E L A N A

E L A N A
61. Evan Kesal


__ADS_3

Evan lalu melajukan mobilnya, dia benar-benar kesal di tentang oleh Chiko. Anak hampir seumuran anaknya Elana.


"Siapa dia? Kenapa berani sekali menentang dan melawanku." kata Evan masih dengan wajah kesal.


Mobil melaju kencang menuju kantornya, siang ini dia hendak pulang ke rumah mengambil berkas yang ketinggalan. Tapi justru bertemu Elana sedang berboncengan dengan Chiko.


"Dia orang Indonesia, dan kenapa dia berani sekali padaku?"


Ciiit!


Mobil Evan mendadak berhenti, dia menginjak rem mendadak. Dia hampir menabrak orang di jalan yang sedang lewat.


"Jalan harus hati-hati pak!" teriak Evan pada laki-laki yang hampir dia tabrak.


Laki-laki itu menatap tajam pada Evan, dia kesal pada Evan. Sudah salah sendiri malah menyalahkan orang yang mau di tabrak.


"Anda sehat tuan? Yang salah itu anda, mengebut dan mau menabrakku. Malah menyalahkan saya." kata laki-laki itu.


Dia lalu pergi sambil menendang mobil Evan, dan Evan pun hanya bisa diam saja. Dia menghela nafas panjang, merasa bersalah dengan ucapannya.


"Untunglah hanya menendang saja." gumam Evan.


Lalu dia pun melajukan mobilnya lagi menuju rumahnya, dia baru ingat kalau tadi mau pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal.


_


Di kantornya Evan selalu gelisah, dia tidak bisa bekerja dengan baik. Selalu saja ada kesalahan, hingga berkas yang seharusnya selesai hari ini dia bawa pulang kembali.


Evan bekerja di bagian keuangan, dia bekerja sebagai direktur keuangan perusahaan milik ayahnya Ana dulu.


Dulu, ketika masih di Indonesia perusahaannya terbilang cukup maju sebelum dia bercerai dari Mourin. Tapi setelah kejadian banyak yang korupsi pegawainya akhirnya lama kelamaan perusahaan Evan pun bangkrut juga.


Akhirnya dia memilih menikahi Ana dan menceraikan Mourin. Hingga Mourin sampai merasa aneh kenapa Evan menceraikan tanpa sebabnya. Dan ternyata di ketahui sebelum masuk penjara perusahaan Evan lama kelamaan jadi bangkrut.


Sebelum kebangkrutan itu terjadi, Evan memilih menikah dengan Ana dan dia di percaya memegang perusahaan milik ayahnya Ana dan menjabat sebagai direktur keuangan.


Sampai sekarang perusahaan itu semakin maju, Evan pun semakin sibuk. Dia sendiri tidak pernah berpikir untuk mempunyai anak pada saat itu, hingga Ana di nyatakan hamil. Dan sembilan bulan lahir.


Satu tahun kemudian tidak banyak perkembangan pada anaknya, dan di bawa anaknya Diego ke ahli psikologi dan ternyata anaknya mmempunyai kelainan, anaknya autis lambat bicara dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Tapi Ana sangat menyayangi anaknya, Diego. Evan bahkan juga menyayangi Diego.


"Misteru Evanu pridetsya segodnya rabotat' sverkhurochno?" ("Pak Evan harus lembur malam ini?") tanya staf karyawannya.


"Net, ya dolzhen idti domoy moya zhena dolzhno byt' sparashivayet pochemu by ne poyti domoy." ("Tidak, aku harus pulang. Istriku pasti bertanya kenapa tidak pulang.") jaeab Evan.


"Khem da, Missis Ana, dolzhni byt' poproslla vas." ("Hemm, ya. Nyonya Ana pasti menanyakan anda.") kata stafnya menimpali.


Evan lalu merapikan berkasnya, dia akan bawa pulang lagi pekerjaannya. Setelah itu dia akan menghubungi Ana untuk pergi ke suatu tempat.


"Privet detka ya budu doma pozhno." ("Halo sayang, aku akan pulang terlambat.") kata Evan pada istrinya di telepon.

__ADS_1


"Kuda ty idesh'?" ("Memangnya kamu mau kemana?")


"Ya lhochu navestit' svoyu doch' Elanu." ("Aku mau mengunjungi anakku, Elana.") jawab Evan.


"Ty khochesh' zabrat yego domoy?" (Kamu mau mengajaknya kembali ke rumah?")


"Da, nadeyus', on poydet so mnoy." ("Iya, semoga dia mau ikut denganku.")


"Ty zabyl? Ty vygnal yego, Evan." ("Apa kamu lupa? Kamu telah mengusirnya Evan.")


"Ya znayu, chto byl neprav, no ya uzhe izvinilsya pered nim. Ya ugovoryu yego vernut'sya v nash dom." ("Aku tahu aku salah, tapi aku sudah minta maaf padanya. Aku akan terus membujuknya untuk pulang ke rumah kita.") kata Evan lagi.


"Khakha, reshat' vam. Dlya menya on takoy zhe plokhoy mal'chik kak i ya on protiva i protiv." ("Hah, terserah kamu. Bagiku dia anak yang tidak baik, sama aku saja dia menentang dan melawan." )kata Ana dengan nada kesal.


"On khoroshiy mal'chik dorogoy, uzhe day yemu yeshche odin shans. Ya obeshchayu, chto yesli kna snova nachnet kapriznichat', ya skazhu yey vernut'sya v Indoneziu." ("Dia anaknya baik sayang, sudahlah beri dia kesempatan lagi. Aku janji jika dia berulah lagi akan aku suruh pulang ke Indonesia.") kata Evan lagi.


"Da reshat' tebe, poka yego net, s nim vse v poryakde." ("Ya, terserah kamu. Lagi pula, selama dia pergi ku rasa dia baik-baik saja di luar sana.")


"Ona zhivey so svoim drugom." ("Dia tinggal dengan temannya.")


"Kto drug? paren?" ("Teman siapa? Teman lelakinya?")


"Dorogaya, ne obvinyay menya tak. Ya zakroyu pervym." ("Sayang, jangan menuduh seperti itu. Aku tutup dulu ya.")


"Tam." ("Hemm.")


Evan menutup sambungan teleponnya, lalu kembali menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memikirkan ucapan istrinya.


Lalu dia pun beranjak pergi dari ruang kantornya dan sesuai rencananya dia akan pergi ke rumah kontrakan yang dia minta alamatnya pada teman Elana tadi siang.


_


Evan masih duduk di dalam mobilnya, memperhatikan rumah kecil yang tertutup. Namun sorot lampu di dalam rumah nampak terlihat kemungkinan penghuni tumah masih belum tidur.


Evan lalu keluar dari mobilnya, berjalan dengan langkah cepat menuju rumah itu. Sampai di depan, dia mengetuk pintunya.


Tok tok tok


Evan mengetuk pintu dengan keras. Tak berapa lama, pintu terbuka. Tampak Celine yang membukakan pintu dan heran siapa yang bertamu.


"Anda mencari siapa?" tanya Celine.


"Saya mencari Elana. Apa dia ada?" tanya Evan dengan bahasa Indonesianya.


Celine terkejut, memang dari raut wajahnya seperti dirinya. Wajah Melayu yang berkulit sawo matang, ciri khas wajah Melayu. Tepatmya daerah Jawa.


"Ouh, anda siapa ya?" tanya Celine lagi.


"Saya papanya, tolong panggilkan Elana." kata Evan sedikit memaksa.


"Maaf tuan, Elana belum pulang." kata Celine.

__ADS_1


Dia heran, kenapa papanya Elana begitu memaksa sekali. Apa dia akan memaksa Elana pulang?


Bukankah dia telah mengusirnya, Celine pun hanya berdiri saja. Tidak mempersilakan Evan masuk atau pun duduk di teras ruamh itu.


"Saya tunggu Elana pulang." Kata Evan.


Dia lalu duduk di teras rumah, Celine hanya mengedikkan bahunya saja. Lalu masuk ke dalam rumah, berniat untuk membuatkan minuman hangat untuk Evan.


Evan menunggu di luar, dia mencoba menghubungi Elana dengan ponselnya. Tapi Elana tidak menjawabnya.


"Kemana dia? Malam begini belum juga pulang." gumam Evan dengan kesal.


Dia masukkan lagi ponselnya ke dalam saku bajunya, kakinya dia hentakkan anda kesal dan tidak sabar menunggu anaknya pulang.


Lama Evan menunggu, dia benar-benar kesal karena Elana tidak juga mengangkat teleponnya lagi.


Tak berapa lama, motor Chiko memasuki halaman rumah. Tampak heran Elana, kenapa papanya ada di rumah Chiko.


Dia membuka helmnya dan menatap Evan yang sedang menatapnya juga. Elana memberikan helm itu, melihat Evan yang terlihat kesal pada Elana. Dia dengan cepat menyusul Elana di belakangnya.


"Dari mana saja kalian?!" tanya Evan dengan nada keras dan tampak kesal.


"Papa kemari mau apa?" tanya Elana.


"Kamu dari mana, Elana dengan laki-laki itu?"! kembali Evan bertanya.


Elana mendengusk kesal, papanya ternyata tidak bisa di ajak bicara basa basi.


"Aku dari toko buku, membeli buku untuk kuliah. Papa mau apa kemari?"


Evan menatap Chiko yang berdiri di belakang Elana, mendengus kesal.


"Om, masuklah dulu." kata Chiko dengan ramah.


"Tidak usah, saya hanya mau mengajak anakku pulang." jawab Evan.


"Aku tidak mau pulang pa." jawab Elana.


"Sayang, ini bukan rumahmu."


"Tapi di sana juga bukan rumahku, untuk apa papa mengajakku pulang ke rumah itu?"


"Elana!"


_


_


_


😊😊😊😊😊😊❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2