
Satu jam Elana tergeletak di kursi teras tidak ada yang mengetahuinya, dia masih tidak sadarkan diri. Hingga suara deru motor Chiko masuk ke halaman rumah. Dia melihat seseorang membawa koper dan tergeletak di kursi tanpa sadar.
Chiko heran, siapa gadis itu?
Chiko pun mendekat, dia penasaran siapa gadis itu. Namun Chiko melihat syal yang di pakainya langsung kaget dan berlari mendekat pada gadis yang tergeletak itu, melihat wajahnya.
Dan betapa kagetnya dia, ternyata itu adalah Elana.
"Elana?!"
Panggil Chiko sambil menepuk-nepuk pipi Elana. Tangan Chiko merasakan pipi Elana sangat dingin, dia curiga kalau Elana kena hipotermia.
Tanpa menunggu lagi, Chiko membopong Elana untuk di bawa masuk ke dalam rumah. Tangan Chiko ikut merasakan dingin ketika membopong Elana.
"Celine, buka pintunya!" teriak Chiko.
Tak lama pintu terbuka dan Celine melihat Chiko membawa Elana pun kaget.
"Kenapa dengan Elana bang?" tanya Celine cemas.
"Dia hipotermia, cepat kamu nyalakan penghangatnya. Dia harus di hangatkan dulu, di kamar kamu ya." kata Chiko segera masuk dan menuju kamar Celine.
Celine pun ikut panik, kenapa Elana busa hipotermia.
"Kenapa Elana bisa hipotermia, bang?"
"Dia tadi tergeletak di teras depan. Apa kamu tidak mendengar Elana memanggilmu?" tanya Chiko.
Dia membaringkan tubuh Elana di kasur Celine. Lalu memeriksa tangan Elana yang masih dingin seperti membeku. Chiko sangat khawatir dengan keadaan Elana, ada rasa sakit di dadanya ketika melihat Elana terbaring tak sadarkan diri.
Celine memperhatikan apa yang di lakukan oleh abangnya itu, dia tahu Chiko menyukai Elana.
"Bang, apa sebaiknya kita panggil dokter?" tanya Celine.
"Coba kamu hubungi dokter yang bisa di panggil kemari." kata Chiko.
"Di dekat toko roti di sana ada seorang dokter bang, apa aku panggil kemari aja ya?" tanya Celine.
"Iya dek, cepat kamu panggil kemari untuk memeriksa keadaan Elana." kata Chiko lagi.
Celine mengangguk, lalu dia keluar kamar dan langsung menuju rumah tetangga yang di maksud. Sedangkan Chiko masih memperhatikan Elana yang tak sadarkan diri, hatinya cemas. Ada rasa sesal di hatinya karena belum mengatakan sesuatu yang sudah lama dia pendam.
"El, kamu harus baik-baik saja. Kamu harus kuat, kamu harus mendengarkan apa yang akan aku katakan. Aku juga ingin mengenal kamu lebih jaih El, aku mencintaimu. Hik hik hik." tiba-tiba Chiko menangis.
Dia begitu khawatir dengan keadaan Elana. Di pegangnya terus tangan Elana dan di gosokkannya agar aliran darah di pergelangan tangan Elana lancar dan bisa menghangatkan tubuh yang lainnya.
Tak berapa lama, Celine masuk membawa dokter tetangga. Seorang dokter perempuan membawa tas dokternya langsung memeriksa keadaan Elana.
__ADS_1
"Yemu zachem?" ("Dia kenapa?") tanya dokter itu.
"On kholodnyy doktor, pereokhlazhdeniye." ("Dia kedinginan dokter, hipotermia.") jawab Chiko.
Lalu dokter memeriksa dada Elana dengan alat stetoskopnya. Lama dia memeriksa detak jantung Elana, lalu dia pun menyarankan pada Chiko untuk memberinya minuman hangat jika sudah sadar.
"Ne dayte obogrvatelyu umeret', potomu chto on nuzhen yemu, chtoby prosnut'sya." ("Penghangatnya jangan sampai mati ya, karena dia sangat membutuhkannya untuk sadar.") kata dokter.
"Ona v poryadke?" ("Apa dia baik-baik saja?") tanya Chiko.
"Yesli oborgrevatel' prodolzhayet vklyuchay'sya i yego obnimayut on bystro prosnetsya. Vy mozhete obnyat' yego, chtoby uskofit' yego telo dlya razogreva." ("Jika penghangatnya terus menyala dan di peluk, dia akan cepat sadar. Kalian boleh memeluknya untuk mempercepat tubuhnya menjadi hangat.") kata dokter lagi.
Chiko diam, dia sedikit salah tingkah. Celine tahu abangnya itu malu.
"Dan doktor, pozzhe poprobuyu po sovetu vracha." ("Iya dokter, nanti saya usahakan untuk melakukan saran dokter.") kata Celine.
Dokter itu pun tersenyum, dia lalu mengantar dokter untuk pulang hanya sampai depan pintu.
"Net lekarstva ot pereoklazhdeniys eto vrach?" ("Tidak ada obat untuk menyembuhkan hipotermia itu dokter?") tanya Celine.
"V eto vremya sdelayte eto, obnyav yego, chtoby on bystreye prosnulsya. Tol'ko pozzhe, yesli yest' zhaloby, mozhet kupiy' lekarstvo po repseptu." ("Saat ini lakukan dengan memeluknya agar dia cepat sadar. Baru nanti jika ada keluhan, bisa beli obat sesuai resep.") jawab dokter itu.
"Togda vrach ne dal mne retsept." ("Lalu, dokter tidak memberiku resep obat.") kata Celine.
Dokter tersenyum, dia lalu mengeluarkan kertas dan menuliskan resep obat. Celine memperhatikan tulisan resep itu, cuma satu. Dia heran kenapa resepnya cuma satu.
"Tol'ko eto vrach?" ("Hanya ini dokter?")
Lalu dokter itu berpamitan, Celine mengucapkan terima kasih dan mengantar sampai depan rumah.
Dia pun masuk lagi menuju kamarnya, dan terlihat Chiko sedang memegang tangan Elana. Celine menghampiri abangnya dan memegang pundaknya.
"Bang, beli vitamin aja dulu ke apotik. Biar Celine yang jaga Elana di sini." kata Celine pada Chiko.
"Vitamin apa?"
"Vitamin penguat stamina bang, nanti di kasihnya kalau Elana sudah sadar. Abang beli sekarang aja." kata Celine.
"Iya, abang beli di apotik, kamu jaga Elana ya. Oh ya, peluk dia dek biar tambah hangat dan cepat sadar." kata Chiko.
Celine mengangguk lalu menatap abangnya yang masih belum rela meninggalkan Elana.
"Abang mau peluk Elana ngga?" goda Celine pada abangnya itu.
Chiko salah tingkah, dia lalu keluar dari kamar Celine dan segera keluar membeli vitamin. Celine hanya tersenyum saja dengan tingkah abangnya itu.
Dia pun ikut berbaring di ranjangnya, memeluk Elana yang masih belum sadar. Tadi sebelumnya Chiko melepas baju mantel Elana yang basah karena salju, lalu melepas sepatunya dan menambahkan kaos kaki tebal pada kaki Elana.
__ADS_1
"Ck ck ck, bang Iko rupanya benar jatuh cinta sama Elana. Dia melepaskan baju mantel Elana dan mengganti sepatunya dengan kaos kaki tebal. Sweet banget deh abangku itu." gumam Celine dengan senyumnya mengembang.
Celine lalu memeluk Elana dari samping, sejenak dia juga merasakan dingin dari tubuh Elana. Tapi lama kelamaan Celine merasakan kehangatan juga, karena Elana perlahan-lahan sudah hangat. Tangannya juga sudah mulai terlihat memerah.
Celine memegang pipi Elana yang lembut, dia sudah merasakan hangat di pipi Elana. Setengah jam Celine memeluk Elana, lalu dia pun bangkit dari tidurnya. Dia akan menyiapkan air hangat untuk Elana. Setidaknya dia akan membuat sup ayam hangat juga susu hangat untuk Elana.
Chiko kembali lagi ke dalam kamar Celine, dia memperhatikan wajah Elana tak sepucat tadi. Chiko mendekat dan membelai pipi Elana yang mulai menghangat.
"Syukurlah kamu sudah kembali pulih, tinggal kamu sadar saja Elana. Aku sangat khawatir kamu seperti ini." gumam Chiko.
Dia terus memperhatikan wajah Elana, ada raut wajah sedih dan kecewa di sana. Chiko semakin penasaran kenapa Elana bisa sampai di rumahnya dan hipotermia. Chiko melihat koper yang di bawa Elana tadi tidak sempat memperhatikan apa yang Elana bawa.
"Kamu minggat dari rumah papamu?" gumam Chiko lagi.
Tangan Elana mulai bergerak, Chiko kaget. Dia semakin mengeratkan pegangan tangan pada Elana dan mrngelusnya lembut agar Elana sadar.
Elana pun membuka matanya dengan perlahan, di lihatnya sekeliling kamar yang dia tempati sekarang. Aneh, ada di mana dia sekarang? Pikir Elana.
"Kamu sudah sadar?" tanya Chiko senang.
Elana melihat ke arah Chiko yang tersenyum padanya. Elana pun tersenyum balik dan berusaha untuk duduk. Tapi di cegah oleh Chiko.
"Jangan duduk dulu, kamu masih lemah." kata Chiko menahan pundak Elana.
"Aku ada di mana bang?" tanya Elana bingung.
"Ada di kamar Celine, tadi aku temukan kamu tidak sadar di depan teras rumah." kata Chiko.
Elana diam, matanya mencari sebuah koper yang tadi dia bawa juga.
"Koperku mana bang?" tanya Elana.
"Itu, di pojok kamar dekat lemari." jawab Chiko.
Elana kembali diam dia pun memiringkan tubuhnya dan tiba-tiba menangis.
"Hei, kamu menangis kenapa?" tanya Chiko cemas.
"Hik hik hik ...."
Elana tidak menjawab pertanyaan Chiko, Chiko memegang erat tangan Elana agar menguatkan hati gadis itu dengan genggaman tangannya.
"Elana sudah sadar?"
_
_
__ADS_1
_
☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️❤️❤️❤️❤️❤️❤️