E L A N A

E L A N A
40. Dejavu


__ADS_3

"Nih bang minumnya." ucap Celine.


Chiko memejamkan matanya, merasa kesal karena pembicaraannya terpotong oleh adiknya itu. Elana pun menunduk, dia juga merasa nyaman bicara dengan Chiko. Namun sepertinya bukan sekarang waktunya Elana cerita tentang dirinya pada Chiko, dia juga ingin memastikan kalau Chiko mau berteman dengannya memang tulus tanpa belas kasihan atau apa pun.


"Kamu kok cepat banget sih?" kata Chiko menerima minuman dari tangan Celine.


"Yee, aku antri dari tadi ini tuh bang. Lama. Abang enak duduk dengan Elana aja, aku yang capek." ujqr Celine.


Chiko menghela nafas panjang, memang benar tadi sebenarnya Celine cukup lama pergi membeli minum, mungkin karena dia tidak sabar ingin mendengar cerita Elana tentang dirinya sendiri.


Dia lalu memberikan minuman satunya pada Elana. Elana pun menerimanya dan meminumnya juga karena dia sangat haus.


"Kamu haus ya El?" tanya Celine.


"Hehe, iya. Tadi jalan-jalannya lama dan makannya banyak banget dan ngga pesan minumannya." jawab Elana.


"Tahu tuh bang Iko lupa beli minumannya." kata Celine.


"Iya, abang lupa tadi." ucap Chiko.


"Pulang yuk bang, udah sore." kata Celine.


"Nanti, tanggung." jawab Chiko.


"Tanggung apa lagi bang? Elana juga udah kelelahan tuh." ucap Celine.


Chiko menatap Elana yang terlihat biasa saja.


"Elana diam aja kok, dia ngga protes. Kamu kalau mau pulang, duluan aja sana." kata Chiko kesal.


Sejak tadi adiknya ganggu terus, dia menyeruput minumannya dengan cepat.


"Ish, bang. Kok gitu sih?"


"Kita pulang bang, aku juga takut di cari papa di rumah karena lama keluar." kata Elana menengahi perdebatan kakak beradik itu.


Chiko mendengus kesal, tadi hampir saja Elana mau cerita tentang dirinya. Tidak jadi karena Celine datang membawa minuman yang di pesannya tadi.

__ADS_1


"Ya udah, ayo kita pulang." kata Chiko akhirnya.


Lalu ketiganya pun pulang karena memang hari sudah sore. Sebenarnya Chiko masih ingin bersama Elana lagi, karena rasa penasarannya pada gadis itu.


"Lain kali kita jalan lagi." ucap Chiko.


"Siap bang, aku selalu suka kalau di ajak jalan-jalan. Ya kan El?" kata Celine.


Elana tersenyum dan mengangguk, Chiko melihat Elana setuju dengan usulnya pun ikut tersenyum. Dia akan membuat jadwal ulang untuk jalan lagi bertiga, tapi kalau bisa hanya berdua saja dengan Elana.


_


Kini Elana bersiap untuk berangkat kuliah, pagi ini dia harus berangkat lebih cepat karena dosen meminta pada semua mahasiswa datang lebih pagi.


"Elana, ty rano ukhodish?" (Elana, kamu berangkat pagi?") tanya Ana ibu sambung Elana.


"Da ma." (Iya ma.") jawab Elana.


Dia bersiap untuk berangkat ke kampus. Ana memperhatikan Elana yang sedang berjalan keluar rumah.


Elana berhenti, dia menatap Ana dengan datar. Seperti dejavu, dia kembali mengingat Sandra yang selalu bilang jangan terlalu sering pulang sore.


"Ty slyshish' Elena?" (Kamu dengar Elana?") tanya Ana memastikan anak sambungnya itu menuruti apa yang dia katakan.


"Da ma." ("Iya ma.") jawab Elana lagi.


"Yesli ty vse yeshche khochesh' ostat'sya zdes' sleduy tomu, chto ya govoyu." (Jika kamu masih mau tinggal di sini, ikuti apa yang saya katakan.") ucap Ana lagi seakan menegaskan pada Elana.


"Da ma." (Iya ma.") ucap Elana lirih.


Lalu dia kembali meneruskan langkahnya untuk keluar dari rumah besar itu. Ada rasa perih di hatinya ketika Ana mengatakan seperti itu.


Lagi.


Elana mendapatkan ultimatum tentang keberadaannya di tengah keluarga barunya. Menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.


Elana terus berjalan tak tentu arah, niatnya untuk ke kampus dia belokkan ke arah lain. Entah dia mau kemana, rasanya hidup ini terlalu naif buat Elana. Selalu orang-orang tidak mau menerima keberadaannya dengan tulus.

__ADS_1


Elana duduk di sebuah halte, termenung dan menatap jalanan dengan tatapan kosong. Kemarin doa sangat senang karena bisa jalan-jalan dengan Celine dan Chiko, kini pikirannya kembali pada masa lalu di mana dia berada di rumah Sandra.


"Yelena, chto ty deleyesh? (Elana, kamu sedang apa?") tanya gadis yang memegang pundaknya.


Elana menoleh, dia menatap kosong pada wajah gadis di depannya. Amanda memperhatikan Elana, dia lalu memegang telapak tangan Elana dan mencubitnya kencang. Tentu saja Elana kaget, lalu dia menatap Amanda dengan heran.


"Amanda, ty zdes'?" (Amanda, kamu di sini?") tanya Elana heran.


"Chto ty zdes' delayesh'? eto ne avtobusnaya ostanovka do universitetkogo gorodka mayorov. Ty zhdesh' na avtobusnoy ostanuvke." (Kamu sedang apa di sini? Di sini bukan halte menunggu mobil jurusan kampus. Kamu salah nunggu di halte.") kata Amanda.


"O bozhr, ya machtayu, poka ne znaya, kakaya eto ostanovka." (Oh ya ampun, aku melamun sampai tidak tahu di halte mana aku ini.") ucap Elana yang kebingungan atas dirinya sendiri.


"Davay v moyey mashine, poyodem v kampus." (Ayo ikut ke dalam mobilku, kita ke kampus sama-sama.") ujar Amanda.


Elana mengangguk, dia sejak keluar dari rumah Ana menjadi kosong pikirannya dan berhalan tak tentu arah. Amanda memperhatikan Elana yang masih diam, seperti ada yang di pikirkan Elana.


"Chto ty dumayesh?" (Kamu sedang berpikir apa?") tanya Amanda.


"Net nikakogo." (Tidak ada.") jawab Elana singkat.


"Ya videl, chto ty stranaya, Elana. Ya dumal, ty mechtayesh', no nichego ne pomnish'." (Aku lihat tadi kamu aneh, Elana. Aku pikir kamu sedang melamun tapi tidak ingat apa pun.") kata Amanda.


Amanda menyetir sendiri mobilnya, dia sedang lewat di depan halte bis duduk Elana dengan tatapan kosong. Dengan cepat dia hentikan mobilnya dan menghampiri Elana lalu memanggilnya. Ternyata benar, Elana sedang kosong pikirannya.


"Vse v poriyakde, yesli ty ne khochesh' govorit' so mnoy segodnya o svoyey probleme, v sleduyuchy raz ty mozhesh' mne doveryat' Elana skazhi mne, s chem tu stolknulsya." (Tidak apa jika kamu hari ini tidak mau bicara denganku tentang masalahmu, lain kali kamu bisa percaya padaku Elana. Menceritakan apa yang kamu hadapi.") kata Amanda lagi.


Dia tahu, Elana itu sangat tertutup dan tidak pernah cerita apa pun tentang masalah yang dia hadapi atau tentang keluarganya. Maka dari itu, Amanda sangat penasaran juga kasihan pada Elana. Selalu menyendiri dan pergi ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu luangnya.


Mobil Amanda melaju cepat menuju kampus mereka menuntut ilmu, Amanda masih menghargai sikap Elana yang tidak mau bercerita masalah apa yang dia hadapi. Elana sendiri merasa Amanda terlalu baik, sehingga dia tidak ingin berbagi beban dalam hatinya. Dia hanya ingin mencari orang-orang yang tulus menerima dia apa adanya, seperti dulu Riri yang selalu menolongnya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2