E L A N A

E L A N A
67. Chiko Mencari Elana


__ADS_3

Satu minggu Chiko tidak bisa menghubungi Elana, dia gelisah kenapa ponsel Elana tidak bisa di hubungi. Dia pun bertanya pada Celine.


"Dek, Elana kok ngga bisa di hubungi sih?" tanya Chiko pada adiknya.


"Aku ngga tahu bang, di kampus juga aku ngga ketemu sama dia. Kata temannya dia tidak masuk selama seminggu juga. Kemana dia ya?" kata Celine.


"Apa dia ngga menghubungi ke ponsel kamu?" tanya Chiko lagi.


"Kan nomor ponselnya hilang bang kebawa juga sama ponselnya." kata Celine.


"Abang hubungi dia tapi ngga aktif terus. Kemana dia ya?"


"Ke rumahnya aja bang, barangkali Elana sedang sakit. Tapi ngga bisa hubungi abang." kata Celine lagi.


Chiko diam, dia membenarkan apa yang di katakan adiknya itu. Meski dia gelisah, takut terjadi apa-apa pada Elana. Namun dia belum berani ke rumah papanya Elana karena waktu itu dia di ultimatum oleh Evan agar jangan mengganggu Elana.


"Besok kita ke rumahnya deh bang, aku temani abang ke rumah Elana. Ya, kalau dia sakit kan bisa ada alasan untuk menjenguknya." ucap Celine lagi.


"Ya udah, besok kita ke rumah Elana." ucap Chiko.


Esok harinya, Chiko dan Celine sepulang dari kampus langsung ke rumah Elana. Mereka membawa buah tangan agar nanti jika memang Elana sakit ada alasan untuk menjenguknya.


"Permisi, ada orang di dalam?" tanya Celine.


Tidak ada jawaban, Celine terus mengetuk pintu. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah.


Tampak rumah itu kebetulan sangat sepi sekali, Ana tidak ada di rumahnya. Dia sedang berada di rumah pamannya dengan Angela dan Dimitri, sedangkan Evan siang sudah pasti ada di kantornya.


"Bang, sepi rumahnya. Apa merrka sedang liburan?" tanya Celine.


Chiko merasa gelisah, dia tidak tahu harus bagaimana.


"Coba dek, tanya ke tetangga di sebelahnya. Baraangkali tahu." kata Chiko.


Celine pun pergi ke tetangga sebrlah yang memang kebetulan ada seorang perempuan sedang menyiram tanaman. Siang begini menyiram tanaman, aneh. Pikir Celine.


"Emm, maaf madam. Rumah yang itu kok ngga ada orangnya ya? Kemana ya?" tanya Celine sambil menunjuk ke arah rumah Evan.


"Saya tidak tahu nona, biasanya kalau sepi mereka pergi ke rumah pamannya." jawab perempuan itu.


"Emm, madam tahu tidak gadis yang berkulit sawo matang, rambut hitam lurus. Apa dia ikut juga?" tanya Celine lagi.


Barangkali perempuan itu tahu tentang Elana, jadi sekalian bertanya.


"Satu minggu lalu saya lihat dia membawa koper dengan papanya, entah mau kemana."


"Bawa koper?"


"Iya, gadis itu seperti sedang sedih. Tuan Evan seperti sedang memarahinya. Entahlah." kata perempuan itu lagi.


Celine diam, dia penasaran kemana Elana pergi.


"Kamu siapa?"

__ADS_1


"Saya temannya, mau berkunjung pada gadis itu. Dia tidak ada ya?"


"Ya, sejak saat itu saya tidak melihat dia lagi pergi ke kampus. Biasanya dia jalan kaki menuju halte di sana, tapi saya tidak melihat lagi dia pergi ke halte." kata perempuan itu lagi.


"Ooh, ya sudah. Terima kasih madam, saya permisi dulu."


"Ya."


Celine pun bergegas menghampiri Chiko, dia seperti mendapat informasi penting tentang Elana. Chiko melihat adiknya berlari ke arahnya.


"Gimana dek? Kamu dapat keterangan apa?" tanya Chiko tidak sabar.


"Kata ibu itu, Elana pergi bawa koper dengan papanya satu minggu lalu. Entah mau kemana. Apa Elana juga ikut liburan?" tanya Celine.


"Liburan ke mana?"


"Ngga tahu bang. Terus kita mau kemana lagi?"


"Ya sudah, kita pulang saja." kata Chiko lirih.


Dia kecewa tidak mendapati Elana di rumahnya. Mereka pun akhirnya pulang ke rumah, sepanjang jalan Chiko hanya diam melamun. Membuat motornya sering salah jalan, dan di ingatkan oleh Celine.


Celine merasa kasihan pada abangnya itu, kemana dia akan mencari Elana.


_


Malam hari, Chiko tidak bisa tidur. Berkali-kali dia menghubungi Elana tapi tetap tidak nyambung.


"Kamu kenapa Elana? Abang kangen sama kamu." ucap Chiko lirih.


Kamar itu tetap di kosongkan, agar nanti jika Elana kembali bisa di gunakan lagi. Begitu pikir Chiko.


Chiko masuk ke dalam kamar itu, memperhatikan seluruh isi kamar dengan seksama. Menatap ranjang, membayangkan Elana tidur dengan nyenyak di sana. Senyum getirnya pun tampak jelas di bibir Chiko, nenar-benar dia merasakan kerinduan yang dalam pada Elana.


"Elana sayang, kamu di mana. Hik hik hik." ucap Chiko lagi sambil duduk di tepi ranjang dan menangis sedih.


Sudah setengah bulan Chiko tidak bisa menghubungi Elana, dia benar-benar bingung. Celine yang kebetulan ingin minum di dapur melihat pintu kamar Elana terbuka jadi penasaran, dia pun mendekat. Berdiri di depan pintu dan melihat abangnya tertumduk, terdengar isakan kecil dari mulut Chiko.


"Abang menangis?" ucap Celine lirih.


Dia sangat merindukan kekasihnya, lalu Celine mendekat pada abangnya dan duduk di sampingnya.


"Bang, jangan putus asa. Besok aku akan tanyakan ke temannya Amanda, dia mungkin tahu. Meski pun rasanya mustahil, karena Elana dekat dengan Amanda hanya di kelas saja." kata Celine.


"Abang kangen sama dia dek, kemana Elana." ucap Chiko di sela isakannya.


Namun kemudian Chiko menghapus matanya, tidak seharusnya laki-laki itu cengeng. Tapi bagaimana lagi, rasa rindu yang dia rasakan dan kebingungan kemana Elana pergi.


"Abang mau tidur di sini?" tanya Celine.


"Ngga dek, abang malah tambah sedih kalau tidur di sini. Kamu aja pindah kemari." jawab Chiko.


"Tapi kalau Elana kembali, dia mau tidur di mana?" tanya Celine.

__ADS_1


"Ngga apa, nanti kamu bisa pindah lagi ke kamar abang itu." jawab Chiko lagi.


"Nggalah bang, aku ngga mau merusak kamar ini. Biar aja begini, kosong. Menunggu penghuninya kembali." ucap Celine.


Chiko tersenyum, dia lalu bangkit dan keluar kamar Elana. Di susul Celine yang juga merasa kehilangan Elana. Mereka kini duduk di ruang tamu, menatap lampu-lampu temaram.


_


Sesuai ucapannya, Celine menuju kelas Elana. Dia melihat Amanda sedang membaca buku.


"Amanda!" panggi Celine.


Amanda mendongak, dia tersenyum daj keluar dari kelasnya menghampiri Celine.


"Celine ya?"


"Ya, hehehe."


"Ada apa?"


"Emm, kamu tahu kenapa Elana tidak masuk kuliah?" tanya Celine.


Amanda mengerutkan dahinya, dia heran kenapa Celine teman dekatnya tidak tahu.


"Apa kamu tidak tahu?"


"Tidak tahu apa?"


"Elana itu keluar dari kampus, dia pindah kampus." kata Amanda.


Celine kaget, dia penasaran dengan cerita Amanda.


"Kamu tahu dia pindah kemana? Apa Elana pernah menghubungimu dan memberitahu pindah ke mana?" pertanyaan Celine membuat Amanda heran.


"Saya tidak tahu, tapi sudah setengah bulan dia pindahnya. Emm, saya dengar dari bagian mahasiswa dia pindah ke negaranya. Entahlah." kata Amanda.


"Apa? Jadi dia pulang ke negaranya?"


"Saya tidak tahu, tapi katanya papanya yang ke kampus waktu itu." jawab Amanda.


Celine pun diam, ini benar-benar mengejutkan baginya. Dan tentu saja bagi abangnya nanti.


"Memang ada apa Celine?" tanya Amanda.


"Tidak, saya mencari dia ke rumahnya tidak ada. Ya sudah Amanda, terima kasih ya informasinya." kata Celine.


"Hemm, ya sama-sama Celine."


Celine lalu pergi ke kelasnya lagi, pulang dari kampus dia akan memberitahu abangnya tentang informasi dari Amanda.


_


_

__ADS_1


_


😊😊😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2