
Hari demi hari Elana menjalani hidupnya sendiri, dia pergi ke tempat loundry seperti biasa. Teman-teman di loundry juga baru tahu kalau Elana sedang berkabung dengan meninggalnya mamanya.
Bosnya Marta memberi Elana waktu libur, tapi dia tidak mau.
"Kamu boleh libur satu minggu El, di sini ada Riri ko sana Lia." kata bos Marta.
"Tidak bos, kalau saya libur pasti ujung-ujungnya nangis ingat mama. Jadi lebih baik saya kerja, ngga apa-apa kan bos?" kata Elana.
Bos Marta pun tersenyum, dia pun mengangguk cepat. Rasanya hanya Elana yang telah kehilangan orang di kasihi tapi dia tetap bekerja. Tapi mungkin dia butuh teman untuk bicara dari pada di rumah sendirian akan melamun dan ujung-ujungnya menangis.
Elana pun kembali ke tempat kerjanya, dia memilih baju-baju yang memang harus di pisahkan. Dari baju bahan tipis dengan bahan levis yang tebal. Semua dia perhatikan, agar nanti tidak luntur pada baju yang lain.
Riri memperhatikan Elana yang sedang memliha dan memisahkan baju-baju untuk di cuci. Ada raut sedih pada Elana, dan matanya kembali basah. Entah apa yang di pikirkan Elana, Riri tidak tahu.
"El, kamu melamun?" tanya Riri.
Elana mengusap air matanya, memang baru sehari Elana di tinggal oleh Mourin dia langsung bekerja. Tentu saja dia masih sedih dan berkabung, Ingatannya tentang Mourin tergambar jelas di pelupuk mata Elana, membuat dia kembali menangis.
Riri mematikan setrikaannya lalu mendekat pada Elana, dia memeluk Elana. Mencoba memberi kekuatan agar Elana lebih tegar dan tabah. Elana pun menangis keras, sejak tadi dia tahan agar tidak menangis tapi tetap saja dia ingin menangis karena kehilangan Mourin.
"Yang sabar ya El, kamu itu kuat. Kamu gadis yang sangat tangguh El. Tetap semangat menjalani hidup ini meski sendirian. Ingatlah, tidak semua orang jahat dan tidak semua orang itu baik. Jadi, kamu tidak akan sendiri meski hidup sendiri. Ada aku kok mau terus jadi temanmh." kata Riri.
Meski pun berbeda keadaan yang di alami Elana, tapi kenyataannya memang seperti itu yang di alami Elana. Selalu menemui orang-orang yang tidak suka padanya karena statusnya itu.
_
Hari berganti hari, minggu pun berganti. Elana kini sudah lulus sekolah. Dia masih belum mau mendaftar ke perguruan tinggi mana yang akan dia tuju, pikirannya masih ingat dengan Mourin.
Dan siang ini, Elana tidak masuk kerja di loundry. Entah kenapa dadanya terasa sakit, namun hanya nyeri saja. Tapi sangat mengganggu Elana. Jadi dia tidak pergi ke loundry.
__ADS_1
Sedang mencoba untuk tidur siang di kamarnya, Elana mendengar pintu rumah di ketuk seseorang. Dengan malas Elana bangun dan hendak membuka pintu depan rumah.
Wajahnya pucat karena sejak pagi, belum dia isi perutnya. Tenaganya juga lemas, namun dia mencoba untuk menuju ruang depan membuka pintu siapa yang datang.
Pintu pun terbuka, Elana kaget siapa yang berdiri di depannya. Dia lalu mendekat dan menarik tangan perempuan yang tersenyum padanya.
"Bagaimana kabarnya El?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah ibu Sinta, wali kelas Elana di sekolah dulu.
"Baik bu, silakan masuk. Maaf rumahnya kecil dan masih berantakan. El belum sempat beres-beres rumah." kata Elana merasa tidak enak karena rumahnya masih kotor, meski hanya debu saja.
"Ngga apa-apa El, ibu mau berkunjung sama El, ibu minta maaf baru tahu kalau mama El sudah meninggal. Ibu turut belasungkawa ya,.maaf baru bisa datang." kata ibu Sinta.
"Iya bu, ngga apa-apa. Terima kasih ibu mau datang." kata Elana.
Ibu Sinta memperhatikan Elana yang wajahnya pucat, dia merasa kasihan. Apakah Elana merasa kehilangan sehingga wajahnya pucat seperti itu?
"El, wajah kamu pucat. Apa El sudah makan?" tanya ibu Sinta.
"Ibu bawa makanan buat El, sengaja ibu bawa bekal. Jadi El makan ya, dan dari sekolah menitipkan ini buat El. Ibu mengatas namakan sekolah turut berduka cita sama Elana. Dan ibu bawa semua berkas untuk pendaftaran Elana masuk le perguruan tinggi. Apa Elana mau meneruskan kuliah di mana?" tanya ibu Sinta.
"El belum kepikiran bu, masih ingin kerja dulu. Mungkin tunggu satu tahun bisa kuliah." jawab Elana.
"Ya sudah, biasanya juga kalau nilai bagus bisa kok di terima di mana saja. Ibu berharap Elana masuk kuliah dan meneruskan pendidikan lebih tinggi. Elana buktikan kalau seorang yang selalu di jauhi teman-teman punya pendidikan tinggi dan berguna serta bisa sukses kok. Ibu ingin mendengar Elana sukses." ucap ibu Sinta memberi semangat pada Elana.
"Terima kasih bu, El akan pikirkan."
"Emm, ibu pernah bertemu mama El dulu sebelum meninggal. Dan ibu cerita kalau Elana tidak mendapatkan beasiswa dari sekolah, meski nilai El bagus. Maaf kalau ibu cerita sama almarhum mama El, tapi ibu juga pernah dengar katanya mama El mencari sponsor untuk beasiswa Elana. Barangkali sudah mengajukan, coba El periksa berkas pribadi mama El. Ibu hanya memberi saran aja sih waktu itu." ucap ibu Sinta lagi.
Elana pun diam, memang dia belum berani masuk ke dalam kamar Mourin. Rasanya jika masuk ke dalam kamar ibunya itu akan selalu teringat hembusan terakhirnya dan itu akan membuat Elana sedih dan perih. Dia akan menagis terus jika masuk ke dalam kamar Mourin.
__ADS_1
Makanya kamar itu selalu terkunci dan tidak pernah di buka sejak kematian Mourin. Elana pun melirik kamar Mourin, kembali dadanya sesak. Lalu tanpa sadar air matanya mengalir, ibu Sinta melihat Elana menangis pun ikut sedih.
Dia lalu menarik tubuh Elana dan memeluknya, dia tahu bagaimana rasanya di tinggal pergi selamanya, apa lagi dia hidup sebatangkara. Tanpa ada teman atau saudara yang bisa menemaninya sepanjang waktu agar tidak larut sedib berkepanjangan.
"El mau kerja di rumah ibu lagi?" tawar ibu Sinta.
"El sudah kerja bu, di loundry. Di sana juga temannya baik-baik, ngga ada yangencibir El anak mantan narapidana." ucap Elana.
"Ooh, udah kerja ya. Syukur kalau begitu, ibu senang mendengarnya. Ibu harap Elana jangan sedih terus ya. Memang ini cobaan buat Elana, Tuhan sayang sama Elana hingga di beri cobaan bertubi-tubi, agar Tuhan lihat apakah Elana itu kuat dan tegar serta lulus ujian dari Tuhan. Anggap aja ujian ini untuk menempa mental Elana agar bisa lebih kuat dan tangguh lagi." ucap ibu Sinta memberi semangat pada Elana.
Elana pun tersenyum, ibu Sinta seperti ibunya sendiri. Sangat perhatian dan juga menyayangi Elana. Elana tahu kalau ibu Sinta sangat sibuk, tapi dia sempat berkunjung pada Elana.
Lama mereka berbincang, Elana memakan bekal yang di berikan oleh ibu Sinta. Dan hingga sore menjelang, ibu Sinta pun pamit pulang.
"Ibu pulang dulu ya, El." ucap ibu Sinta.
"Iya bu, terima kasih atas kunjungannya juga bekalnya." jawab Elana.
"Iya, kalau begitu ibu pamit. Jaga diri baik-baik ya dan jangan sering melamun, yang sabar El."
"Iya bu."
Lalu ibu Sinta pun pergi dari rumah Elana, Elana pun hanya bisa memandang kepergian ibu Sinta sampai dia menghilang di ujung jalan.
_
_
_
__ADS_1
😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤