci papaku." kata Elana dengan wajah dingin.
Pembicaraan mereka terhenti ketika Chila menelepon adiknya.
"Kamu jadi ngga antar kakak pulang?"
"Iya, ini aku mau pulang ke rumah."
"Cepat dek, kakak belum beres-beres baju di rumah."
"Iya, sekalian juga ada yang ingin kenal kak Chila."
"Siapa?"
"Elana, aku mau bawa Elana ke rumah dan kenalan sama kakak."
"Ya udah, cepat pulang ya."
"Ya."
Klik!
"Kenapa bang?"
"Kak Chila mau cepat pulang, katanya belum beres-beres di rumah mamanya. Kan mau berangkat lagi ke Jogja."
"Ya udah, ayo kita berangkat aja. Aku jadi ngga enak sama kak Chila, gara-gara aku abang jadi lama pulangnya."
__ADS_1
"Hemm, ngga sayang. Kak Chila pasti ngerti kok."
Chiko dan Elana pun keluar dari ruangan Elana. Elana menuju ke bagian pengepakan dan mengatakan pada mbak Reni kalau dia akan pergi sebentar dengan kekasihnya.
Setelah mengatakan itu, dia lalu pergi dengan Chiko. Naik mobil Chiko dan segera pergi dari butiknya.
"Ini mobil abang?"
"Ya, di kasih sama papa."
"Aku membayangkan kita naik motor berdua seperti dulu di Rusia bang." kata Elana mengingat kenangan di sana.
"Nanti, setelah kita menikah aku akan membeli motor dan kita akan selalu pergi kemanapun naik motor. Biar terlihat mesra terus kan?"
"Heheh, iya bang. Rasanya nyaman aja kalau meluk bang Iko dari belakang."
"Aku juga senang di peluk kamu. Kalau kita menikah, kita akan berpelukan terus ya di kamar." kata Chiko sudah membayangkan yang akan datang.
Wajah Elana memerah karena malu, ternyata pikiran Chiko terlalu jauh. Dia hanya tersenyum malu.
_
"Kamu cantik dan manis ya, seperti apa yang Iko katakan." kata Chila pada Elana.
Mereka kini sedang duduk di ruang tamu, dan Elana hanya tersenyum saja karena malu.
"Kak Chila ternyata enak di ajak ngobrol ya, aku pikir kak Chila itu pendiam." kata Elana.
"Hahah, itu benar. Kalau di kampus aku di kenal gadis pendiam, tapi menurutku ngga juga. Kadang aku juga suka tertawa dan bercanda dengan teman-teman kampusku di sana." jawab Chila.
"Sudah praktek ya kak?"
"Belum, kan belum jadi dokter."
"Heheh, maksudnya magang jadi dokter di rumah sakit." ucap Elana.
"Koas namanya, saat ini memang sedang koas di rumah sakit di sana. Dan tiga hari aku libur, jadi lebih baik aku pulang. Aku jarang pulang, kebetulan Chiko juga ada di rumah dan magang di kantor oapa. Jadi aku pulang juga, kangen sama adik kembarku, heheh ...."
Elana tersenyum, dia membayangkan enak juga punya saudara kembar ya. Selalu mempunyai hobi dan juga perasaan sehati. Apakah nanti jika dia menikah dengan Chiko akan mempunyai anak kembar?
Ups, pikiran Elana berkembang lebih jauh. Dia malu sendiri telah berpikir jauh.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1